Tampilkan postingan dengan label Porseni Merapun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Porseni Merapun. Tampilkan semua postingan

Bagian 10. Day 3, Show time

Day 3, Show Time
Sngai Merapun. Walau tak sebersih sungai Lamcin kami tetap menikmati mandi dan bermain di sini.

Jeki dan Yaret sedang pamer bekas kerokan

Mentari sedang mengintip di ufuk timur ketika kami kembali dari sungai menunaikan ibadah mandi (bukankah kebersihan adalah bagian dari iman), saya langsung terlibat perbujukan sengit dengan Simson. Tatapan mata Simson yang sangat tajam ditambah dengan karakter suaranya yang lantang dan tegas membuatku tertarik untuk menjadikannya orator dalam lomba pidato yang beberapa jam lagi akan dilaksanakan. Tapi Simson bersikeras untuk menolak, alasannya sangat logis, belum ada persiapan. Kami memang baru tahu kalau ternyata seni pidato diperlombakan dalam kegiatan porseni ini, sehingga tidak ada pelatihan sama sekali sebelumnya. Saya juga bertekad untuk mengikutsertakan sekolah kami, bukan untuk menjadi juara, bukan! Tapi hanya ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa anak-anak hulu juga bisa membaca, karena selama ini, suara sumbang yang terdengar di telingaku adalah sudah kelas 6 bahkan SMP masih belum bisa baca. Listen, Simson mahir membaca dan dia baru kelas 4!
“Son, kamu yang pak guru andalkan, nak. Ini pak guru sudah buat teksnya” kataku membujuk.
“Attai (Jika dilanjutkan akan menjadi Attaiwa yang artinya aduh, seruan ketidakpuasan), Pak guru. Kayak mana juga pidato itu? saya tidak mengerti.”
“Kamu pernah lihat pak gembala menyampaikan khotbah di gereja?” tanyaku memancing.
“Iya, sering juga, pak guru”
“Nah, begitulah pidato, kamu berdiri di depan orang banyak, terus berkhotbah. Tapi bukan Alkitab yang kamu sampaikan, ini dia, pak guru sudah tulis kamu tinggal baca nanti. Ok?”
“Attaiii, saya tidak bisa pak guru. Malu saya”
“Malu sama siapa? Memangnya ada yang kenal kamu di sini? Atau ada madomu yang lihat?”
“mm taqumde, pak guru” dia spontan mengelak, mado berarti cewek.
“Trus kenapa, nak? Eh, dengar pak guru. Kalau kamu tidak ikut, bukan cuma kamu yang malu tapi sekolah kita, bahkan kampung Lamcin. Kamu mau orang bilang, SD Lamcin tidak ikut pidato karena tidak ada yang bisa membaca siswanya?” Nada suaraku sedikit mangancam.
Simson bergeming, dan membuatku kebingungan. Berkali-kali kuminta tetapi dia teguh untuk menolak. Tiba-tiba Ibu Beti datang menghampiri, dia adalah ketua PKK yang ikut sebagai perwakilan orang tua murid, sekaligus bibi Simson sendiri. Dia membujuk Simson menggunakan bahasa Dayak Punan dan dengan tatapan memohon. Tidak banyak yang bisa kupahami dari kata-kata yang meluncur dari mulut ibu Beti tapi saya bisa menarik kesimpulan begini “Son, kamu jangan begitu, Pak guru itu sudah capek buatkan kamu pidato sampe larut malam”. Dan ternyata berhasil, Simson kembali mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk dan diam.
“Moh Pidatonya, pak guru?” akhirnya ia berbicara lagi.
“Ini, nak. Kamu baca-baca dulu ya, pak guru dengarkan, baru nanti pak guru ajari caranya yang benar”
Mulailah simson berlatih, beberapa kata yang terbilang baru untuk dia seperti reboisasi, konservasi, dan climate change, dan bebrapa kata lain yang berhubungan dengan lingkungan terdengar masih terbata-bata, lidahnya agak kaku menyebutkan kata-kata ajaib tersebut. Sementara Simson berlatih, di tengah ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat penampungan kami terlihat Ahmad dengan serius menyeleksi antara Dion dan Firaun untuk maju sebagai peserta lomba menggambar. Nasib menggambar tidak lebih baik dari lomba pidato, sama-sama baru diketahui bahwa akan diperlombakan juga. Untungnya, Ahmad yang memang sangat jago dalam urusan melukis sudah sering mengajarkan anak-anak cara menggambar, bahkan setelah beberapa kali kulihat hasil pengajaran Ahmad kepaada anak-anak saya merasa kerdil di depan mereka karena tak bisa menghasilkan gambar sebagus yang mereka buat.
Waktu pelaksanaan lomba akhirnya tiba, pukul 10.00 secara bersamaan takraw, menggambar, pidato dan lomba volley putri terlaksana di tempat yang berbeda-beda. Kami para guru yang kekurangan personil menjadi kelabakan mondar-mandir sana-sini untuk mengtur dan memberi semangat kepada anak-anak kami. Saya mendampingi Simson di bagunan bekas gereja untuk lomba pidato, Ahmad di ruang kelas SDN 01 Merapun untuk lomba lukis, Pak Adi mendampingi team putra di lapangan takraw, itu adalah laga semi final yang pasti sangat seru karena bertemu dengan salah satu team terkuat, Long Nguikian. Adapun team volley putri yang juga di babak semi final didampingi oleh Pak Rendi, dan ibu Linlin (seorang environmentalist dari LSM Payopayo). Sungguh tenaga dan pikiran terkuras habis menjalankan peran yang sangat berharga ini.
3 rekan seperjuangan, guru SM-3T lengkap dengan jaket orens strip hitam bertuliskan “Maju Bersama Mencedaskan Indonesia” telah menempati deretan bangku juri, mereka didapuk oleh panitia pelaksana untuk mengisi peran sebagai team penilai dalam lomba pidato ini, Alhamdulillah SM-3T sekali lagi membuktikan eksistensinya. Di belakang juri telah duduk para peserta dengan make up memesona, dan pakaian super rapih, plus aksessoris yang memenuhi badan, juga bapak dan Ibu guru mereka beserta teman-teman yang memberi dukungan. Kupalingkan wajahku pada penampilan Simson, baju putih yang berbintik hitam di sana-sini tak terselip kedalam celananya. Tak ada atribut sekolah di sana, hanya lambang SD di kantong depan yang separuh menggantung karena jahitannya sebagian lepas. Saya manarik nafas panjang kemudiaan mengacak-acak rambut Simson. “Ya Allah, sebegini timpangnyakah pendidikan di negeri ini?” Hatiku merintih.
“Son, mirip gereja kan? Lihat mimbar itu, nanti kamu di situ menyampaikan pidato tentang lingkungan kamu. Ok!”
“Iya, pak guru” Katanya sedikit ragu.
“Nda usah hawatir Son, yang jadi juri teman pak guru juga, yang kiri itu ibu guru Susi dari SDN 010 Merabu, yang tinggi kurus itu namanya Pak guru Rachman dari Panaan, Nah yang sebelah kanan itu kamu kenal, kan? Ibu guru Cuncu dari SD Lamjan”
“Mm,” Simson hanya mengangguk takzim, mulutnya masih berkomat-kamit mencoba menghafalkan beberapa bagian.
Seluruh hadirin tiba-tiba diam tatkala seorang bapak berparas tidak jelek memainkan perannya di atas panggung dengan mengucapkan salam sebagai tanda kegiatan telah dimulai. Dengan beberapa kata pengantar dan orasi singkat perihal pentingnya pendidikan beliau mendaramatisir suara agar lebih seru dan mulai menyebutkan peserta pertama yang harus tampil.
“Peserta pertama, datang dari sebuah kampung yang sangat kaya dengan madu dan emas, kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, inilah dia siswa terbaik dari SDN 07 Long Suluy” suara tepuk tangan memenuhi udara di dalam gedung. Seluruh mata lalu mencari-cari siapakah penampil pertama itu. Setiap sudut ruangan telah terjejali oleh tatapan penasaran tapi tak seorangpun yang berdiri atau mengangkat tangan. MC terlihat kebingungan dan sedikit kecewa karena keseruan yang baru saja ia ciptakan tak diindahkan oleh peserta pertama yang membelot dari scenario lomba.
Sang MC mulai berbisik-bisik dengan beberapa panitia yang ada di sebelah panggung, sejurus kemudian dia kembali dengan keceriaan yang dibuat-buat seolah tidak terjadi apa-apa. “Peserta selanjutnya, pendatang baru kita, SDN Long Lamciiin” Penonton sedikit ragu memberi tepuk tangan, mengantisipasi kalau kalau tepuk tangannya sia-sia karena pesertanya tidak ada. Jantungku tiba-tiba berdetak 3 kali lebih kencang dari biasanya, ketegangan yang seharusnya dirasakan oleh Simson justru berpindah kepada saya. Apalagi dia menjadi penampil pertama.
Disebelahku Simson sudah berdiri tanpa kuminta atau kubujuk sedikitpun, dari bangku paling belakang kami duduk, dengan mantap Simson maju dan saya mengekor di dekatnya, melewati deretan penonton yang melepaskan pandangan intimidatif dan sedikit jijik. Sebagian menawarkan senyuman yang entah itu tulus atau palsu. Kami tak terpengaruh.
Ketika mendekati ujung barisan penonton, sesorang berkata kepadaku “Pak guru mana dasi dan topinya, itu bajunya kenapa tidak dimasukkan?”
Dengan senyum jail dan tatapan tak tau malu kujawab “resleting celananya rusak buk, nanti burungnya ngamuk diatas panggung. Heheh, ini masih mending dia mau pake baju sekolah”. Tak ada lagi balasan darinya, hanya senyum kecut sambil menelan ludah. Dalam hatiku membenarkan, sebenarnya bukan itu, buk, resleting celana Simson tidak rusak hanya saja bajunya terlalu kecil untuk dimasukkan, mungkin baju itu dibelinya ketika masih kelas 1 dulu.
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Dewan juri yang saya hormati, Bapak dan ibu guru yang saya cintai, teman-teman tersayang dan seluruh hadirin di dalam ruangan ini, terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan kepada saya sehingga bisa berdiri di mimbar ini dan menyampaikan pidato singkat mengenai pentinya menjaga lingkungan dengan judul, “Kelestarian Bumi Untuk Masa Depan Manusia” Simson mengawali pidatonya dengan suara yang lantang dan jelas tanpa melihat teks. Spontan bulu kudukku merinding, dan dadaku tersesaki oleh perasaan bangga. Dia telah menjadi juara dalam hatiku, dan dia juga menjadi bukti nyata bahwa minimnya fasilitas sebenarnya bukanlah masalah utama pendidikan, melainkan ketersediaan tenaga pendidik yang mau bekerja keras dan mati-matian memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang sama, itulah intinya.
Selanjutnya, setiap paragrap Simson baca dengan lantang dengan sesekali melepaskan tatapan tajamnya kepada mata penonton. Tak ada hambatan berarti hingga akhirnya ia sampai pada paragraph terakhir dan kemudian mengucapkan kata-kata penutup yang sekali lagi tanpa melihat teks. Simson menuruni panggung dengan senyum lebar dan diikuti oleh tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Saya langsung meminta tos dua tangan kemudian memeluknya dengan sangat erat. Ah, Simson thank you so much, nak. I am so proud of you!
Penampil-penampil berikutnya juga sangat baik bahkan jika dilihat secara objektif maka saya akan menilai bahwa beberapa anak menjadi juara satu, dua, dan tiga dalam kategori berpidato yang baik dan benar, sesuai dengan aturan atau criteria penilaian yang juri telah buat. Terlebih pada peserta asal SD Gunta Samba, seorang anak laki-laki berkulit gelap dan rambut keriting yang ia tutup dengan songkok hitam seperti Soekarno, sebuah selendang bertuliskan INDONESIA membalut tubuhnya menyerupai selendang miss Indonesia yang selalu kalah dalam ajang internasional. Dia tampil begitu gagah dan mampu membuat penonton larut dalam setiap kata yang ia ucapkan. Tampil tanpa teks dan dengan penekanan-penekanan yang benar-benar pas membuat dia layak jika nanti didapuk sebagai juara pertama. Bagaimanapun juga, Simson sekali lagi telah menjadi juara buatku.
Ternyata masih begitu banyak generasi bangsa ini yang cerdas, dan bertalenta luar biasa dalam menyampaikan aspirasi. Bukan anak-anak yang dilatih untuk menjadi banci-baci di layar televisi. Mereka berbakat dan berpotensi menjadi orang-orang hebat yang kelak bisa mengharumkan nama negeri tercinta ini. Dari pelosok negeri, ada harapan, mimpi, dan cinta yang begitu besar yang sangat sayang jika tak digapai.
***
Setelah MC menutup acara dan menginformasikan bahwa pengumuman juara akan dilaksanakan pada malam penerimaan piala, saya dan Simson langsung meluncur ke lapangan volley untuk menyaksikan pertandingan semi final team putri antara Lamcin melawan SD dari kampung Merasa. Belum lagi kami tiba, penonton terlihat serentak memasuki lapangan dengan melompat-lompat dan bernyanyi. Kerumunan orang yang begitu banyak, membuat debu lapangan beterbangan sampai tak nampak jelas lagi apa yang terjadi di sana.
Semakin dekat udara terasa semakin tidak bersahabat, jaket orens kebesaran SM-3T yang sedari tadi membungkus tubuhku kulepas dan kugunakan untuk menutup sebagian wajahku. Simson tanpa ragu berlari ke arah kerumunan meninggalkan saya yang sudah sangat penarasan.
“Mikaaaa!” teriakku ketika melihat Mika di sudut lapangan. Dia langsung menghampiriku.
“Kenapa ramai sekali Mik?”
“Itu penonton gila Pak guru!” dia menjawab sedikit kesal.
“O, hehehe, Merasa menang kah Mik?”
“Iya, Pak guru. Padahal sedikit sekali lagi kita menang. Aih, mado juga itu bodd*k bettul. Masa mereka sudah 22, lawannya masih 15, eh dikejar dia sampe kalah. Attaiwa!”
“Tidak papa, kita masih bisa cari juara 3. Ya kan?”
“Itulah, Pak guru”.
Voli Putri

