Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label education. Tampilkan semua postingan

Porseni, Berjuang atau Pulang Saja #8Hari Pertama Melakoni Laga

Tournament, day 1
Siapa sangka, menjadi guru mengantarkan kami pada banyak wisata.
Mengenal budaya masyarakat dayak salah satunya.
Foto bersama para penari cilik.
Acara pembukaan Olimpiade Sains, Olahraga, dan Seni Nasional (O2SN)
Lebih Populer dengan kata PORSENI 

Sebuah mobil truck hijau telah membunyikan klakson di depan rumah Ibu Eka. Masih sangat pagi dan jemputan telah datang, kami bergegas menaikkan barang yang telah dipersiapkan malam sebelumnya. 3 jam kemudian kami telah tiba di Kampung Merapun.
Merapun kelihatan lebih ramai dengan deretan rumah yang rapat dan jalan aspal di pusat keramaiannya. Meskipun masih termasuk perkampungan orang-orang Dayak, komposisi masyarakatnya lebih heterogen dengan banyaknya pendatang yang mengadu nasib di sana. Sebuah perusahaan sawit yang berhasil merebut hutan hujan tropis dari masyarakat adat dan merubahnya menjadi hutan kelapa sawit yang terbentang luas menjadi daya tarik tersendiri untuk para pendatang yang kebanyakan berasal dari bagian timur Indonesia, termasuk orang-orang bugis.
Perpaduan budaya yang terdapat di kampung Merapun menjadi salah satu faktor utama yang mendorong terjadinya perkembangan dalam banyak sektor kehidupan. Akses jalan lebih mudah, informasi lebih cepat, dan fasilitas-fasilitas publik lebih lengkap daripada perkampungan lain yang ada di kecamatan Kelay. Dengan semua itu maka tidak heran jika kegiatan PORSENI bukan kali pertama diadakan di Merapun. Ada dua sekolah dasar yang menjadi tuan rumah dan merekalah yang menjadi favorite juara umum tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setelah upacara pembukaan yang dihadiri oleh kepala dinas kabupaten Berau, dan dimeriahkan oleh tari-tarian khas suku Dayak, lomba lari 100 meter untuk putra dan putri langsung dimulai.
“Amos, Yenni, siap-siap! Kita akan segera bertanding.”
“Boleh pake sepatu kah, Pak guru? Kaki aku sakit” kata Amos sambil menunjuk bekas tusukan paku di telapak kakinya.
“Iya, nak. Ayo cepat!” kami langsung menuju ke kerumunan di tengah lapangan bola. Panitia memperbolehkan peserta memakai sepatu atau tidak, tapi kebanyakan melepas sepatu karena rumputnya agak licin.
“Amos, Yenni, kalian perhatikan cara startnya ya, seperti yang pak guru ajarkan, jangan melewati garis dan fokus dengan wasitnya, ketika peluit berbunyi kalian langsung tancap gas dan jangan berhenti atau menoleh kanan kiri sampai melewati garis finish. Lihat, ada garis pembatas, kalian jangan masuk dalam jalur pelari yang lain, Ok!”
“Ok, pak guru!” terlihat wajah tegang mereka dan sangat jelas bahwa keramaian memengaruhi mental mereka.
“Kalian semua, ayo berikan semangat kepada saudara kalian, tangan di dalam dan mari berteriak yang keras” seluruh pasukan termasuk para guru membentuk lingkaran kecil kemudian menyatukan tangan di tengah.
“Laamcin, Laamcin, Lamcin, HuuuuuuHhaaaaa” hentakan suara yang keras menggema seantero lapangan, membuat konsentrasi massa sejenak tertuju kepada kami. Nama Lamcin mulai dikenal. Amos langsung melangkah dengan pasti menuju garis start.
“Bersedia, Siaaappppp, Priiiiitttt” Wasit meniup peluit dan 7 pelari telah meninggalkan posisinya, tapi Amos masih diam di sana.
“Lari, Mos!” teriakku dengan lantang. Seperti terkaget, Amos langsung berlari tapi telah tertinggal sekitar 2 meter.
Nafasku tertahan karena tegang, sungguh tak siap jika pada putaran awal team kami langsung kalah. Deretan penonton terlihat berbaris rapat, berteriak riuh mendukung jagoan mereka masing-masing. Sengatan mentari pagi menambah panasnya pertandingan. Terlihat di dalam lintasan Amos bergerak cepat seperti sedang mengejar babi, dia satu-satunya peserta yang tidak melepaskan sepatu. Dengan cepat ia melewati peserta lain yang larinya melambat karena kehabisan nafas, kini nampak jelas 3 peserta terdepan yang mendekati garis finish dan Amos salah satunya. Peluit kembali berbunyi, para pelari telah melewati garis finish. Saya langsung mendekat tak sabar melihat hasilnya dan ternyata Amos menempati posisi 2, ia berhak melaju ke babak final.
Di momen ini, latihan baris berbaris memenuhi panggungnya.
Gagah perkasa pasukan Lamcin yang dinahkodai oleh Pak Adi.
Momen ini bukan sekedar berseragam olahraga sekolah,
ini adalah eksistensi.

Bukan tegang, barisan sedang menguji mental para pesaing.

“Wow, very goog my boy! Give me ten!” dia nampak sangat kelelahan tapi senyum bahagia tetap tergurat di wajahnya.
“Larimu sangat cepat, luar biasa. Perhatikan bunyi peluit pada saat permulaan ya, kamu bisa yang tercepat, tadi kamu tertinggal beberapa langkah saja”
“Siap, pak guru!”
“Ok, Good. Sekarang kamu istirahat.” Saya kemudian meninggalkan Amos dan mengejar Yenni yang sudah bersiap-siap di garis start.
“Yenni, dengarkan aba-aba siap, nak. Jangan tertinggal satu langkah pun. Pandangan terus kedepan sampai finish. Mengerti!”
“Mengerti, Pak guru!”
“Bersedia, Siaaappp….” Peluit belum berbunyi dan beberapa atlet langsung berlari, penonton menjadi riuh, sebagian mengolok dan yang lain sok menyemangati. Kulihat wajah Yenni semakin gugup.
“Santai, nak. Itu sudah biasa terjadi. Tetap fokus” saya mencoba menenangkan dia.
“Bersedia, Siaaappppp, Priiiitttt” seluruh peserta langsung berlari termasuk Yenni, awal yang baik. Dia meninggalkan beberapa peserta yang lain, dan berada pada posisi 4 terdepan, saya mulai tersenyum dan berpikir dia akan menang. Tapi tiba-tiba saja larinya melambat, dan satu-persatu peserta lain meninggalkannya. Semakin dekat dengan garis akhir, larinya semakin melambat dan jelas terlihat dia menyeret kaki kirinya. Saya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal kemudian berlari ke garis finish. Ia berada di posisi 2 paling buncit, gagal ke putaran final.
“Kamu kenapa, Nak?” tanyaku cepat
“Kaki saya sakit, Pak guru” katanya sambil menghapus keringat di dahi.
“O, ayo sini, kita ke tempat teduh beristirahat, tolong papah temannya, nak” pintaku kepada yang lain.
Putaran final untuk kelompok putra akan segera digelar. 8 pelari yang terseleksi dari 2 gelombang kini berbaris di gari awal. Amos menempati jalur nomor 7 dan sudah siap untuk memenangkan pertandingan. Suara teriakan penonton menambah tegangnya suasana. Pemimpin lomba meniup peluitnya dan seluruh peserta langsung bergerak maju. Amos mengawali laga dengan baik dan akhirnya finish di urutan ke dua. Dia hanya telat sepersekian detik dari pelari tuan rumah yang bertubuh jangkung dengan kulit berwarna gelap, mirip Husain Bolt.
Kami semua langsung menyambut Amos dengan suka cita dan tak henti-hentinya memuji hasil yang dia torehkan. Awal yang sangat baik, satu medali perak telah berhasil kami genggam di hari pertama. Kami kembali membentuk lingkaran lalu berteriak sekencang-kencangnya. “Laamcin, Laamcin, Lamcin, HuuuuuuHhaaaaa”.
Amos, Pak Adi.
Murid Guru yang menjelma menjadi sepasang sahabat.
Beginilah seharusnya pendidikan itu

