Langkah Pertama di Kampung Long Lamcin

My First Step in Lamcin



“Wanua Mappatuo Na Ewai Alena”, sebuah kalimat dari tanah asalku, Luwu. Secara sederhana kalimat itu diartikan dimanapun kamu berada, kamu harus berjuang untuk kehidupanmu. Kalimat itu begitu kuat tertanam dalam jiwaku, ia selalu terdengar secara tak sengaja ketika aku memasuki sebuah wilayah atau berada di tengah-tengah orang baru.

***
22 agustus 2015, saat pertama kuinjakkan kaki di tanah pedalaman Kalimantan, kalimat itu terdengar seolah dibisikkan oleh seseorang yang sangat dekat denganku. Begitu lembut dan jelas lalu timbul tenggelam tertiup angin. Mungkin saja itu adalah pesan yang melalui batin disampaikan oleh ibu yang jauh di sana. Sebuah petuah yang ingin disampaikannya secara langsung saat melepas kepergianku di bandara Sultan Hasanuddin Makssar. Tapi jarak yang jauh memaksaku pergi tanpa ibu di sampingku.

Kuyakini kata-kata itu sebagai sebuah semangat untuk berjuang dalam misi pendidikan di kampung ini. Kalimat singkat bermakna luas, berenergy positif dan optimis.

            Aku terseok-seok berjalan, mendaki sebuah bukit-bukit kecil sambil membawa barang-barang yang berat. Sebuah ransel di belakang dan satu lagi menggendong di dadaku. Kujinjing pula sebuah kantong plastic hitam berisi ember basarta perlengkapan rumah tangga di dalamnya. Bergantian tangan kiri dan kananku menganangkat tas kresek itu karena jika hanya sekedar ditenteng ia akan mencium tanah. Maklumlah kawan, ember saja lebih tinggi dari setengah badanku.
           
Siang itu, jalan sunyi sepi dari manusia. Hanya aku dan Ahmad, Nampak bodoh di bawah terik matahari dengan barang bawaan memenuhi badan. Tapi anjing ramai bagai pasar malam memenuhi jalan-jalan kampung. Secara sepintas, kelihatannya mereka berbeda, tapi jika diperhatikan secara seksama maka akan Nampak beberapa kesamaan yang unik. Kult, kulit mereka sangat tipis dengan hiasan berupa gambar peta alami yang terbuat dari kurap dan panu. Kulit itu membungkus tulang-tulang yang menonjol dan siap berhamburan. Spertinya tulang-tulang itu berteriak, aku ingin bebas! Uh, kasihan sekali. Warna, jika hitam itu adalah gelap maka semua anjing di sini adalah hitam. Putih, putih gelap. Merah, merah gelap, kuning juga gelap. Semua warna bercampur aduk dalam satu adonan lalu di letakkan secara sembrono pada bulu mereka yang sebenarnya tak pantas dikatakan bulu. Sungguh malang nasib mereka!
           
Kurus dan kritis tidak mengurangi efek kegarangan sekawanan anjing itu. Dengan mata yang tajam memandang, mulut stengah menganga, menjulurkan lidah, dan meneteskan air liur yang menjijikkan, tiga, empat ekor anjing itu berdiri pada jarak 10 kaki memasang kuda-kuda siap menerjang  saat aku melintasi sebuah gereja kecil meninggalkan Ahmad 20 meter 3 inci di belakang. Karena takut dan bingung harus mengambil sikap seperti apa saat menghadapi anjing dalam jumlah yang besar maka aku hanya diam mematung, meliarkan pandangan jangan sampai ada di antara mereka yang menerkam. Aku mematung tapi mereka semakin mendekat, sekarang tidak lebih dari 50 cm dan Ahmad masih 19.5 m di belakangku. Tidak mungkin aku berlari dengan beban seberat itu maka kuambil strategi klasik, menundunk berpura-pura mengambil batu. Pada saat menunduk itu, ember yang kutenteng menghantam tanah dan menghasilkan suara gemuruh seperti pertengkaran rumah tangga yang mendapati suaminya selingkuh, piring saling bertabrakan dalam ember, Duarrr!!! Anjing-anjing itu kaget, saya tidak kalah kaget, tapi Ahmad santai saja, dia malah melempar senyum. Tiba-tiba mengaung salah seekor di antara mereka, “auuuuuuuu” belum berakhhir aumannya langsung disambut oleh auman anjing yang lain. Suara yang keras dan bersahut-sahutan sambung menyambung memenuhi seluruh kampung, berdurasi satu menit. Mereka tak menggonggong, tapi mengaung bagai srigala di bulan purnama. Bahkan sampai tulisan ini kubuat setelah 6 hari di sini belum sekalipun aku mendengar mereka menggonggong, selalu mengaung terlebih saat tengah malam. Ya, Lumayan horror lah.
           
Rasa takutku seakin menjadi-jadi tapi aku tak berdaya. Aku selalu merasa pandai mencairkan suasana yang tegang tapi tidak dengan ketegangan semacam ini. Dalam ketegangan yang mencemaskan itu, Ahmad lah yang tampil sebagai juru selamat. Ia berlari-lari kecil mengejar anjing-anjing itu seraya mengayunkan kaki seola-olah ingin menendang. Nampak sangat akrab layaknya seoarang tuan dan peliharaannya yang sedang bermain main. Ah kenapa juga tidak kau katakana dari tadi kawan!

***
Setelah peristiwa itu, aku tidak takut lagi dengan anjing-anjing kampung yang ternyata tidak semua kurus kering berpenyakitan seperti pertemuanku di awal. Banyak di antara mereka yang gemuk terurus dengan warna yang lebih tegas dan cerah. Hitam benar-benar hitam, atau kuning dan putih yang benar-benar kuning dan putih.

Kulanjutkan perjalanan mendaki bukit kecil itu dan akhirnya tiba jugalah aku di halaman sekolah. Jadi sekolah di kampung ini berada pada posisi yang sangat tinggi, tak ada rumah warga kampung yang lebih di atas lagi posisinya. Sekolah menghadap ke timur laut (posisi yang membingungkan, tapi tak perlu kau tanyakan kawan, aku juga bingung membaca kompas), dan di samping kanan sekolah tedapat sebuah bangunan menghadap ke barat daya (nah pusing lagi kan! Pokoknya sekolah dan rumah membentuk huruf L) yang menjadi perumahan guru. Perumahan guru berbentuk semi panggung, berdiri di atas tiang-tiang setinggi 40 cm, terbuat dari papan dan beratapkan baja ringan. Rumah itu hanya satu tapi disebut perumahan karena dibagi dua oleh dinding pembatas. Yang kiri untuk kepala sekolah dan kanan didiami oleh 2 orang guru suami istri. Sebagai orang baru, dan utusan dari pusat, maka aku dan Ahmad akan tinggal bersama kepala sekolah.

Di rumah inilah kawan, kuawali perkenalanku dengan warga sekolah dan warga kampung, perkenalan panjang untuk dunia pendidikan di tanah Lamcin, 3T-nya Kalimantan Timur. Rumah baru, lingkungan baru, warga dan budaya yang berbeda, sadar aku dengan semua itu maka berucaplah aku dalam hati “Bismillah, Wanua Mappatuo Na ewai Alena”.


Long Lamcin, 28 Agustus 2015

perjalanan ke Kampung Long Lamcin

Perjalanan Ke Long Lamcin


Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, Pak Duta bersama tiga anak SM-3T lainnya sedang sibuk mempersiapkan barang—barang sebagai bekal menuju ke desa. Sedangkan saya, tak tau malu masih terbaring lemas di atas kasur merah bernama sprimbet. Belum shalat subuh pula.

Pagi itu, sesuai rencana awal, kami akan berangkat ke desa Long Lamcin menempuh jalur darat. Jadi, sebenarnya ada dua jalur menempuh perkampungan Dayak tersebut, sungai menggunakan ketinting dan darat menggunakan mobil 4WD (4 Wheel Drive), biasanya mobil TRITON. Perjalanan kesana membutuhkan banyak pertimbangan. Pertama, musim apakah hujan atau kemarau. karena mengarungi sungai di musim kemarau berarti menyerahkan diri pada batu-batu sungai yang siap menghadang perjalanan anda. Konon, ada yang melintasi sungai pada saat kemarau, tapi naas nasib mereka terhenti oleh bebatuan. Adapun jika musim hujan tiba, sepertinya tidak lebih baik dibanding kemarau karena air akan melimpah dan arusnya akan sangat deras. Terlebih lagi, Long Lamcin terletak di hulu yang artinnya perjalanan sungai harus melawan arus. Arus deras, perahu kecil, barang bawaan banyak plus jarak tempuh 7-10 jam. Ooo, Indo’e. toba’ ka’! Penarikan kesimpulan saya untuk sementara adalah, hujan atau kemarau perjalanan melalui sungai itu lebih tepat dikatakan uji nyali daripada bepergian.

Adapun menggunakan jalur darat, baik hujan ataupun kemarau kendaraan yang paling ampuh adalah mobil strada itu. Di saat hujan, adrenalin akan diuji karena kebanyakan driver strada adalah orang-orang yang hobby offroad, sebuah olahraga balap mobil yang dilaksanakan di jalan yang becek dan licin di daerah pegunungan dengan jurang-jurang yang menganga. Dan medan dari Tanjung Redeb ke Long lamcin sangat memenuhi syarat untuk menjadi arena ofroad. Untunglah, saat ini adalah musim panas yang cukup untuk mengeringkan jalan sehingga perkiraanku adalah perjalanan kami akan lancar dan mulus-mulus saja.