Saya langsung bergabung dengan seluruh tim dan mendengarkan cerita panjangnya. Ternyata mereka bermain 3 set, dengan margin angka yang sangat rapat. 25-20, 22-25, dan terakhir 23-25. Sangat menegangkan memang dan wajar saja penonton begitu ramai tumpah ruah menyesaki lapanga volley mini itu. Kekalahan team putri sedikit terobati karena takraw berhasil menumbangkan team asal Long nguikian juga dengan rely yang panjang sebanyak 3 set. Takraw melaju ke babak puncak menghadapi team tuan rumah Gunta Samba. Laga tersebut akan berlangsung keesokan harinya. Sedangkan team volley putri, juga akan berlaga melawan team vavorite Long Suluy untuk memperebutkan juara 3. Kami kembali ke mes untuk istrahat, makan siang, dan tentunya memainkan gitar milik Pak Mared, Lagu Bongkar dari Iwan Fals sudah rindu untuk dinyanyikan lagi.
Salah seorang panitia dengan wajah kelelahan mendatangi kami yang sedang ramai bernyanyi di teras rumah. Dia menyampaikan bahwa ada sedikit perubahan jadwal, babak 8 besar badminton yang seharusnya dimainkan sebentar malam, dimajukan siang ini juga karena pementasan seni akan berlangsung malam nanti. Tidak banyak yang bisa pergi mendampingi Jeki dan Yaret untuk bertanding karena sebagian atlet sedang istrahat siang apalagi jarak gedung badminton itu jauh, melewati jembatan gantung yang sangat tinggi.
Suasana pertandingan bulu tangkis di gedung olah raga Merapun

30 menit kemudian kami telah tiba di sebuah gedung bercat biru dengan ukuran tidak terlalu besar, hanya ada satu lapangan badminton di dalamnya dengan kapasitas penonton tidak lebih dari 100 orang. Suara hantaman botol-botol plastic bekas kembali memantul-mantul di dalam ruangan sempit itu. Di dalam lapangan sedang bertanding team Merabu vs Merapun. Sedangkan Lamcin akan kembali menghadapi team kuat Lamjan yang kemarin unggul di lapangan Volly. Lamcin sebenarnya tidak berharap banyak di cabang badminton ini, kami tidak memiliki lapangan di kampung, tidak pernah latihan 4 bulan terakhir dan hanya bisa meminjam raket dalam tournament ini, tapi kekalahan di lapangan volley kemarin membuat Jeki dan Yaret sangat ingin mengalahkan team Lamjan.
“Bermain maksimal, keluarkan semua kemampuan kalian dan jadilah pahlawan di dalam lapangan ini” Kataku kepada pemain sesaat sebelum pertandingan dimulai.
“Tumbangkan mereka. Balaskan kekalahan yang kemarin.” Pak Adi menambahkan.
“Tangan di tengah, ready!”
“Lamcin, Lamcin, Lamcin, HUUUUUHAAAAA!” Sorakan kami menggema, menjadi perhatian.
Team lamjan kembali diperkuat oleh salah seorang pemainnya yang kemarin begitu menonjol di atas lapangan volley. Namanya adalah Ardan, tubuhnya yang gempal dengan otot-otot yang kokoh membuatnya tak meyakinkan lagi untuk menyandang status anak SD. 2 siswaku saja, Welden dan Amos yang betubuh kekar namun tak seberapa dibanding Ardan ini selalu mendapat tatapan sinis karena dianggap bukan anak sekolah lagi. Tapi inilah permainan kadang banyak intrik yang ikut membumbui.
Permainan dimulai dan sangat jelas terlihat bahwa Jeki dan Yaret sangat bernafsu untuk memenangkan pertandingan. Semangat mereka yang berkobar-kobar menjadi satu kekuatan tersendiri untuk melakoni laga yang sarat gengsi ini. Berkali-kali pemain Lamjan melakukan kesalahan di awal laga, Lamcin unggul hingga 5 poin. Para supporter mereka diam seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Cuncu dan Tori, 2 Pejuang SM-3T yang bertugas di Lamjan tak henti-hentinya meneriaki saya dan Ahmad dari ujung ke ujung. Meskipun Anak-anak sedang panas menjalankan peran mereka di lapangan, kami guru SM-3T tetap adem dan selalu beranggapan bahwa kemenangan anak didik kami adalah kemenangan untuk para pejuang pendidikan ini.
Laga berlangsung sengit ketika Lamjan menemukan ritme permainan mereka. Kejar-mengejar angka terus terjadi di akhir babak pertama. Rely-rely panjang tak bisa dihindarkan dan jual beli smash membuat penonton semakin riuh bersorak.
“HHUU” Lamcin memukul Bola.
“HA” Giliran Lamjan yang mengambil
“HHUU”
“HA”
“YEAAA. Puk puk puk….” Bola jatuh di dalam area Lamcin kemudian diikuti oleh suara membangunkan orang sahur lengkap dengan tepukan botolnya. Babak pertama berakhir dengan kemenangan Lamjan, 15-13. Pemain bertukar posisi begitu pula dengan supporter, pertemuan antara keduaanya di tengah-tengah lapangan membawa sensasi ketegangan tersendiri. Ada kekhawatiran jika saja salah seorang supporter nekat memulai tindakan propokatif maka pasti kekacauan tidak bisa dihindarkan. Untung saja hal itu tidak terjadi dan pertandingan kembali berlanjut.

