berlibur untuk memupuk semangat.

Libur Lebaran

Ransel hitamku sudah membuncit, mirip perut para pejabat korup yang berseliweran meneriakkan omong kosong di negeri ini. Untuk pertama kalinya setelah setahun, eh salah, sebulan di tanah pengabdian, tasku kembali tersesaki oleh pakaian, peralatan mandi, buku-buku, dan batu mulia, tawas. Ya, libur lebaran telah tiba dan kini saatnya keluar dari “Nusa kambangan”.
Lingkungan hidup yang serba berbeda bahkan cenderung terbalik dari apa yang selama ini saya hadapi berefek pada gejolak fisik dan psikologis. Listrik minim, jaringan blank, masyarakat yang homogen tak se-suku dan tak se-agama, alam liar, dan dunia kerja yang baru membuat pergeseran waktu sangat terasa. Tiap detik yang berlalu bagaikan menit, menit seperti jam, jam seolah hari, hari menyerupai minggu, minggu mirip bulan, dan bulan persis dengan tahun. Maka tak heran jika saya sempat salah menyebut satu bulan sebagai setahun. Ini bukan perkara tidak siap mental atau fisik hanya saja teori relativitas Einstein sedang terjewantahkan dalam hidupku, dan ternyata memang benar, presepsi sebuah subjek terhadap ruang dan waktu itu relative. 
Ketinting berkekuatan 16 PK milik pak Mared sudah siap untuk mengangkut kami menyebrangi sungai Kelay, sungai indah tempatku mandi, mencuci, bermain dan membangun keakraban dengan anak-anak, menonton orang mencari ikan dan mendulang emas, serta salto-salto, dan sekali-sekali menyelam sambil buang air. Saya, Ahmad dan 6 anak LSM yang bahasa kerennya environmentalists dari perkumpulan Payo-Payo akan segera meluncur ke Tanjung Redeb. 
Kargo puntung, kaos merah, dan sandal outdoor menjadi penutup badanku kali ini, lebih mirip Panji si petualang daripada seorang guru. Biarlah, saya sudah kapok dengan pakaian kebesaran yang serba panjang dan rapi seperti ketika pertama datang akhir Agustus yang lalu. Bagaimana tidak, medannya bukanlah jalan yang lurus dan mulus, melainkan arena off road yang menakutkan, apalagi pakean andalan terasa lebih menyakitkan jika terkena muntahan, potongan yang seperti ini tidaklah terlalu masalah.
Kali ini strada hitam double cabin menjadi tumpangan kami, saya dan Ahmad duduk di belakang bersama tumpukan barang-barang yang mempersulit kami banyak bergerak. Heri dengan mantap duduk di belakang kemudi, menyetel lagu Bugis lalu berteriak lantang “magani, siap?” langsung dijawab oleh penumpang, “brangkat broooo!”. 6 jam kemudian, kami telah berada di ibu kota kabupaten Berau.

***
Tanjung Redeb namapak kelap-kelip dengan lampu jalan yang warna-warni. Suara azdan isya dari pengeras suara mesjid memberikan sensai kebahagiaan tersendiri. Kerinduan pada mesjid sudah terasa sangat akut, sepertinya saya sudah sakau ingin segera bersujud bersama orang-orang muslim di kota ini. 5 kali absen menunaikan solat Jum’at adalah rekor terburuk yang pernah kubuat. Teringat dengan expresi bapak di kampung ketika azan telah berkumandang dan saya masih sok sibuk dengan pekerjaaan atau bermalas-malasan tidak jelas, beliau akan mengomel dengan segala macam dalil dan hadis Nabi yang meluncur dari mulutnya. Itu adalah saat dimana Bapak tampil lebih cerewet dari mama. Sisi feminimnya sontak mendominasi. 
Jika sedari awal dia tahu bahwa di lokasi pengabdian anaknya ini akan jauh dari mesjid, bisa dipastikan bahwa dia tidak akan mengizinkan saya untuk mengemban tugas mulia ini. Di manta Bapak, semulia apapun tugas yang kau emban, jika harus menjauhkanmu dari Tuhan maka segala yang kau kerjakan sama dengan nol, sia-sialah segala waktu, tenaga dan harta yang kau curahkan. Mati sewaktu-waktu wajib masuk neraka. Maafkan anak laki-lakimu ini, pak. Meskipun jauh dari mesjid dan komunitas muslim, saya masih tetap beriman dan menjadikan Allah sebagai pelindung dan pelipur laraku. Bukankah kau sendiri yang pernah mengatakan bahwa Tuhan itu tidak bermalas-malasan di dalam mesjid, Dia ada di  hati kita. So let me fight for our education on behalf of God.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor Payo-payo, kami mengisi “kampung tengah” di sebuah rumah makan dekat Gedung Pemuda. Daftar menu yang panjang membuat yang lain bingung menetapkan pilihan, tapi tidak dengan saya. Straight to the point! Bakso. Entah kenapa makanan yang satu ini menempati tingkatan teratas daftar makanan favoritku selain Kapurung, Pacco, dan Lawara. Untungnya, Bakso dapat dengan mudah ditemukan di setiap daerah, ada di Jawa, Sulawesi, Papua, Sumatra, Kalimantan, Aceh, Bali, Maluku, ada di Jalan Jendral Sudirman, ada di Lorong 3, di Gang Husada, di samping pasar, di belakang rumahnya pak haji Colli, pokoknya makanan ini selalu exis, tapi menjadi spesies sangat langka di kampung Lamcin. Ah, lokasiku memang anti mainstream. 
Ibu Linlin menjadi sosok paling keren kali ini, dia mentraktir kami semua menggunakan dana surplus dari program sosialisasi yang dia laksanakan pagi tadi. Mantap, Buk, hemat anggaran terus biar bisa sering-sering mentraktir. 
Payo-payo bermarkas di sebuah rumah permanen bercat kuning dengan aneka jenis tanaman yang tertata rapi di Jl. Murjani III, Gg. Asri Mandiri. Kantor ini adalah kantor cabang mereka yang disewa untuk 4 tahun ke depan sampai kontrak mereka untuk misi pendampingan masyarakan di pedalaman Berau ini berakhir. Saya dan Ahmad untuk sementara menumpang di sini sampai kami mendapatkan informasi dari Mukhlis, Koordiantor Kabupaten perihal Posko atau rumah singgah untuk teman-teman SM-3T yang berlibur ke Kota. 

***
Handphone hitamku yang kini kehilangan beberapa tombol tak henti-hentinya berdering, lagu Alter Bridge berjudul Watch Over You berulang kali mengingatkan untuk segera diangkat. Nama Hadi terlihat di layar. 
“Halo Assalamualaikum” Suaraku tegas dan memberi kesan bahwa saya sangat bahagia.
“Waalaikumussalam” suaranya terdengar kaget, lalu melanjutkan dengan menggebu-gebu “weh dari manako, ndi? Kenapa nda bisa dihubungi hpmu? Baek-baek ji ko ga? Khawatir sekali mama sama bapak, bagaimana itu sekolahmu? Apa kau makan di sana?” dia belum berhenti memberondongiku dengan segala macam pertanyaan, tak memberiku celah untuk menjawab. Sejenak kujauhkan Hp dari telinga lalu menyeruput segelas teh hangat yang diberikan oleh Uci, bendahara Payo-payo. 
Tak jelas lagi apa yang dia katakan, saya hanya tertawa-tawa kecil mendengarkan ekspresi kaka laki-lakiku ini. Dia adalah sosok pahlawan terhebat dalam hidupku, dia lah yang berjuang membanting tulang bekerja keras, dari menarik ojek, mendulang emas, berjualan sayur, ikan, menjadi buruh kasar sampai kini menjadi seorang juru mudi armada republic, dan segala macam pekerjaan halal dia lakukan demi membiayai kuliahku sampai akhirnya bisa menyelesaikan S1. Dia jugalah yang tak henti-hentinya menyemangatiku untuk terus belajar dan bersekolah tinggi hingga cita-citaku bisa tercapai. Bagi Hadi, selama tubuh ini masih mampu, kejarlah semua mimpi-mimpi dan jangan pernah menyerah hanya karena persoalan dana. Mimpiku begitu banyak untuk dikejar, sedangkan bagi dia mimpinya hanya satu, melihat adiknya ini meraih mimpi. Jika dia harus berhenti di bangku SMA, minimal adiknya selesai di tahap yang lebih tinggi.
“Halo, halo, ooo, Useng, manako? Dia sadar kalau saya telah membelot dari percakapan. Secepat kilat saya kembali menyambar Hp dan pertanyaan pamungkasnya meluncur “Kapan kamu pulang?” Haduh, ini belum apa-apa bang.
“Iya, Halo, tadi jaringan jelek. Alhamdulillah kabar aku baik-baik aja” 
“Eh, tunggu tunggu, kayaknya bahasamu berubah”
“Hahaha, tidak ji bos. Masa baru satu bulan langsung pake aku-kamu” kami langsung tertawa geli.
“Baru satu bulan di Kaltim sudah borro, saya ini sudah 3 tahun di Kalteng belum berubah-berubah”
“Beda bos, kamu kan temenan ama orang Palopo juga, nah aku? sama orang Berau!”
“Hah, terserah pale’! Jadi bagaiman di situ, ceritakan dulu e”
“Lokasiku luar biasa, keren sekali. Saya mengajar di perkampungan orang Dayak. Jauh dari kota, cuman 29 KK dalam satu kampung dan hidupnya masih bergantung sama hutan” dengan heboh saya menceritakan semua kesan yang saya dapatkan selama di kampung, dia hanya fokus mendengar dan sesekali menimpali dengan ekspresi takjub. 2 jam berlalu dengan cepat, saya belum bosan menceritakan detailnya tapi sebuah keperluan harus menghentikan percakapan. Ya udahlah bang, intinya aku baik-baik aja. 11 bulan lagi  aku balik kok. Nnah, kumat lagi kan! Hehehe, piss!

***


Wisata 4 pulau
Saat sedang berada di mesjid menunaikan ibadah solat Jum’at, saya sengaja berlama-lama untuk melepas rindu dan sekaligus balas dendam. Mungkin dengan tinggal 5 kali lebih lama dari banyak Jum’at yang telah lalu, dosa-dosaku bisa terampuni atau paling tidak dimaklumi. Saya duduk bersila sementara orang-orang telah meninggalkan mesjid, bertebaran di muka bumi mencari rezki. Setelah benar-benar merasa lega, saya kembali ke rumah dan ternyata sebuah rencana hebat telah menanti. Anak Payo-payo akan berwisata ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki. Sungguh bodoh jika ajakan ini saya tolak. Baru satu malam meninggalkan puncak gunung, kini kami bersiap untuk menjelajahi lautan. Ah, mumpung masih di Berau, saya harus menginjakkan kaki di setiap sudut-sudut kabupaten ini. Apalagi keempat Pulau yang akan kami kunjungi adalah destinasi wisata bahari bertaraf internasional. Plus cost trip yang dipangkas abis karena saya dan Ahmad terhitung sebagai anak bawang. “Berapa aja boleh asal tidak di bawahnya 500 ribu.” Kata Bang Icul sambil bercanda. Saya sedikit ragu tapi Ahmad meyakinkan, “OK kita berangkaaat!”
Avanza putih yang lagi-lagi di nahkodai oleh Heri, menjadi carteran kami sore ini. Masih terasa kepusingan perjalanan 6 jam kemarin sore dan sekarang 5 jam perjalanan darat ke arah timur menuju Tanjung Batu menjadi tantangan selanjutnya. Lelah memang lelah tapi ini demi pengalaman hidup, demi satu cerita di hari esok. 
...bersambung...

3 Agents Of SDN 012 Kelay, Long Lamcin


3 AGENTS

Senin 28 maret 2016, masih sangat pagi dan udara desa masih sangat dingin. Kulihat Ahmad, rekan seperjuanganku masih melipat tubuh dan membungkusnya dengan sarung sampai tak seincipun yang Nampak dari badannya. Memang udara pagi di Kampung Lamcing ini sangat dingin dan menusuk hingga ke tulang. Mager (Malas Gerak) menjadi kebiasaan baruku setiap pagi selama menjalani tugas di kampung ini. Selain karena tidak ada mesjid dan suara pegajian, juga tidak ada ibu dan bapak yang selalu ribut membangunkanku di pagi-pagi buta. Ada saja alasan untuk menahanku bermalas-malasan di pagi hari, solat subuh lah, mengantar ke pasar lah atau mengurusi adik-adikku yang masih sekolah. Ah kadang suasana yang selalu saya hindari di kampung halaman menjadi hal yang paling saya rindukan di kampung orang. I miss you Mom, Dad and all my brothers and sisters, Wait me home. 

Pagi ini, perutku terasa sakit dan sangat menyiksa, panggilan alam telah tiba dan air tidak ada. Sial! Sudah lebih dari sebulan ini pipa saluran air bersih kering kerontang padahal sungai sering kebanjiran, entah apa yang terjadi pada kampung kami, kemarau panjang melanda, rerumputan menguning dan terbakar, tanaman kekeringan dan mati, tanah menjadi gersang, siang sangat panas memanggang, malam hingga pagi hari begitu dingin menusuk tulang. Sementara, Sungai yang menjadi tempat kami mengambil air untuk memasak, mandi, dan mencuci kebanjiran dan airnya sangat kotor. Kampung Suluy yang berada di bagian paling hulu sungai Kelay tak henti-hentinya diguyur hujan padahal jaraknya hanya 45 menit perjalanan Sungai menggunakan ketiniting. Jika di hulu kehujanan, air sungai melimpah tapi nyaris tidak bisa dimanfaatkan karena airnya coklat pekat dan mengalir sangat deras. Jadilah kami kehausan di tengah limpahan air. Ironis sekali.

Tak ada pilihan lain, saya membuang hajat di tepi sungai dengan perasaan was-was dan penuh kewaspadaan jangan sampai ada buaya yang kebetulan merasa terganggu dengan kehadiranku di saat mentari pagi belum muncul itu. Mataku mengawasi dalam gelap, dan suara gemuruh air sungai membuat perasaanku semakin mencekam karena nyaris saya tak bisa mendengar gerakan-gerakan kecil di sana. 5 menit berlalu, itu adalah 5 menit terlama yang pernah saya rasaka, nyawaku berada dalam ancaman. Oh perut, jangan kau ulangi lagi. 