Selain pertimbangan musim, budget adalah hal yang sangat urgen. Bayangkan saja kawan ongkos naik perahu itu mencapai 2 juta rupiah, dengan perincian barang bawaan, manusia yang membawa barang-barang tersebut dan bensin untuk menyalakan mesin agar tetap menyala melawan arus sungai. Perjalanan melalui darat lumayan lebih murah, tapi ada jadwalnya, tidak seenak hati seperti para pemain cinta yang datang lalu pergi kapanpun mereka sukai. Aha, cinta. Secara rutin, jika Tuhan memberi kesempatan, para offroader akan berangkat ke Kelay, ibu kota kecamatan kampung Long Lamcin, di hari sabtu dan rabu dengan biaya 170.000 rupiah. Sedangkan hari yang lain, berarti carter itu ongkosnya Rp.1.700.000.

“Stop!”  Ah, terlalu panjang saya menjelaskan perincian perjalanan, seolah-olah saya ingin menjadi pengusaha jasa transportasi dengan harga yang lebih murah, ah sudahlah, itu mustahil!

Kelanjutan ceritanya begini kawan.

Setelah mem-packing semuanya, kami, terdiri dari Pak Duta, Ahmad, Firman, Saad, Mila, dan Fitri dengan profil: pak Duta adalah kepala sekolah SD 07 long Suluy, sekolah tempat 2 gadis tersebutkan terakhir bertugas. Adapun dua bujangan yg tersebutkan di tengah adalah pendidik muda yang akan ditempatkan di Long Ngukian. Ahmad kurniawan sendiri adalah kawan seperjuanganku di sekolah yang sama. kenapa kami beramai-ramai karena jarak sekolah kami agak berdekatan, hanya 3 jam perjalanan air dan tak bisa perjalanan darat. Nantinya setelah sampai diujung jalan, kami akan turun dan melanjutkan perjalanan air. Selain jarak, beramai-ramai naik mobil akan mengurangi beban biaya. Coba hitung sendiri kawan, jangan biarkan otankmu berkarat. Rp.1.700.000 dibagi 7.

Perjalanan dari Tanjung Redeb, ibu kota kabupaten Berau adalah aspal yang sangat mulus, kira-kira sama dengan jalan-jalan aspal yang ada di seluruh dunia. Setelah jalan aspal selama kurleb satu jam dengan kcepatan rata-rata 110 km/jam, kami sampai di jalan berbatu dan berkerikil dengan taburan pasir halus berwarna putih. Jalan itu adalah tanda kami memasuki area hutan lindung dengan pohon-pohon hutan Kalimantan timur yang besar diameternya mencapai 200 CM. Terlihat di kanan kiri, bekas pembakaran hutan yang cukup menganggu mata, merusak pemandangan. Merusak ekosistem hutan juga!

Semakin lama, perjalanan kami semakin menantang. Bagaimana tidak, tikungan tajam dan mendaki di sana-sini. Belum lagi pantat mobil ini lurus saat memasuki tikungan kepalanya sudah memasuki tikungan baru. Sungguh tak berperasaan jalannya! Ditambah lagi dengan aksi pak Haji Ali yang sangat senang menyetir strada putihnya. Bagi dia, pejalanan itu adalah komedi, sedangkan bagi kami para penumpang, perjalanan itu tak ubahnya sebuah tragedy. Kami sedih dia tertawa, kami menangis dia tertawa, kami mual dia tertawa, bahkan disaat Saad memuntahkan seluruh isi perutnya, masih juga dia tertawa. Selera komedinya agak rancu! Dia Nampak sangat bahagia dengan penderitaan yang kami alami, seolah-olah kehancuran kami adalah prestasi membanggakan bagi dia. Sungguh tak berperasaan dia! Sampai-sampai saya sempat berpikir untuk menghentikan perjalanan dan melanjutkan dengan jalan kaki tapi lagi-lagi itu sepertinya mustahil karena bocoran informasinya adalah perjalanan darat menggunakan strada akan kami tempuh selam 5 jam dengan kecepatan rata-rata 90km/jam. Bayangkan apa jadinya betis ini kalo berjalan kaki sejauh 450km di tengah hutan, sendirian dengan medan yang terus mendaki dan sesekali menurun. Ah letusan betisku pasti akan terdengar sampai ke kota bagai gunung merapi.

Sepanjang perjalanan itu, yang kupikirkan adalah, kenapa masih saja ada orang yang ingin tinggal di tengah hutan sana, mengasingkan diri di saat orang-orang kota sudah sangat sibuk dengan kemoderenannya. Bayangkan saja kawan, semuanya hutan lebat yang masih sangat “perawan”, kecuali di beberapa titik nampak penebangan hutan oleh perusahaan logging. Sempat beberapa kali kami berpapasan mobil perusahaan yang sangat panjang yang menyeret kayu-kayu hutan. Dan ternyata, jalan yang kami lalui itu adalah jalan yang dibuat oleh perusahaan, bukan pemerintah. Diperuntukan untuk kepentingan perusahaan, bukan untuk warga kampung hulu. Entah apa jadinya jika hutan-hutan ini telah habis dan tak mampu lagi memenuhi dahaga para korporasi itu. Jalan tutup, ekosistem hancur, masyarakat pedalaman semakin terisolasi, Pak Haji Ali tak bisa ngebut-ngebut lagi dan kami para utusan SM-3T harus berjalan kaki. Huh, ngeri!

Pada tengah hari itu, tibalah kami di tepian sungai. Itu artinya, perjalanan darat telah usai dan selanjutnya adalah perjalanan air menggunakan perahu ketinting. Yah begitulah kawan, jarak yang begitu jauh hanya dapat kami pangkas dengan perjalanan darat. Tidak berarti kam langsung tiba di lokasi. Terkhusus untuk Long Lamcin, hanya butuh jasa penyebrangan, karena perkampungannya sudah Nampak di seberang sungai tempat mobil berhenti. Sedangkan Long Ngukian dan Long Suluy masing-masing masih membutuhkan perjalanan melawan arus sungai berkilo-kilo jauhnya. Maka berangkatlah mereka terlebih dahulu, empat orang teman dengan pelampung orange melekat di badan. Selamat berjuang teman, sebulan lagi kita bertemu untuk merayakan lebaran haji bersama.

22 agustus 2015, di tepi sungai yang lebar itu, kuinjakkan kakiku seraya menutup mata dan dengan perlahan menghirup udara segar, saya membatin dengan khusyuk “padamu negeri aku berbakti, padamu negeri aku mengabdi, padamu negeri aku berjanji, bagimu negeri jiwa raga ini”.  
             


Long Lamcin, 24 agustus 2015

MAKASSAR STUDENTS ARE BECOMING NOTORIOUS

MAKASSAR STUDENTS ARE BECOMING NOTORIOUS


            A wave protest now unfolding in Makassar city is the biggest protest of government’s new policy increasing the price of fuel or reallocating the fuel subsidy in Indonesia. The protest done by students indicates that the students in Makassar are very militant and brave to fight for society. But, something which is very disgraceful is that, while the students are demonstrating in the street, a great teacher of HASANUDDIN University along with his female students is seized consuming drugs. Then now media is full of negative news from “Daeng city”. It is so mysterious why at the same time media blows up bad news from Makassar. In my opinion, all this phenomenon do not happen by accident, however there is a scenario which is set by invisible man to make people’s mind that all protests done by the students of Makassar do not make sense at all.
            As my knowledge, in the last ten years, students’ movement becomes greater and greater in Makassar. All government’s policies which are thought not going with people interest will be protested. And, some cases like corruption and human right violation are clearly, strictly protested by the students in this city. But, now media focuses on negative news. Some weeks ago, one private TV station televised an investigation about the way a female student to get score from her lecturer in order to graduate from university. The way is committing sexual intercourse so that the student gets score. Another case is the investigation of black market or drug web that is prolific in campus area. Those investigations as if announce to the society how bad educational condition of Makassar is.  
            However, all the bad news that media focuses on are very common cases that happen in every campus in Indonesia. For example, an article or memoir that I read recently tells how free students’ life styles in java or Jakarta. Another example which is more vivid is a novel entitled “Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur“ which tells about female student’s life in a campus in Java. So, I can conclude that educational condition in Makassar is not worse than another city in Indonesia. Then my question is why, why media focus on it now? Why not yesterday or tomorrow.
            The media as opinion maker blows the militancy of the students and the immoral act of academicians of Makassar simultaneously. It shows how clever the invisible man to stunt students’ movement by making people’s mind through media that whatever Makassar students do is nonsense.


