Guru SM-3T Juga Petualang

Guru SM-3T Juga Petualang 

Tanah yang kemarin sore kering kerontang dan berdebu kini Nampak becek dan siap menelan kaki siapa saja yang menginjaknya. Hujan dari malam hingga subuh tadi membasahi bumi, menyiramkan air kehidupan bagi seluruh makhluk di tanah pedalaman Kalimantan ini.  Mentari pagi malu-malu menampakkan diri secara utuh, ia bersembunyi dan mengintip dari balik awan tebal yang serpetinya siap menumpahkan air berikutnya. Di teras rumah ini, Aku duduk seorang diri, memanjakan mata dengan membebaskan pandangan ke deretan pohon-pohon manggris, meranti, bengkirai, dan jutaan dedaunan yang menyelimuti pegunungan di sekitarku. Begitu indah bentangan alam Kampung Long Lamcin yang masih sangat alami. Aku melengkapi pagi yang dingin itu dengan menikmati secangkir teh hangat dan kenangan-kenangan indah bersama seseorang yang jauh di sana. Seorang kekasih hati yang sedang menjalankan misi yang sama denganku. Kenangan saat kami bercanda di bawah sinar bulan dan cahaya bintang-bintang dengan alunan gitar akustik dari seorang pengamen. Hembusan angin mammiri ikut menambah nikmatnya sarabba di pinggir jalan sungai cerekang, kota Makassar. Begitu indah pagiku dengan alam, hidangan, dan kenangan yang sangat ingin kuulangi sekali lagi dan lagi. 
“Permisi pak guru! pak guRUU!? pak guRUU!” (dengan nada tinggi pada akhir katanya,_ khas dialek Punan) Seorang bocah perempuan mengacaukan momen bahagia yang jarang kudapatkan itu. 
“Yah, ada apa dek?” kujawab dengan 50% perhatian, 50% jengkel.
“Ini ada surat dari kaka saya” balasnya dengan menunduk sambil memberikan selembar kertas dengan lipatan yang sangat berantakan.
“Siapa kaka kamu” kujawab lagi sambil mengambil surat di tangannya dengan perhatian 110%. Perhatianku meluap-luap karena dia membawa surat, benda yang sangat langka di sekolah ini.
“Simson” 
“Oh simson, kenapa dia menulis surat? Sakit kah?”
“Hemm… (si keti bos. Ennong, ennong, si keti’ de atuk) “ katanya dalam bahasa punan sambil mencari-cari kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Gagal! Dia tak berhasil menerjemahkannya dan akhirnya berbalik dan langsung berlalu pergi dengan malu-malu.

Simson, adalah salah satu siswa kelas empat yang di panggil “si gaya” oleh beberapa guru local. Alasannya sederhana, setiap diajak berfoto bersama jari tangannya langsung membentuk symbol metal. Bahkan pada saat sesi foto buku raport, cameramen agak kesulitan mengarahkan karena tangannya tidak berhenti menunjukkan metal dan diikuti dengan senyum manisnya yang memamerkan lesung pipi. Beberapa kali diulang tapi tetap saja jarin-jarinya tak tertahankan, mungkin dia memiliki penyakit tersendiri pada saat menghadapi kamera. Metal syndrome. Ah si Simson, kadang saya lebih senang memanggilnya “the same son”. Meskipun banyak gaya, dia hebat dalam pelajaran mate-matika dan juga paling lancar membacanya. Banyak gayanya terimbangi dengan kecerdasan. Mantap!
Kubuka sepotong kertas yang terlipat secara serampangan itu dan isinya sangat singkat dan sangat jelas tanpa mengurangi unsur-unsur penting dari surat. 

“Sir, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga baik-baik saja ya”. 

Saya tidak masuk sekolah hari ini karena harus ikut orang tua saya pergi berburu ke dalam hutan. Sampai di sini dulu ya Sir, yang penting kamu sudah tau.

Long Lamcin, Sabtu 
(Tanda Tangan)
   Simson
       
Setelah membaca surat singkat itu, perasaanku langsung bercampur aduk antara perasaan bangga dan sekaligus prihatin. “The same son”, bocah 11 tahun yang baru tau cara menulis surat melalui pelajaran Bahasa Indonesia 3 hari sebelumnya sudah langsung mengaplikasikan ilmu yang saya berikan. Hal itu membuat saya sangat bangga padanya. Dia tidak menuliskan tanggal setelah nama hari, dan itu sama sekali bukan kesalahan kawan. Di kampung ini, para siswa memang tidak mengingat tanggal dan jug tidak peduli, tapi mereka sangat ingat dengan hari. Minggu hari gereja, senin selasa rabu kamis sekolah, jum’at olahraga dan sabtu berburu. Terus begitu hingga bulan berganti.
Saya merasa prihatin karena tanggung jawab orang tua untuk menghidupi keluarga ternyata ikut dilimpahkan kepada anak-anak mereka. Kebanyakan warga kampung memang sudah terbiasa membawa anak-anak mereka kedalam hutan pada hari sabtu. Dan dari situ, para guru juga mengambil alasan untuk menambah hari libur. Berpura-pura memahami, tak mau berkonfrontasi dan akhirnya jadwal sekolah menyesuaikan jadwal keseharian warga. Sekolah pada hari sabtu hanya bersih-bersih seadanya lalu pulang. Kadang juga libur total. Tapi setelah saya dan Ahmad datang, jadwal hari sabtu bertambah dengan latihan baris berbaris. 

***
Pernah di satu Sabtu yang cerah, saya sedang melatih mereka menyanyikan lagu Indonesia raya (sama sekali mereka tidak tau lagu itu). Tiba-tiba, seorang ibu yang menggendong anjat (tas punggung tradisional yg terbuat dari anyaman rotan) dan seorang bayi di gendongan depan, memasuki kelas dengan ekspresi malu-malu kucing. 

Sambil menunjuk salah seorang siswa kelas 3, dia berkata dengan nada sangat pelan dan lambat “bolehkah saya bawa anak saya ke hutan pak guru?”

“oh, iya boleh bu, silahkan” jawabku setelah sempat bengong sambil sedikit membungkuk dan melipat kedua tangan di atas bokong. (Sopan sekali saya!) 

Dia menggandeng tangan anaknya dan pergi tanpa ucapan terimakasih atau sekedar senyum basa-basi. (Wah, luar biasa “ramah” dia!) Saya sempat merasa tersinggug dengan perilaku itu tapi ah sudahlah. Pandangan saya mengikuti langkah ibu dan anak-anaknya itu berlalu meninggalkan sekolah. Seraya memandang penuh tanya saya membatin “bagaiman anak-anak mereka bisa sekolah dengan baik kalau disibukkan dengan aktifitas orang tuanya”. Setelah latihan menyanyi itu usai anak-anak pulang. Kampung menjadi sangat sepi dan baru muncul beberapa orang pada sore hari menjelang magrib. 
Kami bermain bola voly, dan di tengah permainan menggunakan bola plastic itu, seorang ibu-ibu datang lagi dengan menenteng sebuah kantong kresek berwarna hitam. Ia membawakan saya 2 ekor ikan hasil tangkapan mereka. Ibu yang tadi pagi pergi membawa anaknya kini kembali dengan membawa 2 ekor ikan salap besar dengan senyuman dan kalimat yang masih sangat lambat dan pelan “maaf ya pak guru, kami cuman dapat sedikit” (baik sekali ternyata ibu-ibu ini, kalo bisa minggu depan jemput anaknya lagi ya Bu! Hahaha!!!)