Senin ini adalah harinya kelas 6, mereka akan mengikuti Try out ujian nasional. Sekolah tempatku mengabdi memiliki 3 orang murid kelas VI yang kesemuanya adalah laki-laki, Welden, Amos, dan Yaret. Sementara kelas 1 sampai 5 masih diliburkan hingga 1 april nanti. Pukul 07.15, ada 3 bocah laki-laki yang sudah lengkap dengan seragam merah putih, berteriak meminta bola takraw di depan rumah. Mereka adalah Arjun, Alex, dan Stember siswa kelas satu yang entah super rajin atau tidak paham instruksi. Seharusnya yang datang 3 siswa kelas 6, eh yang muncul malah 3 siswa kelas satu. 
“Pak guru, ayo kita main takraw sambil tunggu yang lain”
“ok, saya ganti baju dulu ya” jawabku santai seolah hari ini seperti hari biasa.
Setelah beberapa menit bermain, Alex mulai mempertanyakan kenapa hari ini sepi.
“Kenapa tidak ada yang sekolah hari ini Pak guru?”
“Malas betul mereka semua sekolah ya, kita belajar juga kan kalau sedikit pak guru?” Sahut Stember sebelum saya menjawab pertanyaan Alex.
“Nyata!” jawabku singkat dan jelas. Kata “nyata” di kampung ini berarti “Yes 100%”
“Kita belajar main takraw saja Pak guru” Kata Arjun penuh keseriusan.
“Ennong” artinya tidak. Timpal Stember lalu kemudian mengomeli Arjun dengan bahasa punan, wajahnya kelihatan cemberut hampir marah dan mulutnya tak berhenti komat-kamit. 
“Maaf ya Pak guru” kata Arjun sambil menatapku dengan tatpan bersalah. Entah apa yang dikatakan oleh Stember pada Arjun sehingga Ia nyaris minta ampun. Sementara itu Alex hanya tertawa-tawa kecil melihat Arjun yang mati kutu diomeli oleh Stember. 
Saya sendiri tertawa melihat tingkah mereka bertiga hahaha.
Akhirnya, kami berhenti bermain dan memasuki kelas, sangat berdebu karena sekolah libur paskah sejak 10 hari yang lalu. 
“Ok ank-anak, kita bersih-bersih dulu sebelum belajar. Stember dan Arjun menyapu. Alex bersihkan papan tulis”
“Siap Pak Guru”
Mereka membersihkan dan saya sendiri merapikan buku dan bangku yang berserakan.
“Sudah bersih pak guru, ayo kita baris”
What? Baris? Wah, mereka ternyata senang dengan kebiasaan baru pada hari senin yaitu berbaris. Ok kita berbaris meskipun cuman 3 orang, tapi bagaimanapun juga, hari ini masih suasana libur yang tentunya tidak enak jika kawan mereka yang tidak sekolah tau kalo ada diantara mereka yang masuk sekolah. Saya harus menyikapi ini seadil dan sebaik yang  bisa.
“Siap Grakk, Lencang kanaan Grak, tegaap Grakk” Alex memimpin barisan. 
“Selamat Pagi!” Kataku
“Pagi, Pagi, Pagi”
“How are you today?”
“My Brain, My heart, fresh-fresh-fresh!”
“Very Good!, Sudah mandi semua?”
“Saya tidak mandi pak guru, tidak ada air” kata Arjun sambil melirik-lirik pada dua  temannya.
“saya juga tidak” kompak Alex dan Stember mengatakan hal yang sama.
“Ok that’s fine, pak guru juga belum mandi tapi sudah makan, kalian sudah sarapan?”
“Sudaaahhh”
Mereka begitu semangat meskipun hanya bertiga, rasanya mengecewakan jika menyuruh mereka pulang tanpa memberikan apa yang mereka inginkan di sekolah.
“Ok Lamcin Warriors, kalian tau kenapa hari ini sepi?, karena hari ini adalah hari Li…?”
“Hari Limaaa” jawab Stember yakin”
“LIMA” Arjun dan Alex bersorak membenarkan.
“Hahaha….. hari Lima? Luar biasa, tepu tangaaaan”
Mereka bertepuk tangan ria, seolah-olah jawaban itu tepat 1000%, mungkin kurang tepat tapi itu sangat menghibur bagiku.  
“Jadi, hari ini adalah hari libur, kelas 6 akan Try out ujian nasiaonal, itu mereka bertiga baru datang” Saya sambil menunjuk 3 siswa yang matanya belum siap menatap hari.
“oo.. Lamli’ teh” Artinya pulang yuk. Kata Alex seraya meninggalkan barisan.
“Dubaiy” Tunggu dalam bahasa Indonesia. Stember langsung menahan Alex.
Bukannya tersinggung melihat Alex yang tanpa perasaan bersalah, spontan ingin meninggalkan barisan dimana saya berdiri 1 meter di depannya, saya malah tertawa dengan spontanitas seperti itu. Mungkin di pikiran Alex, ya ini kan libur ngapain lagi berlama-lama di sekolah, ayo Lamli. Main atau ngapain. Hahaha dasar bocah.

***
Sekolah Dermaga.
Tujuan mereka untuk sekolah tetap bisa terpenuhi karena kami langsung berpindah lokasi dari sekolah ke dermaga ketinting yang ada di tepi sungai. Mereka bertiga kusebar untuk pulang ke rumah masing-masing mengganti pakaian sekolah mereka dengan pakaian bermain lalu memanggil teman-teman mereka yang pada tau kalau hari ini adalah hari libur. Setelah beberapa menit menunggu di dermaga akhirnya 10 anak berhasil dikumpulkan oleh 3 agen. 13 peserta awal sekolah dermaga mengawali kelas dengan penuh keceriaan.
Hari senin ini, 3 anak super tanpa sadar telah menginspirasiku untuk membuat sekolah dermaga atau sebuah ruang belajar tanpa dinding dan tanpa aturan waktu. Mengingat pendidikan di pelosok Kalimantan ini memiliki terlalu banyak hari libur, libur Ramadan, lebaran, natal, tahun baru, paskah, Nyepi, imlek, hari pahlawan, hari pendidikan, hari berburu, hari asap, harinya Tuhan dan banyak hari-hari lain yang dijadikan hari libur. Mudah-mudahan senin ini bisa menjadi awal untuk mengembangkan kegiatan belajar di luar sekolah. Bukankah setiap waktu adalah momen belajar, berbagi, dan menginspirasi. Thank you my students, I will always learn from you.

Saddang Husain, 
Long Lamcin, 28 Maret 2016

MEE, 2016. SM3T V, Berau



Marginal Education Expo, SM-3T V Berau

Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan wilayah yang membentang luas dari Sambang sampai Merauke memiliki berbagai macam masalah pendidikan yang sampai pada hari ini seolah semakin mencekik. Mulai dari masalah ranking pendidikan nasional yang duduk manis di deretan terbawah dunia sampai pada bangunan sekolah yang kritis di atas bukit yang sunyi. Dari kecerdasan dan kemewahan yang overdosis di perkotaan sampai pada ketidaktahuan dan kemiskinan yang akut di desa-desa terpencil. Semua itu adalah masalah Bangsa Indonesia yang tidak lain adalah masalah setiap orang yang mendiami negeri ini.
Ketidaktahuan dan kemiskinan mungkin bukanlah akibat kebodohan dan kemalasan melainkan akibat pembodohan dan pemiskinan. Pembodohan oleh mereka yang seharusnya mendidik tapi memilih diam, pemiskinan oleh mereka yang memiliki power tapi meilih diam. Lantas, apakah kita memilih diam atau bertindak? Sebagai praktisi pendidikan yang sadar dan peduli terhadap kondisi pendidikan negeri ini maka kita seyogyanya bersorak lantang “kami ingin bertindak”.
Melalui program nasional SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Berau talah mengambil langkah nyata dalam upaya penyelesaian masalah-masalah pendidikan yang ada di daerah pedesaan terpencil kabupaten Berau. Para pendidik muda yang didistribusikan ke 20 Sekolah Dasar yang tersebar di 6 kecamatan tidak hanya menemukan masalah seperti minimnya fasilitas, profesionalisme yang jauh dari kata cukup, atau kurangnya kesadaran masyarakat adat akan pentingnya pendidikan, tapi ada keunikan juga di sana. Ada keceriaan yang tak bisa terbeli dengan uang, ada semangat untuk tetap maju meski kondisi yang memprihatinkan, ada binar mata dari peserta didik yang seolah berteriak bahwa “kami tak ingin menyerah pada nasib”. 
Upaya perbaikan kualitas pendidikan di kabupaten Berau, terkhusus di dearah yang termasuk 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) tidaklah cukup dengan kerja keras tenaga pendidik saja, tetapi peran pembuat kebijakan, dan dukungan masyarakat umum adalah komponen yang sangat dibutuhkan demi terwujudnya pendidikan yang berkualitas karena setiap warga negara yang ada di Kabupaten Berau harus andil dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai janji kemerdakaan yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Atas dasar pemikiran yang telah disebutkan, maka perlu mengadakan suatu kegiatan yang dapat menggugah kesadaran masyarakat Berau secara umum dan seluruh warga sekolah (kepala sekolah dan guru sampai pada siswa-siswi) secara khusus akan pentingnya pendidikan, sekaligus memberi gambaran tentang kodisi pendidikan yang ada di daerah 3T Kabupaten Berau. Dengan kegiatan ini pula, masyarakat nantinya akan mengeti bahwa pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Kementrian Riset, Teknologi dan pendidikan Tinggi telah berupaya melakukan penyelesaian masalah kependidikan yang ada di kabupaten Berau melalui program SM-3T.

Setelah melalui proses pembahasan yang cukup panjang dan melibatkan beberapa pihak, akhirnya peserta SM-3T ankatan V yang telah mengabdi Selama 6 bulan di pedesaan terpencil kabupaten Berau bersepakat untuk mengadakan pameran pendidikan yang mereka namai “Marginal Education Expo”, Pameran Pendidikan yang Terpinggirkan. Tujuannya yaitu menyebarkan informasi tentang kondisis pendidikan yang real terjadi di 20 Sekolah Dasar yang menjadi sasaran persebaran 40 sarjana penddikan dari LPTK UNM tersebut. Informasi seperti minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Penyebaran informasi ini diharapkan bisa menjadi media kritik dan bahan pertimbangan kepada pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah progresif demi pendidikan yang lebih baik. Menjadi media pendidikan kepada masyarakat umum tentang kondisi pendidikan di daerah terpencil kabupaten Berau, serta menjadi informasi yang dapat memotifasi pelajar, dan guru, dari 3 tingkatan pendidikan yang berbeda, SD, SMP, dan SMA. Pameran ini juga sekaligus menjadi bentuk kegiatan kabupaten mereka, yaitu kegiatan yang diwajibkan kepada seluruh peserta SM-3T selama menjalani tugas mendidik, dan dilakukan di ibukota kabupaten.

Karena asas tujuannya ingin menyebarkan informasi maka kegiatan ini harus menyerap banyak pengunjung, meriah, dan tentunya tepat sasaran. Mereka kemudian meramunya menjadi pameran yang berbeda, kreatif, dan hemat anggaran. Maklumlah, pelaksana program memang tidak menganggarkan dana untuk kegiatan semacam itu sehingga sumber dananya mesti didapatkan melalui cara-cara yang elegan dan juga halal. Berikut akan saya jabarkan kegiatan apa saja yang ada dalam Marginal Education Expo ini. 

Pertama, Pameran Poto pendidikan. Setelah 6 bulan lamanya mengabdi di sekolah masing-masing, tentu saja banyak hal-hal unik yang telah terabadikan oleh kamera, entah itu kondisi sekolah, keceriaan peserta didik, proses belajar mengajar, keindahan alam, perjalanan yang menantang atau guru-guru yang selalu narsis di setiap moment. Semua itu menjadi bahan untuk dipamerkan dalam pameran photo. Tapi, tentu saja bukan kualitas kamera atau kehebatan mengambil gambar yang ingin mereka pamerkan melainkan cerita di balik gambar karena mereka bukanlah cameramen, melainkan guru!

Ribuan photo yang telah terkumpul dari masing-masing skolah diseleksi menjadi 120 photo terbaik yang mewakili kondisi pendidikan, social masyarakat, dan alam. 120 photo beserta catatan-catatan kecil yang mendeskripsikan gambar itu kemudian dicetak lalu ditempelkan di atas sebuah kain spanduk berukuran 1.5M sebanyak 6 buah berdasarkan jumlah kecamatan tempat mereka ditugaskan. Kain tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga kelihatan cantik meskipun tanpa ada foto di sana. Hasil kreatifitas tersebut dipasang di sebuah frame besar lalu dipajang di area parkir gedung NU YAKOBI Learning Center yang telah mereka sulap menjadi stand raksasa yang megah. Tercatat ada sekitar 400 pengunjung yang mengunjungi pameran photo tersebut, pengunjung itu berasal dari beragam usia, pekerjaan dan profesi. 

Kedua, kelas Bacarita. Bacarita atau bercerita adalah TEDx ala Yayasan Komunitas Belajar Indonesia. Jika kalian pernah menonton acara TEDx maka modelnya persisi seperti itu, dimana seorang narasumber berbicara selama 10 sampai 30 menit diatas panggung, berbagi gagasan dan kisah-kisah yang menginspirasi. Dalam format di MEE ini, ada 6 narasumber yang berbicara di hadapan lebih dari 150 audiens yang berasal dari siswa-siswi terbaik dari 10 Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Berau. Dalam kelas bacarita yang juga mirip dengan kelas inspirasi itu, para pembicara membagikan pengalaman hidup mereka di daerah terpencil yang tidak ada listrik, jaringan telpon dan sumber air bersih. Belum lagi dengan cerita tentang bagaimana sulitnya medan yang harus dilalui untuk sampai di lokasi pengabdian mereka. Dengan rangkaian kiasah-kisah itu, banyak audiens yang merasa sangat beruntung dan bersyukur karena bisa bersekolah di wilayah perkotaan dengan banyak fasilitas yang mereka dapatkan. Dalam kelas bacarita ini juga para pemateri yang telah menyelesaikan studi mereka di berbagai perguruan tinggi memperkenalkan kepada para peserta perihal dunia kampus dan dilanjutkan dengan tips/trik menghadapi ujian nasional atau SBMPTN dari direktur bimbingan belajar PRIMAGAMA Berau. 