SEPARATISM MOVEMENT IN INDONESIA

SEPARATISM MOVEMENT IN INDONESIA

            Separatism movement is the advocacy of a state of cultural, ethnic, tribal, religious, racial, governmental, or gender separation from the larger group. While it often refers to full political secession, separatist groups may seek nothing more than greater autonomy. That is the definition that   quoted by Wikipedia. Especially in Indonesia there is some separatism groups such as OPM (Liberation of West Papua), GAM (Liberation of Aceh), and RSM (South Maluku Republic) that still struggle to segregate their districts from NKRI (The Unitary State of Indonesia).
            It has been said that Papua, Maluku and Aceh have been colonized by Indonesia since Netherland leaved. They are very rich districts but unfortunately, Indonesia as the large country can’t manage the districts fairly. In Papua for example it is very Rich Island with its natural resources, beautiful panorama, and unique cultures but they are still static as if they stay in primitive era. Some of Papuan thinkers stated that government focus for Jakarta and java only, government seems treat Papua like a stepchild because the development doesn’t appear at Papua at all. GAM itself wanted to segregate because of ideological problem, moral value and also the historical survive. In 24th May 1977 GAM had been established by Hassan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hassan tiro and the others. They were dissatisfied with the government that never let them to regulate “syariat Islam”. RMS wasn’t better than others because they wanted to be independent but never come true.
            Indonesia never let the separatists be independent because many reasons. In the very first time when the revolution happened and the liberty was proclaimed “Indonesia is from Sabang until Merauke” were justified for all of the nationalists, revolutionists and international world whether “dejure and defacto”. So Government committed to defend the Unitary State of Indonesia not only in territory but also in ideology, namely “pancasila”. It’s quite clear that Indonesia has the right to fight against every separatism movement in the nationality.

            As parts of Indonesia republic, separatism problem should be solved by the government as fast and good as possible. Because it is very danger, there are many victims such as armies and society who were died because of some killings and tragedies. Government should understand what they want and then threat them properly as long as it doesn’t damage Indonesia. So far Government has taken the military and diplomatic way to solve it but the result is far from the mission, OPM, GAM, RMS still exist so maybe the solving problem doesn’t touch the root grass of it. 

The Next President of Indonesia, Javanese or Non

The Next President of Indonesia, Javanese or Non


            Since 1945 Indonesia has been led by 6 presidents. They are Soekarno, soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, and the current president is SBY. Five of them are Javanese and one of them is from south Celebes, B.J. Habibie. There is an issue within this racial politic which is spread in the society “ May non Javanese be a president? “. This paper will discuss whether non Javanese can be a president in Indonesia or no.
            Obviously, democratic system applied in Indonesia regulates everyone’s right to be a president as long as he or she is capable. It means that there is no privilege for specific race or nation to be more superior on other, so everyone has equal right in front of the law. Furthermore, there is no prohibition towards election in politics. For example it is lie to say that Javanese cannot chose or elect non Javanese as a president and vice versa because choosing is a fundamental right for everyone in politics. So, just because the biggest population is Javanese does not mean that other people cannot won the election.   
            However, It has been believed that every president election in Indonesia will be won by a candidate from java. It is because of some reasons. The first is a number of the candidates from java are dominant. Let see a previous election when the competitors were dominant from java like SBY, Megawti, and Amien Rais while the non – java candidate is only one, Jusuf Kalla. So the electability for java candidates is bigger than non – java one. And also the upcoming election, there will be some competitors coming from java that quantitatively dominate the competition. The second reason is coming from the voter. The biggest population in Indonesia is Javanese. According to data of census in 2000 by BPS the Javanese reach 41% of total number of population in Indonesia, so it is no wonder if the elected president is Javanese because the voter is tribal mate.   
            Personally, I think that it is true that Indonesia with its political system, democracy, regulates everyone’s right to participate in politics, to elect or to be elected. This is because of one principle of democracy itself namely equal citizenship. Equal citizenship means every citizen has same position, same political right in the system. Otherwise, the reality that the biggest number of population in Indonesia comes from java. It is acceptable in democracy if people choose their family or relative in general election, so Javanese is allowed to choose anyone that she or he wants.     

                   As conclusion, whether Javanese or non Javanese has the same possibility to be elected as a president in Indonesia based on the principle of democracy.

Headscarf Prohibition for Policewomen

Headscarf Prohibition for Policewomen



            The regulation of police uniform is debated not only in elite government but also in smallest group of society. This topic becomes interested to discuss because there are many groups which have the strong arguments to argue the policewomen for wearing hirable whereas a part of Indonesia namely Aceh province allowed.
            For very long time we get used to see the policewomen without headscarf to cover their hair although we know that the headscarf is a symbol of Muslim’s group. This is because of the Decree (SK) National Police Chief Pol No.: Skep/702/IX/2005 about police uniform where the police must wear the same one, means that police women is prohibited to wear hijab. This prohibition is believed that policewomen may work effectively and maximally without hijab For example, when a policewoman arranges a traffic jam, she will be more moveable without hijab rather than wearing hijab. Moreover Research shows that all that synthetic covering is not healthy especially in the humid tropics, as the body struggles to maintain homeostasis.
            Comparing to the agree group of banning hijab, Indonesian Ulema Council (MUI) cited that the 2005 decree is a kind of discrimination for Muslim policewomen group because whether constitution or human right principle allows every citizen to express their faith, opinion, and creation. Human rights campaigners including the National Commission on Human Rights (Komnas HAM) and Impartial have slammed the ban, saying that it violates basic human rights.
            Let’s look at this problem in a bit more detail, in one hand; police institution has given a special regulation for Aceh with the reason that in Aceh province there is a special autonomy given by central government which regulates all women to wear hijab, so there is no reason to prohibit them to wear hijab. On the other hand, the decree of 2005 banned policewomen for wearing hijab is quite implausible because some reasons such as: by wearing hijab, the number of sexual arrestment will be more decreased. And the most important one is hijab is a part of religious obligation for Muslimah, so if the government banns hijab means that government slams the freedom of human rights.

            In conclusion, POLRI institution should consider the best way to solve this problem in order to reduce a number of debates in society so that the bad image of police could be changed. Police should show the justice, no more violence, intimidation, fraudulence, and even the discrimination.    

TELEVISION MEDIA IN INDONESIA’S PRESIDENTIAL ELECTION 2014

TELEVISION MEDIA IN INDONESIA’S PRESIDENTIAL ELECTION 2014



            It is the role of media to spread any information to public. In terms of presidential election of Indonesia 2014, television media is considerably used to campaign two candidates’ activities, visions, missions, and candidates’ programs for better Indonesia in 2014-2019. However, sometimes some TV channels, broadcast imbalanced information about specific candidate. The information can be worse than what really happens and vice versa. As a result, public’s opinion will depend on what TV channel that is watched. Since the role of media in building public’s opinion is very significant, the writer points that media must be neutral, just, and honest in spreading the information.
            Apparently, METRO TV and TV one are two TV channels among the others that broadcast intensively the news of Indonesia’s president election. Both of them are affiliated with each candidate, Jokowi - JK and Prabowo – Hatta so that is why their news is sometimes imbalanced or exaggerated to inform the public about the news. Let see each TV channel program. Metro TV affiliating with Jokowi-JK coalition makes the information becomes worse and worse when broadcasting the information of rival candidate. Otherwise, TV one which is affiliating with “ merah putih coalition” exaggerate the information of Prabowo-hatta as if this candidates will absolutely win the competition at July 9, 2014.
            However, television as one media to share the information must be neutral and honest because it is “an opinion maker” for the society. An “opinion maker” means something that is able to change or guide thought t come to a conclusion. Someone’s opinion can be changed by what news or information that is watched from TV. Here are the points why media must be honest and neutral. First, if the media share wrong information in order to increase or decrease the electability of one candidate it will guide the society going astray. Second, Indonesia’s law number 40, 1999 about press (pers), firmly regulates that journalistic world must be independent and neutral in spreading any information including politic.
            I personally think that the neutrality of media in politic is must. Instead of designing news seems exaggerated or worse, the media should inform the society just as it is because it is the only one “gun” for the society to control or criticize the government. Media is the hope of Indonesian that can bring democracy of Indonesia mature. The better media spreading information the cleverer Indonesian will be.
            In brief, media as the instrument of democracy is expected to be neutral in this president election so that the society can determine their chosen based on their own conclusion towards the better candidate.  

IS MUSLIM LEADER REALLY BETTER THAN NO MUSLIM?

IS MUSLIM LEADER REALLY BETTER THAN NO MUSLIM?

                                                                                    
                Islam commands person strictly to choose leader to live because if someone lives without any leader means that his or her life is haram. Because of the importance of leader in Islam, the criterion of leader becomes interesting to discuss, whether a leader must be a Muslim or non Muslim is eligible. This writing will examine that a Muslim leader does not guarantees that he or she has capability or integrity, and non Muslim leader can be a good leader for Muslim society.
                It has been claimed that a Muslim leader is better than non Muslim one. This is because of the assumption that a Muslim leader will bring people close to Allah. By applying syari’ah or Islamic law public will live in a harmony. For example, in the era of Prophet Muhammad (peace be upon him), citizens in Medina whether believer on non believer lived together in one constitution so-called the charter of medina. Then, next generation, the generation of prophet’s friends continued the way prophet Muhammad lead and the result was Islam spread around the world. Therefore, people said that the most ideal period ever in the world is the period of prophet and two next generations after him. Because of his achievement, Michael H. Hart, a western writer puts this last messenger of Allah (sallallahu alaihi wasallam) on the top level of the most influential person in history. So, now Muslim must live under the rule of God, syari’ah, and in the name of Islam Muslim must choose the Amirul mu’minin, the leader of believer. 
                However, non Muslim leader can be a good one for Muslim society. One day in history, prophet suggested some of his followers to go to a city which was led by Christian leader. Abyssinia, the name of that city was led by king Negus, a good king because he led justly and indiscriminately. This indicates that even though the leader is not a Muslim but that person may lead the society well, he or she is eligible being leader. Furthermore, some Islamic counties nowadays which are guided by a Muslim leader are not really better than some advanced counties led by non Muslim. What happen in MENA (Middle East and North Africa), Arab spring is proof enough that Muslim does not guarantee a good quality, capability and integrity being leader, king or president. Moreover, because of dreadful condition in MENA such as war In Syria, violence in Iraq, bloody coup d’état in Libya and demonstration protesting government in Egypt and Turkey, some citizens immigrate to European and American countries to live like England, French and U.S.A. So, whoever the leader, when he or she may lead well, the leader is justifiable.
                I personally think that the consideration to asses a leader does not depend on religion, race, sex, or any political background because leadership per se is a skill which can be mastered by anyone through some efforts including study. The leader must be integrated, trusted, and of course he or she must be strong.
                As conclusion I quote a great Muslim scholar, Ibnu Taimiyah’s opinion about leader. He said that “a just president though he or she is kafir is better than a tyrannical president even though Muslim”. He supports the idea that Allah is with a kafir country with just or good system and Allah does not like an Islamic country with a corrupt system.