***
Kuhabiskan isi gelasku lalu bergerak menuju ke sekolah. Beberapa siswa sudah stand by dengan sapu dan kain pel masing-masing. Siap menunggu perintah. 
“Alek, Jon Lay, Wang, kumpul semua buku yang ada dalam kelas lalu bawa ke meja Pak Guru! Gamar, Enjel, Menyapu lantai! Langat, Lakkay, Fir’aun angkat air! Selebihnya pel panan tulis!” Perintahku pada mereka dengan nada setengah bertriak.
“ _______” Tanpa tanya tanpa protes mereka langsung bergerak cepat seolah itu adalah perlombaan berhadiah seekor babi. Sangat semangat.

Sekolah kami memang masih menggunakan papan tulis kapur yang cukup merepotkan dengan jebolan-jebolan sebesar alas sepatu. Sejak awal kedatanganku sampai saat saya menulis ini, hidungku terasa sangat gatal jika terkena debu-debu kapur tulis yang beterbangan saat dihapus. Sepertinya saya alergi kapur. That’s why I rarely write on the black board. And you know what the only one school in Berau regency that still utilizes the black board is this school, 012 Kelay Elementary School. I know this after attending K3S convention, Headmaster Meeting. Saya sudah menyampaikan keluhan pada kepala sekolah tentang fakta ini dan berharap agar dia tersinggung dan mau menggantinya dengan papan melamin, tapi ternyata dia belum memberi tanggapan, terlebih lagi dia baru sekali datang ke sekolah sejak kedatangan saya dan Ahmad ke sekolah ini.

“tiiiiitt… tiiiittt..tiiiitt…” suara kelakson motor di halaman sekolah. 
“Pak Guru… Pak Guru… Pak Guru…” Teriak Sumarna dan Daring sambil berlari kearah saya.
“Ada apa? Kenapa kalian teriak-teriak?”
“Pak Guru dicari sama Pak Yakob”
“Pak Yakob? kenapa memangnya?”
“Mana juga kita tau Pak Guru” Jawab mereka dengan tempo yang sangat lambat dan suara yang seolah tertahan di tenggorokan. Begitulah mereka kalau berbahasa Indonesia, saaangaat lambat. Sering hal ini menjadi bahan lelucon sesama kawan SM-3T pada saat kami bertemu dan saling bertukar pengalaman hidup di perkampungan Dayak Punan.

Saya menghampiri Pak Yakob dan menanyakan ada kepeluan apa sehingga dia mencari saya. Oya, Pak Yakob adalah salah satu tokoh masyarakat di kampung Long Lamcin, beliau adalah salah seorang tokoh adat sekaligus tokos agama. Dia menjabat sebagai wakil gembala.

“Pagi Pak, Ada apa ni? Tumben pagi-pagi ke sekolah!” Saya mulai menyapa sambil menjabat tangannya.
Dengan senyuman yang memamerkan deretan giginya yang berwarna kuning kombinasi hitam yang memprihatinkan, dia menjawab penuh santun “Iya Pak Guru, ini orang kampung mau ke sungai Pelay cari ikan, anak-anak mau dibawa, boleh kah pak guru?”
Sebelum jawabanku meluncur, otakku langsung bekerja cepat dan sekektika menarik kesimpulan. Sore ini pasti ada lagi ikan yang datang. Assiik!
“iya boleh pak, siapa yang mau bapak jemput?”
“Hehe.. semua Pak Guru”
What? Semua? Apa saya tidak salah dengar?
 “Lha, kok semua pak?” timpalku dengan expresi kaget cenderung protes.
“Itulah Pak Guru, karena hari ini memang jadwal kita pergi rame-rame”
“maksudnya, semua warga pergi ke sungai yang sama?” tambahku memastikan.
“iya Pak Guru”
“ok baiklah kalau seperti itu Pak. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa hari ini kita pulang lebih awal”
“ok Pak Guru, terima kasih ya”
Pak Yakob pergi dan saya langsung menginstruksikan para siswa untuk segera menyelesaikan pembersihan dan bisa langsung pulang karena orang tua mereka sudah menunggu. 
“kita tidak latihan baris-berbaris hari ini, kalian silahkan pulang”.

***
Jam 09.00. Kuperlihatkan sepucuk surat dari Simson kepada Ibu Linlin, seorang fasilitator konservasi alam dari LSM Payo-Payo. Dia ikut senang melihat surat itu karena dia juga sempat beberapa kali mengajar di sekolah untuk membantu mengisi kekosongan guru. Kami berdiskusi tentang perkembangan para sisiwa, dan suara kami terdengar oleh salah seorang warga yang sedang menunggu warga yang lain untuk pergi berburu. 

“Ada pembahasan apa Pak Guru? Sepertinya seru sekali.”
“Ini Pak, kami dapat surat dari Simson” jawabku sambil memperlihatkan sepotong kertas itu.
“Coba saya lihat Pak Guru” dia datang mendekat.
“Wah Kurang Ajar sekali anak ini, Masa tulis surat sebut-sebut nama gurunya” dia melanjutkan dengan nada sedikit kesal.
“Lho, kurang ajar gimana maksudnya Pak?” Tanya Ibu Linlin, terkejut.
“Lihat ini Bu, masa bilangnya “Sir,” itu kan tidak boleh anak-anak sebut nama gurunya langsung”
Beberapa orang warga yang ditunggu, datang dan langsung ikut meramaikan pembahasan. Mereka bercakap dalam bahasa daerah dengan melihat-lihat isi surat itu secara bergantian. Saya dan Ibu Linlin saling melirik dan tersenyum malu-malu melihat kesalah pahaman bapa-bapak itu mengenai isi surat Simson.
“Waduh, bapak-bapak sekalian, ini mah ngga kurang ajar. Si Simson teh nulisnya udah bener. Sir itu bahasa inggris, artinya PAK GURU. Bukan nama gurunya” Jelas  Ibu Linlin dalam logat Sunda yang mantap.
“ooo begitu! Haha kami kira dia kurang ajar Bu’ Guru. Anak kurang ajar harus di hajar! Hehe” Kata salah seorang bapak yang memegang tombak yang tajam. Lalu kami semua pun ikut tertawa. 
Kebanyakan warga kampung memang lebih mengenal saya sebagai Pak Guru, tanpa tau nama saya. Awalnya mereka semua tau saat saya melakukan sosialisasi, tapi katanya nama saya susah disebutkan sehingga mereka cepat lupa. Hasilnya, kata Sir mereka anggap nama saya yang hampir menciptakan masalah.
Percakapan yang berawal dari kesalah pahaman tentang isi surat Simson berlanjut dan hasilnya kami diajak ke sungai Pelay untuk mencari ikan. Huhhuyyy… My adventure begins!