Sore itu jadwal pertandingn sangat padat, kurangnya jumlah atlet membuat beberapa anak harus bermain di banyak cabang olahraga yang berbeda. Untungnya, panitia memaklumi dan mau mengaturkan jadwal agar tidak bertabrakan dengan pertandingan yang lain. Sepak takraw dengan mudah dimenangkan 2 set langsung, sepak bola sangat mengejutkan karena team bermain hebat dan unggul dengan skor mutlak 4-0. Sedangkan cabang olahraga yang kami andalkan justru mengalami sedikit kendala, pertandingan volley.
Anak-anak Lamcin terlahir dan tumbuh bersama permainan ini tapi kurangnya informasi yang kami terima membuat kami semua terkejut dengan aturan pertandingan yang diterapkan. Sesuai dengan tingkatan Sekolah Dasar maka pertandingannya adalah pertandingan volley mini. Hanya ada 4 pemain di dalam lapangan yang ukurannya jauh lebih kecil dari lapangan dewasa. Team lamcin sangat kesulitan menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang kecil itu, setiap kali melakukan servis bola mereka melewati lapangan. Terlebih lagi ketika melakukan smash, bola selalu out. Team putra kalah diset pertama, 15-25.
“Bermain rileks, nak. Tidak usah terbebani oleh penonton yang ramai. Ingat, kalian unggul dalam kekuatan tapi terlalu sering mematikan bola dan itu menambah point lawan. Kontrol permainan, jangan terburu-buru, main yang cantik dan usahakan smash menukik, jangan melambung, ini lapangan kecil, Ok!” saya memberikan masukan selayaknya pelatih propesional. Kami kemudian bersorak kompak.
“Are you ready?”
“Yes, yes Ready!”
“Lamcin, Lamcin, Lamcin, huuuuuhaaaa!”
Amos, Welden, Yaret, dan Jeki mengambil posisi dan lawan melakukan servis. Bola tepat kearah jeki yang berada di posisi belakang, jeki melakukan passing ke Yaret yang berada dekat net, Yaret mengangkat bola dan Amos melakukan lompatan tinggi, Smash yang kuat namun bola terhenti oleh jaring net.
“Percobaan yang bagus. Sedikit lagi, Nak!” teriakku di sisi lapangan.
“Long Nguikian, Long Nguikian” sorak sorai pendukung menyemangati lawan kami. Bola kembali menyebrangi net Lamcin, Welden langsung mengembalikan tanpa memberi umpan, pemain Long Nguikian kembali menyebrangkan bola, Yaret melakukan passing bawah kepada Jeki, Jeki kepada Amos dan lagi, dia melepaskan smash keras. Kali ini meluncur dengan tajam tanpa bisa di halau oleh pemain lawan. Skor untuk Lamcin dan sorakan penonton semakin riuh. Kejar-mengejar angka terlihat sangat ketat di set ke dua ini, Lamcin lebih ungul 2 angka dan akhirnya menutup set ini dengan keunggulan 25-22.
“Permainan yang sangat bagus, kalian harus pertahankan itu. Ini set ketiga, set penentuan. Jangan sampai lengah karena kita masih ingin bertanding besok, betul?”
“Betul!”
“Good, menangkan pertandingan ini. Perlihatkan kekompakanmu, mari bersorak!”
Laga perdana cabang bola voli. Jeki menyambut bola.
Sore itu, sengatan mentari masih bengis, mempercepat cucuran keringat para pemain, sporter, dan penonton.

Sementara tim putra bertanding, tim putri melakukan latihan di halaman posko

Pertandingan kembali berlanjut dan anak-anak mulai bisa mengontrol pukulan mereka. Irama permainan semakin menarik dan akhirnya Lamcin keluar sebagi pemenang dengan skor yang cukup telak, 25-12. Setelah itu, pertndingan volley putri juga dimulai dan hasilnya sama menyenangkan dengan skor yang lebih meyakinkan, kemenangan 2 set langsung.
Langit yang tadi berwarna jingga kini berubah menjadi gelap, sore telah habis terbungkus malam dan lapangan perlahan sepi. Kami kembali ke rumah tempat kami menginap yang terletak tak jauh dari lapangan, lalu beramai-ramai menuju sungai untuk membersihkan diri. Sepanjang perjalanan sampai kami pulang dari sungai, anak-anak terus bercerita tentang apa yang telah terjadi, semua merasakan kemenangan dan semua merasa bahagia. Satu pertandingan lagi untuk menutup hari pertama ini, pertandingan bulu tangkis.
Gedung pertandingan sudah sepi ketika Lamcin bertanding melawan Panaan. Walaupun begitu, jalannya pertandingan tetap seru dan sangat mengesankan. Kami yang tidak punya lapangan badminton di kampung tidak berambisi untuk menang bahkan sudah menyiapkan alibi jika benar-benar kalah, “Ya wajarlah kita kalah, raket saja kita tidak punya”. Team ganda putri yang lebih dulu bermain dengan mudah tumbang dari pasangan SD Panaan. Tetapi team putra yang diisi oleh 2 sepupu, Jeki dan Yaret, tampil mengejutkan dengan memberi perlawanan sengit bahkan unggul di set ke tiga dengan kemenangan jus, 17-15. Wow, Unbelieveble. Lagi-lagi kami menang.
Wajah-wajah kelelahan dan mengantuk kini berubah cerah untuk menapaki jalan kembali ke peristirahatan. Sungguh hari yang sangat luar biasa, kemenangan demi kemenangan kami torehkan bahkan sudah memastikan satu medali perak. Kami menutup hari pertama PORSENI dengan sangat gemilang, terlebih karena kami, SD N 012 Kelay adalah pendatang baru dalam even tahunan ini. Rasanya berat untuk move on, ingin kunikmati lebih lama perasaan bahagia seperti ini, tapi rasa kantuk tidak bisa terkalahkan, I must sleep because tomorrow will be more challenging.

***
Baca part lain dari cerita Porseni ini:

Porseni, Berjuang atau Pulang Saja #7 Kelay

Kekuatan penuh.
13 pasukan yang akan berperang di medan juang, dan 4 pendamping
Berdiri depan: Saddang, Jeki, Mika, Yaret, Simson, Dion, Yeni, Herlina, Resta, Ibu Linlin
Berdiri belakang: Musa, Juli
Jongkok: Yoses, Pak Nur, Nopel, Firaun, Ahmad
Kelay
Hujan mengguyur perjalanan kami, sedangkan mobil yang kami tumpangi adalah mobil dengan model single cabin. Jadilah 10 penumpang basah kuyup, menggigil kedinginan. Untung saja, barang bawaan kami seperti tas, selimut, peralatan dapur, dan lain-lain telah dimasukkan ke dalam box yang diangkut oleh mobil lainnya bersama 6 penumpang sehingga barang itu aman. Canda dan tawa menemani perjalanan kami pada hari itu sehingga dinginnya cuaca dapat terimbangi dengan hangatnya suasana.
“Siapa yang belum mandi ini? makanya hujan turun!” tanyaku bercanda.
“Yoses, Pak guru!” mereka kompak menunujuk jagoan kelas 4 itu. Yang dihakimi bukannya membela diri malah bangga menjawab sambil menyisir rambutnya dengan 5 jari “Nyata!” lalu semua tertawa.
“Sudah makan semua?” kembali saya bertanya, mencoba mengalihkan perhatian anak-anak dari licinnya medan yang kami lalui.
“Saya sudah, Pak guru” mereka rebutan menjawab seolah-olah akan dapat hadiah satu bintang.
“Jek, makan apa tadi, nak?”
“Ya makan babi, sedaaapp” Jeki tanpa malu mempertontonkan senyum ompongnya.
“kalau saya daging pelanduk, pak guru. Dion menjawab tanpa ditanya.
“Wih, mantap. Siapa yang tangkap, nak?”
“Kakek saya, Pak guru”
“Kalau kamu makan apa Yos?”
Tanpa ragu sedikit pun, Yoses menjawab “monyet, pak guru”
“Apa? Pak guru monyet?” tanyaku memajukan dada.
“Bukan pak guru, yang saya makan itu monyet.”
“O, saya kira kau ngatain pak guru, yos! Enak kah monyet itu?”
“Enak, Pak guru. Yang tidak enak itu orang hutan (baca: orang utan)”
“Kenapa?”
“Iya Pak guru, kayak orang betul rupanya. Ih, jijik sudah saya makannya. Nda tega”
Hahaha rupanya punya rasa jijik juga mereka, tapi untuk satu minggu ini mereka akan berpuasa dengan semua jenis makanan liar itu, tak ada lagi babi, rusa, musang, landak dan sebagainya, karena sebentar lagi mereka akan makan makanan “ringan”, mie instan dan telur, syukur-syukur kalau ada tahu tempe. Jelas ini akan menjadi pelajaran baru buat mereka. Perjalanan terus berlanjut dan sesaat kami semua hening menahan nafas.
Sejenak menenangkan mesin yang lelah berpacu dengan medan.
Terlihat pak supir yang sedang memantau kondisi kendaraannya
Sebuah turunan yang menukik dan langsung disambung dengan tanjakan yang tinggi, mobil meluncur cepat lalu kemudian mengerang kesusahan mendaki. Ban mobil hanya berputar di tempat karena debu jalanan yang kini berevolusi menjadi lumpur tebal. Bukannya bergerak maju, mobil tetap di tempat dan sesekali bergeser ke kiri dan ke kanan. Lumpur berserakan seperti adonan kue yang tak sengaja tersenggol dari atas meja. Sedangkan jurang-jurang yang berada di sisi jalan nampak memanggil-manggil. Terlihat sang supir dengan wajah tegang dan tangan terburu-buru mengatur alat kemudinya. Beberapa saat kemudian akhirnya mobil berhasil melalui tanjakan itu dan terdengar helaan nafas yang panjang dari semua penumpang. Tapi ketegangan belum usai, sebuah jalan datar dengan kontur yang miring membuat mobil menari-nari di atas lumpur. Sang supir mengarahkan roda ke kiri tapi kondisi jalan yang licin membuatnya sulit dikontrol, Hillux putih nyaris menabrak tebing, mungkin takut mobil barunya terluka, dengan lincah pengemudi itu membanting stirnya kembali ke kanan dan mobil melintang di tengah jalan tepat mengarah ke jurang yang sangat dalam. Untungnya mobil langsung berhenti di situ, ada gundunkan tanah yang menghentikannya.
Andai saja jalan itu ramai dilalui kendaraan maka habislah kami semua. Seluruh penumpang turun mencari ruang yang lebih bebas, terlihat wajah-wajah pucat dan tegang. Saya sendiri mendekati tebing yang basah, duduk jongkok memeluk lutut lalu menarik nafas panjang kemudian melepasnya seraya membaca istighfar, “Astaghfirullaah”. Mobil yang satu lainnya datang menghampiri, menanyakan kondisi lalu mencoba menenangkan kami. Tak lama kemudian perjalanan kembali dilanjutkan dan akhirnya kami sampai di jalan beraspal. Itu artinya kami telah tiba di ibukota kecamatan Kelay, Alhamdulllah.
Akhirnya kami menjumpai jalan beraspal.
butuh waktu berjam jam untuk bisa sampai di sini
"Ketika Aspal telah nampak, kita telah tiba di Kelay"

***
Baca part lain dari cerita porseni ini:

Porseni, Berjuang atau Pulang Saja #6Dream is around the corner

Dream is around the corner
Teruslah tegak berdiri perjungkan mimpi mimpimu.
Walau kadang kau harus merangkak dan jatuh
bngkit, bangkitlah. ingat, kasih Tuhan
bersama para pejuang mimpi.