Gemuruh suara penonton di babak kedua lebih banyak didominasi oleh supporter Lamjan, Ardan dan Joshua berkali-kali mencetak point sehingga sejak awal laga mereka terus memimpin pertandingan. Cuncu dan Tori, nama gaul dari Husni dan Endang Pratiwi tak henti-hentinya mengolok dan meremehkan saya dan Ahmad. Mereka nampak sangat bahagia dengan keunggulan anak didik mereka, senyum sumringah dari wajah keduanya menandakan bahwa mereka sangat puas melihat kami ciut tak berdaya. Semangat serta kerja keras Jeki dan Yaret tak kuasa membalikkan keadaan sampai akhirnya mereka resmi gugur tatkala angka Lamjan mencapai 15, perkasa atas lamcin yang hanya berhasil mengumpulkan 9 angka.
Dari laga yang baru saja berlangsung, saya melihat bukti dari sebuah pelajaran hidup bahwa hanya dengan semangat yang menggebu-gebu tidaklah cukup untuk memenangkan persaingan menjadi juara. Skill dan latihan yang keras adalah syarat utamanya kemudian semangat adalah kuncinya. Ketiganya harus bersatu padu untuk menjadi juara yang sesungguhnya, karena juara adalah hasil usaha bukan pemberian.
Meskipun begitu, anak-anak dan seluruh team tidaklah terlalu kecewa dengan hasil ini. Bisa berpartisipasi bahkan mencapai babak 8 besar setelah memenangkan satu laga adalah prestasi yang lebih dari cukup. Mengingat fasilitas yang kami miliki sangat minim maka tidak heran jika langkah kami harus terhenti sampai di sini. Terlebih karena ini adalah kompetisi yang pasti berujung pada menang atau kalah. Hari ini hanyalah awalnya, begitu banyak pelajaran yang kami dapatkan dan besok kami akan berbenah.
***
Formasi Pentas musikalisasi puisi

Licinnya rumput setelah terjadi hujan kecil sore ini menjadi drama tersendiri dalam pertandingan tarik tambang babak 8 besar. Baik team putra maupun putri sama-sama meraih kemenangan mudah dan akhirnya lolos ke babak semi final yang akan berlangsung esok hari. Sore itu juga tanpa berlama-lama larut dalam euphoria kemenangan kami langsung meluncur ke sungai bebersih diri dan kembali untuk mempersiapkan penampilan pentas seni.
“Semua pake seragam sekolah, nak. Rapikan rambut kalian dan pake wangi-wangian. Pokoknyaa malam ini kita konser, guncang merapun.” Ucapku dengan semangat.
“Pak guru, baju si Yoses tidak ada.” Kata Yaret sambil membongkar-bongkar tumpukan tas yang berserakan.
“Saya juga, pak guru” tambah welden dengan wajah yang takut kena omel.
“Kenapa bisa tidak ada? Kan sudah diingatkan sebelum berangkat, katanya sudah ada semua.”
“Itulah, Pak guru. Aku juga sudah suruh dia masuk tas waktu itu tapi kenapa dia hilang sudah” Yoses menjawab.
“Itulah” Welden membenarkan
“Waduh, bagaiman ini, Pak. Ada yang tidak punya seragam”
“Begini saja, Yoses dan Welden kan di barisan belakang, di situ ada 6 orang, bagaimana kalau mereka ber-6 ini pake pakean olahraga biar sedikit bervariasi. Sekalian memperlihatkan nama sekolah mereka.” kata Ahmad memberi solusi, lalu diikuti anggukan setuju oleh guru-guru yang lain.
“Saya juga punya ide, kita buatkan mahkota-mahkota untuk anak-anak sebagai aksessorisnya supaya kelihatan rame” Kataku dengan sunyum sumringah seolah itu adalah ide brillian.
“Mahkota? Mahkota apa pak?” Tanya Pak Adi penasaran.
“Sembarang, pokoknya dari daun-daunan supaya kesan bahwa kita dari hutan itu terasa”
“Keren! Boleh itu Pak. Saya tahu cara buatnya.”
“Mantap, kalau begitu eksekusi sekarang, pak. Saya sama Ahmad latih anak-anak untuk pemantapan dulu”
“Ok, Sipp!” Pak Adi langsung hilang ditelan kegelapan malam, memasuki kebun-kebun kecil yang ada di belakang rumah. Anak-anak bergegas mengganti pakian, dan mandandani diri mereka, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ibu Linlin, Ibu Eka dan Ibu Beti menjadi perias andal malam itu. 4 anak perempuan yang selalu dekil kini menjelma menjadi gadis cantik dengan balutan bedak dan lipstik yang tipis, rambut mereka tersisir dan dikepang 2 di belakang dengan penuh pertimbangan, sangat sederhana sesuai dengan karakter mereka yang berasal dari daerah pelosok yang jauh dari gaya anak jaman sekarang.
Saya sendiri memilih celana kain berwarna biru gelap dan kemeja kotak-kotak lengan panjang berwana putih cokelat kombinasi hitam. Ah, saya teringat lagi, baju ini adalah pemberian dari seorang yang sangat special buatku, Hastuti. I miss her so much. Jas kebesaran SM-3T dengan logo MBMI, RISTEK DIKTI, dan UNM yang terpampang di depannya menyempurnakan penampilanku yang akan memainkan gitar untuk mengiringi siswa-siswi kami menyanyikan lagu Laskar pelangi.
2 kali latihan pemantapan telah usai, tak ada kesulitan berarti di sana. Hanya Nopel, siswa kelas IV yang kadang-kadang masih lupa dengan gerakannya tapi itu tidak menjadi masalah karena ia selalu bisa menyesuaikan diri. 4-4-6, begitulah formasinya. Simson, Dion, Firaun, dan Yaret menempati baris pertama, mereka bernyanyi seperti yang lain dan sekaligus berpuisi, sebuah puisi tentang mimpi di balik bukit ciptaan Ahmad, secara bergantian masing-masing 1 bait. Yeni, Resta, Herlina, dan Juli berada di garis kedua, mengisi backsound ketika musikalisasi puisi dimulai. Baris terakhir ada 6 orang yaitu Welden, Mika, Amos, Nopel, Simson, dan Yoses, juga mengisi backsound. Jika dilihat dari atas maka formasi ini mirip dengan logo wifi yang dihapus satu titiknya pada telepon pintar.
Pak Adi telah selesai dengan mahkotanya. Daun kakao yang dilipat dan disambungkan beberapa helai menggunakan lidi kini siap untuk menyempurnakan penampilan kami. Tanpa ragu sedikitpun anak-anak langsung menyambarnya dan dengan bangga memasang di kepala. Saya juga demikian. Kami membentuk barisan lalu berjalan menuju gedung yang tadi menjadi panggung orasi Simson. Lagu warisan dari pelatihan Bela Negara di Rindam VII Wirabuana mengiringi langkah kami memunggungi rumah.
“Minggir dong, Minggir dong, Minggir dong, Pasukan Lamcin mau lewat badannya sehat-sehat ototnya kuat-kuat, minggir dong minggir dong minggir dong. Apa tandanya kampung Long Lamcin di sana sini hutan semua. Apa tandanya kita berkawan? Ikan se anjat join-joinan….” Terus bernyanyi sampai akhirnya kami tiba di gedung pementasan.
Orang-orang telah memadati ruangan. Setiap sudut telah terisi dan kami mengambil posisi paling belakang. Terlihat bukan hanya para peserta lomba atau warga sekolah, tetapi juga warga kampung Merapun yang sepertinya haus dengan hiburan macam ini. Sangat ramai sampai-sampai banyak orang yang rela menonton melalui jendela. Kursi juri kembali diisi oleh teman-teman guru SM-3T, ada Syamsul Adil dan Ilham dari SD Lesan Dayak, Annisa dan Ningsih dari SD Tabalar, mereka mendapat kehormatan sebagai juri karena merekalah yang kami anggap paling kompeten.
Bapak-bapak berkulit gelap kini kembali memainkan perannya sebagai pemandu acara, dia nampak begitu enerjik dan lincah berpindah dari ujung ke ujung panggung, penguasaan panggungnya pasti dapat 100. Dia menjadi kunci raminya acara malam ini, terlebih ketika dia meminta sura penonton mirip biduan dangdut koplo.
“Penonton?”
“Iyeee”
“Mana suaranya?”
“Huuuu”
“Mana pendukungnya, Gunta Samba?” Tidak kurang dari 50 orang di barisan paling depan berdiri dan bersorak secara serempak.
“Mana pendukungnya, Long Gie?” Sekelompok anak perempuan berbalut riasan pernikahan berdiri dan diikuti oleh pendukung yang tidak kalah banyak dari sebelumnya. Satu persatu semua sekolah disebutkan termasuk Lamcin yang supportenya paling sedikit tapi paling heboh. And, show time begins.
“Yang pertama dari SD Sido bangen, akan menampilkan tarian Dero dari Sulawesi tengah. Kita sambut inilah dia, SDN 014 Kelay”
Ada 20 anak yang langsung menaiki panggung dengan pakaian casual dan selendang warna-warni membalut tubuh mereka. Membentuk 2 sap di atas panggung dan seluruh mata tertuju pada mereka. Sejurus kemudian musik Dero yang telah dimodernisasikan bertalu-talu dari speaker raksasa di sebelah kiri panggung. Sekelompok anak yang imut itu kemudian menari mengikuti irama music dan seluruh penonton langsung bertepuk tangan dengan sangat meriah. Saya merasakan sensasi kebanggaan melihat anak-anak yang dengan kepercayaan diri menaiki panggung kemudian menyerap perhatian banyak orang, dan mampu menunjukkan kebolehan mereka dengan sangat baik.
20 menit berlalu dengan sangat cepat, gerakan yang berulang-ulang dari tarian Dero tidak berhasil membuat penonton merasa bosan. Penampil pertama berhasil menaklukkan panggung dan menghibur penonton. Saatnya MC mengambil alih.
“Wow, tepuk tangannya sekali lagi untuk Sido bangen, luar biasa. Gurunya pasti stengah mati melatih anak sebanyak itu” Tawa pecah dari penonton.
“Selanjutnya, menampilkan tari gerak sama dari suku Dayak. Kita Sambut, SD Gunta Samba” Para penari gerak sama terdiri atas 8 anak perempuan yang berpakaian khas Dayak dengan manik-manik yang mengkilat bak permata. Mereka tampil begitu cantik dengan riasan pengantin yang mencolok. Beberapa helai bulu burung berwarna hitam putih ikut menyempurnakan jari-jari mereka. Bunyi kecapi dari pengeras suara mengiringi gerakan mereka yang terlihat sederhana namun mengagumkan. Setiap langkah dan ayunan tangan serta goyangan pinggul mereka benar-benar seirama dan sama. Penonton tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka pada 8 penampil itu. 10 menit kemudian, penari dengan teratur menuruni tangga panggung dan diikuti oleh tepukan puas dari seluruh penonton. Terlihat senyum mengembang dari bibir para juri.
“Tari Tunggal merupakan tarian khas suku Dayak. Tarian ini mesti dilestarikan dan penampil berikut akan membuktikan pada kita bahwa dia ingin melestarikan tarian dari tanah kelahirannya. Kita beri tepuk tangan kepada peserta selanjutnya, Long Suluy”
Penonton sedikit ragu, jangan-jangan pesertanya tidak tampil lagi seperti perlombaan pidato pagi tadi. Tapi keraguan penonton langsung terbantahkan ketika seorang anak berkulit putih dan bermata sipit bergerak perlahan menaiki panggung dengan balutan baju khas suku dayak yang terbuat dari kulit kayu. Tepuk tangan meriah dan siulan terdengar di sana-sini. Mila dan Fitri, guru SM-3T yang mengabdi di sekolah tersebut, kelihatan begitu sibuk hilir mudik mencari sang kepala sekolah yang memegang file musiknya. Sementara penonton sudah tak sabar menunggu, sang operator malah hilang entah kemana.
Beberapa menit kemudian setelah nama sang pemegang kunci tersebutkan berkali-kali dari pengeras suara, datanglah dia dengan note pad putih di tangan. Tanpa berlama-lama lagi music langsung play dan mulailah penampil tunggal itu meliuk-liuk di atas panggung. Saking senangnya melihat si penari, beberapa penonton menaiki panggung dan memberikan lembaran-lembaran berharga, ada yang berwarna merah ada juga yang berwarna biru. Sawer membuat si penari makin bersemangat, penonton juga makin terhibur.
Peserta-peserta berikutnya tetap menampilkan tarian tradisional dari berbagai daerah. Ada tari zaman, tari Toraja, dan lain-lain tapi paling banyak tari tunggal dan gerak sama khas suku Dayak. Malam semakin larut dan penonton juga mulai jenuh dengan penampilan seni tari, satu persatu penonton kelihatan gelisah ingin meninggalkan ruangan tapi masih penasaran dengan penapilan macam apa yang akan diperlihatkan oleh sekelompok anak berbaju kumal dan bermahkota daun kakao yang kini terlihat mengantuk di deretan kursi belakang.
Mahkota mereka yang terbuat dari anyaman daun kakao menjadi saksi menunggu itu melelahkan.