***
Matahari pergi mencampakkan awan yang sejak subuh tadi terus memeluknya. Ia menyinari bumi dengan gagah, menghangatkan angin yang berhembus, menghibur langit yang perlahan membiru, mengeringkan tanah yang becek dan membantu dedaunan melakukan fotosintesis. Matahari memang keren!  
Di bawah langit Lamcin yang cerah, seluruh warga telah berkumpul. Do you hear that? All people. Babies, children, teens, fathers, mothers, grands, grands, all of them, without exception. Mereka berkumpul, menunggu datangnya kendaraan dari perusahaan logging yang akan mengantarkan mereka ke sungai Pelay. Mereka meninggalkan rumah tanpa terkunci, meninggalkan harta benda tanpa rasa takut datangnya pencuri, mereka tak bercemas hati, bahkhan sedikitpun tak mau peduli. They believe that human being is good, nothing to worry. Dan saya adalah satu diantara mereka.
Sebuah truk besar berwarna hijau dan satu mobil 4WD (Strada double cabin) akhirnya datang menjemput kami. Ibu-ibu yang menggendong balita dan anak kecil diangkut menggunakan Strada putih, ibu-ibu yang masih enerjik, anak-anak usia sekolah, dan bapak-bapak yang tidak mengendarai motor berada diatas mobil truk hijau yang sayangnya tidak mempunyai palang belakang. Sangat besar kemungkinan untuk terlempar. Dan sayangnya lagi, saya juga ada di sana. Bapak-bapak yang lain, serta beberapa pemuda mengendarai motor dengan bergandengan. Perlengkapan, semua perlengkapan di cek, Mandao (parang tradisional suku Dayak), tombak, senapan angin, jala, kaca selam, pisau, korek api dan tentunya bekal. Saya sendiri hanya membawa sepiring nasi dan Hand phone untuk mengabadikan gambar. I tell you something, camera is very important. Setelah semua siap, Pendeta Rustam memimpin doa perjalanan kami menuju sungai Pelay.
Kendaraan sepeda motor berada paling depan, diikuti oleh Mobil 4WD kemudian kami yang sedang bersusah payah berdiri dan berpegangan di atas truk raksasa berada pada barisan paling belakang. Formasi ini cukup manusiawi karena jalan yang dilalui adalah jalan mobil pengangkut kayu yang sangat berdebu. Jalan itu tak mendapat jatah hujan dari langit, untung. Kalian bisa bayangkan bagaimana rupa pengendara motor jika berada paling belakang. Tak bisa kubayangkan! Kulirik jam tanganku, 09.30, perjalanan dimulai.
“ngengngemmngng….” Berat suara mesin terdengar melewati jalan yang terus mendaki dan berbelok-belok. Mereka yang badannya cukup tinggi berbaris khusyuk berpegangan di ujung dinding mobil, sedangkan anak-anak yang ukurannya lebih minimalis dengan sangat berhati-hati berpegangan pada mereka yang lebih tinggi, sangat hati-hati jangan sampai salah pegang. Dan, yang ukuran badannya tanggung itu dilematis, berpegangan pada mobil itu susah, mau pegang orang itu malu-malu. Sumpah, itu adalah saya yang benar-benar bingung mau bagaimana. Status saya sebagai Pak Guru, cukup menjadi beban, masa saya harus berpegangan sama murid saya, that’s why saya tepaksa berpegangan pada dinding mobil, nyaris menggantung. Pemandangan diatas mobil itu sungguh mirip dengan pengangkutan para pengungsi, sangat berantakan. Di perparah dengan medan yang mendaki gunung membelah hutan belantara. Jurang yang kami lalui sepanjang jalan Nampak menganga memanggil-manggil, terlebih lagi palang belakang mobil yang sudah tidak ada. Kesalahan sedikit saja pasti koprol mencium tanah menghantam jurang. 
Kecemasan dan rasa takut itu cukup teralihkan dengan kenampakan alam yang alami dan benar-benar hijau. I do love green. Beberapa kali kami nyaris melindas binatang-binatang yang melintasi jalan, ada musang, landak, dan ular. 
“Monyett!!!” teriakku ketika melihat beberapa ekor monyet yang sedang bersantai di tangkai pohon. Hanya Pak Yunus, Ibu Linlin dan Ahmad yang memberi respon, yang lain tak peduli karena mereka sedang berkonsentrasi berpegangan seraya mengeluhkan medan dan tentunya mencaci maki supir yang semakin semena-mena menyetir. Kami berempat bercerita dalam riuhnya angin dan sulitnya berpegngan pada dinding mobil. Pak Yunus bercerita tentang hutan adat yang kini lebih terang karena pembukaan jalan dan penebangan pohon oleh perusahaan.
“Sebelum perusahaan datang, hutan ini hutan adat. Tempat kami berburu binatang sama mencari madu” Teriak Pak Yunus sambil menunduk menghindari angin.
“Kapan perusahaan ini masuk Pak” Tanya Ibu Linlin
“Saya kurang tau pastinya buk, mereka sudah puluhan tahun di Lamcin, tapi baru beberapa tahun terakhir mereka menebang pohon sama buka jalur pengangkutan kayu di hutan ini.”
“Mungkin tempat yang dulu sudah habis pohonnya pak” spontan saya berkomentar.
“Apa masyarakat tidak protes Pak?” Tanya Ahmad, melanjutkan.
“Kampung protes, sampe hampir kelahi sama orang-orang perusahaan tapi mau bagaimana lagi, katanya mereka itu …… “ Pak Yunus menghentikan ucapannya lalu menunduk sambil menutup mulut dengan kain. Mobil menuruni gunung dengan kecepatan tinggi dan menerbangkan debu yang sangat tebal. Saya sendiri langsung memasang masker dan menahan napas selama mungkin agar debu-debu itu tidak tembus. Setelah itu mobil kembali mengerang kesusahan mendaki gunung berikutnya dan bapak salah seorang murid saya itu kembali bangkit melanjutkan kata-katanya.
“Sampai di mana tadi?”
“Mmm…” kami berpikir sejenak.
“Oh iya, warga kampung dan perusahaan bersitegang.” saya mengingatkan.
“Kami tidak bisa banyak protes sama perusahaan, karena mereka yang berkuasa. Katanya mereka itu punya surat ijin. Padahal nenek kami sudah tinggal lama di sini”
“Tapi kan ini hutan Adat Pak” Protes Ibu Linlin yang memang datang ke kampung ini untuk misi konservasi.
“Iya buk, tapi perusahaan itu kuat. Mereka punya banyak petugas keamanan yang pegang senjata. Mana kami berani sama mereka. Tapi untungnya mereka kasi ganti rugi sama kami. Mereka bayar denda”
“Berapa mereka bayar pak?”
“Ada lah Pak Guru, Saya juga kurang ngerti berapa, mereka juga sudah janji mau pasang lampu di kampung kita itu, jadi nanti kita sudah enak, tidak gelap-gelap lagi.”
Saya, Ahmad dan Ibu Linlin diam dan saling menatap, seolah berbicara dan memikirkan hal yang sama. 
Dari cerita Pak Yunus itu, saya sendiri memikirkan nasib masyarakat pedalaman yang wilayahnya menjadi area operasi HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Tempat yang mereka keramatkan dan mereka banggakan kini telah rusak karena penebangan pohon dan pembukaan jalur pengangkutan kayu bagi perusahaan. Hutan yang tiap harinya dilalui truk-truk besar itu adalah warisan leluhur mereka dan kelak akan mereka wariskan kepada anak cucunya. Disanalah mereka menggantungkan hidup dengan berburu binatang, mencari buah dan memanen madu. Kini, apakah babi, beruang, kijang masih akan bertahan disana takala mesin singso mangaung-ngaung merebahkan pepohonan tempat satwa-satwa itu hidup? Apakah lebah tidak pergi ketika tak ada lagi pohon yang tinggi untuk membuat sarangnya? Perusahaan itu hadir mengelola hutan, memotong warisan budaya yang telah ada dari generasi ke generasi. Warga kampung pedalaman berpikir bahwa dengan membayar denda, perusahaan itu telah menebus dosanya, mereka berpikir bahwa iming-iming seperti pencahayaan adalah harga mahal yang telah di bayar perusahaan, seimbang dengan harga hutan yang sebentar lagi akan kehabisan taring. Perusahaan memang sangat cerdas. Bagi saya, kehadiran perusahaan adalah ancaman tapi bagi warga itu adalah harapan. Mudah-mudahan saya salah.
Setelah 40 menit berlalu, laju mobil melambat ternyata di depan ada antrian menyebrangi sungai. Momen itu dimanfaatkan banyak penumpang untuk turun dari kendaraan demi menghirup udara segar, mencuci wajah, atau sekedar mengambil gambar. Aliran air sungai yang deras cukup menyulitkan pengendara motor untuk menyebrang,  untunglah semua selamat dan perjalanan dilanjutkan. 40 menit kemudian, kami tiba di mini kamp perusahaan logging yang mengantar kami. Di kamp itu, tinggal beberapa pekerja perusahaan yang bertugas menebang pohon, mereka dipanggil “operator sengso”. Kayu-kayu yang mereka tebang nantinya akan diangkut oleh truck houling menuju kamp induk yang berlokasi di kampung Long Lamcin.