Pesan Utama Al-qur'an

PESAN UTAMA AL_QUR"AN
(Ringkasan hasil kajian buku "tema pokok al-qur'an" karya Fazlur Rahman, +Makes Adm  +makesofficial@gmail.com )



Pengantar
Buku kecil di hadapan pembaca ini adalah karya anak muda tercerahkan yang tergabung dalam kelompok diskusi berbahasa Inggris Al-Markaz for Khudi Enlightening Studies (MAKES) yang berbasis di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend.M Jusuf, Makassar.
Karya ini lahir dari hasil kajian terhadap buku Tema-Tema Pokok Al-Quran oleh Fazlur Rahman. Buku ini merupakan upaya mengambil intisari dari Tema-Tema Pokok Al-Quran kemudian diperluas dengan menambahkan beberapa materi hasil diskusi yang saya fasilitasi kemudian diberi judul Pesan Utama Al-Quran.
Buku ini disusun menjadi beberapa bagian. Pada bagian awal, pembaca akan menerima pesan Al-Quran yang berkaitan dengan Penciptaan, baik penciptaan alam semesta, makhluk ghaib, dan manusia. Pada bagian tengah, pesan utama AL-Quran yang disajikan berpusat pada pembahasan kehidupan manusia baik dari sisi individu maupun sosial serta akibat perbuatannya. Pada bagian akhir buku ini akan membahas aspek ketuhanan.
Pembaca tentu menyadari dan menemukan, segera setelah melewati beberapa bagian dalam buku ini, gaya bahasa dan penulisan yang berbeda di setiap bagiannya. Itu disebabkan setiap bagian ditulis oleh individu yang berbeda yang akan pembaca kenali di bagian biografi para penulis.
Karena buku ini merupakan hasil karya manusia maka ia tidak lepas dari banyak kekurangan dan kekeliruan. Untuk itu masukan, koreksi, dan kritik pembaca sangat dihargai demi perbaikan dan peningkatan kualitas pada karya berikutnya.
Akhirul kalam, selamat menikmati sajian Pesan Utama Al-Quran. Semoga bermanfaat bagi kehidupan seluruh ummat manusia.

Makassar, 19 Desember 2013

Muhammad Hamzah
Majelis Syura MAKES



PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
          Alam semesta adalah salah satu ayat (tanda) dari Allah subhanahu wata’ala selain dua tanda yang lain yaitu Al-Qur’an dan Manusia. Melalui tiga tanda inilah kita mengenal Allah dan beriman kepada-Nya. Sehingga orang yang benar-benar ingin mengenal Allah akan serius dan  tertarik untuk mengkaji dirinya sendiri juga mengkaji alam, yang mana manusia dan alam semesta dijelaskan dalam Al-Qur’an, sehingga tidak bisa tidak juga akan mengkaji Al-Qur’an.
Penciptaan alam semesta sepenuhnya adalah kehendak Allah (QS 6: 101). Dia hanya berfirman, “Jadilah! maka jadilah.” (QS. 2:117). Alam semesta ini dahulunya menyatu kemudian dibentangkan (QS. 21:30). Proses penciptaannya dalam enam masa (QS. 7: 54, QS. 10:3, QS. 11:7, QS. 25: 59). Penciptaan tujuh langit berlapis-lapis serta pada ciptaan Allah yang lain tidak ada suatu cacat pun walaupun manusia berusaha mencari kesalahan-kesalahan penciptaan (QS. 67: 3-4).
Alam ini diciptakan berdasarkan ukuran-ukuran tertentu (QS. 54: 49, QS. 15: 21, QS. 87: 2-3) dan ketepatan yang sempurna (QS. 36: 38-49). Semuanya senantiasa bertasbih kepada Allah yang menciptakan dan “muslim”, yakni tunduk sepenuhnya pada perintah-Nya baik secara suka rela maupun terpaksa  (QS. 3: 83 , QS. 41: 11). Allah menciptakan alam semesta ini tidaklah untuk suatu kesia-siaan (QS. 3: 191), apalagi hanya sebagai hiburan bagi-Nya, melainkan dengan tujuan yang benar (QS. 39: 5) di antaranya adalah sebagai tanda kekuasaan dan keesaan Allah (QS. 21: 22, QS. 27: 60-64) dan memenuhi kebutuhan hidup manusia     (QS. 2: 29, QS. 45: 12-13, QS. 31:20, QS. 16: 12-14, QS. 22: 65, QS. 29: 61, QS. 31: 29, QS. 35: 13). Manusia dipersilahkan untuk memanfaatkan alam untuk kebaikan bukan untuk berbuat aniaya di atas bumi (fasad fil ardh). Adapun fenomena kerusakan alam adalah akibat perbuatan manusia (QS. 30: 41).
Salah satu bagian dari alam semesta yang menjadi bukti kekuasaan Allah adalah manusia. Allah menciptakan manusia pertama yaitu Adam dari tanah (QS. 15: 26, 28, 33) dan manusia selanjutnya diciptakan dari ekstrak sulala (air mani) (QS. 23: 12-14, QS. 32: 8) lalu Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhnya (QS. 38: 72 dan QS. 32: 7-9). Manusia (nafs) terdiri dari ruh dan jasad (QS. 38:71-72, QS. 32: 7-9). Manusia diciptakan bukanlah untuk permainan tanpa tujuan (QS. 23: 115). Di antara tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah (QS. 51: 56), untuk mengemban amanah (QS. 33: 72), sebagai khalifah (QS. 2: 30, QS. 6: 165) untuk memakmurkan bumi.  

MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU
          Dua unsur pada manusia yaitu Ruh dan Jasad, keduanya membentuk nafs atau diri. Ruh adalah suatu spirit atau kekuatan yang menggerakkan.  Manusia diciptakan untuk suatu amanah, menjadi khalifah di bumi. Oleh karena itu padanya diberikan 2 potensi, yaitu potensi TAQWA dan potensi FUJUR (QS 91: 8). Ada kebebasan berkehendak untuk memilih apakah ia di jalan ketaqwaan atau memilih jalan fujur[1].
Antara Ruh Dan Jasad
          Dua unsur ini selalu ada dalam satu jiwa manusia. Jadi tidaklah benar ketika seseorang melakukan perbuatan salah lalu ruhnya meninggalkannya. Ruhnya tetap ada, akan tetapi setiap perbuatan salah akan menambah jarak antara ruh jasad sehingga membuat keduanya semakin berjauhan. Ruhnya tetap memanggil untuk kembali (taubat) tapi karena jarak yang jauh, panggilan itu hampir atau bahkan tidak terdengar.
“…Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh” (QS 41:44)
Mengutip Fazlur Rahman, ‘Jika manusia-manusia jatuh ke bumi[2], maka hati nurani mereka menjadi tumpul dan mereka tidak dapat mendengarkan suara dari fitrah mereka yang sesungguhnya.’
          Sebagaimana alaminya sifat jatuh dan mendaki. Jatuh (turun) adalah lebih mudah daripada naik. (Bukankah lebih terasa letihnya ketika berjalan mendaki daripada berjalan menurun?).  Hukum yang sama pun berlaku dalam iman dan amal seorang manusia.
          Jatuh ke bumi berarti cenderung kepada unsur bumi/jasad, yang cenderung ingin mendapatkan pemenuhan nafsunya. Dan adalah lebih mudah berada di jalan ini. Dan betapa adalah kepayahan penuhi hajat ruh berada dalam ketaatan menuju Rabb mendaki puncak-puncak kesalehan.
Kembali sejenak ke ‘panggilan/seruan yang jauh’ tadi
‘Seruan yang jauh’. Karena jauh, maka seruannya terdengar lamat-lamat dan begitu halus. Diperlukan kondisi tenang dan diam demi bisa mendengarkan seruan tersebut.  Diam dan tenangnya seseorang adalah saat di mana seharusnya dia sedang berpikir (bertafakkur). Tafakkur akan dirinya, tafakkur akan alam, dan ia pun temukan Tuhan di sana. Itulah Dzikrullah.
          Sejahat-jahatnya manusia, dalam hidupnya pastilah kan ada ‘moment of truth’ (meminjam istilah kak Hamzah, hihi). Membenarkan ketidakbenaran kejahatan. That’s fitrah. Kembali ia dihadapkan pada keputusan, apakah tetap pada pilihan jahat atau memutuskan rantai kejahatan tersebut. Jika keputusan kedua dipilihnya, maka potensi taqwa dalam dirinya akan menguat sehingga dua unsur, ruh dan jasadnya akan mendekat lalu menyatu. Sehingga hati pun menjadi tenang.