7 hari lagi menuju mimpi, proposal telah terkirim ke perusahaan dan LSM, tinggal menunggu hasilnya. Dalam masa penantian yang harap-harap cemas itu, latihan semakin ditingkatkan dan anak-anak juga semakin penasaran. Sejak pagi hingga sore latihan olahraga terus berjalan dan malam harinya kami manfaatkan untuk latihan vocal group.
Sebuah lagu yang sangat terkenal dan sarat akan nilai pendidikan di daerah tertinggal menjadi pilihan kami, Laskar Pelangi dari band Nidji. Sedikit kemampuan yang saya miliki dalam memetik gitar menjadi modal yang cukup untuk mengiringi suara 14 anak-anak harapan bangsa bernyanyi. Tidaklah terlalu sulit untuk mengajari mereka memasukkan nada karena mereka sudah terbiasa bernyanyi di gereja, terlebih pada hari minggu. Yang menjadi sedikit kendala adalah urusan menghapal teks dan menghapal koreo atau gerakannya. Meskipun waktu latihan yang kami miliki hanya sebentar, tapi kami tetap tak ingin tampil setengah-setengah. Untuk melengkapi penampilan vocal group ini, Ahmad menambahkan sebuah puisi 4 bait yang dia ciptakan sendiri lalu dibacakan oleh 4 orang anak secara bergantian.
Dengan kedisiplinan dan latihan yang keras, akhirnya lagu laskar pelangi lengkap dengan puisi dan gerakannya sudah siap untuk ditampilkan. Bersamaan dengan itu, kabar menggembirakan juga datang dari perusahaan Amindo dan LSM Payopayo. Amindo mencairkan dana sebesar Rp5.000.000 sedangkan Payopayo sebesar Rp2.000.000. 7 juta Rupiah ditambah dengan dana konsumsi dari warga sebesar Rp2.500.000 menjadi Rp9.500.000. Uang itu masih belum cukup untuk total biaya yang kami butuhkan maka kami para guru menyisihkan gaji kami untuk menggenapkannya menjadi Rp12.000.000.
Manggris, pohon madu kata mereka.
Atau apapun namanya, aku tak lelah mengaguminya.
aku belajar tentang ketegaran.
tetap kokoh menjulang langit, walau apa pun yang terjadi.

Pada hari itu juga, tanggal 4 februari, Pak Adi, Ibu Eka, dan Pak Rendi lebih dahulu berangkat ke kota untuk mencari mobil, membeli kostum team dan mempersiapkan rumah yang akan kami tinggali di kecamatan sebelum menerima jemputan ke Merapun. 2 hari berselang, Pak Adi mengirimkan kabar bahwa 2 mobil yang akan mengantarkan kami sudah siap, begitu pula dengan kostum team dan rumah yang akan kami tumpangi selama satu malam di Sido Bangen, ibu kota kecamatan Kelay.
Ketika menerima kabar itu, perasaanku begitu berbunga-bunga dan langsung menyampaikannya kepada siswa-siswi yang menjadi utusan sekolah. Mereka ikut bergembira dan dengan segera kembali ke rumah masing-masing, menyampaikannya kepada orang tua mereka dan mempacking barang-barang yang mereka perlukan selama 7 hari kegiatan.
Minggu yang cerah di awal bulan februari 2016, seluruh warga kampung untuk pertama kalinya berkumpul di tepi sungai, memeluk dan mencium anak mereka dengan hangat sebagai tanda perpisahan. Tatapan mata yang penuh harapan dan kekhawatiran kepada sang buah hati sungguh menyentuh perasaanku. Sungai yang jernih dan deretan pohon yang hijau menjadi saksi di pagi itu bahwa mereka, masyarakat adat di pelosok negri juga ingin berkembang dan maju. Seorang Ibu berambut putih diam-diam menghampiriku lalu dengan tatapan memohon ia berkata “Pak Guru, kas kas wa”. Angin menerpa wajahku lalu merasuk ke seluruh pori-pori, dadaku tiba-tiba sesak oleh perasaan haru dan bangga, dan tanpa kusengaja sungai tergaris di pipiku. Finally, we go to Merapun. Dream comes true.
Aku tak terlahir di sungai. tidak juga tumbuh bersamanya.
tapi ketika terjun bersama masyarakat yang menggantungkan
hidup mereka pada sungi, aku mengerti betapa berharganya dia.
aku mencintai sungai dan membenci mereka yang mengotorinya.

***

Porseni, bejuang atau pulang saja #5Menyalakan lilin

Berhenti mengeluhkan kegelapan, saatnya menyalakan lilin
Waktu terus berjalan dan sosok yang kami tunggu-tunggu belum juga muncul. Siapa lagi kalau bukan kepala sekolah. Dialah yang menjadi kunci dalam rangkaian panjang usaha ini. Anak-anak sudah siap, orang tua mendukung, para dewan guru juga sedang on fire, tinggal satu element lagi yang perlu ditambahkan dan ini akan menjadi sempurna, otoritas tertinggi sekolah.
Lamcin di pagi hari. Embun itu ada, sesuatu yang tak pernah
bisa kudefenisikan dengan tepat, apakah air atau asap.
tak pernah bisa, tapi aku suka padanya.
Lamcin. Pagi. Embun.
Sempurna 

Beragam cerita miring tentang sang pemimpin yang bungkam mulai bermunculan. Tentang isu pengunduran diri dari jabatannya yang simpang siur, tentang ketidaksepahamannya dengan bendahara sekolah yang mengakibatkan dana operasional dari dinas pendidikan tidak bisa dicairkan, tentang perang urat saraf antara dia dengan warga kampung yang membuatnya sangat tidak betah untuk mengurus sekolah, tentang kehidupan rumah tangganya yang sedang diterjang badai, tentang masalah pribadi, profesi, dan korupsi. Semakin banyak gossip yang berkembang, semakin banyak pula keluh kesah yang bermunculan.
Gejala ini membuat hati saya gelisah dan mulai memikirkan kemungkinan terburuk “SD N 012 Kelay lagi-lagi absen dalam kegiatan tahunan, SM-3T gagal membawa perubahan!” Ah tidak, jika itu terjadi maka satu tahun masa abdiku akan terasa hambar dan sia-sia. Sungguh memalukan. Siang itu, ketika anak-anak beramai-ramai meninggalkan sekolah, saya dan Ahmad beserta 4 guru lokal membuat rapat kecil-kecilan untuk membahas masalah ini secara serius dan mencari jalan keluarnya. Sebagai moderator dalam rapat itu, saya mulai membuka rapat lalu membacakan satu-satunya agenda pembahasan “pencarian dana kegiatan”.
 “Begini, Pak Saddang” Ibu Eka memulai dengan logat Jawa yang sangat medok, nama saya terdengar jadi SADHANG, “kita hitung dulu berapa total biaya yang kita perlukan, baru kita cari sumber dananya”
“Iya, Pak. Betul itu.” Kata Pak Rendi dengan logat Jawa yang sedikit lebih tipis. Diikuti anggukan dari peserta yang lain.
“Ok, yang kita butuhkan adalah 1. Biaya transportasi dari Lamcin ke Kecamatan, pergi-pulang. 2. Konsumsi selama 7 hari dari tanggal 7-13 februari. 3. Biaya registrasi dan yang terakhir adalah kostum team. Ada masukan bapak ibu sekalian?”
“Saya, Pak Saddang” Pak Adi mengacungkan tangan. “Ada 2 jalur yang bisa kita pakai untuk transportasi, sungai dan darat. Kalau kita pake ketinting, bisa habis 40 liter bensin pergi, pulangnya sekitar 60 karena melawan arus jadi 100 liter itu kurang lebh 1 jt, untuk satu ketinting, dan kita butuh 3 ketinting jadi 3 juta, ditambah dengan pembayaran jasa motorist, anggaplah 1 jt per orang jadi total 6 juta. Sedangkan, kalau kita pake mobil kita butuh 2, sewanya 3.5 juta untuk pergi pulang per mobil, jadi total 7 juta. Itu saja dari saya kalau perhitungan konsumsi, Ibu Eka pasti lebih tau karena dia sudah ibu-ibu.” Hehehe.
Ibu Eka kemudian sibuk mencorat-coret kertasnya, menghitung semua biaya konsumsi yang dibutuhkan, mengambil standar yang paling rendah dan akhirnya menarik kesimpulan bahwa setiap orang menghabiskan Rp.150.000 selama 7 hari, 3 kali makan setiap harinya. “itu sudah yang paling murah, dan semuanya harus dikerja sendiri” katanya mengakhiri.
“Weh murah sekali itu, Buk! Apa tidak salah? Kalimantan ini e, saya paling murah menghabiskan 50 ribu per hari” Kata Ahmad dengan ekspresi terkejut.
“Pokoknya ibu-ibu yang ngomong jadi percaya aja” balas ibu Eka sedikit bercanda lalu tawa kembali pecah.
Setelah pembahasan tentang kebutuhan dana yang disimpulkan sebesar Rp.12.000.000 kami melangkah ke pembahasan cara memerolehnya. “Kita bisa memasukkan proposal bantuan dana atau jasa transportasi kepada perusahaan Amindo” Kata Ahmad memberi masukan.
“Pasti dikasih itu, Pak. Soalnya selama ini kalau kampung punya keperluan, perusahaan selalu bantu, nanti kita minta persetujuan dari kepala kampung kalau perlu” Pak Mared menambahkan dengan penuh keyakinan, dia memang pemuda asli kampung Lamcin.
“Ok, nanti kita susun proposalnya bersama-sama. Ada masukan lain?”
“Bagaimana dengan LSM Payopayo? Siapa tau mereka bisa bantu”
“Ide bagus. Nanti kita bicara langsung sama fasilitatornya, Buk Linlin. Kalau pemerintah kampung dan orang tua murid?” Saya kembali meminta pendapat. Raut wajah peserta rapat sontak mengalami perubahan, ada murung disana dan tiba-tiba suasana menjadi kaku.
“Boleh juga,” kata Pak Rendi dengan ragu “Cuman itu dia Pak, warga kampung selama ini kurang mendukung kegiatan sekolah, apalagi ini kita mau minta dana. Aku kurang enak aja”
“Tidak papa, Pak. Kita coba saja, kumpulkan orang tua wali, kita adakan rapat dan sampaikan kepada mereka tentang kondisi kita sebagaimana adanya. Ya hasilnya biar kita liat nanti. Toh kalau memang mereka tidak bisa membantu dan ujung-ujungnya kita tidak bisa pergi membawa anak-anak, kan mereka paham alasannya.” Saya berusaha meyakinkan.
Keheningan masih terasa dan tiba-tiba Pak Adi mengangkat suara. “Iya, betul juga itu Pak Saddang, selama ini memang orang tua tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan sekolah makanya kondisi kita seperti terpisah dari masyarakat dan pemerintah kampung.” Pak Adi mengisyaratkan dukungan.
“Jadi bagaimana ibu bapak sekalian, Sepakat kah kita mengadakan rapat dengan warga?”
“Sepakat!” Terdengar ragu tapi jelas. Senyum tergurat di wajahku dan siang itu juga kami meninggalkan ruang rapat dengan perasaan sedikit terang, seolah-olah ada setitik cahaya di tengah kegelapan.
Saya pulang langsung membongkar file-file yang ada dalam note book biruku, mencari contoh undangan rapat. Ahmad langsung mengedit Prorposal kegiatan dan sore itu juga undangan beserta proposalnya sudah tercetak. Pada malam hari, kami membagi tugas untuk menyebarkan undangan dan tidak butuh waktu terlalu lama untuk meyakinkan orang tua untuk hadir keesokan harinya.
Rapat bersama guru dan orangtua/wali siswa di SDN 012 Kelay.
Pak Mared tersenyum tipis mendengar penyampaian
dari salah satu orangtua.