***
Air yang sangat jernih, batu-batu sungai yang besar, dan deretan pepohonan yang berbaris di sepanjang mata memandang membuat saya tak henti-hentinya mengagumi sungai Pelay itu. Sangat jernih airnya hingga saya tak sedikitpun ragu untuk langsung meminumnya. Mini kamp yang berlokasi di hilir menjadi garis start kami berjalan menyusuri sungai menuju hulu untuk menangakap ikan menggunakan jala dan tombak. 
Kami berjalan dengan berkelompok-kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas penjala (biasanya bapak-bapak), pengangkat sekaligus pembersih hasil tangkapan (ibu-ibu), dan orang yang bertugas mematikan dan melepas ikan dari jala. Saya sendiri mengambil bagian sebagai pembunuh ikan yang telah terjaring. Jangan pikir itu sepele kawan karena orang pertama yang terjun kedalam air adalah saya saat ikan yang terjaring menggeliat-geliat mencoba meloloskan diri. Cara membunuh ikan-ikan sapan dan salap itu cukup dengan memasukkan jari telunjuk kedalam mulutnya lalu menariknya keatas sampai leher terasa patah. Perlu ketangkasan dan timing yang pas agar ikan tidak tersiksa. Kadang, sekali lemparan itu bisa menjaring sampai 40 ekor ikan dengan ukuran 5 sampai 10 jari orang dewasa. Sangat kaya bukan?
Selain kelompok penjala seperti yang saya ikuti, ada juga kelompok penombak ikan. Mereka adalah penyelam-penyelam handal yang mengejar ikan sampai ketempat persembunyiannya, biasanya dibawah batu-batu besar. Tangkapan mereka adalah sapan dengan ukuran raksasa, saya lebih senang menyebutnya “monster”. Ukuran monster-monster itu bisa sampai 1 meter panjangnya dengan lebar hingga 2 jengkal orang dewasa. Ngeri bukan? 
Kami terus berjalan melawan arus sampai pukul 01.00 PM. Semakin ke hulu ikan-ikan semakin banyak, semakin besar dan semakin mudah dijaring. 2 Karung beras 10 kg telah terisi penuh dan belum lagi dengan 1 karung penuh yang telah kami tinggalkan di bawah sana. Pak Yunus sebagai ketua rombongan memtuskan untuk beristirahat, menyalakan api lalu memanggang beberapa hasil tangkapan.
Di tepian sungai yang berbatu, kami melingkar mengitari api, membakar ikan sepuas hati kami. “Pilih yang paling besar Pak Guru, biar tambah besar” kata Ibu Tami mengundang tawa semua orang dalam lingkaran. “hhahaha”. 3 orang anak kecil yang ikut dalam rombongan langsung bermain kejar-kejaran di dalam air. Mereka Nampak begitu bahagia dan menikmati alam tanpa rasa takut sedikitpun. Orang tua mereka juga tidak melarang dan tidak khawatir kalau saja anak-anak mereka akan hanyut atau terluka karena benda-benda yang ada di sungai itu. Sambil mengawasi panggangan, kami bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang telah kami lalui. Saat kami jatuh terpeleset karena bebatuan yang licin, atau saat saya panik, menjerit ketakutan dan nyaris menangis karena Pacet yang menempel di kaki saya. Pacet itu adalah lintah darat yang hidup di hutan-hutan yang lembab. Ukurannya sangat kecil tapi akan membesar sepuluh kali lipat setelah mengisap darah kita. Beberapa kali saya meminta tolong kepada orang lain untuk melepaskan ketika puluhan pacet telah menempel disela-sela jari kaki. Saking takutnya dengan binatang yang satu itu, saya lebih memilih untuk terus berjalan didalam air meskipun itu lebih jauh daripada berjalan diantara pepohonan yang menjadi tempat hidup pacet. Dalam tawa yang sambung menyambung sesekali mereka berbicara dalam bahasa daerah kemudian tertawa lebih keras. Saya yang sedikitpun tidak mengerti bahasa mereka paham bahwa mereka sedang menertawakan saya yang lebih penakut dari anak balita mereka. Saya ikut tertawa. Hahaha.

***
02.30 perjalanan kami lanjutkan. Perut yang kenyang membuat gerakan sedikit lebih melambat dan perasaan ngantuk mulai menyerang. Pak Yunus bahkan sempat bertanya apakah sebaiknya kita tidur saja dulu. Tapi ibu-ibu langsung menolak dan memutuskan untuk melanjutkan penangkapan. Ah ibu-ibu, padahal ikan-ikan kita sudah sangat banyak. 30 menit kemudian kami bertemu dengan rombongan penombak ikan yang bersusah payah memikul hasil tangkapan mereka yang besar-besar dan banyak. Sebatang kayu yang mereka pikul tergantung puluhan ikan yang bahkan menyentuh tanah. Wah, luar biasa! Saya sampai menganga melihat ukuran tangkapan mereka.
“Pak, bagaiman cara menangkap ikan sebesar itu?” tanyaku dengan heran kepada Bapak Melda (ayahnya Melda)
“Gampang pak guru, yang penting kuat tahan nafas. Mereka jinak kalo dalam air” 
“Ah masa jinak pak? Jadi mereka tidak lari?”
“Iya, pak Guru mau liat kah?
“Mau pak, kapan?”
“Ya sekarang, kita cari tempat yang dalam dulu ya, yang airnya agak tenang”
Perjumpaan kami dengan rombongan penyelam itu menjadi tanda dihentikannya perjalanan menuju hulu sungai dan sekarang kami berbalik arah, kembali ke hilir. Beberapa orang mengambil jalan pintas melalui hutan. Saya sendiri tetap memilih berjalan di sungai, selain ingin melihat cara menombak ikan saya juga sudah kapok berurusan dengan pacet.
“Ayo pak Guru, pake kaca selamnya kita tombak ikan di bawah batu itu” Pak Melda memberi instruksi seraya meletakkan kayu penuh ikan dari pundaknya.
Ia dengan tenang berpegangan pada batu sambil mengawasi ikan dari sela-sela. Saya sendiri berusaha sekuat tenaga menahan napas, sambil menunggu ikan muncul. Belum lagi ikan keluar dari persembunyiannya saya sudah kehabisan nafas dan langsung kembali kepermuakaan menarik napas yang panjang. Pak Melda masih disana, dan memasukkan ujung tombaknya kedalam sela-sela batu agar ikan cepat keluar. Dan benar 2 ekor Sapan kira-kira seukuran sepuluh jari berenang santai keluar dari bawah batu. Entah apa yang mereka lakukan berdua-duaan di tempat sepi seperti itu. Ah dasar ikan. 
Sebiasa mungkin saya tidak bergerak agar ikan itu tidak lari. Pak melda secepat kilat langsung mengayunkan tombaknya kearah ikan itu. Gelembung air menghalangi pandangan, saya tidak bisa melihat apakah tombak itu melumpuhkan ikan atau tidak. Saya kehabisah nafas lagi, Sial! Padahal saya tak ingin melewatkan satu menitpun di dalam air. Sekali lagi saya kembali kepermukaan, menarik nafas yang panjang dan siap kembali meyelam. Belum sempat menyelam Pak Melda sudah muncul. Bapak 33 tahun itu tertawa penuh bengga sambil mengangkat seekor ikan yang sudah tak berdaya. “huuuuhuuuu, keren. Asik sekali bang” teriakku kegirangan. 
Menombak ikan adalah cara paling tradisional yang pernah kulihat. Tombak tersebut terbuat dari sebuah tangkai pohon yang lurus dan bundar dengan ukuran panjang 2 meter dan diameter kurang lebih 1 cm. pada ujung tombak terdapat besi runcing yang seukuran ujung jari manis. Hanya seperti itu, tak ada sentuhan modern sama sekali. Sederhana tapi mematikan. Warga kampung Long Lamcin memang hebat menombak ikan karena mereka sudah terbiasa, bahkan anak-anak  usia sekolah pun bisa melakukannya. Berdasarkan hasil diskusi-diskusi saya dengan beberapa orang tua di kampung ini, cara menangkap ikan dengan menggunakan jaring atau jala adalah metode yang sangat baru bagi mereka. Sungguh primitive.     
 