Saya juga sudah sangat gelisah karena sudah urutan ke-13 dari 17 peserta namun nama kami belum juga disebutkan. Saya menghampiri sang MC dan melihat susunan pesertanya, ternyata kami akan tampil diurutan 15. Kupandangi anak-anak dari jauh terlihat mereka sudah lelah menunggu dan satu persatu mulai melepas mahkota kebesaran mereka.
“Pak, berarti setelah ini Lamcin ya.” Kataku pada MC
“Iya, pak. Vocal group dan musikalisasi puisi kan?”
“Betul, pak. Mantap!”
Saya kembali pada anak-anak dan meminta mereka bersiap karena setelah ini kami akan tampil. Mereka mengusap wajah mereka yang sudah kusut, meluruskan kembali daun mahkota mereka yang melengkung dan bangkit dari tempat duduk.
“Peserta selanjutnya, akan menampilkan sesuatu yang lain dari yang lain. Pembeda untuk malam ini, kita sambut, penampilan musikalisasi puisi dari SDN 012 Long Lamcin” Penonton bertepuk tangan dengan riuh, ada yang mencari-cari telinga di samping kanan kirinya untuk melepaskan bisikan, ada yang berdiri dari duduknya bahkan sebagian yang berdiri di atas tempat duduknya. Mereka yang duduk di depan menoleh ke belakang dan memanjangkan leher mereka seolah tak ingin kehilangan sedikitpun dari penampil berikut ini yang sungguh membuat orang penasaran. Termasuk 4 orang juri.
Pasukan berbaris membentuk 2 banjar di belakangku. Pak Adi mengambil alih dengan sebuah yel-yel yang memantik semangat.
“LAMCIN!” Teriak Pak Adi, penonton terpaku.
“YES!” Jawab pasukan serentak sambil mengepalkan tangan di udara.
“LAMCIN” Sekali lagi.
“WE ARE LAMCIN” Dengan sekali tepukan menyilang di dada kemudian hentakan kaki 2 kali di lantai. Awal yang mengesankan dan membungkam seluruh hadirin.
Saya menaiki tangga lebih dahulu, memberi salam hormat kepada seluruh hadirin dan melempar senyum jail kepada para juri. Gitar tua yang ada di pelukanku kupetik sekali kemudian duduk menyerong di sebuah kursi yang telah dipersiapkan oleh Ahmad. Kutekan Kord G seraya menggejreng sinar gitar sebagi kode untuk pasukan segera menaiki panggung.
Dengan teratur dan rapi seluruh pasukan telah berada pada posisi masing-masing sesuai dengan yang telah direncanakan dari awal. Saya mulai memainkan Intro, kord: G C G C. Kunci selanjutnya tetap G C dan lagu masuk.
“Mimpi adalah kunci” seluruh pasukan bernyanyi, terkhusus Saf belakang mengangkat tangan mereka membentuk huruf V.
“Untuk kita” Barisan tengah menyilangkan tangan mereka di dada.
“Menaklukkan dunia” Barisan depan mengangkat satu tangan sambil memandang jauh ke langit kemudian menggenggam mimpi dan menariknya kedalam pelukan mereka.
“Berlarilah tanpa lelah” semua saf mengambil gerakan tangan dan kaki yang sama membentuk V terbalik, kemudian menunjuk penonton dengan kedua tangan dan kembali menggenggam angin kedalam pelukan mereka ketika liriknya berlanjut “Sampai engkau meraihnya”.
“Laskar pelangi”
“Takkan Terikat waktu”
“Bebaskan mimpimu di angkasa”
“Warnai bintang di jiwa” Setiap gerakan menggambarkan lirik lagu yang dinyanyikan. Anak-anak begitu menghayati lagu dan gerakan mereka. Saya tidak kuasa menahan diri untuk tidak ikut bernyanyi ketika masuk ke reff. Hebatnya, seluruh penonton larut dan ikut menyanyi bersama.
“Menarilah dan terus tertawa”
“Walau dunia tak seindah surga”
“Bersyukurlah pada yang kuasa”
“Cinta kita di dunia” Kristal menggumpal di mataku, sejenak kuhentikan suara gitar, kemudian melanjutkan dengan menekan kunci G dan diiringi oleh nyanyian seantero ruangan “Selamanya”.
“Cinta kepada hidup”
“memberikan senyuman abadi”
“walau hidup kadang tak adil”
“Tapi cinta lengkapi kita”
“Hoooo”
Selanjutnya hening, petikan gitarku hanya sesekali dan beberapa senar saja. Barisan kedua, 4 anak perempuan langsung menyanyikan reff dengan suara pelan, saf ketiga dengan suara nyanyian malam. Saf pertama melantangkan suara mereka dan mulai berpuisi.
“Tersembunyi di balik belantara” Dion memulai dan penonton sontak heboh bertepuk tangan. Dia melanjutkan dengan tatapan yang percaya diri.
“Kokoh berbaris gunung mengelilingi”
“Jalan terjal yang berliku”
“Deras arus hanyutkan nyali” Dion berhenti dan dilanjutkan oleh Simson.
“Adakah itu pembenaran bagimu?” Dia mengedarkan pandangan tajamnya seolah menghakimi.
“Lupa kah engkau dengan sumpahmu?”
“Bernaung kitab engkau bertutur”
“Dustakah, dustakah sumpah yang kau ucap?”
Setiap kalimat yang mengudara dari mulut Simson terasa sangat menusuk karena tatapan dan gerakan tangannya yang sangat tajam. Firaun melanjutkan dengan hentakan kaki dan kepalan tangan menantang langit.
“Mencerdaskan kehidupan bangsa”
“Itulah janji kemerdekaan”
“Namun, saat sumpah tak lagi berarti”
“Kapankah janji itu akan tunai?” Tanpa jeda sedikitpun, Yaret langsung menyentuh dengan suara berbelas kasih.
“Kusam memang seragam yang menyelimuti”
“Tidak menawan dan tidak pula mewangi”
“Tertinggal memang tertinggal”
“Tapi…” Dia berhenti sejenak lalu ke empatnya kompak menghentakkan kaki dan berteriak “KAMI PUNYA MIMPI!”
“Bukan untuk kepuasan pribadi tapi demi senyum di wajah Pertiwi”
Puisi berakhir dan setiap barisan saling menggenggam tangan dan kembali menyanyikan reff sekali lagi. Lagu berakhir dan ditutup dengan salam penghormatan bagai kesatria. Anak-anak turun dari panggung dengan sorakan dan tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh penonton. Terlihat beberapa orang menghapus sungai di pipi mereka. Termasuk Ibu Beti yang seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Anak-anak yang selama ini hanya masuk hutan, bermain basah-basahan di sungai lalu kejar-kejaran sampai baju mereka mengering di badan ternyata bisa tampil dan memukau begitu banyak penonton dari atas panggung. Kebanggaan dan harapan jelas tergambar di matanya.
Sekali lagi, saya merasa sangat terharu dengan apa yang anak-anak berikan malam ini. Kerja keras kami para guru yang selama ini membimbing dan melatih mereka telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan, ini seperti cinta yang terbalaskan. Sangat membahagiakan.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, seseorang memanggilku, Pak Dedi. Dia menawarkan sebuah tantangan yang sulit untuk saya tolak. Mengisi sesi hiburan dalam bentuk apa saja bersama teman-teman SM-3T. Besok pada puncak acara, malam penyerahan piala. Saya tidak bergabung bersama pasukan kembali ke rumah tapi mengumpulkan teman-teman seperjuangan yang hadir di Merapun ini untuk memikirkan kreativitas seni macam apa yang akan kami tampilkan besok.
***
Tendangan maut dari Jeki untuk Welden. Hanya terjadi di alam mimpi.