Waktu sudah pukul 8 tapi pagi masih gelap, hujan baru saja mengguyur kampung dan kabut tebal memangkas jarak pandang. Di ruang kantor yang baru jadi dengan warna hijau terang yang menyejukkan hati, rapat guru dan orang tua wali untuk pertama kalinya terjadi di sekolah. Kali ini, Pak Adi yang berperan sebagai moderator dan saya sendiri sebagai pembicara yang menjabarkan pembahasan rapat serta meyakinkan orang tua bahwa kegiatan ini sangat penting untuk anak-anak mereka.
“Ada tiga elemen penting yang menentukan keberhasilan pendidikan bapak ibu yang saya hormati. Yang pertama adalah pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Yang kedua adalah bapak dan ibu guru yang menjadi pelaksana atau ujung tombak pendidikan dan yang ke tiga adalah masyarakat umum yang membantu dan mengawasi prosesnya. Maka melalui moment ini, peran serta dan kerjasama bapak ibu sangat dibutuhkan” celotehku dengan berapi-apai. Bla bla bla.
Peserta rapat kelihatan sedikit kebingungan dengan apa yang saya katakana, apalagi dengan cara bicara saya yang terlalu cepat seolah sedang berhadapan dengan sekelompok akademisi yang bisa dengan mudah memahami maksud pembicraan. Saya mengurangi kecepatan kemudian menyampaikan hal-hal yang sekiranya nyata di hadapan mereka.
“Ibu bapak masih ingat dengan perayaan natal gabungan 2 bulan lalu? Kampung kita menjadi juara 2 main takraw, dan yang bermain saat itu adalah Yaret, Jeki dan saya sendiri, sedangkan lawan-lawan kita dari kampung lain adalah orang-orang dewasa tapi kita bisa sampe juara 2, itu artinya anak-anak kita bisa berprestasi dan menjadi generasi yang hebat. Mau tidak anak-anak kita menjadi generasi yang hebat, bapak-ibu?”
Anggukan mulai terlihat dari para peserta rapat, dan akhirnya Pak Yohanes, Sekertaris kampung, mengangkat suara. “Kami para orangtua ini, sebenarnya mau juga melihat anak kami seperti anak sekolah di kota, bisa ikut pertandingan atau kegiatan-kegiatan macam ini, kami mau, cuman selama ini kami tidak tau bagaimana caranya. Kalau ada yang mau bawa dan usahakan saya siap membantu.”
“Pak guru, kenapa orangtua harus dimintai uang padahal dana BOS itu banyak, saya tau itu karena saya mantan kepala kampung. Tolong itu dijelaskan karena tidak semua kami ini orang mampu.” Pak Matius mulai membuka keran Uneg-uneg.
“Kami mengerti ketidakpuasan bapak-ibu dengan pengelolaan dana sekolah, hanya saja, kepala sekolah kita kurang aktif (“kurang aktif” sungguh kebohongan besar. TAK PEDULI, lebih tepat) sehingga kami para guru tidak tahu menahu soal dana. Kami tetap mengusahakan untuk memberitahukan beliau, tapi saat ini kami hanya ingin agar kita tidak bergantung pada satu orang dan bisa membawa anak-anak ke Merapun.” Setelah menjelaskan ini itu, akhirnya orangtua maklum.
Ternyata tidak terlalu sulit melakukannya. Tidak ada perdebatan yang berbelit-belit hanya beberapa keluh kesah warga kampung yang merasa tidak puas dengan perkembangan sekolah dan juga kinerja aparat sekolah. Tapi itu adalah hal yang sangat wajar dan akhirnya orang tua mulai membuka diri dengan para guru dan begitu pula sebaliknya. Layaknya setumpukan sampah yang telah lama menghalangi aliran air, tiba-tiba seorang pemulung datang mengobrak-abriknya, mengambil yang dia butuhkan lalu mencampakkan yang tidak berguna lagi. Air mengalir dengan bebas dan sang pemulung merasa lega. Begitulah perasaanku saat itu, perasaan si pemulung sampah.
Tuhan memberi kehidupan dengan menebarkan berjuta pepohonan.
Hutan adalah tangan tuhan untuk memeluk yang bernyawa.
Menjaga yang tak bernyawa.
Aku pernah di sana memandang alam dengan cinta.
mengagumi negeriku yang begitu kaya.
menemui mutiara hidup 

Hasil dari rapat itu sungguh menggembirakan. Orang tua siap menutupi dana konsumsi, sedangkan pemerintah kampung memberikan pendampingan ke perusahaan dan jika perusahaan menolak memberi bantuan maka pemerintah kampung siap menanggung biaya transportasi. Jalan semakin lebar terbuka, dan mimpiku untuk melihat anak-anak berlaga di medan tempur sedikit lagi akan terwujud.
“Berhentilah mengeluhkan kegelapan dan mari menyalakan lilin” kata Anis Baswedan. Kami menyalakan lilin demi secercah cahaya. Menjaganya tetap menyala. Tidak membiarkannya melalap apa saja. Lilin telah menyala, harapan kami bercahaya. Alhamdulillah.
***


Porseni, Berjuang atau Pulang Saja #Paradoks

Paradoks
Tanah yang becek tidak mengalangi peserta didik SDN 012 Kelay
untuk terus berlatih. 

Pak Adi sedang memberi instruksi kepada barisan pemain yang
akan melakoni pertandingan.
Terlihat suasana pagi yang cerah di kampung yang terkepung pegunungan ini.

Yaret di garda terdepan dalam perebutan bola untuk membuat gol.
Suasana permainan sepak bola di pagi yang sejuk setelah turun hujan

1 bulan menjelang pelaksanaan kegiatan, kesiapan anak-anak tambah mantap. Team sudah dibagi dan latihan lebih fokus dan semakin efisien. Kedatangan beberapa guru lokal menambah tenaga pelatih sekaligus meningkatkan optimisme dan semangat bahwa tahun ini, SD N 012 Kelay, Long Lamcin benar-benar akan mengikuti kegiatan PORSENI tingkat SD untuk pertama kalinya. Kami para guru membagi tugas pelatihan berdasarkan cabang olahraga dan seni. Pak Rendi melatih sepak bola, Pak Adi melatih sepak takraw, saya melatih cabang atletik, Pak Ahmad melatih melukis, dan yang terakhir Pak Mared melatih seni tari. Adapun olahraga volley, mendapat porsi latihan paling sedikit dan anak-anak latihan sendiri, kami hanya memberi pengarahan dan menyemangati.

Kurangnya sarana informasi yang tersedia membuat kami tidak tahu secara pasti tentang cabang olahraga apa saja yang akan dipertandingkan pada saat event nanti. Dan juga tentang tekhnis pelaksanaan, kami bahkan belum tau berapa biaya yang kami butuhkan untuk ke sana atau di mana kami nanti akan tinggal. Yang kami punya hanya satu, semangat untuk berpartisipasi. Dengan begitu, latihan yang kami lakukan hanya berdasar pada pengalaman pribadi saja ketika masih mengikuti loba semasa sekolah dulu. Apakah olahraga sepak takraw itu dipertandingkan atau tidak kami tidak tau yang pastinya anak-anak dilatih dan dipersiapkan.