***
Seluruh rombongan telah berkumpul di hilir, mobil juga sudah siap mengangkut kami. Ternyata sudah pukul 5 sore dan perjalanan kembali kekampung akan segera dimulai. Hasil tangkapan dibagi berdasarkan kebutuhan dan permintaan. Tidak ada aturan untuk pembagian jadi mereka yang mendapatkan ikan lebih banyak dengan sendirinya memberikan pada yang mendapat hasil sedikit dengan prinsip suka rela. 
Kami kembali ke posisi semula, masih dengan mobil yang sama, mobil yang tak memiliki palang belakang. Yang berbeda adalah, kondisinya semakin licin karena semua pakaian basah, dan ditambah lagi dengan aroma ikan yang sumpah membuat kepala pusing dan perut mual. Arghhh… andaikan jaraknya dekat, saya memilih berjalan kaki.
Hari sudah gelap saat kami tiba di kampung, seharusnya terdengar suara adzan magrib dari speaker mesjid. Unfortunately, this is not my hometown. No Masjid at all!. Saya kembali kerumah, membersihkan badan dan ikan lalu beristirahat.
Telah ku habiskan satu sabtu yang panjang dan menyenangkan bersama warga. Kini aku tau bahwa kehutan bukanlah sebuah beban dan pekerjaan yang berat buat anak-anak, ke hutan adalah sebuah tamasya yang sangat menyenangkan bagi mereka, momen berkumpul dan menikmati alam yang kaya. Mungkin itulah mengapa mereka lebih memilih hutan daripada sekolah. Forest gives what they want, school? Ah, sudahlah! 
Saat saya membuat tulisan ini, sudah banyak sabtu yang telah saya lewati, sudah banyak sungai yang saya datangi, Sungai Lamcin, Sungai Keluh, Sugai Jengan dan beberapa anak sungai yang tak tau apa namanya. Semua memiliki ikan, pemandangan dan keseruan yang tak kalah dengan Sengai Pelay. Sabtu adalah hari perbaikan gizi, hari yang selalu kami tunggu. 


Long Lamcin, 
Rabu, 25 Oktober 2015, 
#MenungguSabtu 
      

Satu Duka menjadi Guru SM-3T

Menyalahkan Keadaan



6 oktober 20015 beberapa kali aku terbangun karena hawa dingin yang menembus jaket tebal dan selimut panjang yang membungkus badanku. Pukul 2 dini hari aku terjaga, terdengar gemericik air sungai, diikuti oleh nyanyian binatang malam yang merdu menghibur semesta. Ada juga suara dedaunan yang saling bertabrakan karena angin yang berhembus menambah dingin di pagi yang gelap itu. Aku berdiri dengan perlahan, menyeret selimut melangkah menuju ke jendela. Kurapatkan mataku pada kaca jendela sambil sedikit menarik kain horden biru yang baru terpasang 2 hari yang lalu. Tak ada siapa-siapa di luar sana, kawanan anjing yang biasanya tidur di tengah jalan depan rumah juga memilih memojok di kolong rumah Pak kepala kampung. Sepertinya mereka ikut merasakan siksaan dingin di hari itu. Tulangku terasa sangat kaku, persendian seolah beku dan tenggorokan kering, kembali aku menuju ke tempat tidur yang hanya beralaskan karpet plastik berbantal lengan. 1 jam kemudian, kembali aku terbangun karena dingin yang semakin menyengat. Aku hanya meraba-raba mencari Hp untuk melihat jam, berharap hari sudah benar-benar pagi. Kulipat badanku lebih kecil agar terasa lebih hangat, dan akhirnya kembali aku tertidur.

Beberapa saat kemudian sesuatu terjadi dan aku tak yakin itu adalah mimpi, Aku melihat seseorang berjalan mendekat, membawakan selimut tebal, bantal empuk dan sebuah bantal guling yang panjang. Ia tersenyum, mengusap wajahku dengan lembut lalu mengacak-acak rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku ingin berbicara padanya tapi tak satu pun kata yang berhasil ucapkan, rahangku terasa kaku. Bahkan tanganku tak mampu bergerak untuk meraih tangannya. Dia cantik, berkerudung dan memakai kaca mata. Garis wajahnya, kerutan-kerutan dan plek hitam itu menandakan ia semakin menua. Aku mengenalnya,ia adalah ibu. Aku sangat merindukan ibu, sudah lama aku ingin memeluknya, bercerita padanya tentang perjuanganku di kampung orang. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa, dan ia juga tidak. Hanya senyum dan belaian itu, lalu ia pergi meninggalkan aku dengan kehangatan baru. Aku terbangun, memeluk lutut dalam selimut dan mengucurkan air mata sampai pagi menjelang.
           
Setelah mandi dan sarapan 2 potong roti, aku berjalan kesekolah dengan perasaan yang kurang enak. Kepala terasa berat dan sedikit pusing. Anak-anak sudah menunggu di halaman sekolah, meminta bola takraw sebelum jam pelajaran di mulai. Kuberikan bola yang mereka minta dan aku duduk dalam kelas seorang diri sambil menahan kepala yang semakin terasa berat. Dalam keadaan seperti ini, aku selalu merasa dunia sangat menjengkelkan dan kesalahan sedikit saja bisa memicu kemarahan besar. Ada lagi yang paling tidak enak saat kesehatanku terganggu, pikiranku bekerja lebih cepat ke arah yang negative dan pesimis, menghubungkan banyak hal yang seharusnya tidak difiikirkan lalu menarik kesimpulan bahwa dunia sungguh mencampakanku.