Ketiga, Lomba Ranking 1. Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya pameran pendidikan dengan perlombaan Ranking 1. Sangat berhubungan! Peserta yang diundang dalam lomba ini adalah 100 siswa terbaik dari 10 Sekolah Menengah Pertama yang ada di kabupaten Berau.  Setelah mengukuti lomba, mereka diarahkan untuk mengunjungi galeri foto pendidikan yang terletak bersebelahan dengan lokasi lomba mereka. di sana mereka mendapatkan penjelasan yang mudah dicerna dari para Bapak-Ibu guru SM-3T. 

Keempat, Lomba Mewarnai. Perlombaan ini diikuti oleh 20 siswa-siswi yang lucu-lucu dari 10 Sekolah Dasar di kabupaten Berau. Hadirnya para peserta lomba ini otomatis ditemani oleh supporter masing-masing, entah itu guru, orangtua atau kerabat dan teman-teman mereka, sehingga kegiatan pameran pendidikan ini menjadi semakin meriah dan semakin banyak pula yang menerima informasi dan mendapatkan manfaatnya.

Selama 2 hari kegiatan berlangsung yaitu 9-10 maret 2016 di gedung NU YAKOBI Learning Center, Berau Post memuat acara ini dalam terbitan hariannya yang terbit pada 9 maret dengan judul pada halaman utama “Jadi Pijakan Membangun Dunia Pendidikan”. Dengan terbitnya berita mengenai kegiatan itu di Koran maka informasi tentang kondisi pendidikan yang ada di daerah-daerah terpencil dan tertinggal seperti Long Lamcin, dan Long Nguikian dapat tersebar lebih luas dan semakin banyak masyarakat yang paham bahwa upaya mempertahankan kemerdekaan melalui sector pendidikan belum terlaksana dengan maksimal. Syukur-syukur jika ada pejabat pemerintah yang rajin baca Koran dan sempat melihat terbitan itu lalu kemudian merasa terpanggil untuk melihat kembali kebijakan apa yang telah mereka buat dan mengambil langkah nyata untuk melakukan perbaikan. Semoga saja, Amin.

Akhirnya, separuh perjalanan 40 anak muda yang rela meninggalkan zona nyaman mereka di kota dan mengabdikan diri dan ilmu yang mereka miliki di kampung-kampng yang penuh keterbatasan telah berhasil mereka informasikan kepada masyarakat Berau. Sungguh upaya yang sangat mulia untuk melakukan kebaikan lalu mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan pula. Semoga saja kegiatan yang diketuai oleh Saddang Husain ini dapat menginspirasi pemuda Berau untuk terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan positif demi pendidikan yang jauh lebih baik.

Terimakasih kepada seluruh peserta SM-3T Angkatan V yang telah mengabdikan diri dan berjuang menaklukan tantangan di daerah penempatan masing-masing lalu kemudian mengadakan kegiatan Marginal Education Expo yang sangat bermanfaat ini, juga kepada seluruh sponsor dan pihak terkait yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil demi terlaksananya kegiatan ini. Special thanks to YAKOBI yang tak henti-hentinya memberi semangat dan meyakinkan panitia pelaksa bahwa kalian pasti bisa.
6 bulan lagi anak muda, kembalilah pada pangkuan Ibu Pertiwi, selamatkan anak bangsa karena masa depan negeri ini ada di tangan kalian. Jayalah pendidikan Indonesia jayalah SM-3T.

Note: Foto dan Publikasi di Media

Lamcin, 2 April, 2016
Catatan yang sempat tertunda
Saddang Husain 

Marginal Education Expo, SM-3T V Berau




KERANGKA ACUAN

KEGIATAN PAMERAN PENDIDIKAN “MARGINAL EDUCATION EXPO”

TEMA: MENGENAL PENDIDIKAN SAMPAI DI DAERAH TERDEPAN, TERLUAR DAN TERTINGGAL

Latar Belakang
Negara Republik Indonesia dengan wilayah yang membentang luas dari Sambang sampai Merauke memiliki berbagai macam masalah pendidikan yang sampai pada hari ini seolah semakin mencekik. Mulai dari masalah ranking pendidikan nasional yang duduk manis di deretan terbawah dunia sampai pada bangunan sekolah yang kritis di atas bukit yang sunyi. Dari kecerdasan dan kemewahan yang overdosis di perkotaan sampai pada ketidaktahuan dan kemiskinan yang akut di desa-desa terpencil. Semua itu adalah masalah Bangsa Indonesia yang tidak lain adalah masalah setiap orang yang mendiami negeri ini.
Ketidaktahuan dan kemiskinan mungkin bukanlah akibat kebodohan dan kemalasan melainkan akibat pembodohan dan pemiskinan. Pembodohan oleh mereka yang seharusnya mendidik tapi memilih diam, pemiskinan oleh mereka yang memiliki power tapi meilih diam. Lantas, apakah kita memilih diam atau bertindak? Sebagai praktisi pendidikan yang sadar dan peduli terhadap kondisi pendidikan negeri ini maka kita seyogyanya bersorak lantang “kami ingin bertindak”.
Melalui program nasional SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Berau talah mengambil langkah nyata dalam upaya penyelesaian masalah-masalah pendidikan yang ada di daerah pedesaan terpencil kabupaten Berau. Para pendidik muda yang didistribusikan ke 20 Sekolah Dasar yang tersebar di 6 kecamatan tidak hanya menemukan masalah seperti minimnya fasilitas, profesionalisme yang jauh dari kata cukup, atau kurangnya kesadaran masyarakat adat akan pentingnya pendidikan, tapi ada keunikan juga di sana. Ada keceriaan yang tak bisa terbeli dengan uang, ada semangat untuk tetap maju meski kondisi yang memprihatinkan, ada binar mata dari peserta didik yang seolah berteriak bahwa “kami tak ingin menyerah pada nasib”. 
Upaya perbaikan kualitas pendidikan di kabupaten Berau, terkhusus di dearah yang termasuk 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) tidaklah cukup dengan kerja keras tenaga pendidik saja, tetapi peran pembuat kebijakan, dan dukungan masyarakat umum adalah komponen yang sangat dibutuhkan demi terwujudnya pendidikan yang berkualitas karena setiap warga negara yang ada di Kabupaten Berau harus andil dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai janji kemerdakaan yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Atas dasar pemikiran yang telah disebutkan, maka perlu mengadakan suatu kegiatan yang dapat menggugah kesadaran masyarakat Berau secara umum dan seluruh warga sekolah (kepala sekolah dan guru sampai pada siswa-siswi) secara khusus akan pentingnya pendidikan, sekaligus memberi gambaran tentang kodisi pendidikan yang ada di daerah 3T Kabupaten Berau. Dengan kegiatan ini pula, masyarakat nantinya akan mengeti bahwa pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Kementrian Riset, Teknologi dan pendidikan Tinggi telah berupaya melakukan penyelesaian masalah kependidikan yang ada di kabupaten Berau melalui program SM-3T.

Tujuan
1. Mempublikasikan kondisi pendidikan yang ada di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) Kabupaten Berau.
2. Memberikan penyadaran kepada masyarakat Berau akan pentingnya pendidikan.
3. Memotifasi peserta didik untuk terus belajar dan tidak merasa puas dengan pencapaian yang telah mereka capai.
4. Memperkenalkan program SM-3T dan Mempublikasikan kegiatan-kegiatan guru-guru SM-3T yang ditugaskan di kabupaten Berau.

Pelaksana dan Biaya
1. Guru-Guru SM-3T Angkatan V Kabupaten Berau yang berasal dari LPTK UNM (Universitas Negeri Makassar).
2. Pembiayaan berasal dari Donatur

Penutup

Program dan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah realisasi dari komitmen pemerintah pusat sampai pemerintah daerah yang ingin melakukan perubahan atas kondisi pendidikan yang ada di Kabupaten Berau.

Lampiran 
1. Daftar Undangan dan Pesert
b. DOSEN DARI LPTK PENYELENGGARA SM-3T, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
c. BUPATI BERAU
d. KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BERAU
e. KEPALA SEKOLAH DAN DEWAN GURU
f. SISWA-SISWI DARI BEBERAPA SEKOLAH DI KABUPATEN BERAU

2. Mitra 
1. DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BERAU
2. YAKOBI (YAYASAN KOMUNITAS BELAJAR INDONESIA)
3. BIMBINGAN BELAJAR PRIMAGAMA

Jonlay, siswa unik di kampung Long Lamcin


Jonlay dan Bola Ingus Sialan

Di SD Negeri 012 Kelay Kampung Long Lamcin, saya menemukan sosok manusia ajaib bernama Jon Lay. Dia adalah siswa paling minimalis di kelas 1 sekaligus di sekolah. Dengan pipi tembem dan bentuk rahang yang meruncing kedepan, kedua bibirnya sulit dipersatukan. Mereka menempel pada satu mulut yang sama tapi tak pernah sejalan, menyedihkan! Sekali ia bermaksud mengungkapkan sesuatu maka garis wajahnya langsung membentuk senyum lebar yang memamerkan keompongan. Dengan bentuk seperti demikian itu maka tak diragukan lagi bahwa Jon Lay, dipanggil JONLAY menjadi siswa dengan senyum termurah seantero sekolah. 

Selain senyum abadi, wajah langkanya juga dianugerahi ingus abadi. Entah bagaimana penjelasan medisnya tapi ingus itu tak henti-hentinya nongol di ujung hidung mungilnya walau tiap hari sudah dikeluarkan. Sudah sangat lama, sejak awal saya datang 5 bulan yang lalu memang sudah ada. Lalu kata Pak Adi yang sudah 1 tahun menjadi guru PTT Daerah (Pegawai Tidak Tetap) di Kampung yang terkepung gunung ini, anak itu sudah ingusan. Bahkan Ibu Eka yang juga PTT sejak 2 Tahun terakhir memberi kesaksian yang sama. Jangan-jangan Ibu Jon Lay sendiri akan berkata bahwa si Jon sudah ingusan sejak dilahirkan. Itu anugerah apa kutukan ya? Ah, bocah 7 tahun itu selalu membuatku tak mampu menahan tawa dalam situasi apapun. Bahkan dengan mengingat wajahnya saja saya sudah terhibur bukan main. 
***
“Assalamualaikum Pak Guru!” Jon Lay mengetuk pintu lalu mengintip melalui sela-sela papan.
“Waalaikumussalam, siapa? saya pura-pura bertanya sambil mengawasi dari balik kaca hitam yang tak nampak dari luar.
“mmm… “ matanya bergoyang-goyang, sepertinya berpikir. “ Pak Guru…Pak Guru…” 
“Ya, siapa?” Dengan nada yang meninggi. Saya masih tak membukakan pintu dan mulai tertawa melihat Jon yang kelihatan gelisah.
“Pak Guru…” Terdengar memohon dan hanya kata itu yang bisa dia ucapkan, dan raut wajahnya mulai menampakkan ekspresi kekecewaan seolah tak percaya saya yang setiap hari membukakan pintu rumah pada jam yang sama, 07.00, masih belum hapal dengan suaranya. 
Dia diam beberapa saat, lalu bergerak ingin meninggalkan teras rumah yang sepi itu. Kubuka pintu dengan keras sambil berteriak 
“YYAAA…” Ia terkejut dan langsung memukuliku dengan tangan mungilnya, saya tertawa puas sambil merangkulnya.
“Sudah Mandi, Nak?”
“Sudah Pak Guru”
“Hebat, Sudah Makan?”
“Iya, makan BABI RW”
“wow, delicious?”
“hmm yes, Pak Guru” 
Babi RW itu adalah daging babi yang dimasak dengan lumuran kecap dan Lombok yang banyak. Masakan RW menjadi masakan favorite warga kampung. Ayam, ikan, babi, beruang, kijang, kancil bahkan landak, nanti dimasak RW baru dibilang sedap. Jon Lay bersama dengan seluruh warga Kampung Long Lamcin ini adalah penganut agama Kristen Protestan yang berpola hidup masih berburu. Mereka adalah jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII). Meskipun seluruh siswaku beragama kristen, mereka sudah terbiasa mengucap “Assalamualaikum” Atau Menjawab “waalaikumussalam”. Itu karea aturan yang kubuat sendiri. “No body can enter this class without permission, Tidak ada yang boleh masuk kelas tanpa permisi terlebih dahulu. Kalian bisa bilang selamat pagi atau assalamualaikum” ucapku pada pertemuan pertama. Anehnya, mereka malah lebih senang mengucapkan Assalamualaikum. Jadilah ucapan salam itu booming di pedalaman Kalimantan timur ini.  
***
Pukul 07.45 saya berjalan meninggalkan rumah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari sekolah mengikuti Jon Lay yang berlari-lari kecil di depanku. Siswa kelas 1 mulai berlarian memasuki kelas dan langsung duduk manis di tempat duduk masing-masing.
“How are you Lamcin Warriors?”
“My brain, My heart, Fresh-fresh-fresh!”
“Very god, Are you ready to study?”
“Yes, yes, yes Ready!” Pembukaan yang sungguh semangat dan berapi-api, Mirip seminar training-training untuk cepat kaya. Seperti biasa, saya mengawali kelas dengan warming up lalu story telling. Pagi yang mendung di akhir November itu, saya bercerita tentang kisah BunDa (Bubun Datu) yang berarti Sumur Datu dalam Bahasa Luwu. Meskipun cerita itu hanya rekaanku sendiri, anak-anak senang mendengarnya bahkan sampai saya menuliskan ini sudah beberapa kali mereka request cerita itu lagi. 
“Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang kakek tua bernama Datu” saya memulai cerita dengan gaya berjalan seorang kakek tua. 
“Ia hidup seorang diri di dalam sebuah gubuk tua di desa kecil bernama Labokke’” Suarku melemah seolah berbisik lalu kemudian kembali normal denga mengajukan pertanyaan 
“Siapa nama kakek itu?” 
“Datu!” lantang teriakan mereka.
“Good!!!”
Ceritaku berlanjut dengan dramatisasi yang lumayan lebay. Sesekali saya lepaskan pandangan yang tajam ke dalam mata mereka, menahan kata-kata beberapa detik lalu kembali memecah sunyi dengan bersorak sambil menghentakkan kaki di lantai. Beberapa siswa menganga, nyaris meneteskan air liur. Tapi beda dengan John Lay, ingusnya membentuk balon lalu pecah di ujung hidungnya yang mungil itu. Saya tak mampu menahan tawa. 
***
Setelah bercerita, kami lanjutkan dengan pelajaran matematika.  Pada momen ini lah aura keperkasaan Jon Lay mencuat. Saya mengajari mereka cara penjumlahan menggunakan garis yang ada pada jari-jari tangn. Selain jempol, masing-masing jari memiliki tiga garis atau tiga patahan. Secara keseluruhan ada 28 garis. Setelah beberapa contoh akhirnya mereka paham dan merasa sangat senang dengan media jari tangan karena mereka tak perlu lagi bergelut dengan batu atau lidi. Ya maklum lah, sekolah kami memang minim fasilitas. 
“Berapakah 4 + 7?”
Ujang berteriak “sebelas Pak Guru”
“Betul, Tepuk tangan”
“10 tambah 11”
“Dua satu” Alex dan Ujang menjawab sama cepat. Lalu suara lembut Jonlay menyusul seolah membenarkan “dua pulu satu”
“Dua satu atau Dua puluh satu, benar” mereka senang.
Ketegangan mulai terasa saat aku mempertandingkan 10 soal.
“7 ditambah 8”. Semua menjawab benar 15 tapi Jonlay yang palin cepat. 1 poin untuknya.   
“8 ditambah 9”  “tujublas” bocah 60 cm itu lagi-lagi membuat temannya gemas.
“10 tambah 9” mereka kembali menunduk bermain dengan jari-jarinya. Lalu berlomba menjawab dengan berteriak “19”. Kali ini Ujang yang mendapat tambahan poin.
15 + 7, poin untuk ujang. 16 + 9, Jonlay. 17 + 10 kembali ujang tercepat. Akhirnya sampai soal ke-9, skor sementara 4 untuk Jonlay , Alex 1, Ujang 4. Putri, Deli, Gamar, Arjun, Ikang dan Stember sama-sama telur besar. Dengan berat hati mereka menjadi pendukung di pertanyaan puncak.
“Inilah pertanyaan terakhir, soal cerita!” saya mulai mendramatisasi soal mirip berita gossip di Tipi. “Bilung, pergi mencari buah di hutan, dia mendapatkan 14  Gu’ Lehjin (durian) dan 14 Gu’ Gun (rambutan Hutan) ” saya diam sejenak, memperhatikan Ujang dan Jonlay mencondongkan kepalanya. Saya lanjutkan dengan suara berseru “berapakah total buah yang didapatkan Bilung?”
Mereka dengan panik mulai berhitung. Jonlay fokus pada jari dan tenggelam dalam hitungan 19, 20, 21, 22 sedikit lagi. Ujang masih di angka 14, 15, 16. Mataku secepat kilat kembali pada Jonlay. Gawat, ingusnya kembali nongol membentuk balon, semakin dekat semakin besar balonnya. 25, 26 dan “chussshh” balonnya meletus, konsentrasi Jonlay buyar, dia lupa sudah sampai angka berapa tadi. Saya setengah hidup menahan tawa, sekaligus iba melihatnya kembali pada hitungan pertama. Dengan mantap Ujang teriak “dua pulu delapan Pak Guru”
  ”Benar!!!, Pemenangnya adalah Uuujaaang” saya bersorak sambil mengangkat tangan Ujang lalu diikuti tepuk tangan meriah seluruh kelas, kecuali Jonlay yang baru sadar kalo pertandingan telah usai.
Sungguh hari yang menyedihkan untuk Jonlay, jika bukan karena ingus sialan itu, dia pasti sudah menjadi pemenang pada hari itu. Kelak, ketika Jonlay membaca tulisan ini, ia pasti akan berjanji untuk tidak ingusan lagi. Semangat Nak!