Tersesat Itu Takdir Allah?
          Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Allah serta merta menutup hati manusia tetapi ia mengatakan bahwa Allah berbuat demikian disebabkan perbuatan manusia itu sendiri ‘karena kekafiran mereka’.
“Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka beriman.” (QS 2:88)
          Secara psikologis, jika seorang manusia sekali melakukan kebaikan atau kejahatan maka kesempatannya untuk mengulangi perbuatan yang serupa semakin bertambah dan untuk melakukan perbuatan yang berlawanan semakin berkurang. Dengan terus-menerus melakukan kebajikan atau kejahatan maka seseorang hampir tidak dapat melakukan perbuatan yang berlawanan, bahkan untuk sekedar memikirkannya. Jika manusia melakukan kejahatan maka hati dan matanya akan ‘tertutup’, tetapi jika manusia melakukan kebajikan maka ia akan mendapatkan kekokohan jiwa yang tidak dapat dipengaruhi. Akan tetapi, perbuatan yang menyebabkan kebiasaan psikologis bukanlah determinan mutlak. Tidak ada kata ‘keterlanjuran’ yang tidak dapat diperbaiki, juga tidak ada jaminan kesalehan sampai pada akhir. (Hal. 30 buku ‘Tema Pokok Al Qur’an)
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah  keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (QS 13:11)

Manusia dan Syaithan
          Syaithan dalam Al-Qur’an tidak disebutkan sebagai kekuatan anti Tuhan. Jadi ia bukanlah lawan Tuhan. Tuhan tidak punya lawan. Syaithan adalah kekuatan anti manusia yang terus menerus berusaha menyesatkan manusia dari jalan ‘lurus’.
“Sungguh, syaithan itu musuh bagimu, maka PERLAKUKANLAH SEBAGAI MUSUH, karena syaithan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS 35:6)
Al-Qur’an menyuruh kita untuk memusuhi syaithan
Dua sifat yang membuat Iblis, salah satu dari kalangan jin yang awalnya tunduk patuh pada Allah, menjadi syaithan yaitu SOMBONG dan PUTUS ASA. Karena itu memusuhi syaithan berarti memusuhi kedua sifat tersebut.
Iblis merasa sombong karena menyangka penciptaannya yang dari api lebih mulia dari tanah (asal penciptaan Nabi Adam) sehingga tidak mau menaati perintah Allah untuk sujud pada Nabi Adam.
          Sifat putus asa Iblis dikarenakan ia menutup diri dari ampunan/rahmat Allah atas pengingkarannya terhadap perintah Allah. Bukannya memohon ampun atas pembangkangannya, Iblis malah melakukan ‘negosiasi’ dengan Allah untuk diberi penangguhan.
“Maka keluarlah kamu dari syurga; sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” Iblis berkata: “Ya Tuhanku, berilah penangguhan kepadaku sampai hari mereka dibangkitkan.” ALLAH berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. ( Shad: 77-83)
          Semua perbuatan fujur berada pada kedua sifat sombong dan putus asa. Dua hal inilah yang menjadi akar segala kejahatan. Kesombongan akan menggiring manusia untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan. Adapun putus asa akan menggiring manusia untuk menjadikan makhluk  atau bahkan benda mati sebagai Tuhan, atau ‘IDOLA’. (Hmmm, Tanya diri, anda mengidolakan siapa?)
          Untuk melawan sesuatu, lakukan kebalikan dari sesuatu tersebut. Jika sombong dan putus asa sebagai musuh, maka ada TAWADHU dan AMAL/IKHTIAR sebagai perisainya. Dan tak akan bekerja kedua perisai selain karena kehendak pertolongan Allah. Dan Dia yang Maha bijaksana tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Teruslah berusaha dan berdoa sampai batas kemampuan maksimal. Di luar itu ada Allah dan pertolongan-Nya. Ingat, tidak berarti ikhtiar kita terlepas dari-Nya loh ya. Itu bagian dari pertolongan-Nya juga. Maka mintalah terus pada-Nya.
Kesimpulan:
1.   Manusia kafir, sesat bukanlah karena kehendak Allah, tetapi itu karena perbuatan mereka sendiri.
2.   Perbuatan berulang akan menciptakan kebiasaan psikologis. Kebaikan akan mengundang kebaikan yang lain. Sebaliknya, kejahatan akan mengundang kejahatan berikutnya. Itulah mata rantai. Putuskan mata rantai kejahatan dengan dzikrullah.
3.   Memusuhi syaithan berarti memusuhi sifat sombong dan putus asa. Tugas kita adalah tawadhu juga senantiasa berikhtiar. Gunakan semua potensi yang diamanahkan.
Wallahu Ta’ala A’lam



WAHYU DAN KENABIAN
          Allah menurunkan wahyu kepada utusan/nabi dan rasul secara tidak langsung. Oleh karena itu Allah tidak pernah berbicara langsung kepada manusia (nabi dan rasul) (QS 42:51-52)  Akan tetapi melalui ruh (QS.19:17, 15:29, 2:87, 16:102 dan 26:193). Ruh adalah utusan spiritual/ kandungan aktual dari Allah. Ruh berbeda dari malaikat (QS 97:4, 42:52, 70:4).  Ruh suci adalah malaikat yang paling mulia dan dekat dengan Allah (QS 81:19-21). Ruh diasosiasikan dengan perkataan ‘amr’ (ruh adalah perintah-Nya) (QS 16:2, 17:85, 40:15, 42:52, 97:4).
          Malaikat adalah makhluk langit yang mengabdi kepada Allah. Diutus kepada nabi-nabi (QS 11:70 & 81) juga kepada orang-orang yang beriman (QS 41:30 dan 8:12). Malaikat juga dikatakan sebagai utusan atau penyeru seperti nabi dan rasul (QS 80:15, 81:19-21).
          Alqur’an diturunkan sekaligus pada malam lailatul qadr (QS 97:1-5). Merupakan beban yang berat (QS 94:1-3) yang bersifat definitive dan kohesif (QS 59:21). Alqur’an sebagai Tanzil (QS 25:32, 17:105-106) merupakan dokumen suci yang mengandung kitab-kitab berharga (QS 98:2, 80:11-15). Risalah Tuhan yang terpancar dari ruh yang dijaga (QS85:21-22). Disebut sebagai kitab yang tersembunyi dan umm al kitab (QS 56:78 dan 13:39). Wahyu datang kepada Muhammad bukan karena keinginannya tetapi atas kehendak Allah (QS 75:16-19).
          Nabi dan rasul adalah utusan yang menyebarkan wahyu atau risalah Allah untuk alam semesta karena adanya kerusakan kerusakan yang terjadi di bumi. Mereka harus memiliki pengikut dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Tugasnya adalah memperoleh keberhasilan di dalam melaksanakan ajaran tersebut untuk memperbaiki dunia. Berjuang=berhasil.

MANUSIA ANGGOTA MASYARAKAT
          Manusia sebagai individu erat kaitannya dengan persoalan psikologis sedangkan manusia sebagai anggota masyarakat adalah persoalan sosiologis yang mencakup hubungan antar manusia dalam hal ekonomi, politik dan tentunya juga soal sejarah peradaban manusia dimasa lampau.

Keadilan Ekonomi
          Ketimpangan ekonomi adalah persoalan yang sangat umum dan jelas dalam masyarakat sehingga Al-Qur’an membahas masalah ini dalam banyak ayat dan boleh dikatakan bahwa Islam sangat detail dalam pembahasan ekonomi. Sebut saja  pelarangan terhadap praktik pengumpulan harta yang berlebihan dimana manusia sibuk mengumpulkan harta sebanyak – banyaknya hingga ajal mereka tiba (QS 102: 1-4). Dan sesungguhnya mereka itu celaka (QS 104: 1-7). Memang benar bahwa Al-Qur’an tidak melarang manusia untuk mencari harta, bahkan Al-Qur’an sendiri memberikan nilai yang tinggi terhadap harta kekayaan yang biasa disebut sebagai kelimpahan dari Allah (QS 62:10, 73:20) tetapi harta dunia tidaklah untuk dipertuhankan. Maka dari itu Al-Qur’an mengatakan pentingnya sebuah keadilan ekonomi dimana “ harta kekayaan itu tidak boleh berputar di kalangan orang – orang kaya saja” (QS 59:7), dan juga diperintahkan untuk membayar zakat (QS 9: 60), karena sebagian harta orang kaya adalah hak orang miskin, baik yang meminta-minta maupun yang tidak (QS 70: 24-25 dan 51: 19). Jadi perintah mengenai zakat merupakan bukti betapa Islam menegaskan tentang keadilan ekonomi. Selain kepemilikan harta yang harus adil, Al-qur’an juga melarang praktik penggelembungan harta dengan cara riba karena hal ini akan menyebabkan kesenjangan ekonomi yang lebar. Mengenai pelarangan Riba baca QS 30: 39. Singkatnya, Al-Quran dalam hal ekonomi berada ditengah - tengah antara paham materialisme yang meletakkan harta materi diatas segala-galanya dan juga paham “pertapaan” yang dengan sangat extrim mengabaikan harta dunia.