Saya yang melatih cabang atletik yaitu lari, lompat, dan lempar tidak terlalu kesulitan karena pada dasarnya para murid memiliki fisik yang kuat, dan itulah yang paling dibutuhkan dalam olahraga. Setiap sore kecuali minggu sebelum latihan sepak bola dimulai, saya mengajak beberapa anak yang saya persiapkan untuk beberapa cabang lari. Welden (kelas VI) untuk lari marathon, Amos (VI) untuk lari sprint 100 m, Jeki, yoses, nopel, yaret dan firaun untuk lari stafet. Sedangkan untuk putri, ada Juli (V) pada kelas marathon, Yenni (III) untuk lari srint dan tidak ada atlit putri untuk lari stafet, maklum jumlah siswi hanya sedikit. Kami berlari menyusuri jalanan kampung yang berbukit dan berdebu. Terik mentari yang sangat menyengat membuat nafas lebih cepat habis. Untuk mengukur perkembangan mereka, saya menggunakan stop watch dan hasilnya sangat memuaskan, saya yakin mereka akan menjadi juara, setidaknya juara dalam kategori paling semangat. Lalu bagaimana dengan latihan lompat jauh?

Hamparan pasir halus di sepanjang tepian sungai menjadi arena lompat jauh yang paling eksotis. Air sungai yang jernih dengan suara gemericiknya yang merdu, hijaunya pepohonan yang berbaris sejauh mata memandang dan kicauan burung yang menghibur membuat latihan terasa lebih nikmat. Tidak perlu repot membuat spot karena semua tempat adalah spot yang baik untuk latihan. Setelah melakukan seleksi, Amos lagi lagi menjadi  pemain utama dan Welden sebagai cadangan. Jarak lompatan yang dijangkau Amos adalah 4,20 meter, raihan yang fantastis untuk ukuran anak sekolah dasar. Untuk urusan lempar, mereka hidup dari berburu dan menombak ikan. Tak perlu diragukan lagi.

            Semua latihan berjalan dengan sangat baik dan kepercayaan diri anak-anak juga semakin mantap. Rumor tentang kegiatan ini mulai sampai ditelinga orang tua dan semangat untuk melihat perubahan akhirnya menjalar pada mereka. Beberapa anak kini memiliki sepatu bola, benda yang sangat langka di kampung ini, bahkan ada orang tua yang merajut rotan yang dia ambil sendiri dari hutan untuk dijadikan bola takraw. Satu persatu aneka bola plastic bermunculan, permainan semakin banyak, dan kampung terasa lebih hidup. Hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

            Dalam euphoria yang terus berkembang, ada satu fakta yang meredupkan semangatku. Uang!
            
Siang itu, saya ke camp perusahaan logging yang terletak tidak jauh dari pemukiman untuk tersambung ke internet menggunakan jaringan wifi yang dimiliki oleh perusahaan. Melalui salah satu social media saya berdiskusi langsung dengan ketua KKKS kecamatan Kelay untuk menanyakan teknis pelaksanaan kegiatan.
            “Assalamualaikum, apa kabar, Pak? Saya mau menanyakan perkembangan terkini terkait kegiatan nanti”
            “Waalaikumsalam, baik. Waktunya tetap 9-13 februari di Kampung Merapun. Setiap sekolah dikenakan biaya registrasi sebesar Rp. 20.000 persiswa, terhitung total jumlah murid yang terdaftar di sekolah. Jumlah peserta yang diutus tidak dibatasi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing”
            “Apa-apa saja yang panitia fasilitasi, Pak? Agar kami bisa menyiapkan kekurangannya?”
            “Tempat tinggal dan transportasi Sidobangen (ibukota kecamatan) – Merapun. Jadi kalian yang di hulu sana usaha untuk bisa sampai di kecamatan, nanti mobil perusahaan sawit yang jemput untuk ke Merapun. Konsumsi selama kegiatan dibebankan sepenuhnya kepada sekolah sendiri.”
            “Bagaimana dengan pertandingannya, Pak? Apa-apa saja yang dilombakan?”
            “Kalu itu sudah ada jadwal lengkapnya, aku sudah buat dan akan segera dikirimkan kesekolahmu. Kenapa juga sekolah kalian tidak ada yang pernah mengikuti rapat, sisia kalian saja yang belum tau informasi itu”
            “Maaf, Pak, kami jauh dan juga tidak ada pemberitahuan kalau ada rapat yang diadakan. Kami pikir kepala sekolah sudah mengurusi itu”
            “Ah, kepala sekolahmu orang tidak beres. Dia tidak pernah muncul”
            “Hehehe, kami tidak tau kalau persoalan itu, Pak.”
            “Ya sudaah, persiapkan siswamu, bawa secukupnya saja biar hemat anggaran”
            “Ok pak. Tapi semua pembiayaan seperti transportasi, konsumsi dan registrasi di mana bisa kami dapa?”
            “Sebenarnya itu tanggungan kepala sekolahmu, tapi kalau dia tidak ada ya usaha sendiri, minta sumbangan orang tua murid kah, guru kah, perusahaan kah. Atau apa saja. Intinya kalian usaha.”
            
            Saya bingung mau membalas apa lagi, otakku bekerja keras memikirkan dana yang kami butuhkan sangat banyak tapi sepeserpun belum ada persiapan. Jari-jariku kembali menyentuh layar menuliskan kalimat “Terima kasih pak”. Belum sempat ada balasan yang masuk saya sudah beranjak meninggalkan camp perusahaan dan jaringan kembali terputus.

            Fakta itu menjadi beban berat yang terus saya pikirkan. Latihan tetap berlanjut seperti biasanya, mulutku masih tak berhenti mengeluarkan kata-kata semangat dan meyakinkan anak-anak bahwa kita bisa. Saya hanya tidak ingin mencederai semangat mereka, saya tidak ingin membunuh mimpi-mimpi yang telah terbangun, saya tak ingin melihat mereka terluka. Tapi sejatinya, hatiku ragu dan semangatku tidak seperti apa yang terus kutunjukkan pada mereka. Sungguh, ini adalah paradox.


***

Lamcin Warriors

Lamcin Warriors

Di satu pagi yang berembun, kulihat beberapa ekor anjing keluar masuk sekolah melalui pintu kelas 1 (satu) yang tak terkunci. Malang sekali nasib sekolah tempat tugasku sebagai guru SM-3T ini. Hanya memliliki 3 lokal yang disekat menjadi 5 kelas dan satu kantor dengan papan kapur dan kaca jendela yang jebol di sana-sini. Belum pernah saya melihat kondisi sekolah separah ini di tanah kelahiranku, Palopo, Sulawesi Selatan. Rutinitas sekolah pada umumnya pun tak saya lihat di sini. Tak ada upacara bendera pada hari senin, tak ada Pramuka pada sabtu minggu dan sekalipun tak pernah ada yang namanya apel pagi. Belum lagi kondisi ruangan yang bernama “KANTOR”, sunyi dan sepi bagai pemakaman. Tak pernah ada rapat disana. Do not ask me about teacher and administration! Ah, apakah ini sekolah atau hanya bangunan kritis yang menjadi hotel mewah bagi kawanan anjing! Bagaimanapun juga di “hotel” inilah saya menemukan keceriaan, semangat, dan binar mata yang seolah berteriak “kami tak ingin menyerah pada keaadaan”.

Mereka adalah Lamcin Warriors, 9 siswa kelas 1 yang telah saya pegang selama beberapa bulan terkahir. Sebelumnya saya mengajar kelas 4. Jumlah mereka memang hanya 9 tapi itu sudah lebih banyak dari kelas yang lainnya. Kelas 2 yang hanya berjumlah 4 orang siswa atau kelas 6 yang hanya 3 orang murid. Kelas 1 menjadi kelas paling ramai di SD Negeri 012 Kelay, Kalimantan Timur. Penyumbang murid terbanyak dari total 31 untuk 6 kelas. 

Lamcin Warriors atau serdadu lamcin adalah sebutan yang saya berikan berdasarkan pengamatanku terhadap pola hidup mereka yang begitu keras setiap harinya sehingga tubuh mereka kekar dengan otot yang kuat-kuat. Meskipun rata-rata berusia 7 tahun, mereka sudah sangat terbiasa mengangkat air dari sungai dengan kontur jalan yang menanjak. Mencari dan mengangkat kayu bakar dari hutan yang jaraknya tidak dekat. Belum lagi dengan makanan dan minuman mereka yang terkadang saya tak percaya bahwa hal seperti itu ternyata bisa dikonsumsi, daging beruang contohnya atau air yang tidak dididihkan. Kerasnya hidup yang mereka hadapi membuatku banyak mensyukuri hidup dengan segala kemudahan yang selama ini kudapatkan. Jika Bukan Serdadu apa lagi kata yang tepat untuk menyebut mereka? 