Long Lamcin, 16 februari 2016



Lamcin Warriors

Lamcin Warriors

Di satu pagi yang berembun, kulihat beberapa ekor anjing keluar masuk sekolah melalui pintu kelas 1 (satu) yang tak terkunci. Malang sekali nasib sekolah tempat tugasku sebagai guru SM-3T ini. Hanya memliliki 3 lokal yang disekat menjadi 5 kelas dan satu kantor dengan papan kapur dan kaca jendela yang jebol di sana-sini. Belum pernah saya melihat kondisi sekolah separah ini di tanah kelahiranku, Palopo, Sulawesi Selatan. Rutinitas sekolah pada umumnya pun tak saya lihat di sini. Tak ada upacara bendera pada hari senin, tak ada Pramuka pada sabtu minggu dan sekalipun tak pernah ada yang namanya apel pagi. Belum lagi kondisi ruangan yang bernama “KANTOR”, sunyi dan sepi bagai pemakaman. Tak pernah ada rapat disana. Do not ask me about teacher and administration! Ah, apakah ini sekolah atau hanya bangunan kritis yang menjadi hotel mewah bagi kawanan anjing! Bagaimanapun juga di “hotel” inilah saya menemukan keceriaan, semangat, dan binar mata yang seolah berteriak “kami tak ingin menyerah pada keaadaan”.

Mereka adalah Lamcin Warriors, 9 siswa kelas 1 yang telah saya pegang selama beberapa bulan terkahir. Sebelumnya saya mengajar kelas 4. Jumlah mereka memang hanya 9 tapi itu sudah lebih banyak dari kelas yang lainnya. Kelas 2 yang hanya berjumlah 4 orang siswa atau kelas 6 yang hanya 3 orang murid. Kelas 1 menjadi kelas paling ramai di SD Negeri 012 Kelay, Kalimantan Timur. Penyumbang murid terbanyak dari total 31 untuk 6 kelas. 

Lamcin Warriors atau serdadu lamcin adalah sebutan yang saya berikan berdasarkan pengamatanku terhadap pola hidup mereka yang begitu keras setiap harinya sehingga tubuh mereka kekar dengan otot yang kuat-kuat. Meskipun rata-rata berusia 7 tahun, mereka sudah sangat terbiasa mengangkat air dari sungai dengan kontur jalan yang menanjak. Mencari dan mengangkat kayu bakar dari hutan yang jaraknya tidak dekat. Belum lagi dengan makanan dan minuman mereka yang terkadang saya tak percaya bahwa hal seperti itu ternyata bisa dikonsumsi, daging beruang contohnya atau air yang tidak dididihkan. Kerasnya hidup yang mereka hadapi membuatku banyak mensyukuri hidup dengan segala kemudahan yang selama ini kudapatkan. Jika Bukan Serdadu apa lagi kata yang tepat untuk menyebut mereka? 

***
Serdadu #1. Lamcin Warriors dipimpin oleh si pipi tembem berkulit putih, Alex. Dia sangat cinta dengan kelas satu sehingga sudah dua tahun bertahan di bangku yang sama. Kata guru-guru di sini, “Alex itu masi magang di kelas satu”. Baru tau kalau ternyata sekolah juga harus magang. Alex bukanlah sosok yang karismatik di kelasnya tapi “ditakuti”, tidak jarang dia terlibat perkelahian khas anak SD dengan murid perempuan. Anehnya dia selalu lebih dahulu melapor kepada guru dibanding lawannya. 
“Aku mau dijagur (baca: tonjok) Pak guru!!!” dia melapor dengan ekspresi cemas nyaris menangis sambil melipat-lipat jari tangannya. Ingus tipis di hidungnya membuatku merasa iba.
“Siapa yang mau jagur kamu Nak?” tanyaku prihatin.
“Si Putri, Pak Guru” jawabnya dengan nada pelan dan lambat.
“Hahaha… Putri?” Tawaku pecah karena tak menyangka kalu ternyata si putri yang lemah gemulai dan manja itu bisa membuat Alex lari terbirit-birit.
“Iyya Pak Guru, aku diginikan (sambil mengarahkan kepalan tangannya ke pipi)”
“Mana si Putri?” saya langsung bergerak mencari Putri, Ternyata Putri sudah berada di cengkraman Ibu Guru Rina, dia menangis tersedu-sedu. Kubawa dia kembali ke kelas 1, lalu saya interogasi.
“kenapa kamu Nak?”
Sambil menangis dan sesekali menarik ingusnya dia menjawab “aku takut Pak Guru, Mau dicakar si Alek”
“Haa! Kamu mau dicakar sama Alex?”
“Yes Sir”.
Waduh saya bingung dengan laporan mereka, biar kuperjelas sekali lagi. Laporan: Alex dijagur Putri, dan Putri dicakar Alex. Bukankah Alex yang seharusnya men-jagur dan Putri yang seharusnya men-cakar? Membingungkan! Tapi itulah anak-anak, penuh keajaiban.
Kasus perkelahiannya dengan Putri yang tak menyisakan dendam apa-apa itu hanyalah satu di antara laporan Alex tiap harinya. “Pag Guru, Si Ujang meludah di lantai” itu si Ujang langsung dapat hukum push up. “Pak Guru, Deli buang sampah dalam laci” itu Deli langsung dapat hukum membersihkan seluruh kelas. “Pak Guru, Arjun, makan dalam kelas” Arjun langsung kenyang, kenyang scot jump. “Pak Guru, ini…. Pak Guru itu…” Laporan Alex mengalir deras bagai Lumpur Lapindo, menenggelamkan seluruh kelas 1. Konsistensi Alex dalam melapor membuat pelanggaran-pelanggaran terus berkurang dan kelas semakin mudah dikendalikan. Dia menjadi pengawas yang ditakuti tapi kadang-kadang juga dapat laporan “Pak Guru, Alex tidak mandi” teriak Ikang yang mulai bosan terus-terus dilaporkan.
     
Serdadu #2, Stember, 7 tahun, kulit putih dengan rambut lurus yang berwarna kuning karena sengatan matahari. Dia rajin ke sekolah tapi jarang mandi. Rambutnya yang pirang alami itu selalu tersisir rapi merapat ke samping kiri. Bajunya yang kumal selalu terkancing rapi, rapat sampai di leher. Tapi sayang resleting celananya tak pernah terkunci. Meskipun res celana sudah rusak dia tetap pede memasukkan baju. Itu demi kerapian yang sering saya tekankan. Untung saja celana dalamnya selalu lebih panjang dari celana sekolah yang dia kenakan sehingga “burungnya” aman-aman saja. “kalian harus berpenampilan rapi, biar keren!”, kataku dalam suatu pertemuan saat pertama ditugaskan. “Baju di dalam, terkancing, rambut tersisir rapi dan pake wangi-wangian”. Lanjutku sambil menyentuh dan mengusap semua yang kukatakan. kepercayaan diriku sepertinya overdosis saat itu. Nyaris tak tau malu. Hebatnya, Stember ternyata terobsesi dengan gayaku, dia tak pernah mengutarakan kekagumannya tapi saya tau dari cara dia berpakaian, kera baju selalu terkancing rapat.

Baik di dalam maupun di luar sekolah Stember selalu menampakkan sikap yang karismatik. Pernah di satu pagi saat saya memulai kelas dengan story telling. Teman-temannya kurang memperhatikan saya di depan karena sedang meributkan sebuah pensil misterius yang tak tau siapa pemiliknya. “zzzzhhzzz…. Ennong ya” “…zzz... mm takumde’ we…” suara mereka sambar menyambar seperti lebah. Mereka berbicara dengan suara dalam yang seolah tak ingin ribut tapi tetap saja terdengar. Percakapan mereka yang menggunakan bahasa Dayak Punan itu sedikitpun tak saya pahami. Sesekali saya menghentikan cerita, menatap mereka dalam-dalam lalu kembali melanjutkan saat mereka diam. Namanya anak-anak, tak cukup semenit mereka kembali ribut. Tiba-tiba Stember langsung berdiri menyuruh temannya diam dan melepaskan tatapan tajam yang penuh ancaman.  Tak ada yang melawan, Stember murka. Ia mengagumkan dan langsung didapuk menjadi wakil ketua.

Serdadu #3, sang juara nyanyi, Ikang Fauzy. Tidak seperti Stember yang rajin ke sekolah, Ikang jarang sekolah sekaligus jarang mandi. Rambutnya acak-acakan dan tidak mengancing bajunya sampai di leher. Sangat kentara bahwa dia tidak terobsesi dengan gayaku. Dia sangat malas menulis tapi ngotot harus duduk di bangku paling depan. Jika kuberi tugas menulis Ikang pasti memenuhi bukunya dengan gambar-gambar yang tidak jelas, dan jika dipaksa menulis, dia akan menulis tapi dengan buku terbalik. Ah, kadang-kadang saya bingung harus meminta dengan cara apa agar dia mau menulis seperti teman-temannya. I am still thinking a good approach to encourage Ikang writing. I promise to myself that I will find the proper method for him before leaving this school. Bagaimanapun juga saya sangat menghargai dan mengagumi Ikang dengan kecerdasan musical yang ia miliki. Tak ada yang sebagus dia saat bernyanyi dan tak ada yang secepat dia dalam urusan menghapal lagu. Dia selalu menjadi orang pertama yang mengacungkan tangan dan berteriak “Aku Pak Guru!” pada saat kutanya siapa yang bisa nyanyi di depan. Giliran membaca, dia akan mencari-cari kesibukan dan berharap namanya tak disebutkan. “Next, Ikang!!!” Sini Nak, kamu tidak bisa lolos dari Pak Guru. Ayo baca!