Malam itu, langit benar-benar berbintang. Udara dingin tidak berhasil membekukan suasana reuni kecil-kecilan sesama rekan-rekan seperjuangan. Hadir dalam lingkaran besar yang kami buat untuk menghabiskan malam panjang itu 2 bujang dari Long Nguikian, Firman-Sade’ yang masing-masing mengantongi sertifikat S1 pendidikan Bahasa Inggris dan PKN. Sepasang Alumni pendidikan sejarah Umi-Ika dari Long Boy. 2 perempuan yang sudah layak menjadi ibu-ibu karena mengantongi ijazah pendidikan anak usia dini, Tori dan Cuncu, mengabdi di Long Pelay. Fisikawan lucu dan alim dari Panaan, Bang Rachman-Hamzah. Gadis berbadan petinju yang sering kami panggil Jon dan Frans tapi nama sebenarnya adalah Mila-Fitri dari Long Suluy. Sarjana muda berijazah pendidikan bahasa Indonesia yang ditugaskan di kampung Merabu, Susi-Asmi. Pasangan sejati bersertifikan PGSD yang sering mendapat olokan LGBT, Ilham-Adil dari Lesan Dayak. Saya sendiri pendidikan bahasa Inggis dan partner saya alumni fisika, Ahmad. Ada tambahan 3 orang yang menjadi tamu kehormatan, karena mereka bukan dari kecamatan Kelay yaitu gadis krreatif bernama Anisa dan Partnernya Ayuni Ningsih. Terakhir adalah yang termuda diantara semuanya yaitu Ridho.
Canda tawa menghangatkan pertemuan itu sebelum masuk ke pembahasan inti yaitu rencana mengisi satu sesi dalam acara penutupan. Permainan jujur atau berani adalah biang kerok atas groginya beberapa orang untuk mengungkapkan kata hatinya. Umi contohnya, ketika mata pena yang diputar menunjuk dirinya, setiap peserta berlomba ingin memberi pertanyaan, tapi saya selaku operator berhak mengizinkan 2 orang saja. Adil menjadi penanya pertama, “Umi, kamu masih single atau sudah punya Abi?” Lalu tawa pecah, memecah sunyi. Palan tapi jelas yang ditanya menjawab, pedaftaran masih buka. Ahhai! Jawaban itu sangat ditunggu oleh bebrapa bujang pastinya. Seolah sudah diatur, Sade’ yang saya beri kesempatan langsung menggiring Umi ke jawaban bunuh diri, Pilih tentara atau anak SM3T? Umi menjadi sangat kaku menjawabnya, selepas liburan tahun baru kemarin, teman-teman memang pada tahu kalau ada kawan seperjuangan yang sedang menaruh hati padanya.
Setelah puas bercanda, mulailah kami mendiskusikan renacana itu, dan akhirnya disepakati untuk bernyanyi dan musikalisasi puisi. Alasannya sederhana, waktu yang kami miliki sangat sempit, hanya beberapa jam saja, dan itu tidak memungkinkan untuk menampilkan drama, teater, atau tari yang mungkin bisa lebih menghibur. Sebuah lagu dari God Bless yang discover oleh Indonesian voice berjudul Rumah Kita menjadi pilihan kami, dan puisinya adalah puisi karangan Eki, kawan seperjuangan juga yang bertugas di Maratua menjadi pelengkapnya.
Tidak butuh waktu yang banyak untuk memastikan seluruh personil menghapal lagu itu. Saya sendiri sebagai pengiring dadakan langsung mencari kordnya dan menetapkan Do=C. Ahmad dan Susi sebagai pembaca puisi dan yang lainnya penyanyi. Latihan pun kami muali, beberapa kali pengulangan dan tambal sulam di beberapa bagian akhirnya musikalisasi puisi ala SM-3T V Kecamatan Kelay siap dtampilkan.

***
Baca juga



Porseni, BPS #9 Day 2. Kalah Menang Soal Biasa

Day 2, Menang Kalah Adalah Soal Biasa
Di hari yang ke-2 itu saya baru mengetahui bahwa ternyata ada beberapa cabang olahraga yang sempat saya latihkan kepada anak-anak namun tidak dipertandingkan dan begitu pula sebaliknya. Lompat dan lempar yang menjadi target emas kami luput dalam event tahun ini, justru pidato dan tari khas daerah yang tidak kami latihkan dipertandingkan. Sempat saya melakukan protes kepada pihak penyelenggara karena kami tidak mendapatkan informasi lengkapnya namun saya harus menelan pil pahit karena dijawab dengan fakta yang tak bisa saya bantah “Salah sendiri, sekolahmu tidak pernah ikut rapat. Resiko kamu itu!”. Ini yang selalu terjadi di neger ini, tak peduli individu atau kelompok, atau instansi, ada kecendrungan untuk menyalahkan pihak yang dirugikan, Blaming the victim! “But that is fine, kita bisa hadir saja suda merupakan lompatan yang luar biasa” batinku menyemangati.
Udara pagi bertemu bola Voli. Asik.
Terlihat kawan seperjuangan terlibat aktif dalam kegiatan.