Keadilan Social (Politik)
          Dalam hal social-politik, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kepemimpinan suatu negara tidak boleh berputar hanya pada sebuah keluarga atau klan tertentu saja yang menciptakan sebuah “dinasty”. Tetapi haruslah pemerintahan itu dijalankan secara bersama melalui syura, institusi Arab yang demokratis dari masa sebelum Islam yang kemudian didukung oleh Al-Quran (QS 42:38; 3:159) sehingga pengambilan keputusan itu dapat tercapai secara adil dan bermusyawarah. Bahkan perilaku adil hendaknya dilakukan bukan karena adanya hubungan darah melainkan karena Allah ”wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kabaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata - kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah bahwa Allah maha teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”. Q.S. An-Nisa(4): 135
          Al-Qur’an menekankan tentang persamaan manusia yang sangat esensil karena yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya (QS 49: 11-13) sehingga seluruh ras manusia memiliki kesamaan hak-hak dasar. Jadi jangan ada diskriminasi dalam masyarakat karena semua manusia adalah anak cucu Adam yang terbuat dari unsur yang sama.
Jatuh Bangunnya Sebuah Peradaban
          Sepanjang sejarah manusia, telah banyak peradaban yang besar dan jaya dimasa lalu namun hancur dan harus digantikan oleh peradaban yang baru. (QS 17: 77; 33:38, 62). Sebuah kaum yang dimusnahkan oleh Allah itu karena ulah mereka sendiri yang berbuat kerusakan dan melanggar perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Sama ketika hal ini terjadi di kalangan umat Yahudi ataupun Kristen. Namun bukan berarti bahwa umat islam tidak akan mengalami kehancuran, karena hukum sejarah yang ditetapkan oleh Allah itu berlaku pada semua peradaban manusia (QS 47): 38 atau 9: 39) jadi ketika sebuah kaum telah melanggar hukum – hukum Allah maka pasti kehancuran menimpa mereka, dan tidak peduli siapa mereka itu kecuali mereka berusaha untuk memperbaikinya. Setelah kaum itu dihancurkan oleh Allah maka akan diutus seorang nabi yang akan membimbing suatu masyarakat untuk membangun sebuah perdaban yang baru.  
          Adapun jenis kejahatan yang dapat membinasakan masyarakat itu banyak jumlahnya, misalnya karena tekanan ekonomi dan eksploitasi terhadap orang – orang miskin ataupun tekanan social-politik terhadap orang miskin dan kelas rendah dalam masyarakat. Lihat hal yang menimpa umat Yahudi atas penindasan Firaun (QS 7: 137).
          Perlu ditekankan bahawa keadaan sebuah kaum itu menjadi baik atau menjadi buruk sekali lagi karena perbuatan dan usaha mereka sendiri dan bukan semata-mata karena Allah yang menginginkan mereka seperti itu. Memang betul bahwa Allah lah yang memusnahkan atau memelihara tapi Dia menetapkan itu melalui hukum-hukum-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Al-Qur’an bahwa “ Allah tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa sebelum mereka sendiri yang beruaha untuk mengubahnya” (Q.S. Ar-Rad(13):11 atau Al-Anfal(8): 53).

Lahirnya Mayarakat Muslim
Didalam Al-Quran ditegaskan sebelum munculnya islam di jazirah Arab, penduduk Makkah sangat merindukan sosok Nabi baru sebagai pembawa Risalat baru, seperti Yahudi-Kristen, tetapi  tidak memilki kesamaan dengan ajaran-ajaran sebelumnya, hal ini dapat dilihat di dalam (37:168-170).
Hal ini diawali oleh munculnya pengaruh atau ide-ide dari kaum Yahudi-Kristen di wilayah arab. Penduduk Makkah menunjukkan demam religious yang dialami oleh individu bahkan suatu kelompok tersendiri. Sehingga muncullah Muhammad saw sebagai sosok pembawa risalat dan kebahagian ditengah masyarakat arab namun tidak membawa kitab – kitab seperti yang diinginkan oleh penduduk Makkah, melainkan sebuah kitab yang menjadi  pelengkap dari kitab – kitab sebelumnya. Penduduk Mekkah pula tidak menerima Isa dan Musa sebagai pembawa risalat (43:57-58).
Sehingga, dampak kitab (Al-Qur’an) yang dibawakan oleh Muhammad  tidak serta merta diterima oleh penduduk Makkah, namun yang ada adalah perbantah-bantahan (10:15; 17:73) dan meminta Muhammad saw merevisi isi kitab (Al-Qur’an) agar menempatkan tuhan–tuhan mereka berada diantara Allah dan Manusia. Mereka (penduduk Makkah) yang ingkar terhadap kitab yang dibawa oleh Muhammad saw dijelaskan dalam (28:85-88). Meskipun Muhammad saw berusaha meyakinkan penduduk Makkah bahwa semua risalat-risalat itu diwahyukan oleh Allah, namun penduduk Mekkah enggan-enggan menunjukkan kenyataan itu (25:4-5; 16:103).
Muhammad saw merupakan turunan dari nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang lain dan sosok pembawa risalat dari nabi-nabi sebelumnya yang memiliki kesamaan diantara seruan mereka dengan seruan Muhammad saw (87:18-19), dengan kata lain bahwa Muhammad saw adalah pelengkap dari nabi-nabi sebelumnya. Jika dianalogikan kedalam struktur bangunan, Muhammad saw adalah batu-bata terakhir dari bangunan tersebut sebagai ornament pelengkap agar supaya bangunan tersebut terlihat sempurna dan  molek.
Sebuah keniscayaan, Allah itu esa dan ajaran atau risalatnya juga esa dengan kata lain bahwa tidak dapat dipecah – pecah, maka ummat harus menjadi satu kesatuan dalam bentuk masyarakat muslim. Namun keragaman masyarakat Makkah dan kaum yang menentang Rasulullah saw semakin banyak.
Sebenarnya, ide menegakkan masyarakat seagama tidak tercetus oleh Muhammad saw di madinah seperti yang dinyatakan oleh Hurgronye, tetapi sebenarnya sudah ada di Makkah.
Perkembangan masyarakat Muslim mulai dibangun di Madinah- yang dijelaskan dalam QS 5:48 dengan pengakuan tiga kaum yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen. Di Madinahlah istilah – istilah kitab terdahulu tidak digunakan lagi namun dengan cara tertentu Alquran membenarkan exsestensi kaum Yahudi dan Nasrani. Tetapi mereka tetap memandang Islam sebagai yang terbaik (khair ummatin) dan kaum ideal (ummah wasat).
Kepindahan Muhammad saw ke Madinah dengan tujuan bukan memaksa Makkah menerima Islam, dan bukan berarti Muhammad saw tidak peduli dengan Ka’bah namun Muhammad saw menerima panggilan Madinah.

Kesimpulan
          Perjuangan manusia untuk menciptakan sebuah tatanan masyarkat yang adil dan makmur tentulah memerlukan pengorbanan harta benda dan jiwa manusia itu sendiri dan inilah yang disebut sebagai “jihad”. Apakah manusia benar-benar berjihad di jalan Allah atau tidak akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.  