Serdadu #4, Jon Lay, bocah 7 tahun dengan kecerdasan matematis yang luar biasa. Dia adalah siswa paling minimalis di kelas 1 sekaligus di sekolah. Dengan pipi tembem dan bentuk rahang yang meruncing kedepan, kedua bibirnya sulit dipersatukan. Mereka menempel pada satu mulut yang sama tapi tak pernah sejalan, menyedihkan! Sekali ia bermaksud mengungkapkan sesuatu maka garis wajahnya langsung membentuk senyum lebar yang memamerkan keompongan. Dengan bentuk seperti demikian itu maka tak diragukan lagi bahwa Jon Lay, dipanggil JONLAY menjadi siswa dengan senyum termurah seantero sekolah. 
Selain senyum abadi, wajah langkanya juga dianugerahi ingus abadi. Entah bagaimana penjelasan medisnya tapi ingus itu tak henti-hentinya nongol di ujung hidung mungilnya. Kadang-kadang cairan hijau muda itu mengintip di saat yang tidak tepat.
“Next Jonlay. Sini nak, giliran kamu membaca” dengan ramah saya memanggilnya untuk duduk di samping saya.
“Tunggu Pak Guru, aku bikin ini dulu” jawabnya dengan pandangan memohon sambil menunjuk beberapa baris tulisan. Kata “bikin” menjadi kata yang paling banyak artinya di kampung ini. “Aku mau bikin wasit” artinya saya mau menjadi wasit, “aku mau bikin lipat (dalam pertandingan takraw)” artinya saya mau smash salto. Dan masih banyak bikin-bikin yang lain.  
“Ok!” kutunggu dia, kuperhatikan keseriusannya menyelesaikan tulisan yang tanggung itu. Saking seriusnya, dia sudah tak peduli lagi dengan apapun, termasuk ingus yang mengalir hampir menyentuh bibir bawah. 
“Jonlay, Jonlay, Joooonnlaaayyy” kupanggil untuk memperingatkan dia bahwa ada serangan, tapi dia tak acuh, tenggelam dalam konsentrasi mengakhiri tulisan. Semakin panjang, mulai menggantung dan saya tak tahan lagi melihatnya. saya langsung membalik badan dan berteriak “Jonlay, keluar buang ingus. Sekarang!”. Dia kemudian berlari sambil tertawa. 
Jonlay kecil sungguh tak tertandingi dalam urusan hitung menghitung, setelah beberapa kali saya melakukan kompetisi sederhana seperti cerdas cermat di kelas 1, dia selalu menang telak bahkan terkadang nampak keputusasaan di wajah teman-temannya takkala Jonlay menyapu bersih soal matematika. Tapi urusan membaca dan menulis, dia masih belajar mengenal huruf. 

Serdadu #5, Ujang, Jagoan membaca dari sudut kiri belakang. Hal yang paling menarik dari dia saat pertama bertemu adalah namanya yang terdengar seperti nama orang Jawa Barat, Ujang. 
“Kamu orang jawa ya Nak?” tanyaku penasaran. 
“Ennong BeGuru” Artinya “Tidak Pak Guru” jawabnya dengan expresi malu dengan kedua tangan yang masuk dalam kantong celana sambil digoyang-goyangkan naik turun. Wajahnya menunduk, mata liar dan bibir bawahnya terus terus dia gigit dan sambar dengan lidah, seperti orang cemas berat. 
“tapi nama kamu kok Ujang?”
Tak ada lagi jawaban, dia menatapku kosong, lalu meringis tanda ingin segera kabur.
Ujang sangat mudah memahami pelajaran membaca, saat teman-temannya masih kesulitan menyambungkan 4 huruf yang dipenggal menjadi dua, konsonan vowel-konsonan vowel dia sudah lancar mengeja kata “Sekolah, kelapa, lemari” dan bahkan sudah paham membaca kata yang berakhiran Ng. “ini pisaNg, ini gunuNg, ini saruNg”. Kadang-kadang dia kelihatan bosan menunggu teman-temannya yang kesulitan memahami huruf. 
Ujang berbadan lebih tinggi dari semua teman-temannya di kelas 1, lebih putih, dan tidak terlalu banyak omong, tapi sedikit “melambai”. Dia lebih banyak menghabiska waktu bermainnya dengan teman perempuan daripada teman laki-laki. Dalam satu kesempatan, di satu sore yang gerimis dan dingin, saya bertemu dengan Ujang sedang berjalan dan menutup badannya dengan sebuah handuk biru yang mulai rapuh. Anehnya dalam handuk itu juga ada Linda, bocah 6 tahun yang tak mengenakan baju. “Aduhhhh Ujang, keluar kamu dari handuknya Linda. Pulang, sudah malam”. Dia cuman meringis lalu cepat-cepat berjalan memunggungi Linda yang ikut di belakangnya.
Gerakannya yang agak gemulai dan karakternya yang tidak banyak bicara menjadikan Ujang sosok yang sangat lucu ketika memainkan permainan yang umumnya dimainkan anak laki-laki seperti sepak bola, dan takraw. Dia butuh paling tidak 3 kali percobaan untuk bisa menendang bola, berkali-kali dimarahi oleh teman setimnya karena tak pernah kena saat menyundul takraw, belum lagi ketika ia berlari dengan gaya “Khas Ujang”, dada condong kedepan, dengan tangan yang berayun kaku dibelakang. Ah sungguh mati untuk bisa menahan tawa ketika melihat dia sedang bermain, ada-ada saja gerakannya yang kocak tapi sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Keunikan gerakannya menjadiakan dia pemain idola dan bintang lapanga setiap kali bermain. Jawara dalam kategori menghibur.  

Serdadu #6, Arjun. Kemampuan visualisasinya diatas rata-rata dan bercita-cita sederhana, ingin menjadi pa’le bakso (Baca: Abang tukang bakso). Kemampuan berimajinasi Arjun selalu membuatku takjub dan sangat kagum padanya. Pernah disatu kesempatan saya meminta seluruh kelas menggambar bebas, tentang apa saja dan Arjun menyuguhkan sebuah gambar yang penuh arti.
“Anak-anak, hari ini kita belajar menggambar, Ok!”
“Ok pak guru” mereka sangat senang dengan belajar seperti itu, seharusnya mereka berteriak “Horee” tapi di kampung ini tidak ada kata hore, mereka sangat asing dengan kata ajaib itu. “Ok” sudah cukup.
Setelah bebrapa menit, kuperhatikan Arjun masih mendongakan kepalanya keatas sambil menutup mata. Dia mematung dan segarispun belum terukir di kertasnya.
“Arjun, kamu ngapain Nak? Temanmu sudah mau selesai gambarnya” tapi dia tidak mengatakan apa-apa, tetap diam seolah-olah tidak mendengarku berbicara. Baiklah, kubiarkan saja dia, mungkin dia sedang meminta ilmu dari para dewa.  
Setelah semua selesai, gambar mereka kukumpulkan lalu setiap anak yang kupanggil namanya naik untuk menjelaskan padaku tentang gambar mereka. Di sini Arjun menjadi serdadu paling keren.  Gambarnya luar biasa. 
“Jun, ini gambar apa nak?” Tanyaku sambil mengangkat kertasnya.
“Gambar gunung pak guru” Ya hanya gunung tapi kalian jangan mengira gambar gunung yang ia buat itu seperti yang pernah kita buat dulu ketika masih SD, ada dua gunung, matahari di tengah, jalan kebawah dan persawahan di kanan kiri jalan. Bukan itu, sangat berbeda. Arjun mencoba menggambar pegunungan berdasarkan apa yang setiap hari ia lihat ketika terbangun dari tidurnya. 
“ini gambar pohon apa Jun?”
“ini pohon Manggris pak guru, ada orang memanjat, mau ambil madu. Ini dia sarang madunya pak guru” tangan arjun menunjuk setiap garis yang ada pada pohon itu.
“Terus Jun”
“Disini ada orang pegang singso pak guru, mereka tebang pohon tapi bukan pohon buah, ada monyet, babi, payau, sungai, bapak saya naik ketinting, buaya, ikan sapan” Arjun terus menerangkan setiap coretan yang ada di bukunya, tak satupun coretan di sana yang tak memiliki arti. Saya begitu kagum padanya dan tak menyangaka bahwa waktu yang ia gunakan untuk diam adalah moment berimajinasi untuk menghasilkan karya yang mampu menceritakan seluruh kondisi kampung Lamcin ini. 
Arjun yang begitu sulit memahami pelajaran membaca dan berhitung ternyata sangat hebat dalam pelajaran menggambar. Meskipun gambarnya jauh dari kata sempurna tapi sangat nampak usahanya untuk menceritakan semua yang ia saksikan dan alami dalam hidupnya melalui gambar itu. Semoga saja Arjun bisa menjadi seorang pelukis yang handal. Dia sungguh berbakat untuk itu.
Sayangnya, cita-cita Arjun tak setinggi yang kubayangkan. Dia tak ingin menjadi pelukis apalagi menjadi arsitek. Dia hanya ingin menjadi Pa’le’ Bakso (Abang tukang bakso). Memang tak seperti kebanyakan anak-anak di daerah perkotaan yang begitu akrab dengan kata-kata profesi seperti pilot, dokter, ilmuwan, tentara dan polisi. Di sini, tak ada siswaku yang ingin menjadi dokter, paling hebat menjadi guru, dan ibu bidan, padahal anak laki-laki. Ah, luar biasa sekali mereka ini. 
Keinginan Arjun untuk menjadi pa’le bakso bermula ketika di kampung ini diadakan perayaan natal gabungan bersama 7 kampung yang berada di sepanjang hulu sungai Kelay. Pada saat itu, banyak pedagang dari kota Tanjung Redeb yang berdatangan dan salah satunya adalah tukang bakso. Di situ Arjun pernah sekali mencoba makanan bernama bakso itu dan ia sangat senang dan akhirnya bercita-cita untuk menjadi tukang bakso juga. Sungguh sangat sederhana keinginan itu buatku tapi setelah kupikir-pikir, itu memang masuk akal dan sangat istimewa bagi dia. Bukankah yang menjadikan sesuatu itu istimewa karena sangat jarang kita melihatnya atau sangat susah kita memilikinya? Bagi Arjun, berburu adalah biasa saja, menjadi penakluk beruang di hutan belantara adalah biasa saja, mencari emas adalah biasa saja tapi bakso adalah hal yang sangat luar biasa, apa lagi sampe bisa membuat dan menjualnya akan sangat istimewa. Ok lah kalo begitu Jun, Mudah-mudahan kamu sukses meraih apa yang kau inginkan, Nak. 
Serdadu #7, Olivia Putri. Meskipun pernah terlibat pertengkaran hebat dengan Alex, Putri tak ragu untuk meminta maaf terlebih dahulu lalu kemudian bersikap ramah kepada Alex, juga kepada seluruh teman sekelasnya. Putri berbadan kurus dengan rambut yang panjang dan lurus, selalu berpakaian rapi dan tak pernah melupakan handuk kecilnya ketika ke sekolah. “kata Mama aku, debu kapur itu tidak baik untuk kesehatan pak guru”, ia menjelaskan dengan mantap ketika kutanya alasan dia selalu membawa handuk kecilnya. Soal kerapian memang Putri juaranya, dia bahkan menjadi satu-satunya Serdadu Lamcin yang tak pernah mengenakan sendal ke sekolah, selalu sepatu hitam. Belum lagi dengan dasi dan topi yang memberikan gambaran potret anak sekolah modern. Hadirnya Putri dengan penampilan sedemikian itu setiap harinya menjadi satu bukti bahwa orang tua berperan sangat besar dalam membentuk buah hatinya. 
Ayah Putri adalah seorang gembala jemaat GKII (Gereja Kemah Injil Indonesia), Pdt. Rustam dan ibunya adalah seorang guru PAUD. Mereka memang bukan penduduk asli kampung ini tapi sudah 10 tahun menetap di Lamcin sejak pertama kali pendeta Rustam menjadi pemimpin jemaat di sini. Tak diragukan lagi bahwa pengaruh keluarganya membuat Putri tampil berbeda dengan anak-anak lain. Tapi dia bukanlah sosok anak yang suka menjauhi teman-temannya ataupun sebaliknya. Mereka melebur menjadi satu seolah tak ada pembeda diantara mereka. Terlebih lagi ayah Putri yang pendeta itu adalah orang suku dayak punan juga. 
Sejak awal sampai pada hari ini, gadis kecil berkulit gelap itu menjadi penerjemah yang handal buatku. Dia begitu fasih berbahasa Indonesia sekaligus berbahasa dayak punan. Dia adalah seorang guru bahasaku. Sepulang sekolah atau sedang bersantai menonton orang bermain voly, kami sering barmain-main dan dia mengajariku beberapa kata dan kalimat yang ingin kuketahui. 
“Put, kalau pak guru mau tanyakan nama, bilang apa?”
“Non nyiang ke’?” jawabnya dengan lancar.
“Non yang kee’?” Kucoba mengulangi.
“Bukan begitu Pak Guru, harus ada nadanya, Non Nyiang Ke’?” Sekali lagi dia mengulangi dengan intonasi dan penekanan yang mantap. Ya inilah bahasa dayak punan, pengucapannya harus dengan intonasi yang pas karena salah penekanan akan salah arti atau tidak punya arti sama sekali.
Putri telah mengajarkanku banyak hal tapi saya belum berani memanggilnya ibu guru sebagaimana dia tanpa ragu memanggilku pak guru. Padahal bisa jadi saya mendapat pelajaran lebih banyak dari dia dibandingkan pelajaran yang dia dapatkan dari saya. 