***
Serdadu #1. Lamcin Warriors dipimpin oleh si pipi tembem berkulit putih, Alex. Dia sangat cinta dengan kelas satu sehingga sudah dua tahun bertahan di bangku yang sama. Kata guru-guru di sini, “Alex itu masi magang di kelas satu”. Baru tau kalau ternyata sekolah juga harus magang. Alex bukanlah sosok yang karismatik di kelasnya tapi “ditakuti”, tidak jarang dia terlibat perkelahian khas anak SD dengan murid perempuan. Anehnya dia selalu lebih dahulu melapor kepada guru dibanding lawannya. 
“Aku mau dijagur (baca: tonjok) Pak guru!!!” dia melapor dengan ekspresi cemas nyaris menangis sambil melipat-lipat jari tangannya. Ingus tipis di hidungnya membuatku merasa iba.
“Siapa yang mau jagur kamu Nak?” tanyaku prihatin.
“Si Putri, Pak Guru” jawabnya dengan nada pelan dan lambat.
“Hahaha… Putri?” Tawaku pecah karena tak menyangka kalu ternyata si putri yang lemah gemulai dan manja itu bisa membuat Alex lari terbirit-birit.
“Iyya Pak Guru, aku diginikan (sambil mengarahkan kepalan tangannya ke pipi)”
“Mana si Putri?” saya langsung bergerak mencari Putri, Ternyata Putri sudah berada di cengkraman Ibu Guru Rina, dia menangis tersedu-sedu. Kubawa dia kembali ke kelas 1, lalu saya interogasi.
“kenapa kamu Nak?”
Sambil menangis dan sesekali menarik ingusnya dia menjawab “aku takut Pak Guru, Mau dicakar si Alek”
“Haa! Kamu mau dicakar sama Alex?”
“Yes Sir”.
Waduh saya bingung dengan laporan mereka, biar kuperjelas sekali lagi. Laporan: Alex dijagur Putri, dan Putri dicakar Alex. Bukankah Alex yang seharusnya men-jagur dan Putri yang seharusnya men-cakar? Membingungkan! Tapi itulah anak-anak, penuh keajaiban.
Kasus perkelahiannya dengan Putri yang tak menyisakan dendam apa-apa itu hanyalah satu di antara laporan Alex tiap harinya. “Pag Guru, Si Ujang meludah di lantai” itu si Ujang langsung dapat hukum push up. “Pak Guru, Deli buang sampah dalam laci” itu Deli langsung dapat hukum membersihkan seluruh kelas. “Pak Guru, Arjun, makan dalam kelas” Arjun langsung kenyang, kenyang scot jump. “Pak Guru, ini…. Pak Guru itu…” Laporan Alex mengalir deras bagai Lumpur Lapindo, menenggelamkan seluruh kelas 1. Konsistensi Alex dalam melapor membuat pelanggaran-pelanggaran terus berkurang dan kelas semakin mudah dikendalikan. Dia menjadi pengawas yang ditakuti tapi kadang-kadang juga dapat laporan “Pak Guru, Alex tidak mandi” teriak Ikang yang mulai bosan terus-terus dilaporkan.
     
Serdadu #2, Stember, 7 tahun, kulit putih dengan rambut lurus yang berwarna kuning karena sengatan matahari. Dia rajin ke sekolah tapi jarang mandi. Rambutnya yang pirang alami itu selalu tersisir rapi merapat ke samping kiri. Bajunya yang kumal selalu terkancing rapi, rapat sampai di leher. Tapi sayang resleting celananya tak pernah terkunci. Meskipun res celana sudah rusak dia tetap pede memasukkan baju. Itu demi kerapian yang sering saya tekankan. Untung saja celana dalamnya selalu lebih panjang dari celana sekolah yang dia kenakan sehingga “burungnya” aman-aman saja. “kalian harus berpenampilan rapi, biar keren!”, kataku dalam suatu pertemuan saat pertama ditugaskan. “Baju di dalam, terkancing, rambut tersisir rapi dan pake wangi-wangian”. Lanjutku sambil menyentuh dan mengusap semua yang kukatakan. kepercayaan diriku sepertinya overdosis saat itu. Nyaris tak tau malu. Hebatnya, Stember ternyata terobsesi dengan gayaku, dia tak pernah mengutarakan kekagumannya tapi saya tau dari cara dia berpakaian, kera baju selalu terkancing rapat.

Baik di dalam maupun di luar sekolah Stember selalu menampakkan sikap yang karismatik. Pernah di satu pagi saat saya memulai kelas dengan story telling. Teman-temannya kurang memperhatikan saya di depan karena sedang meributkan sebuah pensil misterius yang tak tau siapa pemiliknya. “zzzzhhzzz…. Ennong ya” “…zzz... mm takumde’ we…” suara mereka sambar menyambar seperti lebah. Mereka berbicara dengan suara dalam yang seolah tak ingin ribut tapi tetap saja terdengar. Percakapan mereka yang menggunakan bahasa Dayak Punan itu sedikitpun tak saya pahami. Sesekali saya menghentikan cerita, menatap mereka dalam-dalam lalu kembali melanjutkan saat mereka diam. Namanya anak-anak, tak cukup semenit mereka kembali ribut. Tiba-tiba Stember langsung berdiri menyuruh temannya diam dan melepaskan tatapan tajam yang penuh ancaman.  Tak ada yang melawan, Stember murka. Ia mengagumkan dan langsung didapuk menjadi wakil ketua.

Serdadu #3, sang juara nyanyi, Ikang Fauzy. Tidak seperti Stember yang rajin ke sekolah, Ikang jarang sekolah sekaligus jarang mandi. Rambutnya acak-acakan dan tidak mengancing bajunya sampai di leher. Sangat kentara bahwa dia tidak terobsesi dengan gayaku. Dia sangat malas menulis tapi ngotot harus duduk di bangku paling depan. Jika kuberi tugas menulis Ikang pasti memenuhi bukunya dengan gambar-gambar yang tidak jelas, dan jika dipaksa menulis, dia akan menulis tapi dengan buku terbalik. Ah, kadang-kadang saya bingung harus meminta dengan cara apa agar dia mau menulis seperti teman-temannya. I am still thinking a good approach to encourage Ikang writing. I promise to myself that I will find the proper method for him before leaving this school. Bagaimanapun juga saya sangat menghargai dan mengagumi Ikang dengan kecerdasan musical yang ia miliki. Tak ada yang sebagus dia saat bernyanyi dan tak ada yang secepat dia dalam urusan menghapal lagu. Dia selalu menjadi orang pertama yang mengacungkan tangan dan berteriak “Aku Pak Guru!” pada saat kutanya siapa yang bisa nyanyi di depan. Giliran membaca, dia akan mencari-cari kesibukan dan berharap namanya tak disebutkan. “Next, Ikang!!!” Sini Nak, kamu tidak bisa lolos dari Pak Guru. Ayo baca!

Serdadu #4, Jon Lay, bocah 7 tahun dengan kecerdasan matematis yang luar biasa. Dia adalah siswa paling minimalis di kelas 1 sekaligus di sekolah. Dengan pipi tembem dan bentuk rahang yang meruncing kedepan, kedua bibirnya sulit dipersatukan. Mereka menempel pada satu mulut yang sama tapi tak pernah sejalan, menyedihkan! Sekali ia bermaksud mengungkapkan sesuatu maka garis wajahnya langsung membentuk senyum lebar yang memamerkan keompongan. Dengan bentuk seperti demikian itu maka tak diragukan lagi bahwa Jon Lay, dipanggil JONLAY menjadi siswa dengan senyum termurah seantero sekolah. 
Selain senyum abadi, wajah langkanya juga dianugerahi ingus abadi. Entah bagaimana penjelasan medisnya tapi ingus itu tak henti-hentinya nongol di ujung hidung mungilnya. Kadang-kadang cairan hijau muda itu mengintip di saat yang tidak tepat.
“Next Jonlay. Sini nak, giliran kamu membaca” dengan ramah saya memanggilnya untuk duduk di samping saya.
“Tunggu Pak Guru, aku bikin ini dulu” jawabnya dengan pandangan memohon sambil menunjuk beberapa baris tulisan. Kata “bikin” menjadi kata yang paling banyak artinya di kampung ini. “Aku mau bikin wasit” artinya saya mau menjadi wasit, “aku mau bikin lipat (dalam pertandingan takraw)” artinya saya mau smash salto. Dan masih banyak bikin-bikin yang lain.  
“Ok!” kutunggu dia, kuperhatikan keseriusannya menyelesaikan tulisan yang tanggung itu. Saking seriusnya, dia sudah tak peduli lagi dengan apapun, termasuk ingus yang mengalir hampir menyentuh bibir bawah. 
“Jonlay, Jonlay, Joooonnlaaayyy” kupanggil untuk memperingatkan dia bahwa ada serangan, tapi dia tak acuh, tenggelam dalam konsentrasi mengakhiri tulisan. Semakin panjang, mulai menggantung dan saya tak tahan lagi melihatnya. saya langsung membalik badan dan berteriak “Jonlay, keluar buang ingus. Sekarang!”. Dia kemudian berlari sambil tertawa. 
Jonlay kecil sungguh tak tertandingi dalam urusan hitung menghitung, setelah beberapa kali saya melakukan kompetisi sederhana seperti cerdas cermat di kelas 1, dia selalu menang telak bahkan terkadang nampak keputusasaan di wajah teman-temannya takkala Jonlay menyapu bersih soal matematika. Tapi urusan membaca dan menulis, dia masih belajar mengenal huruf. 

Serdadu #5, Ujang, Jagoan membaca dari sudut kiri belakang. Hal yang paling menarik dari dia saat pertama bertemu adalah namanya yang terdengar seperti nama orang Jawa Barat, Ujang. 
“Kamu orang jawa ya Nak?” tanyaku penasaran. 
“Ennong BeGuru” Artinya “Tidak Pak Guru” jawabnya dengan expresi malu dengan kedua tangan yang masuk dalam kantong celana sambil digoyang-goyangkan naik turun. Wajahnya menunduk, mata liar dan bibir bawahnya terus terus dia gigit dan sambar dengan lidah, seperti orang cemas berat. 
“tapi nama kamu kok Ujang?”
Tak ada lagi jawaban, dia menatapku kosong, lalu meringis tanda ingin segera kabur.
Ujang sangat mudah memahami pelajaran membaca, saat teman-temannya masih kesulitan menyambungkan 4 huruf yang dipenggal menjadi dua, konsonan vowel-konsonan vowel dia sudah lancar mengeja kata “Sekolah, kelapa, lemari” dan bahkan sudah paham membaca kata yang berakhiran Ng. “ini pisaNg, ini gunuNg, ini saruNg”. Kadang-kadang dia kelihatan bosan menunggu teman-temannya yang kesulitan memahami huruf. 
Ujang berbadan lebih tinggi dari semua teman-temannya di kelas 1, lebih putih, dan tidak terlalu banyak omong, tapi sedikit “melambai”. Dia lebih banyak menghabiska waktu bermainnya dengan teman perempuan daripada teman laki-laki. Dalam satu kesempatan, di satu sore yang gerimis dan dingin, saya bertemu dengan Ujang sedang berjalan dan menutup badannya dengan sebuah handuk biru yang mulai rapuh. Anehnya dalam handuk itu juga ada Linda, bocah 6 tahun yang tak mengenakan baju. “Aduhhhh Ujang, keluar kamu dari handuknya Linda. Pulang, sudah malam”. Dia cuman meringis lalu cepat-cepat berjalan memunggungi Linda yang ikut di belakangnya.
Gerakannya yang agak gemulai dan karakternya yang tidak banyak bicara menjadikan Ujang sosok yang sangat lucu ketika memainkan permainan yang umumnya dimainkan anak laki-laki seperti sepak bola, dan takraw. Dia butuh paling tidak 3 kali percobaan untuk bisa menendang bola, berkali-kali dimarahi oleh teman setimnya karena tak pernah kena saat menyundul takraw, belum lagi ketika ia berlari dengan gaya “Khas Ujang”, dada condong kedepan, dengan tangan yang berayun kaku dibelakang. Ah sungguh mati untuk bisa menahan tawa ketika melihat dia sedang bermain, ada-ada saja gerakannya yang kocak tapi sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Keunikan gerakannya menjadiakan dia pemain idola dan bintang lapanga setiap kali bermain. Jawara dalam kategori menghibur.  