***
            Pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, aku langsung benci kepada kepala sekolah yang jarang sekali datang untuk menunaikan tugasnya. Buku-buku sangat kurang, aku membutuhkan 13 eksamplar buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 tapi yang ada cuman 5, kulirik buku kelas 5 untuk pelajaran yang sama tapi jumlahnya juga tidak jauh beda. Akhirnya buku kelas 4 lagi yang harus aku gunakan untuk mengajar kelas 4,5 dan 6. Setelah menarik buku-buku cetak itu dari lemari yang pintunya menghasilkan suara sumbang saat dibuka atau ditutup, kebencianku menular kapada para sisiwa. Bagaimana tidak, nyaris semua buku cetak itu kehilangn sampul depan, hanya tulisan pada tulang buku yang membuatnya bisa dikenali. “arrgh, little busters!” umpatku dalam hati.
            Seprti biasa, kelas diawali dengan warming up dan pembacaan “rule and regulation” yang berisi:
1.      There is no Bahasa Punan in the class. Only English and Bahasa.
2.      Nobody can enter or exit the class without permission.
3.      Nobody spit on the floor.
Serempak para siswa berteriak “yes,yes, ready!” sesaat setelah saya membaca dan menanyakan “ready?”. Pelajaran pun di mulai dan kebencianku semakin merambah kemana-mana saat Yoses (kelas IV) dan Jeki (V) saling tuduh soal bau tai anjing. Yoses menunjuk Jeki yang telah membawa “racun” itu kedalam kelas dan Jeki tak menerima. Aksi saling tuduh itu berubah menjadi percekcokan yang melibatkan seluruh kelas. Yoses menuduh Jeki, Jeki menuduh balik, tak terima, Yoses mengatakan itu pasti orang yang duduk bersebelahan dengan Jeki. Naas, sebuah pulpen langsung mendarat di kepala Yoses karena Yaret (VI) teringgung dengan perkataannya. Nopel (IV) merasa terganggu dengan keributan itu dan langsung memukul meja. Akhirnya Welden (VI), Amos (VI), Juli (V), Dion (V) dan yang lain ikut marah satu sama lain. Keributan pun tak terhindarkan. Mereka saling tunjuk dan ngomel dalam bahasa punan, bahasa daerah mereka yang mirip bahasa Thailand, bahasa yang sedikitpun tak bisa kupahami. See? They break the rule number one, “there is no bahasa punan in the class!” What can I do now? Punish them? Let them fight? Or going out of the class? None of them! Aku melerai mereka satu persatu lalu kemudian meminta Herlina (IV) mengambil sapu dan menyuruh seluruh kelas keluar untuk melihat sepatu mereka masing-masing tanpa harus mengontrol satu sama lain. Herlina menyapu bawah bangku setelah itu aku persilahkan semua kembali kekelas. Entah siapa pelakunya, tapi itu tidak penting, intinya bau itu sudah hilang.

Kejadian itu sontak membuatku benci kepada semua guru-guru local yang tak kunjung datang setelah meninggalkan aku dan dua guru lainnya selama lebih dari satu bulan. Bahkan ada yang sudah 2 bulan. Ada 6 orang guru yang telah pergi dengan janji akan kembali setelah paling lama 1 minggu saja. “Hell for them all. They don’t think how difficult we are. They take high salary from government, twice of mine, but they leave their duty, their job. They don’t deserve to be teachers. If they were here we would teach each class well, educate the students and consume the salary in peace”. Bukankah kebencianku pada mereka beralasan? Baru kali ini aku mengumpat dan mengeluhkan keadaan kawan, sumpah aku malu mengatakannya “aku sakit dan tak seorang pun menanyakan keadaanku” that’s all.

“Tengng Tengng Tengng ten ten ten ten tengngng”. Aku benci suara lonceng itu. Belasan tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SD, bukan kaleng yang dipukul dengan besi untuk memanggil para siswa setelah jam istirahat tapi bel. Bel yang bersuara lebih merdu, tidak membutuhkan tenaga untuk membunyikannya, hanya menekan tombol dan suara keluar dari pengeras suara yang terpasang dengan gagah di sudut bangunan kantor. Di sini, suara itu nyaris memecahkan kepalaku yang tak kunjung reda. “argh sial!”. Setelah menunggu selama beberapa menit, semua siswa sudah duduk ditempat mereka masing-masing, bingung melihatku yang tiba-tiba berwajah dongkol dan tak mengucapkan apa-apa. Kemarin, mereka adalah sahabat-sahabat kecilku, manis, active, creative dan cerdas tapi sekarang mereka semua penjahat kelas teri. Kumal, nakal, brutal dan tumpul aku benci mereka, juga pada orang tua mereka semua. Mereka begini pasti karena didikan orang tua dan lingkungan mereka. Sekarang, nyaris tak ada yang tidak kupersalahkan. Mungkin yang terakhir ini kurang beralasan tapi saya memikirkannya demikian dan itu sudah final.  

***
Kepalaku terasa semakin berat, suhu badan memanas dan perasaanku sangat dingin, aku menggigil dan tak seorangpun peduli. Aku membaringkan badan dalam kamar berguling kanan kiri mencari posisi yang paling pas namun tak kunjung dapat. Ingin rasanya aku menelpon orang tua dan orang-orang terkasih untuk menyampaikan keluh kesahku tapi itu justru memancing kebencianku pada orang lain. Tak ada jaringan! “oh no!” kenapa dinas mengirimku ketempat seperti ini, padahal banyak teman-teman yang dengan status dan tugas yang sama tapi mendapatkan tempat dengan pelayanan yang sangat jauh berbeda. “what the hell. It’s not fair, I hate this life”. Aku terus megumpat mencari-cari kesaahan orang lain,  memikirkan yang tidak perlu dan akhirnya terlelap hingga sore hari.

Badanku bergetar, tidak diragukan lagi pasti aku kelaparan. Di dapur tak ada yang bisa dimakan meskipun banyak yang bisa diolah untuk menjadi makanan. “Mi instan menjadi pilihan terbaik”, pikirku. Hanya beberapa menit saja mi instan dengan irisan lombok biji yang banyak sudah siap santap bersama dengan segelas susu putih. Di pintu belakang, angin bertiup dengan perlahan, menyejukkan tubuhku yang berkeringat kecil karna kepedisan, kusandarkan tubuh di dinding sambil menatap deretan pohon yang hijau dengan selimut daun yang sangat rapat. Sedikit demi sedikit susu putih itu terisap kedalam mulutku. Sambil menikmati itu aku berpikir dan menyadari betapa bodohnya aku telah menyiksa diri sendiri dengan pikiran-pikiran yang tidak baik. Untunglah aku hanya bermain dalam pikiranku sendiri sehingga tak melukai hati siapa-siapa. Aku tak mesti meminta maaf pada seorangpun bahkan keluhanku mungkin ada benarnya juga. Ya sudahlah, beginilah nasib perantau, bukan sakit yang menyiksa, tapi kau tidak punya orang yang tepat untuk berbagi.


Long lamcin, 7 oktober 2015

Ketika Bocah Dayak Punan Mendongeng pada guru SM-3T nya

DION BERCERITA LAGI


            Dion adalah siswa kelas 5 yang selalu membuat kejuatan. Baik di sekolah atau sedang bermain bersama, Ia selalu menceritakan kisah-kisah yang “tak masuk akal”. Saat sedang duduk termenung sambil menunggu masakan, tiba-tiba ia berucap “Pak guru, jangan bilang-bilang ya, saya ini sudah bergabung dengan sebuah organisasi setan”. Saya sangat kaget dan langsung menanyakan bagaimana bisa. Ia kemudian melanjutkan dengan tertawaa-tawa kecil, dan malu-malu khas bocah SD.