ESKATOLOGI
          Pembahasan mengenai eskatologi adalah pembahasan tentang hari kebangkitan (qiamat) dimana manusia sebagai makhluk yang berkehendak dan bertindak ketika di bumi akan dibangkitkan kembali guna mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya baik itu amalan yang baik ataupun amalan yang buruk (Q.S. 101:6-9) ” maka adapun yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka ia berada dalam kehidupan  yang memuaskan (senang), dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyyah, yaitu api yang sangat panas.”. Proses penimbangan amal perbuatan manusia (hisab) itu tak ubahnya sebuah proses penyortiran barang-barang, ada timbangan, dan ada barang yang akan ditimbang (amal perbuatan). Tidak ada kecurangan dalam proses ini karena setiap perbuatan di bumi akan dihitung sekalipun sangat kecil (QS 21: 47).
          Berkaitan dengan amal perbuatan manusia, itu terdiri dari amal baik dan buruk, kedua amalan ini masing-masing memiliki timbangan berat dan ringan jadi pada saat penghisaban, amal manusia terlebih dahulu akan dipisahkan mana yang baik dan buruk kemudian ditentukan berat dan ringannya. Amalan yang baik dan berat bukanlah pada seberapa sering ia dekerjakan melainkan seberapa berat itu dilakukan. Sebagai contoh seseorang yang telah terbiasa dengan amalan yang buruk dan merasa berat untuk mengerjakan amalan yang baik sekalipun itu sangat kecil maka itulah yang berat timbangannya. Contoh amalan yang berat (QS 2:177; 42:37; 53:32) bandingkn dengan amalan yang buruk, syirik (QS 4:48).
Pertanggung Jawaban
          Manusia sebagai makhluk individu dan social bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan, dan tidak ada yang menanggung apa yang dikerjakan oleh orang lain karena setiap diri memetik apa yang mereka usahakan. Hal ini menegaskan bahwa Al-Qur’an menolak ide tentang dosa turunan atau dosa warisan di mana seseorang terdahulu yang mengerjakan sebuah tindakan dosa akan ditanggung secara turun temurun oleh penerusnya, ataupun sebaliknya (QS 19:80), dan setiap diri yang datang tidak akan membawa apa-apa (harta dunia termasuk kerabat) kecuali amal perbuatan itu sendiri (QS 19: 95; 80:34-37; 70:10-14). Penolakan Al-Qur’an tehadap ide tentang penengah atau penebus antara manusia dan Allah berulang kali di sebutkan dalam firman-Nya (QS 3:91; 5:36; 10:54; 13:18; 39:47; 57:15 dan 70:11).
Dengan tidak adanya ide penengah antara manusia dan Allah ini maka Alqur’an dalam beberapa ayat menyerukan agar Manusia senantiasa mengirimkan sesuatu untuk masa mendatang. Karena apapun juga yang menimpa seorang manusia adalah hasil perbuatannya yang terdahulu. (QS 59:18; 2:95; 3:182 dll.) Hal ini mengantarkan kita pada pemahaman bahwa Al-Qur’an juga menolak ide tentang juru selamat, imam mahdi, ratu adil dan sebuatan lain yang akan menyelamatkan dunia di tengah kerusakan yang dilakukan oleh manusia karena pertanggung jawaban itu dibebankan pada siapa saja yang melakukan. 
          Akhirat pada esensinya adalah “akhir” kehidupan atau akibat jangka panjang dari apa yang dikerjakan manusia di muka bumi ini namun pada umumnya manusia lebih tertarik pada kenikmatan yang langsung dan bersifat sesaat sehingga mengabaikan “akhir” kehidupn yang sesungghnya lebih baik dan abadi. Inilah yang oleh Al-Qur’an disebut “ghurur” atau penipuan diri sendiri. Di hari kebangkitan ini tak ada lagi yang dirahasiakan atau tersembunyi dari setiap manusia baik itu perbuatan ataupun fikiran-fikiran ketika di bumi karena catatan amal perbuatan manusia akan berbicara (QS 23:62; 45:29), bahkan kuburan-kuburan akan mengeluarkan semuanya dan anggota-anggota tubuh akan berbica dengan sendirinya (QS 100:9-10, 41:19-24). Maka dari itu, manusia sebaiknya melakukan transparansi atau keterbukaan selama masih menjalani kehidupan di dunia, agar tidak ada kebohongan dan kemunafikan.
Dan hal inilah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika masi hidup. Beliau tidak menyembunyikan apa-apa yang ia fikirkan dan tidak membeda-bedakan tidakannya ketika ia bersama sahabat atau di saat sendiri. Manusia jangan sampai menipu diri sendiri atupun mencoba menipu Tuhannya karena kelak semua tabir akan disibakkan dan manusia akan mampu melihat segala amalan baik mental ataupun fisik dengan tajam (QS 50:22).     
Penghancuran dan Penyusunan Kembali Alam Semesta
          Di hari qiamat alam semesta ini akan dihancurkan dan kemudian akan disusun kembali dengan level – level kehidupan yang baru. Al-Qur’an berkata: “setiap sesuatu akan hancur kecuali Dia sendiri” (QS 28:88; 55:26-27). Al-qur’an menyatakan bahwa kehidupan dunia akan ditukar dengan kehidupan yang baru, sifatnya pun akan berbeda dari yang sekarang (Qs 14:48; 29:20). Kemudian seluruh manusia akan dibangkitkan kembali guna mempetanggung jawabkan amal perbuatannya.
Kemaha-adilan Allah kepada seluruh manusia tidak hanya terjadi di bumi tetapi juga di akhirat, di mana seluruh perkara yang tercatat oleh buku amalan akan diberi ganjaran. Sebab akibat berlaku secara real tanpa ada manipulasi data sedikitpun, “di dunia manusia menanam, di akhirat manusia memetik buahnya”.
          Al-Qur’an tidak menyatakan sebuah proses pemindahan sebuah alam yang satu (dunia) ke alam yang lain (akhirat) dengan dimensi ruang yang berbeda. Karena yang terjadi sesuai ayat diatas adalah penghancuran kemudian pembuatan kembali. Ketika orang – orang kafir berkata “ apakah mungkin sesuatu yang telah mati dan musnah menjadi debu dapat hidup kembali menjadi makhluk yang baru?” (QS 13: 5). Bahkan orang – orang kafir ketika mendengar tentang kebangkitan secara fisik, mereka menyebutnya sebagai “khayalan/dongeng orang – orang terdahulu” (QS 23:82-83; 27:67-68).
Kemudian Al-qur’an menjawabnya dengan perumpamaan – perumpamaan yang khas dan mudah untuk dimengerti seperti “bumi yang menjadi subur di musim semi setelah ‘mati’ di musim salju”. Selengkapnya mengenai menghidupkan yang mati baca QS 30:19,24,50 dan 57:17.
Balasan dari Allah
          Tentunya balasan yang Allah berikan kepada manusia itu sesuai dengan kadar timbangannya masing-masing. Jika amalan yang berat itu adalah kebaikan maka itu akan mendapat Rahmat dan ridha-Nya Allah dan ditempatkan kedalam Jannah dimana mereka akan dekat (kepada Allah), berada dalam surga kenikmatan, berada diatas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, muda dan tak pernah tua, air dan buah yang tak habis – habis dan masih banyak lagi (QS 56: 10-30) tetapi keridhaan Allah terhadap mereka adalah jauh lebih baik dan itulah kemenangan yang besar (QS 9:72) dan sebaliknya jika amal perbuatan yang berat adalah amalan yang buruk maka Allah akan murka kepadanya dan di tempatkan kedalam neraka jahannam (QS 3:162) dimana mereka akan menerima siksaan dan kesengsaraan yang sangat pedih (QS 56:41-56).


TUHAN
          Sebagaimana dijelaskan pada bab – bab sebelumnya bahwa alam semesta, manusia, dan alqur’an adalah di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Segala sesuatu mustahil ada dengan sendirinya. Pasti ada ‘Dzat’ yang menciptakan. Alam semesta termasuk manusia ini terbentuk dari system-sistem di mana system tersebut berjalan dalam keteraturan yang sempurna. Bagi mereka yang berpikir (berakal), ketika melihat eksistensi sesuatu, tidak berhenti pada sesuatu tersebut, tetapi mampu melihat ‘sesuatu/kekuatan’ di balik sesuatu tersebut (Itulah iman, yaitu keyakinan dan kesadaran terhadap yang ghaib, tidak kasat mata, baca QS. 2: 3, QS. 5: 94, QS. 21: 49, QS. 35: 18, QS. 36: 11, QS. 50: 33, QS. 57: 25, QS. 67: 12).
          Bagi orang-orang beriman, Tuhan ada ‘bersama’ setiap sesuatu. Al-Qur’an menyerukan kita untuk merenungi darimana dan kemana alam semesta ini. Dengan demikian kita akan ‘menemui’ Tuhan. Jadi Tuhan adalah makna dari realitas, dimanifestasikan, dijelaskan oleh alam semesta termasuk manusia. Setiap sesuatu di alam semesta ini adalah pertanda dari Allah.
          Setiap ciptaan bergantung kepada yang menciptakannya, Allah. Konsekuensi logis dari hal ini adalah hanya ada satu Tuhan., tidak ada Tuhan selain-Nya (QS. 2: 254-255; 59: 22-24; 27:60-64). Di samping menekankan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, ayat-ayat tersebut juga menggambarkan ke-Maha Pengasihan-Nya yang tak terhingga. Allah sebagai Tuhan diekspresikan melalui penciptaan-Nya, pemeliharaan-Nya, dan rezeki yang diberikan-Nya kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Penciptaan alam dan manusia dan alam untuk manusia adalah kemurahan Allah yang paling sedia kala. Oleh karena itu, kekuasaan, penciptaan, dan kepengasihan-Nya selain sama-sama luas juga saling meliputi (QS. 6: 12; 7: 156).
          Allah, dengan sifat Ar-Rahman-Nya yang tiada putusnya telah memberikan kepada manusia potensi berupa kesadaran dan kemauan untuk memperoleh pengetahuan dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyadari tujuan hidup sesungguhnya. Dan inilah ujian bagi manusia, apakah ia menggunakan pengetahuannya untuk ketaqwaan atau untuk kejahatan.
Dalam menjalani hidup sebagai ‘ujian’, manusia tidak dibiarkan begitu saja. Allah yang Maha Pengasih dan Maha Adil memberikan berbagai petunjuk sebagai pedoman. Allah mengutus Rasul-Rasul, mewahyukan kitab-kitab (Alqur’an sebagai khairul kalam), dan memberikan petunjuk kepada manusia, yang sedianya sudah ditanamkan ke dalam diri manusia (QS. 91:8).
          Selain hal di atas, di antara ekspresi Sang Maha Pengasih adalah bagi manusia yang telah tersesat dan dengan sepenuh hati menyesali perbuataannya dan memohon ampunan-Nya. Lebih dari seratus ayat dalam Al-Qur’an dimana Allah menyifati diri-Nya sebagai ‘Yang Mengampuni’ yang selalu diikuti oleh ‘Yang Penyayang’ (QS. 40: 3, QS. 2: 173, 182, 192, 199, 218, 225, 226, 235). Bahkan bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat, Allah mengubah kesesatan yang telah dilakukan menjadi kebajikan (QS. 25: 70).
Wallahu ta’ala a’lam