Serdadu #6, Arjun. Kemampuan visualisasinya diatas rata-rata dan bercita-cita sederhana, ingin menjadi pa’le bakso (Baca: Abang tukang bakso). Kemampuan berimajinasi Arjun selalu membuatku takjub dan sangat kagum padanya. Pernah disatu kesempatan saya meminta seluruh kelas menggambar bebas, tentang apa saja dan Arjun menyuguhkan sebuah gambar yang penuh arti.
“Anak-anak, hari ini kita belajar menggambar, Ok!”
“Ok pak guru” mereka sangat senang dengan belajar seperti itu, seharusnya mereka berteriak “Horee” tapi di kampung ini tidak ada kata hore, mereka sangat asing dengan kata ajaib itu. “Ok” sudah cukup.
Setelah bebrapa menit, kuperhatikan Arjun masih mendongakan kepalanya keatas sambil menutup mata. Dia mematung dan segarispun belum terukir di kertasnya.
“Arjun, kamu ngapain Nak? Temanmu sudah mau selesai gambarnya” tapi dia tidak mengatakan apa-apa, tetap diam seolah-olah tidak mendengarku berbicara. Baiklah, kubiarkan saja dia, mungkin dia sedang meminta ilmu dari para dewa.  
Setelah semua selesai, gambar mereka kukumpulkan lalu setiap anak yang kupanggil namanya naik untuk menjelaskan padaku tentang gambar mereka. Di sini Arjun menjadi serdadu paling keren.  Gambarnya luar biasa. 
“Jun, ini gambar apa nak?” Tanyaku sambil mengangkat kertasnya.
“Gambar gunung pak guru” Ya hanya gunung tapi kalian jangan mengira gambar gunung yang ia buat itu seperti yang pernah kita buat dulu ketika masih SD, ada dua gunung, matahari di tengah, jalan kebawah dan persawahan di kanan kiri jalan. Bukan itu, sangat berbeda. Arjun mencoba menggambar pegunungan berdasarkan apa yang setiap hari ia lihat ketika terbangun dari tidurnya. 
“ini gambar pohon apa Jun?”
“ini pohon Manggris pak guru, ada orang memanjat, mau ambil madu. Ini dia sarang madunya pak guru” tangan arjun menunjuk setiap garis yang ada pada pohon itu.
“Terus Jun”
“Disini ada orang pegang singso pak guru, mereka tebang pohon tapi bukan pohon buah, ada monyet, babi, payau, sungai, bapak saya naik ketinting, buaya, ikan sapan” Arjun terus menerangkan setiap coretan yang ada di bukunya, tak satupun coretan di sana yang tak memiliki arti. Saya begitu kagum padanya dan tak menyangaka bahwa waktu yang ia gunakan untuk diam adalah moment berimajinasi untuk menghasilkan karya yang mampu menceritakan seluruh kondisi kampung Lamcin ini. 
Arjun yang begitu sulit memahami pelajaran membaca dan berhitung ternyata sangat hebat dalam pelajaran menggambar. Meskipun gambarnya jauh dari kata sempurna tapi sangat nampak usahanya untuk menceritakan semua yang ia saksikan dan alami dalam hidupnya melalui gambar itu. Semoga saja Arjun bisa menjadi seorang pelukis yang handal. Dia sungguh berbakat untuk itu.
Sayangnya, cita-cita Arjun tak setinggi yang kubayangkan. Dia tak ingin menjadi pelukis apalagi menjadi arsitek. Dia hanya ingin menjadi Pa’le’ Bakso (Abang tukang bakso). Memang tak seperti kebanyakan anak-anak di daerah perkotaan yang begitu akrab dengan kata-kata profesi seperti pilot, dokter, ilmuwan, tentara dan polisi. Di sini, tak ada siswaku yang ingin menjadi dokter, paling hebat menjadi guru, dan ibu bidan, padahal anak laki-laki. Ah, luar biasa sekali mereka ini. 
Keinginan Arjun untuk menjadi pa’le bakso bermula ketika di kampung ini diadakan perayaan natal gabungan bersama 7 kampung yang berada di sepanjang hulu sungai Kelay. Pada saat itu, banyak pedagang dari kota Tanjung Redeb yang berdatangan dan salah satunya adalah tukang bakso. Di situ Arjun pernah sekali mencoba makanan bernama bakso itu dan ia sangat senang dan akhirnya bercita-cita untuk menjadi tukang bakso juga. Sungguh sangat sederhana keinginan itu buatku tapi setelah kupikir-pikir, itu memang masuk akal dan sangat istimewa bagi dia. Bukankah yang menjadikan sesuatu itu istimewa karena sangat jarang kita melihatnya atau sangat susah kita memilikinya? Bagi Arjun, berburu adalah biasa saja, menjadi penakluk beruang di hutan belantara adalah biasa saja, mencari emas adalah biasa saja tapi bakso adalah hal yang sangat luar biasa, apa lagi sampe bisa membuat dan menjualnya akan sangat istimewa. Ok lah kalo begitu Jun, Mudah-mudahan kamu sukses meraih apa yang kau inginkan, Nak. 
Serdadu #7, Olivia Putri. Meskipun pernah terlibat pertengkaran hebat dengan Alex, Putri tak ragu untuk meminta maaf terlebih dahulu lalu kemudian bersikap ramah kepada Alex, juga kepada seluruh teman sekelasnya. Putri berbadan kurus dengan rambut yang panjang dan lurus, selalu berpakaian rapi dan tak pernah melupakan handuk kecilnya ketika ke sekolah. “kata Mama aku, debu kapur itu tidak baik untuk kesehatan pak guru”, ia menjelaskan dengan mantap ketika kutanya alasan dia selalu membawa handuk kecilnya. Soal kerapian memang Putri juaranya, dia bahkan menjadi satu-satunya Serdadu Lamcin yang tak pernah mengenakan sendal ke sekolah, selalu sepatu hitam. Belum lagi dengan dasi dan topi yang memberikan gambaran potret anak sekolah modern. Hadirnya Putri dengan penampilan sedemikian itu setiap harinya menjadi satu bukti bahwa orang tua berperan sangat besar dalam membentuk buah hatinya. 
Ayah Putri adalah seorang gembala jemaat GKII (Gereja Kemah Injil Indonesia), Pdt. Rustam dan ibunya adalah seorang guru PAUD. Mereka memang bukan penduduk asli kampung ini tapi sudah 10 tahun menetap di Lamcin sejak pertama kali pendeta Rustam menjadi pemimpin jemaat di sini. Tak diragukan lagi bahwa pengaruh keluarganya membuat Putri tampil berbeda dengan anak-anak lain. Tapi dia bukanlah sosok anak yang suka menjauhi teman-temannya ataupun sebaliknya. Mereka melebur menjadi satu seolah tak ada pembeda diantara mereka. Terlebih lagi ayah Putri yang pendeta itu adalah orang suku dayak punan juga. 
Sejak awal sampai pada hari ini, gadis kecil berkulit gelap itu menjadi penerjemah yang handal buatku. Dia begitu fasih berbahasa Indonesia sekaligus berbahasa dayak punan. Dia adalah seorang guru bahasaku. Sepulang sekolah atau sedang bersantai menonton orang bermain voly, kami sering barmain-main dan dia mengajariku beberapa kata dan kalimat yang ingin kuketahui. 
“Put, kalau pak guru mau tanyakan nama, bilang apa?”
“Non nyiang ke’?” jawabnya dengan lancar.
“Non yang kee’?” Kucoba mengulangi.
“Bukan begitu Pak Guru, harus ada nadanya, Non Nyiang Ke’?” Sekali lagi dia mengulangi dengan intonasi dan penekanan yang mantap. Ya inilah bahasa dayak punan, pengucapannya harus dengan intonasi yang pas karena salah penekanan akan salah arti atau tidak punya arti sama sekali.
Putri telah mengajarkanku banyak hal tapi saya belum berani memanggilnya ibu guru sebagaimana dia tanpa ragu memanggilku pak guru. Padahal bisa jadi saya mendapat pelajaran lebih banyak dari dia dibandingkan pelajaran yang dia dapatkan dari saya. 