#8, Gamar. Gadis rimba yang super pemalu. Saya menyebutnya gadis rimba karena dia satu-satunya muridku di kelas satu yang masih banyak menghabiskan waktu di hutan. Gamar lebih sering tinggal dirumah kakek neneknya dan ikut mereka ke hutan sampai berminggu-minggu. Rambut  Gamar yang panjang dan berombak menegaskan kesan “tak terurus”-nya. Kemana-mana agas, sejenis nyamuk berukuran kecil yang sangat sakit dan gatal ketika menggigit selalu saja berkeliaran di sekitaran Gamar. Hal ini cukup mengherankan karena dia  sendiri tak pernah kelihatan risih dengan kehadiran teman-teman kecilnya itu, entah agas itu tak menggigitnya atau mungkin juga dia sudah kebal dengan gigitan itu.
Kehidupan Gamar yang gemar tinggal di hutan menyebabkan ia tumbuh menjadi sosok yang sangat pemalu. Ia begitu sulit diajak berkomunikasi karena kesulitan berbahasa Indonesia. Dalam hal ini, Peran Putri sangat dibutuhkan. Selain itu anak ini juga memiliki sebuah expresi yang sangat unik jika didekati, dia akan menggeliat-geliat seperti cacing tanah yang diletakkan diatas aspal panas, meliuk-liuk, menutup wajahnya, menutup mulutnya, dan melepaskan padangan tak berdaya. Satu ketika saya menghampiri dia di bangkunya karena ia tak berani naik seperti anak-anak yang lain saat kupanggil membaca. Saat duduk di sampingnya, dia mulai meliuk-liuk, tertawa aneh memamerkan deretan giginya yang baru belajar tumbuh setelah sekian lama ompong, malu bukan main, terus menjauh sampai akhirnya terjatuh dari bangku. Saya merasa bersalah dan kasihan melihatnya tapi ia malah tertawa lalu diikui oleh tawa murid yang lain. Ah sudahlah saya juga ikut tertawa. 
Walaupun pemalu dan sediki “aneh”, gadis rimba ini adalah salah satu jagoan membaca, jika Ujang adalah si jago baca dari sudut kiri belakang, maka gamar adalah jago baca dari sudut kanan belakang. Selain membacanya yang bagus (meskipun dengan suara yang sangat pelan), Gamar adalah jagoan menulis. Tak ada siswa di kelas 1 sampai kelas 4 yang tulisannya lebih rapi dibandingkan tulisan Gamar. Kecil sama kecil dan besar sama besar. Setiap hurufnya terukir dengan tegas dan jelas, mudah dibaca dan enak dipandang. Dia bahkan mengisi setiap lembar bukunya dengan teratur, tidak melompat-lompat. Dari Gamar, saya mengambil sebuah pelajaran baru bahwa “you don’t have to be a good speaker to be a good reader and you don’t need to be cute and beautiful to create good writing”. Terimakasih nak, you teach me well.

#9, Mardelila, gadis cantik dengan bando pink di kepala. Seperti kebanyakan anak-anak suku dayak, kulit Deli itu putih bersih, mata sipit dan rambutnya lurus. Kecantikan Deli membuatnya sangat dikagumi murid laki-laki dikelasnya. Just because they are very young doesn’t mean that they do not understand beauty and dating. They do deal with that. Seperti anak-anak lain yang senang bermain di sungai, basah-basahan lalu kemudian kejar-kejaran sampai akhirnya pakaian mereka kering di badan, Deli juga melakukan hal yang sama tapi kecantikannya tidak pudar oleh keringat dan debu. Jika ia memasuki kelas sangat jelas bahwa aura wajah Alex, Ujang, Stember, Jonlay, dan Arjun tiba-tiba berubah dan memancarkan aura persaingan untuk menarik perhatian Deli. Pernah satu kali Deli datang telambat lalu saya berikan hukuman sesuai kesepakatan bersama yaitu hukuman push up sebanyak menit keterlambatan. Belum lagi si Deli memulai Push Up Ujang tiba- tiba saja maju kedepan lalu meminta untuk dihukum juga. 
“Deli, kita masuk jam berapa nak?”
“Hmmm… lupa pak guru” jawabnya malu-malu sambil melepaskan tatapan terdakwa sampai kerutan di pinggir matanya kelihatan. 
“Ada yang tau?” tanyaku berpaling pada seluruh kelas yang ternyata fokus pada kami.
“Jam 7 lewat 45 pak guru” jawab beberapa orang kompak.
“Good, sekarang sudah jam?” tidak ada yang menjawab lalu kujawab sendiri “jam 7 lewat 55, berarti Deli terlambat 10 menit”
Saya kembali menatap Deli dan menanyakan kesiapannya untuk melakukan push up 10 kali. 
“Pak Guru, aku juga mau dihukum” kata Ujang yang tiba-tiba berada di dekat Deli, seolah-olah dia ingin melindungi sang putri raja. 
“Attaiwa, (expresi spontan yang berarti waduh) kamu mau dihukum juga Jang? Kamu kan tidak terlambat”
“Biar aja pak guru, aku mau temani Deli” jawabnya yakin.
“Kalo begitu kamu saya hukum lari keliling lapangan lalu membersihkan seluruh halaman sekolah”
“Ennong pak guru, hukum push up saja kaya Deli”
Tanpa mau berpanjang lebar, kuaminkan saja keinginan Ujang yang ingin tampil sebagai pahlawan di pagi itu. 
“Aku juga mau pak guru” tariak Stember seperti memohon. Mataku melotot keheranan.
“Aku juga pak guru, aku pak guru, pak guru” bergantian permintaan itu datang dari Alex, Arjun dan Jonlay. Attaiwa, apa-apaan ini? kenapa mereka tiba-tiba mau jadi pahlawan semua. Pesona Deli sungguh membutakan mereka. Ah, tapi biarlah mungkin saja mereka benar-benar ingin bertenggang rasa pada temannya. Bagus juga kupikir.  
 “Ok, kalian semua silahkan maju kedepan, berbaris ambil posisi Push up, yang lain berhitung sama-sama sampai sepuluh”
Mereka kemudian berbaris, tapi karena kondisi ruangan yang cukup sempit maka 5 pahlawan itu berbaris 2 langkah di belakang sang putri. Kulihat wajah mereka begitu bahagia berada di sana bisa mendampingi pujaan hati mereka dalam hal yang sulit sekalipun. Romantis juga anak-anak ini.
“well, sekarang kita hitung sama-sama ya, 1, 2, 3 Mulai” serempak kami memeberikan tanda dimulainya hukuman. 
“Pak guru, lihat mereka” kata Ikang dengan berbisik dan memberi kode. Kupalingkan pandanganku pada para terhukum dan yang terjadi disana sungguh pemandangan yang membuatku sangat geli. 5 bocah itu ternyata sedang sibuk berdesak-desakan mengambil posisi yang pas untuk menyaksikan isi rok Deli yang sedang dalam posisi Push up. Arrrgghhhhh tidaaaaakkkkk. 
  “Stop!!! Deli berdiri, kembali ke bangkumu, nak” sementara Deli kembali ke bangkunya dengan tatapan bingung apa yang sedang tejadi, saya membawa 5 pahlawan premature itu keluar kelas dan memberikan hukuman lari keliling lapangan kemudian membersihkan seluruh halaman sekolah. Kapok!
Selain memikat hati rekan rekannya, Deli juga berhasil memikat hatiku. Itu karena dia sangat pandai membaca, dialah juara 1 membaca. Jika Gamar dan Ujang adalah juara membaca di kelas 1 maka Deli adalah juara diantara mereka berdua. Sungguh lancar dan tidak mengeja lagi. Selain itu, dia juga rajin mandi dan mengenakan bando pink setiap ke sekolah. Tidak peduli pakeannya kumal atau tak memakai alas kaki, bando itu adalah hal yang wajib bagi dia. 
Hukuman push up memang sama sekali bukan untuk membuat anak-anak di kampung ini jera, apalagi kalo cuman 10 kali, “sangat enteng itu pak guru” kata mereka.  Saya tetap memberikan hukuman ini hanya untuk yang datang terlambat atau keluar masuk kelas tanpa izin. Bukan bentuk hukumannya pula yang ingin kuajarkan tapi konsistensi sangsi bahwa setiap pelanggaran akan ada ganjarannya, dan dari situ aku mencatat setiap pelanggaran yang kemudian diumumkan setiap satu minggu. Dan begitu pula dengan catatan prestasi yang mereka buat. Dalam kasus Deli, Kecantikan memang kadang menjadi petaka, apalagi mereka masih anak-anak, sedang masa lucu-lucunya.

***
Lamcin Warriors adalah 9 anak luar biasa yang lucu, polos, cerdas dan penuh semangat. Kepolosan mereka adalah hiburan yang tak tertandingi oleh apapun buatku, ada-ada saja tingkah mereka yang membuatku terhibur bukan main bahkan tertawa sampai puas. Kecerdasan mereka yang beragam adalah puzzle kehidupan yang mengisi keosongan jiwaku. Semangat dan keceriaan mereka adalah pelita yang senantiasa menerangi jalanku menjalani tugas mulia untuk negri. 
Aku sangat beruntung telah berjumpa dan menghabiskan 1 tahun masa pengabdian bersama mereka. Alex, Stember, Ikang, Jonlay, Ujang, Arjun, Putri, Gamar, dan Deli adalah, murid, sahabat, dan guruku. Betul mereka memiliki kekurangan tapi bukankankah sebagai tenaga pendidik kita harus menemukan potensi mereka kemudian menghargai itu sebagai sebuah keistimewaan. Tidak ada anak yang lemah dalam segala hal, ataupun unggul dalam segala hal, yang perlu kita lakukan adalah menghargai apa yang mereka miliki dan membantu menyelesaikan kekurangan-kekurangan mereka. 
Menjadi tenaga pendidik melalui program SM-3T ini telah membawaku jauh meninggalkan kampung halaman, keluar dari zona nyaman lalu menemui hal-hal baru yang mengajariku tentang kehidupan. Perjumpaanku dengan Lamcin Warriors adalah salah satunya. 
Long Lamcin, 16 April 2016
Saddang Husain 

Guru SM-3T Juga Petualang

Guru SM-3T Juga Petualang 

Tanah yang kemarin sore kering kerontang dan berdebu kini Nampak becek dan siap menelan kaki siapa saja yang menginjaknya. Hujan dari malam hingga subuh tadi membasahi bumi, menyiramkan air kehidupan bagi seluruh makhluk di tanah pedalaman Kalimantan ini.  Mentari pagi malu-malu menampakkan diri secara utuh, ia bersembunyi dan mengintip dari balik awan tebal yang serpetinya siap menumpahkan air berikutnya. Di teras rumah ini, Aku duduk seorang diri, memanjakan mata dengan membebaskan pandangan ke deretan pohon-pohon manggris, meranti, bengkirai, dan jutaan dedaunan yang menyelimuti pegunungan di sekitarku. Begitu indah bentangan alam Kampung Long Lamcin yang masih sangat alami. Aku melengkapi pagi yang dingin itu dengan menikmati secangkir teh hangat dan kenangan-kenangan indah bersama seseorang yang jauh di sana. Seorang kekasih hati yang sedang menjalankan misi yang sama denganku. Kenangan saat kami bercanda di bawah sinar bulan dan cahaya bintang-bintang dengan alunan gitar akustik dari seorang pengamen. Hembusan angin mammiri ikut menambah nikmatnya sarabba di pinggir jalan sungai cerekang, kota Makassar. Begitu indah pagiku dengan alam, hidangan, dan kenangan yang sangat ingin kuulangi sekali lagi dan lagi. 
“Permisi pak guru! pak guRUU!? pak guRUU!” (dengan nada tinggi pada akhir katanya,_ khas dialek Punan) Seorang bocah perempuan mengacaukan momen bahagia yang jarang kudapatkan itu. 
“Yah, ada apa dek?” kujawab dengan 50% perhatian, 50% jengkel.
“Ini ada surat dari kaka saya” balasnya dengan menunduk sambil memberikan selembar kertas dengan lipatan yang sangat berantakan.
“Siapa kaka kamu” kujawab lagi sambil mengambil surat di tangannya dengan perhatian 110%. Perhatianku meluap-luap karena dia membawa surat, benda yang sangat langka di sekolah ini.
“Simson” 
“Oh simson, kenapa dia menulis surat? Sakit kah?”
“Hemm… (si keti bos. Ennong, ennong, si keti’ de atuk) “ katanya dalam bahasa punan sambil mencari-cari kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Gagal! Dia tak berhasil menerjemahkannya dan akhirnya berbalik dan langsung berlalu pergi dengan malu-malu.

Simson, adalah salah satu siswa kelas empat yang di panggil “si gaya” oleh beberapa guru local. Alasannya sederhana, setiap diajak berfoto bersama jari tangannya langsung membentuk symbol metal. Bahkan pada saat sesi foto buku raport, cameramen agak kesulitan mengarahkan karena tangannya tidak berhenti menunjukkan metal dan diikuti dengan senyum manisnya yang memamerkan lesung pipi. Beberapa kali diulang tapi tetap saja jarin-jarinya tak tertahankan, mungkin dia memiliki penyakit tersendiri pada saat menghadapi kamera. Metal syndrome. Ah si Simson, kadang saya lebih senang memanggilnya “the same son”. Meskipun banyak gaya, dia hebat dalam pelajaran mate-matika dan juga paling lancar membacanya. Banyak gayanya terimbangi dengan kecerdasan. Mantap!
Kubuka sepotong kertas yang terlipat secara serampangan itu dan isinya sangat singkat dan sangat jelas tanpa mengurangi unsur-unsur penting dari surat. 

“Sir, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga baik-baik saja ya”. 

Saya tidak masuk sekolah hari ini karena harus ikut orang tua saya pergi berburu ke dalam hutan. Sampai di sini dulu ya Sir, yang penting kamu sudah tau.

Long Lamcin, Sabtu 
(Tanda Tangan)
   Simson
       
Setelah membaca surat singkat itu, perasaanku langsung bercampur aduk antara perasaan bangga dan sekaligus prihatin. “The same son”, bocah 11 tahun yang baru tau cara menulis surat melalui pelajaran Bahasa Indonesia 3 hari sebelumnya sudah langsung mengaplikasikan ilmu yang saya berikan. Hal itu membuat saya sangat bangga padanya. Dia tidak menuliskan tanggal setelah nama hari, dan itu sama sekali bukan kesalahan kawan. Di kampung ini, para siswa memang tidak mengingat tanggal dan jug tidak peduli, tapi mereka sangat ingat dengan hari. Minggu hari gereja, senin selasa rabu kamis sekolah, jum’at olahraga dan sabtu berburu. Terus begitu hingga bulan berganti.
Saya merasa prihatin karena tanggung jawab orang tua untuk menghidupi keluarga ternyata ikut dilimpahkan kepada anak-anak mereka. Kebanyakan warga kampung memang sudah terbiasa membawa anak-anak mereka kedalam hutan pada hari sabtu. Dan dari situ, para guru juga mengambil alasan untuk menambah hari libur. Berpura-pura memahami, tak mau berkonfrontasi dan akhirnya jadwal sekolah menyesuaikan jadwal keseharian warga. Sekolah pada hari sabtu hanya bersih-bersih seadanya lalu pulang. Kadang juga libur total. Tapi setelah saya dan Ahmad datang, jadwal hari sabtu bertambah dengan latihan baris berbaris. 