“Sebenarnya saya adalah anak kedua dari salah satu iblis di sebuah kerajaan setan. Awalnya saya bermimpi, dan dalam mimpi itu saya telah menandatangani sebuah kontrak yang dibawa oleh seorang penyihir wanita. Kontrak itu mengatakan bahwa saya akan diberikan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, dengan syarat saya harus menyelamatkan panglima mereka yang sedang ditawan oleh sekelompok musuh di Luar negeri”.

Dia berhenti sejenak sambil tertawa bahagia melihat kebengongan saya yang tak percaya seorang bocah ingusan mampu bercerita sebagus itu, entah datang darimana imajinasi yang liar itu, apalagi kondisi di kampung ini, jangankan menonton bioskop yang sering memutar film horror, Tv saja sangat susah ditemukan mengingat listrik yang hanya hidup kalau matahari sedang sangat terik, itupun tidak mampu menghidupkan TV. Kemudian saya menyadari bahwa anak ini memiliki kemampuan yang sangat unik dan mengagumkan. Dia satu-satunya siswa saya yang mampu bebrahasa Indonesia dengan lancar. Yang lain masi Punan.

“terus? Terus? Bagaimana selanjutnya?” tanyaku penasaran.

“Saat bagun saya benar-benar memiliki kekuatan yang sangat dahsyat itu, saya mampu mengeluarkan api dari mata dan mengangkat benda apapun yang saya inginkan. Bahkan di tempat tidur itu sudah ada sebilah pedang yang sangat cantik sekali” Dia melanjutkan dengan expresi dan intonasi yang benar-benar pas!
Saya bengong dan menganga nyaris meneteskan air liur.

Dia melanjutkan. “keesokan harinya, di saat malam sangat gelap, bulan tak berachaya dan bintang pun tertutup oleh awan, saya didatangi seorang kakek-kakek yang sangat tuuuuuaaaa sekali, dengan wajah yang terus menunduk, dan memakai penutup kepala dari kain yang juga adalah bajunya. Dia mendekat dan memegang tangan saya, tiba-tiba saya langsung berada di luar negeri”

“di Negara mana?”

“hmmm…. Hehehe, bohong saya pak Guru”

“Waduh, kamu bohong? jadi cerita ini semua cuman bohong-bohong?” Padahal, tanpa dia bilang pun saya juga tau kalo dia cuman mengarang, tapi cara dia bercerita seolah-olah dia telah membacanya dari buku, dan itu sangat amazing buat saya.

Setelah mengatakan bohong itu dia sepertinya kehilangan lanjutan ceritanya dan saya juga langsung panik karena nasi telah mengeluarkan aroma hangus yang parah. Akhirnya kisah itu terhenti, beberapa kali saya memintanya untuk menuliskan tapi selalu dia mengatakan tidak bisa. Keesokan harinya dia datang lagi setelah pulang sekolah dan membawa kalimat sepotong-sepotong yang sangat imajinatif.
Saya sedang duduk memasak air menggunakan dapur kayu, dia datang dan duduk didekat saya berkata tanpa ditanya,
“pak guru, saya baru-baru ini sudah memangsa seekor beruang”
Dalam hati saya oh pasti di rumahnya sedang ada beruang hasil berburu bapak dan kakanya.

“Masa’ Dion? Di mana? Kapan?” Tanyaku memancing seolah percaya dengan kata-katanya.

“Tadi pak guru, pas pulang sekolah saya ke sungai mau beol, tiba-tiba saya diserang oleh seekor beruang yang besaaaaarrrr sekali. Mendadak, saya langsung menunduk dan kuku-kuku saya memanjang tajam dan kulit saya dipenuhi oleh bulu. Gigi saya langsung bertaring dan tanpa sadar saya langsung menjadi seekor singa yang saaaaaaangat besar”

Saya langsung terkejut dan menerka-nerka pasti anak ini baru saja membaca cerita yang baru. Tapi kisah yang mana ya? Tidak mungkin dia membaca novel serial Harry Potter atau serial twilight, karena siapa yang bisa punya buku-buku seperti itu di tempat ini. Di daerah perkotaan saja yang akses buku itu mudah, belum tentu ada yang mau baca. Pun kalo ada yang membaca belum tentu bisa bercerita sebagus Dion dan mengkontekstualisasikannya dengan kondisi kampung. Kalo begitu dia dapat darimana cerita-cerita omong kosong itu. Ah sudahlah saya nikmati saja.

“Kamu jadi singa Dion?” saya berpura-pura memastikan dengan ekspresi takjub..

“ia Pak Guru jadi selain kekuatan bisa mengeluarkan api dan mampu mengangkat segalanya, ternyata saya juga bisa menjadi seekor singa besar pada saat saya dalam posisi terserang musuh. Dan ini semua terjadi setelah saya terbangun dari mimpi pada hari itu” Dia berekspresi seolah ingin prihatin dengan kondisinya yang tidak normal itu tapi tertutupi oleh tertawa-tawa geli, mungkin karena ia sadar dengan cerita dongengnya sendiri.
Buseeeetttt!!! Anak ini gila, dia sepertinya ingin melanjutkan kisah kemarin, pasti sudah membaca kelanjutannya karena kemarin dia lupa. Baiklah saya mau lihat sampai dimana dia mampu bercerita.

“mana beruang yang kau mangsa itu dion?”

“saya makan dagingnya sampai habis dan meminum semua darahnya, tak ada yang boleh melihat perubahan saya pak guru, karena itu adalah salah satu janji yang telah saya sepakati dengan penyihir tua yang memberikan saya kekuatan.”

“Coba kamu berubah jadi singa biar Pak Guru percaya” saya menguji dia

“oh jangan, itu tidak boleh, pak guru adalah orang baik dan saya tidak mungkin memangsa pak guru, bahkan saya punya kewajiban menjaga orang yang baik dari gangguan binatang buas dan ancama para iblis jahat”

“Bagaiman kalau saya menyerangmu sekarang juga, apakah kamu akan berubah menjadi singa?”

“Ya tergantung, kalau pak guru bebar-benar ingin melukai saya, pasti saya berubah, tapi kalo hanya sekedar menguji, saya tidak akan berubah apa-apa.”

Jawabannya sangat diplomatis dan itu sepertinya mustahil untuk anak kelas 5.
“saya sudah memangsa banyak binatang buas pak guru, pernah saya berkelahi dengan kura-kura raksasa, ikan yang sangat besar, buaya, dan lebah-lebah yang saaaangat banyak. Belum ada yang berhasil mengalahkan saya. Saya menjaga ketentraman kampung ini tapi tidak ada yang tau, dan saya memang harus merahasiakannya”

“Terus kenapa kamu menceritakannya sama saya?”
senyum tengiknya muncul dan dia kehabisan kata tak bisa memberi alasan. Seharusnya saya tidak memberi pertanyaan itu

“hehe… saya cuman main-main pak guru”

Saya tidak mengatakan apa-apa setelah itu, menunggu jawaban dan berusaha mencari kata yang tepat agar ceritanya bisa bersambung. Kami sama-sama diam sulit untuk memulai. Setelah beberapa lama dalam diam, Dion benar-benar tidak bisa melanjutkan ceritanya lagi bahkan setelah saya mengulangi ceritanya dari awal dengan harapan dia bisa melanjutkan, tapi nihil. Saya merasa kecewa pada diri sendiri karena telah memperlihatkan bahwa saya tahu ceritanya cuman omong kosong dan dia juga terkepung rasa malu karena ketahuan tak bisa memberi alasan yang tepat. Dia Blunder! Saya juga Blunder.