Pagi itu, langit mendung dan angin bertiup kencang. Secara bersamaan team Lamcin melakoni 2 prtandingan segaligus, volley Putri dan takraw putra, sama-sama di babak 8 besar dan jika menang berarti lolos ke babak semi final. Saya mendampingi team volley bersama beberapa anak sebagai supporter sementara guru yang lain mendampingi team takraw.
Kali ini Lamcin berhadapan dengan SD Labaan, supporter mereka memenuhi pinggir lapangan sedangkan kami hanya beberapa orang saja, tidak lebih dari 5. Terlebih lagi, stok pemain kami hanya cukup untuk satu team dan tidak ada pemain pengganti, ya maklum lah, siswa kami memang sedikit.
“Seperti kemarin, bermain santai dan anggap saja ini latihan biasa. Ingat lapangannya tidak seperti yang sering kalian pakai di kampung, ini lapangan mini jadi pukulnya tidak usah terlalu keras. Jangan tergesa-gesa dalam mengontrol atau memberi umpan. Kalian lebih kuat dan lebih bagus cara bermainnya dari mereka, jadi pasti kalian menang! Kita pasti bisa, Understand?” Saya menyemangati sebelum pertandingan dimulai.
“Yes, Sir!” kompak mereka menjawab.
“Ok, Very good!, Let’s do it!” kami kembali bersorak namun tak selantang biasanya.
Pertandingan berjalan dengan tempo yang sangat lambat, masing-masing team berusaha untuk tidak membuat kesalahan, sebisa mungkin menyebrangkan bola dengan pas dan berharap pemain lawan tidak bisa mengembalikan dengan baik. Kejar-mengejar angka terjadi dengan sangat rapat.
“Ya, gitu aja, biar sama-sama gem kata seorang penonton yang gemas melihat selisih angka.
“Jangan terpengaruh penonton, biarkan saja mereka” kataku dengan sedikit berbisik.
“22-20, poin bertambah untuk Lamcin” teriak wasit sambil menghapus keringatnya.
Juli kembali melakukan servis sempurna, dikembalikan dengan baik oleh pemain lawan, Herlina memberi passing kepada Resta namun bola terlalu tinggi dan tak mampu dijangkau oleh Resta sehingga bola jatuh di luar lapangan pertandingan.
“Priiiittttt. Pindah Poin, 21-22.”
“Wasit, Break time” saya meminta waktu rehat kepada wasit untuk memberi instruksi kepada pemain.
“Skor kita masih unggul 1 angka, 3 lagi dan kita akan menang. Tadi Pak guru lihat kalian banyak mematikan bola di area sendiri, itu tidak boleh terjadi. Kita cukup mengejar kemenangan jadi fokus mencetak poin, langsung sebrangkan bolanya, tidak usah umpan kecuali susah untuk langsung. Ok!”
“Ok, Pak guru!
“Good. Ayo kita kompak lagi, nak, semua tangan di tengah dan teriakkan nama Lamcin” Sorakan kami tenggelam oleh suara mereka yang jauh lebih banyak supporter.
Peluit kembali berbunyi dan anak-anak bermain sangat hati-hati. Terlihat jelas mereka mengikuti instruksi yang saya berikan. Tak ada lagi bola yang mati karena salah umpan dan akhirnya babak pertama berakhir dengan kemenangan Lamcin 25-22 atas Labaan. Yes!
“Mantaaapp! You are the girls. Give me ten” terlihat senyum bahagia di wajah mereka semua, biji-biji keringat yang sedikit lagi menetes menandakan mereka sedikit kelelahan.
“Capek?”
“Tidak, Pak guru. Haus aja”
“Ok, silakan minum airnya. Kalian tadi bermain sangat baik, nanti pertahankan yang seperti itu ya. Pokoknya langsung sebrangkan saja bolanya. Dan ingat, 2 orang yang di depan tidak perlu ambil bola kalau lewat di atas kepala karena itu bola untuk pemain belakang.”
“Iya, Pak guru, tadi saya sering salah kalau ambil bola atas” kata Yenni membenarkan.
“Usahakan untuk tidak ulangi lagi ya, kalian harus kompak dan disiplin pada posisi, kalau bukan bagiannya jangan diambil. Percaya sama teman!
“Siap, Pak guru!”

Babak ke-2 dilanjutkan dan sorak-sorai penonton semakin riuh. Mental anak-anak kembali diuji oleh teriakan-teriakan supporter lawan yang mencoba menciutkan nyali mereka. Saya berusaha meyakinkan dari luar lapangan dan memastikan agar mereka tidak merasa sendiri. Poin demi poin tercipta dan akhirnya babak ke-2 kembali kami menangkan dengan skor yang lebih meyakinkan, 25-16. Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat itu, senang, bangga, haru, dan bahagia bercampur aduk di dalam satu momen kemenangan. Tapi masih ada satu yang membuatku khawatir yaitu team putera yang sedang melakoni pertandingan takraw, tanpa berlama-laama larut dalam euforia kemenangan saya langsung menggiring anak-anak menuju lapangan takraw untuk memberi dukungan.
Belum lagi kami tiba di sana, sudah terlihat serombongan anak berbaju biru tua dengan strip-strip merah berlarian ke arahku dengan wajah yang super bahagia seperti telah berhasil melumpuhkan babi buruan yang besar.
“Pak guru….. Kita menang! Kita menang!” teriak mereka dari kejauhan?
“Haaaa, Menang? Alhamdulillah!” Saya langsung berlari dengan cepat pada mereka dan kami bertemu di tengah lapangan bola yang memisahkan antara lapangan voli dan lapangan takraw. Awan hitam tebal sepertinya tak sanggup lagi menahan hujan dan akhirnya turunlah air-air kehidupan membasahi hamparan rumput hijau, memandikan kami yang sedang tertawa riang menikmati pagi dengan kemenangan-kemenangan penting. Semua ikut merasakan kemenangan itu, seolah-olah kami telah menjadi juara betulan. Dan memang hari itu anak-anak telah menjadi juara betulan di hatiku. Tak henti-hentinya saya mengagumi prestasi mereka yang bisa menembus babak semi final untuk 2 cabang olahraga di hari ke-2 yang masih pagi itu. Sejenak saya menutup mata, mendongakkan wajah ke langit, merasakan bulir-bulir hujan menyentuh kulit wajahku kemudian berkata di dalam hati “Thank God, nikmat-Mu sungguh tak terhitung”
***

Seserorang berkoar-koar menggunakan megaphone di tengah lapangan bola ketika hujan telah usai dan waktu kini menunjukkan pukul 3 sore.
“Pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu akan berlangsung sore ini, SDN 012 Long Lamcin akan menjamu tuan rumah SDN 01 Merapun. Datang dan saksikanlah, 15 menit lagi pertandingan akan dimulai.” Berkali-kali lelaki berkulit gelap itu menyampaikan informasi pertandingan, berusaha meyakinkan pendengar yang masih mengantuk di rumah masing-masing untuk memenuhi lapangan yang rumputnya mulai mengering.
“Bangun, bagun! Waktunya bertanding, kita melawan SD tuan rumah” Pak Adi membangunkan anak-anak yang masih kelelahan setelah pertandingan pagi tadi.
“Mengantuk, Pak guru!” kata mereka.
“Bangun, nak! Juara tidak boleh malas”
10 menit kemudian, team sudah siap dengan jersi biru tua mereka. Kami melangkah gagah menuju lapangan untuk menghadapi team tuan rumah yang baru-baru ini membantai lawannya dengan skor super telak 8-0. Team tuan rumah didominasi oleh anak-anak berkulit timur yang orang tuanya adalah karyawan perusahaan sawit yang berjaya di kampung Merapun. Postur mereka tinggi-tinggi meskipun ada beberapa orang yang kecil-kecil tetapi bermain sangat lincah. Jika dilihat dari kaca mata jam terbang, tentu team Merapun jauh lebih unggul karena lapangan mereka sangat bagus dan terletak persis di depan sekolah, bisa dibayangkan setiap jam istirahat mereka langsung berlarian ke lapangan untuk bermain bola. Apalagi sekolah mereka punya seorang guru olahraga yang fokus mengajarkan itu.
Sedangkan team Lamcin baru mengenal sepak bola 4 bulan yang lalu, baru belajar nendang, baru belajar aturan permainan, tidak punya lapangan bola, dan hanya dilatih oleh seorang guru SM-3T dengan Ijazah Pendidikan Bahasa Inggiris, bukan olahraga. Menyedihkan! Tapi Lamcin punya semangat yang tak tertandingi dan itu adalah modal besar, terbukti pada pertandingan awal, Lamcin bisa menang 4-0. Bukankah itu luar biasa? Tapi saya curiga lawan kami sebelumnya juga lebih parah daripada kondisi kami, entahlah. Selain semangat, team kami juga bermodalkan kekuatan fisik yang bisa diandalkan, berlari di bawah terik matahari atau seharian bermain tanpa henti pasti bisa kami hadapi. Team telah teruji secara fisik, urusan skill belakangan.
Pak Rendi kami percayakan sebagai manager team dan Jeki sebagai kapten. Manager sudah menentukan 7 pemain inti yang akan segera bertanding. Mika Keeper, Amos dan Welden sebagai defenders, Yoses Gelandang, Yaret dan Jeki pada psisi wingers, dan Fir’aun stricker. Saya sendiri asisten manager yang berdiri di dekat gawang yang dijaga Mika agar bisa dengan mudah mengatur pemain bertahan. Setelah memberi penghormatan pada penonton kedua team bersalaman dan melakukan sesi pengambilan gambar. Sangat elegan selayaknya pertandingan kelas pro.
Pak Rendi, Meneger andalan Lamcin F.C.