***
Pernah di satu Sabtu yang cerah, saya sedang melatih mereka menyanyikan lagu Indonesia raya (sama sekali mereka tidak tau lagu itu). Tiba-tiba, seorang ibu yang menggendong anjat (tas punggung tradisional yg terbuat dari anyaman rotan) dan seorang bayi di gendongan depan, memasuki kelas dengan ekspresi malu-malu kucing. 

Sambil menunjuk salah seorang siswa kelas 3, dia berkata dengan nada sangat pelan dan lambat “bolehkah saya bawa anak saya ke hutan pak guru?”

“oh, iya boleh bu, silahkan” jawabku setelah sempat bengong sambil sedikit membungkuk dan melipat kedua tangan di atas bokong. (Sopan sekali saya!) 

Dia menggandeng tangan anaknya dan pergi tanpa ucapan terimakasih atau sekedar senyum basa-basi. (Wah, luar biasa “ramah” dia!) Saya sempat merasa tersinggug dengan perilaku itu tapi ah sudahlah. Pandangan saya mengikuti langkah ibu dan anak-anaknya itu berlalu meninggalkan sekolah. Seraya memandang penuh tanya saya membatin “bagaiman anak-anak mereka bisa sekolah dengan baik kalau disibukkan dengan aktifitas orang tuanya”. Setelah latihan menyanyi itu usai anak-anak pulang. Kampung menjadi sangat sepi dan baru muncul beberapa orang pada sore hari menjelang magrib. 
Kami bermain bola voly, dan di tengah permainan menggunakan bola plastic itu, seorang ibu-ibu datang lagi dengan menenteng sebuah kantong kresek berwarna hitam. Ia membawakan saya 2 ekor ikan hasil tangkapan mereka. Ibu yang tadi pagi pergi membawa anaknya kini kembali dengan membawa 2 ekor ikan salap besar dengan senyuman dan kalimat yang masih sangat lambat dan pelan “maaf ya pak guru, kami cuman dapat sedikit” (baik sekali ternyata ibu-ibu ini, kalo bisa minggu depan jemput anaknya lagi ya Bu! Hahaha!!!)

***
Kuhabiskan isi gelasku lalu bergerak menuju ke sekolah. Beberapa siswa sudah stand by dengan sapu dan kain pel masing-masing. Siap menunggu perintah. 
“Alek, Jon Lay, Wang, kumpul semua buku yang ada dalam kelas lalu bawa ke meja Pak Guru! Gamar, Enjel, Menyapu lantai! Langat, Lakkay, Fir’aun angkat air! Selebihnya pel panan tulis!” Perintahku pada mereka dengan nada setengah bertriak.
“ _______” Tanpa tanya tanpa protes mereka langsung bergerak cepat seolah itu adalah perlombaan berhadiah seekor babi. Sangat semangat.

Sekolah kami memang masih menggunakan papan tulis kapur yang cukup merepotkan dengan jebolan-jebolan sebesar alas sepatu. Sejak awal kedatanganku sampai saat saya menulis ini, hidungku terasa sangat gatal jika terkena debu-debu kapur tulis yang beterbangan saat dihapus. Sepertinya saya alergi kapur. That’s why I rarely write on the black board. And you know what the only one school in Berau regency that still utilizes the black board is this school, 012 Kelay Elementary School. I know this after attending K3S convention, Headmaster Meeting. Saya sudah menyampaikan keluhan pada kepala sekolah tentang fakta ini dan berharap agar dia tersinggung dan mau menggantinya dengan papan melamin, tapi ternyata dia belum memberi tanggapan, terlebih lagi dia baru sekali datang ke sekolah sejak kedatangan saya dan Ahmad ke sekolah ini.

“tiiiiitt… tiiiittt..tiiiitt…” suara kelakson motor di halaman sekolah. 
“Pak Guru… Pak Guru… Pak Guru…” Teriak Sumarna dan Daring sambil berlari kearah saya.
“Ada apa? Kenapa kalian teriak-teriak?”
“Pak Guru dicari sama Pak Yakob”
“Pak Yakob? kenapa memangnya?”
“Mana juga kita tau Pak Guru” Jawab mereka dengan tempo yang sangat lambat dan suara yang seolah tertahan di tenggorokan. Begitulah mereka kalau berbahasa Indonesia, saaangaat lambat. Sering hal ini menjadi bahan lelucon sesama kawan SM-3T pada saat kami bertemu dan saling bertukar pengalaman hidup di perkampungan Dayak Punan.

Saya menghampiri Pak Yakob dan menanyakan ada kepeluan apa sehingga dia mencari saya. Oya, Pak Yakob adalah salah satu tokoh masyarakat di kampung Long Lamcin, beliau adalah salah seorang tokoh adat sekaligus tokos agama. Dia menjabat sebagai wakil gembala.

“Pagi Pak, Ada apa ni? Tumben pagi-pagi ke sekolah!” Saya mulai menyapa sambil menjabat tangannya.
Dengan senyuman yang memamerkan deretan giginya yang berwarna kuning kombinasi hitam yang memprihatinkan, dia menjawab penuh santun “Iya Pak Guru, ini orang kampung mau ke sungai Pelay cari ikan, anak-anak mau dibawa, boleh kah pak guru?”
Sebelum jawabanku meluncur, otakku langsung bekerja cepat dan sekektika menarik kesimpulan. Sore ini pasti ada lagi ikan yang datang. Assiik!
“iya boleh pak, siapa yang mau bapak jemput?”
“Hehe.. semua Pak Guru”
What? Semua? Apa saya tidak salah dengar?
 “Lha, kok semua pak?” timpalku dengan expresi kaget cenderung protes.
“Itulah Pak Guru, karena hari ini memang jadwal kita pergi rame-rame”
“maksudnya, semua warga pergi ke sungai yang sama?” tambahku memastikan.
“iya Pak Guru”
“ok baiklah kalau seperti itu Pak. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa hari ini kita pulang lebih awal”
“ok Pak Guru, terima kasih ya”
Pak Yakob pergi dan saya langsung menginstruksikan para siswa untuk segera menyelesaikan pembersihan dan bisa langsung pulang karena orang tua mereka sudah menunggu. 
“kita tidak latihan baris-berbaris hari ini, kalian silahkan pulang”.

***
Jam 09.00. Kuperlihatkan sepucuk surat dari Simson kepada Ibu Linlin, seorang fasilitator konservasi alam dari LSM Payo-Payo. Dia ikut senang melihat surat itu karena dia juga sempat beberapa kali mengajar di sekolah untuk membantu mengisi kekosongan guru. Kami berdiskusi tentang perkembangan para sisiwa, dan suara kami terdengar oleh salah seorang warga yang sedang menunggu warga yang lain untuk pergi berburu. 

“Ada pembahasan apa Pak Guru? Sepertinya seru sekali.”
“Ini Pak, kami dapat surat dari Simson” jawabku sambil memperlihatkan sepotong kertas itu.
“Coba saya lihat Pak Guru” dia datang mendekat.
“Wah Kurang Ajar sekali anak ini, Masa tulis surat sebut-sebut nama gurunya” dia melanjutkan dengan nada sedikit kesal.
“Lho, kurang ajar gimana maksudnya Pak?” Tanya Ibu Linlin, terkejut.
“Lihat ini Bu, masa bilangnya “Sir,” itu kan tidak boleh anak-anak sebut nama gurunya langsung”
Beberapa orang warga yang ditunggu, datang dan langsung ikut meramaikan pembahasan. Mereka bercakap dalam bahasa daerah dengan melihat-lihat isi surat itu secara bergantian. Saya dan Ibu Linlin saling melirik dan tersenyum malu-malu melihat kesalah pahaman bapa-bapak itu mengenai isi surat Simson.
“Waduh, bapak-bapak sekalian, ini mah ngga kurang ajar. Si Simson teh nulisnya udah bener. Sir itu bahasa inggris, artinya PAK GURU. Bukan nama gurunya” Jelas  Ibu Linlin dalam logat Sunda yang mantap.
“ooo begitu! Haha kami kira dia kurang ajar Bu’ Guru. Anak kurang ajar harus di hajar! Hehe” Kata salah seorang bapak yang memegang tombak yang tajam. Lalu kami semua pun ikut tertawa. 
Kebanyakan warga kampung memang lebih mengenal saya sebagai Pak Guru, tanpa tau nama saya. Awalnya mereka semua tau saat saya melakukan sosialisasi, tapi katanya nama saya susah disebutkan sehingga mereka cepat lupa. Hasilnya, kata Sir mereka anggap nama saya yang hampir menciptakan masalah.
Percakapan yang berawal dari kesalah pahaman tentang isi surat Simson berlanjut dan hasilnya kami diajak ke sungai Pelay untuk mencari ikan. Huhhuyyy… My adventure begins!

***
Matahari pergi mencampakkan awan yang sejak subuh tadi terus memeluknya. Ia menyinari bumi dengan gagah, menghangatkan angin yang berhembus, menghibur langit yang perlahan membiru, mengeringkan tanah yang becek dan membantu dedaunan melakukan fotosintesis. Matahari memang keren!  
Di bawah langit Lamcin yang cerah, seluruh warga telah berkumpul. Do you hear that? All people. Babies, children, teens, fathers, mothers, grands, grands, all of them, without exception. Mereka berkumpul, menunggu datangnya kendaraan dari perusahaan logging yang akan mengantarkan mereka ke sungai Pelay. Mereka meninggalkan rumah tanpa terkunci, meninggalkan harta benda tanpa rasa takut datangnya pencuri, mereka tak bercemas hati, bahkhan sedikitpun tak mau peduli. They believe that human being is good, nothing to worry. Dan saya adalah satu diantara mereka.
Sebuah truk besar berwarna hijau dan satu mobil 4WD (Strada double cabin) akhirnya datang menjemput kami. Ibu-ibu yang menggendong balita dan anak kecil diangkut menggunakan Strada putih, ibu-ibu yang masih enerjik, anak-anak usia sekolah, dan bapak-bapak yang tidak mengendarai motor berada diatas mobil truk hijau yang sayangnya tidak mempunyai palang belakang. Sangat besar kemungkinan untuk terlempar. Dan sayangnya lagi, saya juga ada di sana. Bapak-bapak yang lain, serta beberapa pemuda mengendarai motor dengan bergandengan. Perlengkapan, semua perlengkapan di cek, Mandao (parang tradisional suku Dayak), tombak, senapan angin, jala, kaca selam, pisau, korek api dan tentunya bekal. Saya sendiri hanya membawa sepiring nasi dan Hand phone untuk mengabadikan gambar. I tell you something, camera is very important. Setelah semua siap, Pendeta Rustam memimpin doa perjalanan kami menuju sungai Pelay.
Kendaraan sepeda motor berada paling depan, diikuti oleh Mobil 4WD kemudian kami yang sedang bersusah payah berdiri dan berpegangan di atas truk raksasa berada pada barisan paling belakang. Formasi ini cukup manusiawi karena jalan yang dilalui adalah jalan mobil pengangkut kayu yang sangat berdebu. Jalan itu tak mendapat jatah hujan dari langit, untung. Kalian bisa bayangkan bagaimana rupa pengendara motor jika berada paling belakang. Tak bisa kubayangkan! Kulirik jam tanganku, 09.30, perjalanan dimulai.
“ngengngemmngng….” Berat suara mesin terdengar melewati jalan yang terus mendaki dan berbelok-belok. Mereka yang badannya cukup tinggi berbaris khusyuk berpegangan di ujung dinding mobil, sedangkan anak-anak yang ukurannya lebih minimalis dengan sangat berhati-hati berpegangan pada mereka yang lebih tinggi, sangat hati-hati jangan sampai salah pegang. Dan, yang ukuran badannya tanggung itu dilematis, berpegangan pada mobil itu susah, mau pegang orang itu malu-malu. Sumpah, itu adalah saya yang benar-benar bingung mau bagaimana. Status saya sebagai Pak Guru, cukup menjadi beban, masa saya harus berpegangan sama murid saya, that’s why saya tepaksa berpegangan pada dinding mobil, nyaris menggantung. Pemandangan diatas mobil itu sungguh mirip dengan pengangkutan para pengungsi, sangat berantakan. Di perparah dengan medan yang mendaki gunung membelah hutan belantara. Jurang yang kami lalui sepanjang jalan Nampak menganga memanggil-manggil, terlebih lagi palang belakang mobil yang sudah tidak ada. Kesalahan sedikit saja pasti koprol mencium tanah menghantam jurang. 
Kecemasan dan rasa takut itu cukup teralihkan dengan kenampakan alam yang alami dan benar-benar hijau. I do love green. Beberapa kali kami nyaris melindas binatang-binatang yang melintasi jalan, ada musang, landak, dan ular. 
“Monyett!!!” teriakku ketika melihat beberapa ekor monyet yang sedang bersantai di tangkai pohon. Hanya Pak Yunus, Ibu Linlin dan Ahmad yang memberi respon, yang lain tak peduli karena mereka sedang berkonsentrasi berpegangan seraya mengeluhkan medan dan tentunya mencaci maki supir yang semakin semena-mena menyetir. Kami berempat bercerita dalam riuhnya angin dan sulitnya berpegngan pada dinding mobil. Pak Yunus bercerita tentang hutan adat yang kini lebih terang karena pembukaan jalan dan penebangan pohon oleh perusahaan.
“Sebelum perusahaan datang, hutan ini hutan adat. Tempat kami berburu binatang sama mencari madu” Teriak Pak Yunus sambil menunduk menghindari angin.
“Kapan perusahaan ini masuk Pak” Tanya Ibu Linlin
“Saya kurang tau pastinya buk, mereka sudah puluhan tahun di Lamcin, tapi baru beberapa tahun terakhir mereka menebang pohon sama buka jalur pengangkutan kayu di hutan ini.”
“Mungkin tempat yang dulu sudah habis pohonnya pak” spontan saya berkomentar.
“Apa masyarakat tidak protes Pak?” Tanya Ahmad, melanjutkan.
“Kampung protes, sampe hampir kelahi sama orang-orang perusahaan tapi mau bagaimana lagi, katanya mereka itu …… “ Pak Yunus menghentikan ucapannya lalu menunduk sambil menutup mulut dengan kain. Mobil menuruni gunung dengan kecepatan tinggi dan menerbangkan debu yang sangat tebal. Saya sendiri langsung memasang masker dan menahan napas selama mungkin agar debu-debu itu tidak tembus. Setelah itu mobil kembali mengerang kesusahan mendaki gunung berikutnya dan bapak salah seorang murid saya itu kembali bangkit melanjutkan kata-katanya.
“Sampai di mana tadi?”
“Mmm…” kami berpikir sejenak.
“Oh iya, warga kampung dan perusahaan bersitegang.” saya mengingatkan.
“Kami tidak bisa banyak protes sama perusahaan, karena mereka yang berkuasa. Katanya mereka itu punya surat ijin. Padahal nenek kami sudah tinggal lama di sini”
“Tapi kan ini hutan Adat Pak” Protes Ibu Linlin yang memang datang ke kampung ini untuk misi konservasi.
“Iya buk, tapi perusahaan itu kuat. Mereka punya banyak petugas keamanan yang pegang senjata. Mana kami berani sama mereka. Tapi untungnya mereka kasi ganti rugi sama kami. Mereka bayar denda”
“Berapa mereka bayar pak?”
“Ada lah Pak Guru, Saya juga kurang ngerti berapa, mereka juga sudah janji mau pasang lampu di kampung kita itu, jadi nanti kita sudah enak, tidak gelap-gelap lagi.”
Saya, Ahmad dan Ibu Linlin diam dan saling menatap, seolah berbicara dan memikirkan hal yang sama. 
Dari cerita Pak Yunus itu, saya sendiri memikirkan nasib masyarakat pedalaman yang wilayahnya menjadi area operasi HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Tempat yang mereka keramatkan dan mereka banggakan kini telah rusak karena penebangan pohon dan pembukaan jalur pengangkutan kayu bagi perusahaan. Hutan yang tiap harinya dilalui truk-truk besar itu adalah warisan leluhur mereka dan kelak akan mereka wariskan kepada anak cucunya. Disanalah mereka menggantungkan hidup dengan berburu binatang, mencari buah dan memanen madu. Kini, apakah babi, beruang, kijang masih akan bertahan disana takala mesin singso mangaung-ngaung merebahkan pepohonan tempat satwa-satwa itu hidup? Apakah lebah tidak pergi ketika tak ada lagi pohon yang tinggi untuk membuat sarangnya? Perusahaan itu hadir mengelola hutan, memotong warisan budaya yang telah ada dari generasi ke generasi. Warga kampung pedalaman berpikir bahwa dengan membayar denda, perusahaan itu telah menebus dosanya, mereka berpikir bahwa iming-iming seperti pencahayaan adalah harga mahal yang telah di bayar perusahaan, seimbang dengan harga hutan yang sebentar lagi akan kehabisan taring. Perusahaan memang sangat cerdas. Bagi saya, kehadiran perusahaan adalah ancaman tapi bagi warga itu adalah harapan. Mudah-mudahan saya salah.
Setelah 40 menit berlalu, laju mobil melambat ternyata di depan ada antrian menyebrangi sungai. Momen itu dimanfaatkan banyak penumpang untuk turun dari kendaraan demi menghirup udara segar, mencuci wajah, atau sekedar mengambil gambar. Aliran air sungai yang deras cukup menyulitkan pengendara motor untuk menyebrang,  untunglah semua selamat dan perjalanan dilanjutkan. 40 menit kemudian, kami tiba di mini kamp perusahaan logging yang mengantar kami. Di kamp itu, tinggal beberapa pekerja perusahaan yang bertugas menebang pohon, mereka dipanggil “operator sengso”. Kayu-kayu yang mereka tebang nantinya akan diangkut oleh truck houling menuju kamp induk yang berlokasi di kampung Long Lamcin.