Penutup
Al-Quran merupakan kitab petunjuk bagi seluruh manusia tanpa terkecuali. Inilah yang jarang disadari oleh sebagian kaum muslimin. Konsekuensinya, pesan-pesan Al-Quran bersifat universal, menyeluruh.
Pesan universal ini dapat kita bagi untuk tujuan memudahkan proses pembelajaran dan pemahaman atas Al-Quran. Di bagian awal, pesan Al-Quran akan menuntun manusia untuk merenungi alam semesta termasuk dirinya; baik proses maupun tujuan penciptaan alam semesta. Termasuk pula di dalamnya karakteristik ciptaan (makhluq) yang “muslim”, tunduk-patuh-taat kepada Allah serta diciptakan untuk memenuhi tujuan tertentu.
Perenungan penciptaan alam semesta akan membawa manusia pada pemahaman utuh atas dirinya (nafsnya) yang terdiri dari unsur bumi (tanah) dan langit (ruh) beserta potensi bawaan berupa fujur dan taqwa. Berbekal dua potensi tersebut, manusia mampu menerima, memahami dan menggunakan petunjuk ilahi berupa alam semesta beserta seluruh fenomenanya, kitab suci, dan manusia suci yang bergelar nabi dan rasul demi menumbuhkembangkan dirinya (tazkiyah an-nafs) agar mencapai kesempurnaan (insan kaamil) yang membuahkan kesuksesan (falah).
Dalam proses menumbuhkembangkan dirinya, manusia harus berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. Proses interaksi tersebut berlangsung atas dasar keadilan (al-‘adl) dan al-ihsan yang dalam Al-Quran terjabarkan dalam berbagai hukum interaksi sosial, di antaranya persaudaraan (ukhuwwah), pernikahan dan kekerabatan, wasiat dan warisan, muamalah, hingga hudud (hukum yang berkaitan dengan perbuatan kriminal).
Seluruh interaksi manusia sepanjang hidupnya di muka bumi dicatat, dikompilasi ke dalam “kitab” yang kemudian akan dibentangkan di hari pertanggungjawaban. Setelahnya, manusia akan menjalani kehidupan yang berdasar atas perbuatannya terdahulu: kehidupan yang penuh nikmat di dalam al-jannah (kebun) atau kehidupan yang penuh dengan siksaan di dalam al-naar (api).
Pada bagian akhir, Al-Quran berpesan bahwa penciptaan alam semesta, keberadaan manusia, serta pertanggungjawaban atas seluruh aksi manusia terjadi atas kehendak Allah azza wa jalla, Dzat yang “kasih sayang berintikan kelemahlembutan-Nya” (rahmat-Nya) meliputi segala sesuatu.








Team penyusun

Hermita Arif, lahir di Tana Toraja, 21 April1988. Meraih gelar S.E dari jurusan Akuntansi FE-UH pada tahun 2009 dan CIFP di INCEIF tahun 2011. Saat ini aktif sebagai tenaga edukasi tidak tetap di UIN Alauddin dan LP3i Makassar.Mengenal MAKES sejak tahun 2009 tetapi aktif sebagai anggota pada tahun 2009. Dua kali mendapat amanah sebagai Bendahara Umum di periode kepengurusan 2012/2013 dan 2013/2014. Al-quran surah Al-Asr adalah diantara ayat yang ia jadikan motivasi hidupnya, adalah doa Ali bin Abi Thalib, “ya Allah, menjadi kemuliaan bagiku, adlah hamba-Mu dan adalah kebanggaan bagiku, Engkaulah adalah Rabbku. Jadikanlah aku sebagaimana yang Engkau inginkan”, menjadi kalimat motivasinya.

Masdiana, S.KM lahir di sebuah desa kecil, kampale, yang terletak di kabupaten Sidrap pada tanggal 28 Agustus 1989 yang merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara. Pendidikan sekolah dasar ditempuh di desa kelahiran, Kampale, SDN 13 Kampale, pada tahun 1996 kemudian melanjutkan sekolah Menengah Atas di SMPN 1 Dua Pitue pada tahun 2012 kemudian lanjut studi di Makassar yakni Sekolah Menengah Kejuruan Keperawatan YAPI (SMKK YAPI) pada tahun 2005, kemudian tahun 2009 melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN ALAUDDIN) pada tahun 2009 jurusan kesehatan Masyarakat Peminatan Ilmu Gizi. Menjadi anggota MAKES pada tahun 2009. Saat ini menjabat sebagai Sekertaris Biro Kajian. Dapat dihubungi lewat email Di_anhae@yahoo.com .



Hasrul, anak kedua dari tiga bersaudara, lahir pada tanggal 25 april 1988, Bontoburungeng  salah satu desa di kabupaten Jeneponto. Tumbuh besar dari keluarga yang sangat sederhana. Mendapat gelar A.Ma pada tahun 2008 jurusan PGSD Universitas Muhammadiyah Makassar dan gelar S.Pd jurusan Bahasa Inggris  di Universitas yang sama pada tahun 2013. Mengenal MAKES pada awal tahun 2010 dari bisikan teman. Disela kesibukannya sebagai pengurus MAKES yang menjabat sebagai Sekertaris Umum juga sibuk belajar mengajar di tempat kursus ONE SCHOOL dan BP2IP barombong Makassar.   

Prinsip hidupnya adalah “ jangan pernah berhenti meragu karena meragu merupakan tempat yang indah buatmu, jika kamu mencari jawaban atas apa yang kamu ragukan, tetapi meragu juga akan menjadi tempat yang menyesatkan bagimu jika kamu jenuh dalam mencari jawaban atas keraguanmu ”.

Saddang Husain, lahir di Padang Sappa, bagian selatan kota Palopo pada 11 oktober 1991. “ Putra Sawerigading ” yang gemar bermain futsal ini menghabiskan masa kecil di tanah luwuk sebelum akhirnya menetap di makasar untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah pada tahun 2010. Sekarang masih duduk di bangku kuliah jurusan pendidikan bahasa inggris semester 7 . Tak ada yang istimewa dalam karir akademik tetapi aktif mengurusi MAKES sebagai Ketua umum periode 2013/2014 adalah suatu kebanggaan tersendiri. Semenjak mengenal MAKES di awal tahun 2012, dia telah menjadikan MAKES sebagai “ rumah yang tak berdinding dan tak pula beratap ”. iqra’ bismirabbikalladzi kholaq, Perintah membaca dari Allah yang selalu di pegangnya sehingga - tiada hari yang harus berlalu tanpa membaca.


Nurhayati Sadri S.Pd biasa dipanggil Suksin Lavigne, lahir di Lamahala, Adonara, Flores Timur NTT pada tanggal 14 Mei 1987. Anak kedua dari empat bersaudara.Melanjutkan studi di Makassar pada tahun 2008 di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Bahasa Inggris,  setelah menganggur tiga tahun pasca lulus dari MAN waimerang pada tahun 2005. Mulai mengenal MAKES pada akhir tahun 2011 melalui seorang teman kampusnya. Kemudian aktif dalam semua kegiatan MAKES dan sekarang menjabat sebagai ketua biro kajian, disela kesibukannya sebagai guru. Suka berkenalan dan bersahabat dengan siapapun bias dihubungi melalui Prycazcg@yahoo.com atau Nouerycharyprycaz Suksin’z lavigne Cg (FB) “BE USEFUL”.

Fatihatulma’na, lahir di ujung pandang 25 februari 1979. Menyelesaikan pendidikan menengah atas di STM PEMBANGUNAN MAKASSAR jurusan Bangunan gedung. Hingga kini masi intens mengikuti kajian – kajian MAKES selepas kesibukan rutinnya sebagai pedagang ATK (Alat Tulis Kantor) di depan SMP 37. Prinsip hidupnya adalah “ dimana saya berdiri disitulah saya belajar makna/ilmu  “.


Yukiko Hiro Mantu, lahir pada desember 1984 di negeri yang jauh, Hiroshima, Jepang. Menjadi anggota keluarga besar MAKES pada pertengahan 1999 dan hingga kini masih intens mengikuti kegiatan – kegiatan MAKES. Menyelesaikan gelar master di fakultas ekonomi Universitas Gajah Mada, Yukiko, panggilan akrabnya, kini berpropesi sebagai seorang dosen.





[1] Kata fujur memiliki akar kata yang sama dengan ‘fajar’ yang berarti merusak, dalam hal ini merusak/merobek langit agar mentari dapat keluar. Tak selamanya kata merusak berarti negatif, sehingga tak berarti bahwa potensi fujur yang diberikan pada manusia berarti potensi berbuat kejahatan. Mari belajar dari kisah nabi Khidr yang dibersamai Nabi Musa dalam perjalanannya yang menurut penglihatan manusia merusak di beberapa tempat. Potensi merusak pada manusia selain berbuat kejahatan juga berarti untuk merusak kejahatan.
[2] ‘…akhlada ilal ardhi..’ cenderung kepada dunia (QS 7:176)

On SM-3T Mission Gallery

This gallery shows what did i do at Berau Regency during my mission as a young educator on behalf of Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. I am proud of being a witness of a real Indonesia.
karena pendidikan adalah hak segala bangsa