Penonton satu per satu berdatangan memenuhi lapangan dan mulai bersorak untuk kedua team. Penonton dari segala macam usia, jenis kelamin dan pekerjaan terlihat sangat antusias memberi dukungan. Kali ini, nama Lamcin lebih sering terdengar karena banyak sekolah yang teamnya sudah gugur beralih memberi dukungan pada kami. Apalagi, rumor tentang kondisi kami yang bisa hadir melalui perjuangan panjang dan tanpa campur tangan pimpinan sekolah telah beredar sehingga membuat banyak orang merasa tergugah. Salah seorang pengawas sampai berkata pada hari itu, “wah, Lamcin ini bisa gerak juga tanpa kepala, pada semangat lagi. Kepala sekolahnya ini pasti nyessal tidak bisa lihat anak-anaknya bertanding”. Kami hanya mengangguk takzim untuk meresponnya, tak ingin merespon lebih banyak, biar tindakan yang berbicara.
“Nomor punggung 7 membawa bola, melewati satu, dua, tiga orang pemain dan melepaskan umpan cantik kepada nomor 10, nomor punggung sepuluh bergerak lincah, mengecoh pemain bertahan Lamcin, sekarang dia hanya dihalang oleh keeper dan…” Suara komentator sepertinya tak diperhatikan lagi oleh para penonton yang sejenak menahan nafas menunggu apa yang akan terjadi.
“…dan dia mencoba tendangan keras namun tepat membentur penjaga gawang lamcin yang bertubuh kekar. Bola hanya meninggalkan lapangan pertandingan. Lemparan ke dalam untuk Merapun.”
“Yos, Jeki, Yaret, bantu di bawah. Fir’aun tetap di atas tunggu bola” Teriak Pak Rendi dari sisi Lapangan. Suara pukulan botol plastic bekas terdengar dari kerumunan penonton, memberi semangat para pemain dan memanaskan pertandingan.
“Bola jatuh di kaki nomor 7, lagi-lagi dia mengocek bola, melewati beberapa pemain dan mencari cela untuk melepaskan tendangan langsung.” Suara komentator kembali bersahut-sahutan dengan suara supporter.
“Mik, perhatikan gawangmu, jangan maju terlalu jauh. Biarkan Amos dan Welden halau serangan” kataku dengan sedikit cemas melihat pergerakan pemain nomor 7 Merapun yang sangat lincah dengan postur tubuhnya yang sangat tinggi dengan kulit yang hitam berbisa.
“Nomor 9 meminta bola, tapi nomor 7 masih dibayangi oleh 2 pemain bertahan Lamcin, dia mencoba melewati namun gagal, kemelut terjadi di sana. Wow, wow, seorang pemain lamcin terkapar kesakitan, pertandingan dihentikan.” Komentator tidak menyebutkan kenapa pemain kami cedera. Saya langsung berlari menghampiri Welden yang kesakitan memegang tulang keringnya.
“Kenapa, nak? Mana yang sakit?” kataku cepat sambil memeganginya.
“Kakiku, Pak guru, ditendang sama Amos!” jawab Welden kebingungan karena ditendang oleh rekan timnya sendiri.
“Oh, biasa terjadi. Ayo, nak, kita istrahat dulu” Saya memapah Welden keluar lapangan, lalu mencoba mengurut-urut kakinya dan menyemangati dengan sedikit bercanda.
“Kenapa kau bisa ditendang Amos? Kau apakan dia tadi malam?”
“Tidak juga, Pak guru. Dia mau tendang bola tapi tidak kena, saya yang kena”
“Yah, begitu memang permainan, ayo berdiri, pak guru sudah kasi mantra ajaib pasti sembuh” dia berdiri dan benar-benar tidak merasakan sakit lagi. Ajaib!
“Gooool, aksi yang sangat brillian dari pemain no 7 SDN 01 Merapun. Lamcin tertinggal, sementara pemain bertahan mereka baru siap-siap memasuki lapangan pertandingan” Suara yang keras itu mengagetkan saya, anak-anak kelihatan terpukul dengan gol itu. Skill para pemain Merapun memang sangat baik dan ternyata fisik mereka juga kuat-kuat, berat rasanya untuk memenangkan pertandingan ini. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0.
“Dion, Kamu masuk gantikan Yoses, Nopel ganti Welden. Sekarang kita pasang 3 pemain bertahan, Dion di kiri tempel terus nomor 10, jangan sampai lepas, Nopel di kanan jaga Nomor 9, Amos tengah jaga yang nomor 7. Ingat pemain bertahan, kalian jangan biarkan orangnya lolos. Paham?”
“Paham, Pak guru!”
“Pemain tengah Jeki dan Yaret, penyerang tetap Fir’aun. Sekarang kita main yang lebih baik, tangan di tengah ayo bersorak!”
“Pertandingan kembali dilanjutkan dan terlihat ada sedikit pergantian pemain dari tim Lamcin” Suara komentator on.
Permainan Merapun sedikit terimbangi, kedisiplinan para pemain bertahan menyulitkan para penyerang Merapun. Dion bahkan membuat pemain nomor 10 tampak stress dan mulai emosi karena terus-terus ditempel sekalipun tak ada si kulit bundar di sana. Mereka menarik perhatian penonton karena terus-terusan melakukan body cash sehingga wasit harus menghentikan pertandngan dan melerai mereka. Bukannya panas, penonton malah terhibur dengan aksi mereka yang sangat kekanak-kanakan itu.
Jeki menggiring bola, sorang pemain lawan mencoba menghalang, tidak berhasil. Jeki semakin menggila, menabrakkan badannya pada siapa saja yang mencoba menghentikannya. Sekarang dia meusuk ke jantung pertahanan Merapun, mengirim umpan manis kepada Fir’aun yang tak terkawal. Firaun menyepak dengan keras namun berhasil dimuntahkan oleh penjaga gawang mereka yang bertubuh 3 kali badanku digabung. Hanya menghasilkan tendangan sudut.
Yaret menghadapi si kulit bundar di sudut lapangan, Firaun, Jeki, Nopel, dan Dion berkerumun di depan mulut gawang bersama 5 pemain merapun sekaligus.
“Wang, Lambungkan saja bola ke tengah!” Perintahku dari kejauhan, mungkin Yaret tidak mendengar. Terserah!
“Bola melambung di area pertahanan Merapun, ada banyak pemain di sana. Kita lihat apa yang terjadi saudara-saudara, nomor 5 melakukan heading dan gooooolllll. Gool, gol, gol!” Suara sang komentator menegaskan apa yang terjadi di dalam lapangan. Fir’aun mencetak gol balasan dan merubah skor sementara 1-1. Anak-anak berpelukan untuk merayakan gol kemenangan sementara saya sibuk berlarian seperti orang gila. Ah, bahagia sekali!
Ketika waktu normal tak lama lagi akan berakhir, team Merapun melakukan serangan bertubi-tubi. 5 pemain mereka tertumpuk di area pertahanan Lamcin. Hanya satu pemain bertahan mereka yang tetap berjaga di bawah, dan hasilnya positif. 2 gol tercipta dalam kurun waktu kurang dari 5 menit hingga akhirnya peluit panjang berbunyi menandakan pertandingan babak ke-2 8 besar berakhir dengan kemanangan SDN 01 Merapun 3-1 atas SDN 012 Long Lamcin. Wajah murung dari para pemain, cadangan, supporter, manager, Official, komentator, Anak kecil yang dari awal memukul-mukul botol plastic bekas, Pa’le pentolan yang sedari tadi mengabaikan jualannya karena fokus mendukung Lamcin, mama-mama berbalut bedak tebal dan anjing kurapan di pinggir jalan, tak terhindarkan lagi. Semua larut dalam kesedihan yang mendalam itu sementara team Merapun beserta seluruh pihak terkait berbahagia dan berbangga diri karena telah berhasil menyingkirkan team kuda hitam, Lamcin. Ah, sedihnya!
“Tidak apa-apa, nak. Kalah menang dalam pertandingan adalah soal biasa. Jangan berkecil hati. Kalian sudah tampil sangat luar biasa dan berhasil memberikan perlawanan yang sengit terhadap team tuan rumah” saya sok menyemangati.
“Sudah bagus sekali, tadi itu benar-benar seru karena kalian sama-sama kuat. Hanya saja mereka lebih beruntung” Pak Adi menambahkan.