***
Air yang sangat jernih, batu-batu sungai yang besar, dan deretan pepohonan yang berbaris di sepanjang mata memandang membuat saya tak henti-hentinya mengagumi sungai Pelay itu. Sangat jernih airnya hingga saya tak sedikitpun ragu untuk langsung meminumnya. Mini kamp yang berlokasi di hilir menjadi garis start kami berjalan menyusuri sungai menuju hulu untuk menangakap ikan menggunakan jala dan tombak. 
Kami berjalan dengan berkelompok-kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas penjala (biasanya bapak-bapak), pengangkat sekaligus pembersih hasil tangkapan (ibu-ibu), dan orang yang bertugas mematikan dan melepas ikan dari jala. Saya sendiri mengambil bagian sebagai pembunuh ikan yang telah terjaring. Jangan pikir itu sepele kawan karena orang pertama yang terjun kedalam air adalah saya saat ikan yang terjaring menggeliat-geliat mencoba meloloskan diri. Cara membunuh ikan-ikan sapan dan salap itu cukup dengan memasukkan jari telunjuk kedalam mulutnya lalu menariknya keatas sampai leher terasa patah. Perlu ketangkasan dan timing yang pas agar ikan tidak tersiksa. Kadang, sekali lemparan itu bisa menjaring sampai 40 ekor ikan dengan ukuran 5 sampai 10 jari orang dewasa. Sangat kaya bukan?
Selain kelompok penjala seperti yang saya ikuti, ada juga kelompok penombak ikan. Mereka adalah penyelam-penyelam handal yang mengejar ikan sampai ketempat persembunyiannya, biasanya dibawah batu-batu besar. Tangkapan mereka adalah sapan dengan ukuran raksasa, saya lebih senang menyebutnya “monster”. Ukuran monster-monster itu bisa sampai 1 meter panjangnya dengan lebar hingga 2 jengkal orang dewasa. Ngeri bukan? 
Kami terus berjalan melawan arus sampai pukul 01.00 PM. Semakin ke hulu ikan-ikan semakin banyak, semakin besar dan semakin mudah dijaring. 2 Karung beras 10 kg telah terisi penuh dan belum lagi dengan 1 karung penuh yang telah kami tinggalkan di bawah sana. Pak Yunus sebagai ketua rombongan memtuskan untuk beristirahat, menyalakan api lalu memanggang beberapa hasil tangkapan.
Di tepian sungai yang berbatu, kami melingkar mengitari api, membakar ikan sepuas hati kami. “Pilih yang paling besar Pak Guru, biar tambah besar” kata Ibu Tami mengundang tawa semua orang dalam lingkaran. “hhahaha”. 3 orang anak kecil yang ikut dalam rombongan langsung bermain kejar-kejaran di dalam air. Mereka Nampak begitu bahagia dan menikmati alam tanpa rasa takut sedikitpun. Orang tua mereka juga tidak melarang dan tidak khawatir kalau saja anak-anak mereka akan hanyut atau terluka karena benda-benda yang ada di sungai itu. Sambil mengawasi panggangan, kami bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang telah kami lalui. Saat kami jatuh terpeleset karena bebatuan yang licin, atau saat saya panik, menjerit ketakutan dan nyaris menangis karena Pacet yang menempel di kaki saya. Pacet itu adalah lintah darat yang hidup di hutan-hutan yang lembab. Ukurannya sangat kecil tapi akan membesar sepuluh kali lipat setelah mengisap darah kita. Beberapa kali saya meminta tolong kepada orang lain untuk melepaskan ketika puluhan pacet telah menempel disela-sela jari kaki. Saking takutnya dengan binatang yang satu itu, saya lebih memilih untuk terus berjalan didalam air meskipun itu lebih jauh daripada berjalan diantara pepohonan yang menjadi tempat hidup pacet. Dalam tawa yang sambung menyambung sesekali mereka berbicara dalam bahasa daerah kemudian tertawa lebih keras. Saya yang sedikitpun tidak mengerti bahasa mereka paham bahwa mereka sedang menertawakan saya yang lebih penakut dari anak balita mereka. Saya ikut tertawa. Hahaha.

***
02.30 perjalanan kami lanjutkan. Perut yang kenyang membuat gerakan sedikit lebih melambat dan perasaan ngantuk mulai menyerang. Pak Yunus bahkan sempat bertanya apakah sebaiknya kita tidur saja dulu. Tapi ibu-ibu langsung menolak dan memutuskan untuk melanjutkan penangkapan. Ah ibu-ibu, padahal ikan-ikan kita sudah sangat banyak. 30 menit kemudian kami bertemu dengan rombongan penombak ikan yang bersusah payah memikul hasil tangkapan mereka yang besar-besar dan banyak. Sebatang kayu yang mereka pikul tergantung puluhan ikan yang bahkan menyentuh tanah. Wah, luar biasa! Saya sampai menganga melihat ukuran tangkapan mereka.
“Pak, bagaiman cara menangkap ikan sebesar itu?” tanyaku dengan heran kepada Bapak Melda (ayahnya Melda)
“Gampang pak guru, yang penting kuat tahan nafas. Mereka jinak kalo dalam air” 
“Ah masa jinak pak? Jadi mereka tidak lari?”
“Iya, pak Guru mau liat kah?
“Mau pak, kapan?”
“Ya sekarang, kita cari tempat yang dalam dulu ya, yang airnya agak tenang”
Perjumpaan kami dengan rombongan penyelam itu menjadi tanda dihentikannya perjalanan menuju hulu sungai dan sekarang kami berbalik arah, kembali ke hilir. Beberapa orang mengambil jalan pintas melalui hutan. Saya sendiri tetap memilih berjalan di sungai, selain ingin melihat cara menombak ikan saya juga sudah kapok berurusan dengan pacet.
“Ayo pak Guru, pake kaca selamnya kita tombak ikan di bawah batu itu” Pak Melda memberi instruksi seraya meletakkan kayu penuh ikan dari pundaknya.
Ia dengan tenang berpegangan pada batu sambil mengawasi ikan dari sela-sela. Saya sendiri berusaha sekuat tenaga menahan napas, sambil menunggu ikan muncul. Belum lagi ikan keluar dari persembunyiannya saya sudah kehabisan nafas dan langsung kembali kepermuakaan menarik napas yang panjang. Pak Melda masih disana, dan memasukkan ujung tombaknya kedalam sela-sela batu agar ikan cepat keluar. Dan benar 2 ekor Sapan kira-kira seukuran sepuluh jari berenang santai keluar dari bawah batu. Entah apa yang mereka lakukan berdua-duaan di tempat sepi seperti itu. Ah dasar ikan. 
Sebiasa mungkin saya tidak bergerak agar ikan itu tidak lari. Pak melda secepat kilat langsung mengayunkan tombaknya kearah ikan itu. Gelembung air menghalangi pandangan, saya tidak bisa melihat apakah tombak itu melumpuhkan ikan atau tidak. Saya kehabisah nafas lagi, Sial! Padahal saya tak ingin melewatkan satu menitpun di dalam air. Sekali lagi saya kembali kepermukaan, menarik nafas yang panjang dan siap kembali meyelam. Belum sempat menyelam Pak Melda sudah muncul. Bapak 33 tahun itu tertawa penuh bengga sambil mengangkat seekor ikan yang sudah tak berdaya. “huuuuhuuuu, keren. Asik sekali bang” teriakku kegirangan. 
Menombak ikan adalah cara paling tradisional yang pernah kulihat. Tombak tersebut terbuat dari sebuah tangkai pohon yang lurus dan bundar dengan ukuran panjang 2 meter dan diameter kurang lebih 1 cm. pada ujung tombak terdapat besi runcing yang seukuran ujung jari manis. Hanya seperti itu, tak ada sentuhan modern sama sekali. Sederhana tapi mematikan. Warga kampung Long Lamcin memang hebat menombak ikan karena mereka sudah terbiasa, bahkan anak-anak  usia sekolah pun bisa melakukannya. Berdasarkan hasil diskusi-diskusi saya dengan beberapa orang tua di kampung ini, cara menangkap ikan dengan menggunakan jaring atau jala adalah metode yang sangat baru bagi mereka. Sungguh primitive.     
 
***
Seluruh rombongan telah berkumpul di hilir, mobil juga sudah siap mengangkut kami. Ternyata sudah pukul 5 sore dan perjalanan kembali kekampung akan segera dimulai. Hasil tangkapan dibagi berdasarkan kebutuhan dan permintaan. Tidak ada aturan untuk pembagian jadi mereka yang mendapatkan ikan lebih banyak dengan sendirinya memberikan pada yang mendapat hasil sedikit dengan prinsip suka rela. 
Kami kembali ke posisi semula, masih dengan mobil yang sama, mobil yang tak memiliki palang belakang. Yang berbeda adalah, kondisinya semakin licin karena semua pakaian basah, dan ditambah lagi dengan aroma ikan yang sumpah membuat kepala pusing dan perut mual. Arghhh… andaikan jaraknya dekat, saya memilih berjalan kaki.
Hari sudah gelap saat kami tiba di kampung, seharusnya terdengar suara adzan magrib dari speaker mesjid. Unfortunately, this is not my hometown. No Masjid at all!. Saya kembali kerumah, membersihkan badan dan ikan lalu beristirahat.
Telah ku habiskan satu sabtu yang panjang dan menyenangkan bersama warga. Kini aku tau bahwa kehutan bukanlah sebuah beban dan pekerjaan yang berat buat anak-anak, ke hutan adalah sebuah tamasya yang sangat menyenangkan bagi mereka, momen berkumpul dan menikmati alam yang kaya. Mungkin itulah mengapa mereka lebih memilih hutan daripada sekolah. Forest gives what they want, school? Ah, sudahlah! 
Saat saya membuat tulisan ini, sudah banyak sabtu yang telah saya lewati, sudah banyak sungai yang saya datangi, Sungai Lamcin, Sungai Keluh, Sugai Jengan dan beberapa anak sungai yang tak tau apa namanya. Semua memiliki ikan, pemandangan dan keseruan yang tak kalah dengan Sengai Pelay. Sabtu adalah hari perbaikan gizi, hari yang selalu kami tunggu. 


Long Lamcin, 
Rabu, 25 Oktober 2015, 
#MenungguSabtu 
      

On SM-3T Mission Gallery

This gallery shows what did i do at Berau Regency during my mission as a young educator on behalf of Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. I am proud of being a witness of a real Indonesia.
karena pendidikan adalah hak segala bangsa