#8, Gamar. Gadis rimba yang super pemalu. Saya menyebutnya gadis rimba karena dia satu-satunya muridku di kelas satu yang masih banyak menghabiskan waktu di hutan. Gamar lebih sering tinggal dirumah kakek neneknya dan ikut mereka ke hutan sampai berminggu-minggu. Rambut  Gamar yang panjang dan berombak menegaskan kesan “tak terurus”-nya. Kemana-mana agas, sejenis nyamuk berukuran kecil yang sangat sakit dan gatal ketika menggigit selalu saja berkeliaran di sekitaran Gamar. Hal ini cukup mengherankan karena dia  sendiri tak pernah kelihatan risih dengan kehadiran teman-teman kecilnya itu, entah agas itu tak menggigitnya atau mungkin juga dia sudah kebal dengan gigitan itu.
Kehidupan Gamar yang gemar tinggal di hutan menyebabkan ia tumbuh menjadi sosok yang sangat pemalu. Ia begitu sulit diajak berkomunikasi karena kesulitan berbahasa Indonesia. Dalam hal ini, Peran Putri sangat dibutuhkan. Selain itu anak ini juga memiliki sebuah expresi yang sangat unik jika didekati, dia akan menggeliat-geliat seperti cacing tanah yang diletakkan diatas aspal panas, meliuk-liuk, menutup wajahnya, menutup mulutnya, dan melepaskan padangan tak berdaya. Satu ketika saya menghampiri dia di bangkunya karena ia tak berani naik seperti anak-anak yang lain saat kupanggil membaca. Saat duduk di sampingnya, dia mulai meliuk-liuk, tertawa aneh memamerkan deretan giginya yang baru belajar tumbuh setelah sekian lama ompong, malu bukan main, terus menjauh sampai akhirnya terjatuh dari bangku. Saya merasa bersalah dan kasihan melihatnya tapi ia malah tertawa lalu diikui oleh tawa murid yang lain. Ah sudahlah saya juga ikut tertawa. 
Walaupun pemalu dan sediki “aneh”, gadis rimba ini adalah salah satu jagoan membaca, jika Ujang adalah si jago baca dari sudut kiri belakang, maka gamar adalah jago baca dari sudut kanan belakang. Selain membacanya yang bagus (meskipun dengan suara yang sangat pelan), Gamar adalah jagoan menulis. Tak ada siswa di kelas 1 sampai kelas 4 yang tulisannya lebih rapi dibandingkan tulisan Gamar. Kecil sama kecil dan besar sama besar. Setiap hurufnya terukir dengan tegas dan jelas, mudah dibaca dan enak dipandang. Dia bahkan mengisi setiap lembar bukunya dengan teratur, tidak melompat-lompat. Dari Gamar, saya mengambil sebuah pelajaran baru bahwa “you don’t have to be a good speaker to be a good reader and you don’t need to be cute and beautiful to create good writing”. Terimakasih nak, you teach me well.

#9, Mardelila, gadis cantik dengan bando pink di kepala. Seperti kebanyakan anak-anak suku dayak, kulit Deli itu putih bersih, mata sipit dan rambutnya lurus. Kecantikan Deli membuatnya sangat dikagumi murid laki-laki dikelasnya. Just because they are very young doesn’t mean that they do not understand beauty and dating. They do deal with that. Seperti anak-anak lain yang senang bermain di sungai, basah-basahan lalu kemudian kejar-kejaran sampai akhirnya pakaian mereka kering di badan, Deli juga melakukan hal yang sama tapi kecantikannya tidak pudar oleh keringat dan debu. Jika ia memasuki kelas sangat jelas bahwa aura wajah Alex, Ujang, Stember, Jonlay, dan Arjun tiba-tiba berubah dan memancarkan aura persaingan untuk menarik perhatian Deli. Pernah satu kali Deli datang telambat lalu saya berikan hukuman sesuai kesepakatan bersama yaitu hukuman push up sebanyak menit keterlambatan. Belum lagi si Deli memulai Push Up Ujang tiba- tiba saja maju kedepan lalu meminta untuk dihukum juga. 
“Deli, kita masuk jam berapa nak?”
“Hmmm… lupa pak guru” jawabnya malu-malu sambil melepaskan tatapan terdakwa sampai kerutan di pinggir matanya kelihatan. 
“Ada yang tau?” tanyaku berpaling pada seluruh kelas yang ternyata fokus pada kami.
“Jam 7 lewat 45 pak guru” jawab beberapa orang kompak.
“Good, sekarang sudah jam?” tidak ada yang menjawab lalu kujawab sendiri “jam 7 lewat 55, berarti Deli terlambat 10 menit”
Saya kembali menatap Deli dan menanyakan kesiapannya untuk melakukan push up 10 kali. 
“Pak Guru, aku juga mau dihukum” kata Ujang yang tiba-tiba berada di dekat Deli, seolah-olah dia ingin melindungi sang putri raja. 
“Attaiwa, (expresi spontan yang berarti waduh) kamu mau dihukum juga Jang? Kamu kan tidak terlambat”
“Biar aja pak guru, aku mau temani Deli” jawabnya yakin.
“Kalo begitu kamu saya hukum lari keliling lapangan lalu membersihkan seluruh halaman sekolah”
“Ennong pak guru, hukum push up saja kaya Deli”
Tanpa mau berpanjang lebar, kuaminkan saja keinginan Ujang yang ingin tampil sebagai pahlawan di pagi itu. 
“Aku juga mau pak guru” tariak Stember seperti memohon. Mataku melotot keheranan.
“Aku juga pak guru, aku pak guru, pak guru” bergantian permintaan itu datang dari Alex, Arjun dan Jonlay. Attaiwa, apa-apaan ini? kenapa mereka tiba-tiba mau jadi pahlawan semua. Pesona Deli sungguh membutakan mereka. Ah, tapi biarlah mungkin saja mereka benar-benar ingin bertenggang rasa pada temannya. Bagus juga kupikir.  
 “Ok, kalian semua silahkan maju kedepan, berbaris ambil posisi Push up, yang lain berhitung sama-sama sampai sepuluh”
Mereka kemudian berbaris, tapi karena kondisi ruangan yang cukup sempit maka 5 pahlawan itu berbaris 2 langkah di belakang sang putri. Kulihat wajah mereka begitu bahagia berada di sana bisa mendampingi pujaan hati mereka dalam hal yang sulit sekalipun. Romantis juga anak-anak ini.
“well, sekarang kita hitung sama-sama ya, 1, 2, 3 Mulai” serempak kami memeberikan tanda dimulainya hukuman. 
“Pak guru, lihat mereka” kata Ikang dengan berbisik dan memberi kode. Kupalingkan pandanganku pada para terhukum dan yang terjadi disana sungguh pemandangan yang membuatku sangat geli. 5 bocah itu ternyata sedang sibuk berdesak-desakan mengambil posisi yang pas untuk menyaksikan isi rok Deli yang sedang dalam posisi Push up. Arrrgghhhhh tidaaaaakkkkk. 
  “Stop!!! Deli berdiri, kembali ke bangkumu, nak” sementara Deli kembali ke bangkunya dengan tatapan bingung apa yang sedang tejadi, saya membawa 5 pahlawan premature itu keluar kelas dan memberikan hukuman lari keliling lapangan kemudian membersihkan seluruh halaman sekolah. Kapok!
Selain memikat hati rekan rekannya, Deli juga berhasil memikat hatiku. Itu karena dia sangat pandai membaca, dialah juara 1 membaca. Jika Gamar dan Ujang adalah juara membaca di kelas 1 maka Deli adalah juara diantara mereka berdua. Sungguh lancar dan tidak mengeja lagi. Selain itu, dia juga rajin mandi dan mengenakan bando pink setiap ke sekolah. Tidak peduli pakeannya kumal atau tak memakai alas kaki, bando itu adalah hal yang wajib bagi dia. 
Hukuman push up memang sama sekali bukan untuk membuat anak-anak di kampung ini jera, apalagi kalo cuman 10 kali, “sangat enteng itu pak guru” kata mereka.  Saya tetap memberikan hukuman ini hanya untuk yang datang terlambat atau keluar masuk kelas tanpa izin. Bukan bentuk hukumannya pula yang ingin kuajarkan tapi konsistensi sangsi bahwa setiap pelanggaran akan ada ganjarannya, dan dari situ aku mencatat setiap pelanggaran yang kemudian diumumkan setiap satu minggu. Dan begitu pula dengan catatan prestasi yang mereka buat. Dalam kasus Deli, Kecantikan memang kadang menjadi petaka, apalagi mereka masih anak-anak, sedang masa lucu-lucunya.

***
Lamcin Warriors adalah 9 anak luar biasa yang lucu, polos, cerdas dan penuh semangat. Kepolosan mereka adalah hiburan yang tak tertandingi oleh apapun buatku, ada-ada saja tingkah mereka yang membuatku terhibur bukan main bahkan tertawa sampai puas. Kecerdasan mereka yang beragam adalah puzzle kehidupan yang mengisi keosongan jiwaku. Semangat dan keceriaan mereka adalah pelita yang senantiasa menerangi jalanku menjalani tugas mulia untuk negri. 
Aku sangat beruntung telah berjumpa dan menghabiskan 1 tahun masa pengabdian bersama mereka. Alex, Stember, Ikang, Jonlay, Ujang, Arjun, Putri, Gamar, dan Deli adalah, murid, sahabat, dan guruku. Betul mereka memiliki kekurangan tapi bukankankah sebagai tenaga pendidik kita harus menemukan potensi mereka kemudian menghargai itu sebagai sebuah keistimewaan. Tidak ada anak yang lemah dalam segala hal, ataupun unggul dalam segala hal, yang perlu kita lakukan adalah menghargai apa yang mereka miliki dan membantu menyelesaikan kekurangan-kekurangan mereka. 
Menjadi tenaga pendidik melalui program SM-3T ini telah membawaku jauh meninggalkan kampung halaman, keluar dari zona nyaman lalu menemui hal-hal baru yang mengajariku tentang kehidupan. Perjumpaanku dengan Lamcin Warriors adalah salah satunya. 
Long Lamcin, 16 April 2016
Saddang Husain 

On SM-3T Mission Gallery

This gallery shows what did i do at Berau Regency during my mission as a young educator on behalf of Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. I am proud of being a witness of a real Indonesia.
karena pendidikan adalah hak segala bangsa