Tidak perlu terlalu banyak teori untuk kembali membangkitkan semangat anak-anak, terlebih ketika suara perempuan terdengar lantang membungkam keramaian dari tribun panitia bahwa Lomba tarik tambang akan segera dimulai. Lamcin lagi-lagi bertemu dengan SD Merapun yang baru saja menyingkirkan mereka dari cabang sepak bola. Pertandingan kali ini bukan sekadar tarik tambang, ada gengsi dan harga diri yang dipertaruhkan. Tarik tambang menjadi misi balas dendam!
***
“Amos, Jeki, Mika, Yaret, dan Welden, persiapkan tenaga kalian, seret talinya seperti menarik ketinting” Pak mared yang diamanahkan sebagai pendamping lomba tarik tambang menyebutkan nama-nama yang ia pilih sebagai peserta, dan dengan berapi-api memberikan pidato pembangkit semangat.
“Siap, Pak guru! Anak sterek pasti menangngeeh” Jeki berkata sambil memamerkan otot lengan dan perutnya. Terlihat tumpukan batu-batu sungai di dalamnya. Meyakinkan sekali.
Kedua team yang masing-masing terdiri atas 5 pemain sudah memasang kuda-kuda dan melilitkan tambang biru berdiameter 2 cm di tangan mereka. Ada kobaran api di mata para pemain Lamcin, kekalahan yang baru saja terjadi masih terus terbayang. Laga ini setidaknya akan mengurangi sedikit luka itu. Sedangkan para pemain merapun yang berpostur lebih tinggi dan kurus kelihatan grogi dan kaku. Penonton mengepung area pertandingan dan melewati batas terdekat bahkan nyaris menyentuh tali tambang. Mereka seolah tertarik pada perasaan para pemain. Dan ingin menyaksikan secara langsung apakah Merapun bisa mempecundangi Lamcin untuk kedua kalinya atau Lamcin dapat mengikis rasa kecewa mereka dan membalaskan kekalahan. Teriakan-teriakan memanasi dan menyemangati terus terdengar, suara pukulan botol tak ada lagi tergantikan dengan suara menderu-deru dari para penonton.
“Lamcin, Lamci, Lamcin, Lamcin” Dua ketukan.
“Merapun, Merapun, Merapun, Merapun” 3 tambah 1 ketukan.
“Bersedia, Satu, dua, tiga!” Wasit dan seluruh penonton ikut berhitung.
Jeki yang berada pada posisi paling depan menarik tali dengan sesekali melompat, gerakannya sangat lincah dengan otot dan urat-urat yang bermunculan bahkan menonjol seakan ingin keluar. Yaret, welden, dan Mika, kelihatan tidak kesulitan menarik tali, adapun Amos yang menjadi jangkar pada posisi paling belakang terilahat santai menyeret. Sedangkan pemain Merapun tampak kewalahan menahan laju tambang, kaki mereka yang mantap memijak bumi terseret bagai ketinting kala air sungai sedang surut. Dengan mudah pemain Lamcin mengalahkan Merapun di babak pertama. Suara terikan kini didominasi oleh kata Lamcin. Kata Merapun tinggal berupa teriakan-teriakan kecil yang segera hilang tertiup angin. Rasakan pembalasan anak hulu!
Babak kedua nyaris sama saja, tidak ada perlawanan berarti dan tali tidak sempat berdiam diri. Jeki yang tinggi badannya tidak seberapa namun otot semua dengan begitu kuat menarik 5 pemain Merapun sekaligus. Keputusasaan Merapun jelas terlihat ketika 4 pemain mereka melepas tali dan satu orang masih mencoba bertahan. Nahas dia benar-benar terseret seperti ketinting yang kehabisan bensin di atas bebatuan sungai. Maaf, itu fakta.

***
Bermodalkan kemenangan tarik tambang, kami berbondong-bondong menuju lapangan volley untuk melakoni laga derbi hulu yang mempertemukan Lamcin dengan SDN 011 Long Pelay. Kedua kampung adalah tetangga yang sangat dekat jaraknya di hulu sungai Kelay, hanya 15 menit perjalanan ketinting. Kedekatan ini membuat keduanya memiliki karakter masyarakat yang sama dan permainan rakyat yang juga sama. Sama-sama lahir dan besar dengan permainan volley.
Laga kali ini tidak kalah seru karena team Lamjan membawa misi balas dendam setelah tumbang 2 set langsung pada pertandingan takraw pagi tadi. Sama seperti kami yang selalu terbayang dengan kekalahan pasti mereka juga memendam perasaan sakit itu dan ingin membuktikan bahwa kami juga bisa meskipun dalam medan tempur yang berbeda. Masing-masing 4 pemain telah mengisi posnya. Komposisi Lamcin lebih kuat dengan skill dan postur tubuh yang merata. Sedangkan Lamjan atau Pelay diisi oleh satu pemain dominan, dan satu pemain amatir, yang sering disebut sebagai virus team karena menjadi titik lemah. Adapun 2 lainnya juga tidaklah terlalu mencolok. Prediksi sementara adalah Lamcin unggul 55-45.
Tidak butuh banyak pemanasan karena kedua team baru saja melakoni laga bola sepak dan sama-sama pula menelan kekalahan. Lamjan disingkirkan oleh Gunta Samba, sekolah yang juga menjadi tuan rumah bersama team yang mengalahkan Lamcin. Peluit berbunyi tanda laga telah dimulai.
Seperti kemarin, para pemain Lamcin masih butuh waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri dengan lapangan mini itu. Sedangkan team Lamjan telah terbiasa dan banyak berlatih sebelumnya karena mereka dikepalai oleh bapak ketua KKKS sehingga informasi bahkan kebijakan mengenai kegiatan PORSENI ini disutradarainya.
Jual beli Smash terjadi dan point terus bertambah dengan perbandingan yang tidak terlalu timpang. Lamcin lebih banyak menciptakan poin untuk lawan karena control pukulan yang belum terlalu pas. Keras terlalu keras hingga melewati garis tepi, dan pelan terlalu pelan hingga tersangkut di net. Sampai babak pertama usai, Lamjan keluar sebagai pemenang dengan margin 3 angka.
Babak kedua berlangsung lebih ketat karena team Lamcin menyuguhkan permainan yang impressive dengan beberapa kali melakukan smash menukik setelah passing-passing yang cantik di area serang. Lamjan sempat stress dengan kondisi satu orang pemainnya yang kini menjadi bulan-bulanan smash dan tak mampu menahan laju kulit bundar. Sorak sorai penonton semakin riuh dan terlihat bendera AREMA Indonesia dikibarkan oleh salah satu supporter Lamjan, sepertinya dia lupa bahwa ini adalah pertandingan volley. Untung saja tidak ada yang mengibarkan bendera Slank atau Jamrud. Inilah salah satu keunikan Indonesia, pendukung fanatic tersebar di mana-mana.
“Lamjaaaaan Lamjan, Lamjaaaaan Lamjan” Yel-yel supporter Lamjan terdengar seperti nada membangunkan orang sahur ketika bulan Ramadhan (Sahuuuuur sahur! Tedet tedettek), mereka tidak ingin kalah keras dari supporter Lamcin yang terdengar masih dengan 2 ketukan. Suara penonton balas-balasan seirama dengan permainan di dalam lapangan. Ketika team Lamcin mencetak angka maka sorakan 2 ketukan yang terdengar dan ketika Lamjan yang berhasil maka nada membangunkan sahur yang terdengar.
Akhirnya sampai pada pertandingan berakhir di babak ke-2 yang terdengar hanya nada membangunkan sahur. Suara 2 ketukan kini hanya sebatas teriakan-teriakan sumbang di dalam hati yang mencoba mengacaukan gema mereka. Kepala tertunduk takzim seperti mentari yang kini tenggelam di ufuk barat. Ritual salaman tetap terlaksana untuk mengurangi sedikit perasaan sombong dan mencoba memaafkan serta belajar menerima kekalahan.
Kami kembali ke mes yang telah disediakan panitia untuk Lamcin, segera mengambil perlengkapan mandi dan meluncur ke sungai. Di sana kami berlama-lama dalam diam, canggung untuk membuka percakapan apalagi soal kekalahan yang baru saja terjadi. Saya sendiri membaringkan badan di dalam air yang dangkal kemudian sesekali menenggelamkan kepala untuk mendinginkan otak yang telah kepanasan karena seharian bekerja keras. Bagaimanapun juga, anak-anak telah menyuguhkan permainan yang maksimal dan ini adalah hasil yang paling rasional. Kami harus percaya bahwa kami telah gugur di pertadingan volley putra dan mau tidak mau harus menerima itu dengan dada yang lapang.
***
Sekembalinya dari sungai, seluruh pasukan bersiap untuk melampiaskan kekecewaan di atas meja makan. Ibu Eka dan Ibu Beti yang menjadi ratu di ruang dapur kini menjelma menjadi dua sosok mama-mama yang penuh perhatian dan kasih sayang.
“Tidak ada batas untuk menambah nasi dan lauk, pokoknya llosss (baca, terserah).” Kata Ibu Eka masih dengan medok jawanya. Nasi pada menggunung di atas piring dan dibalut dengan telur dadar yang nikmat dengan hiasan potongan ayam goreng. Tidak ada yang tidak kebagian, semua dapat dan puas dengan menu malam itu.
Ketika semua telah selesai mengeksekusi makanannya, kami berkumpul di teras rumah untuk bercanda tawa. Kejadian-kejadian yang menyedihkan sore tadi kini berubah menjadi bahan tertawaan yang sangat menghibur. Yoses menjadi bintang lawak di malam itu dengan gaya berbicaranya yang mirip orang jawa ngapak tapi sebenarnya dia adalah Dayak Punan tulen. Ditambah lagi dengan aksi kelima penarik tambang yang bergurau dengan menyombongkan diri memamerkan otot-otot mereka. “Mereka kusau melihat ini, Pak guru.” Kata Jeki sambil memusatkan kekuatan di perutnya. Hahaha
Di malam yang berbintang itu saya merasakan kedekatan yang semakin hangat dengan seluruh siswa dan guru-guru. Beberapa hal yang selama ini tersembunyi akhirnya terkuak begitu saja ketika intensitas kebersamaan meninggi. Susah senang kami lalui bersama, makan dan mandi di satu tempat yang sama, dan merajut mimpi di atas lantai yang sama. Kami mengakhiri malam itu dengan menyanyikan beberapa buah lagu dari Iwan Fals semacam Bongkar dan Pesawat Tempur kemudian ditutup dengan lagu pamungkas, Laskar Pelangi. Sungguh khidmat, pengantar tidur yang benar-benar pas.

On SM-3T Mission Gallery

This gallery shows what did i do at Berau Regency during my mission as a young educator on behalf of Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. I am proud of being a witness of a real Indonesia.
karena pendidikan adalah hak segala bangsa