“terus apa lagi Dion?” tanyaku memecah sunyi.

 “ennong” artinya tidak dalam bahasa Indonesia.

Dia tidak melanjutkan ceritanya meskipun sudah saya pancing beberapa kali dan akhirnya pulang lagi. Dia gagal menyelesaikan kisahnya, saya juga gagal menjadi pendengar yang baik. Ya sudahlah, kalau ada kesempatan lagi saya janji akan membiarkannya terus bercerita sampai habis. Biar dia puas saya juga lega. Tapi kesempatan yang saya tunggu-tunggu itu tak kunjung datang sampai berminggu-minggu.

***
Pada sabtu siang, hari yang memang dikhususkan untuk berburu atau mencari ikan oleh seluruh warga kampung, saya dan pak Ahmad yang juga guru 3T, mendapat ajakan dari Pak Maret, Guru Lokal yang tak lain adalah kakanya Dion. Ceritanya, kami pergi kesebuah anak sungai yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah menggunakan perahu milik pak Maret. Saya, Pak Ahmad dan Dion menjadi penumpang, duduk manis dan tenang. Sedangkan Pak Maret, sibuk bergerak kanan kiri mengarahkan baling-baling kecil sebagai juru mudi. Satu orang lagi yang duduk paling depan bertugas meloloskan perahu ketinting dengan turun mendorong saat perahu terhenti oleh bebatuan sungai. Dia adalah Mika, kakanya Dion adiknya Pak Maret.

Setelah satu jam di atas perahu, kami tiba di sebuah anak sungai Njengan, kami berjalan menyusuri anak sungai yang terletak di tengah hutan belantara itu, cukup horror bagi saya meskipun sebenarnya sangat indah dengan keasriannya yang tak terganggu oleh tangan-tangan jail. Tidak ada coretan-coretan nama menggunakan pilox seperti di kawasan wisata pada umumnya, tidak ada sampah plastik, atau pedagang kaki lima, yang ada adalah rebahan kayu-kayu tua yang memotong sungai, endapan lumpur, kubangan babi, dan jejak-jejak langkah binatang hutan yang menurut Dion adalah jejak kaki Iblis.

Kondisi sungai dan hutan yang cukup menakutkan itu ternyata memicu imajinasi Dion untuk kembali bercerita.
“Dulu, saya pernah mendapatkan emas yang sebesar paha saya pak guru, tapi saya buang saja karena saya tidak mau dengan kemewahan”

“Oh ya? Kamu serius?”

“Ia pak guru, kemewahan dunia yang berlebihan akan membuat manusia menjadi kacau dan saling membunuh”

“Betul-betul, jadi kamu buang di mana emas itu dion? Siapa tau saya bisa temukan dan bawa ke kampung saya” tanyanku menggubris seolah percakapan kami adalah percakapan dewasa yang benar-benar serius. Mika hanya menggeleng-geleng kepala seolah tidak percaya ada seorang guru yang mau di bodohi oleh adiknya yang ngawur itu. Pak Maret cukup tertawa-tawa geli sambil melempar jala, adapun pak Ahmad, sangat sibuk mengambil gambar dan sesekali nimbrung dalam percakapan saya dengan Dion.

“Emas itu saya kuburkan di bawah tanah ini, dan menyimpannya di sebuah kerajaan bawah tanah, pak Guru tidak akan bisa mendapatkannya, karena kerajaan itu sangat jauh di dalam tanah dan di jaga oleh para pasukan yang kuat”

“Ooo… kamu sering ke kerajaan itu Dion?”

“Ia sering, di sana ada banyak harta karun, dan putri-putri kerajaan yang cantik, dan permainan yang sangat banyak. Kerajaan itu adalah surga yang sering dijanjikan untuk manusia yang berbuat baik”

Saya terkejut lagi, mana mungkin dia bisa membalik surga yang terletak jauh diatas langit tiba-tiba berada di bawah tanah. Tapi saya harus menjaga respon saya agar dia bisa bercerita lepas sampai selesai, kesempatan ini sudah lama saya tunggu, dan dia sedang on fire!

“Ceritakan lagi Dion!”

“Pak guru lihat jejak langkah itu?” Dia menunjuk beberapa jejak kaki yang menurut pak Maret dan Mika adalah jejak kaki kijang yang datang ke sungai untuk minum tapi tidak bagi Dion.

“Jejak kaki itu adalah langkah para iblis yang datang ingin menembus tanah untuk memasuki kerajaan surga bawah tanah itu, mereka ingin mengambil sebuah benda yang saya sembunyikan di sana. Jadi selain emas dan batu permata, saya juga telah menyimpan jantung raja mereka di sana, mereka terus berusaha untuk mendapatkannya tapi tidak berhasil karena saya hidup di kampung ini untuk menjaganya, sekaligus menjaga keamanan desa.”

“Jantung raja iblis? Bagaiman bisa kamu mendapatkannya”

“Pada saat saya berada di luar negeri bersama kakek-kakek tua yang pernah saya ceritakan itu, saya memasuki sebuah gua yang di terangi oleh lilin yang sangat banyak. Kakek itu mengatakan bahwa saya harus menyelamatkan panglima mereka sekarang juga. Panglima itu bernama Alpious, anak seorang iblis yang memimpin sebuah organisasi setan. Saya bertanya bagaiman cara menyelematkan panglima itu, dan kakek itu berkata bunuhlah raja mereka yang juga adalah iblis jahat. “Dulunya kerajaan kami hanya satu tapi kerana kesalahpahan dan perebutan kekuasaan akhirnya kerajaan itu terbagi 2, satu dipimpin oleh iblis Smarpious, ayah Alpious, dan kerajaan yang satu dipimpin oleh Kraigien, seorang iblis yang sangat sadis. Dialah yang harus kau bunuh, ambil jantungnya dan selamatkan panglima kami” - kakek itu kemudian menghilang dan meninggalkan saya sendirian pak guru”

Cerita ini semakin bersambung dengan yang berminggu-minggu telah lewat, bagaimana anak ini bisa menemukan kisah itu ya? Atau jangan-jangan dia benar-benar anak iblis, atau paling tidak bergabung dengan organisasi setan itu. Ah, mustahil, pasti dia sudah mendengar atau membacanya.

“Lanjutkan Dion!” Tambahku memanasi dia, menjaga kata agar tidak mengganggu dia lagi.

“Saya memasuki gua itu, dan tiba-tiba di tangan saya ada sebuah pedang yang saya temukan saat saya bagun dari mimpi. Saya terus berjalan, dan hawa panas semakin terasa. Duarrrrrr….. lantai gua didepan saya langsung meletus dan keluar seekor ular yang sangat besar, ular itu menyerang saya dengan bisanya, tapi saya menghindar lalu mengangkat sebuah batu dan melemparkannya sekuat tenaga. Dengan ekornya, ular itu menangkis dan batu terlempar kembali kearah saya hampir menimpa tubuh saya, tapi untunglah tiba-tiba api menyembur dari mata saya dan menghancurkan batu itu.”
Dion semakin asik bercerita, saya fokus mendengar, tapi Mika sibuk mencela kami berdua.  Seolah tak mendengar apa-apa, Dion melanjutkan.

“Dengan kecepatan kilat, saya melompat diatas kepala ular itu dan menusuknya dengan pedang sehingga dia mati tak berdaya, kucabut pedang itu lalu kupenggal kepalanya”

“Wow, hebat kamu Dion. Terus?”

“Saya melewati ular itu dan melanjutkan perjalanan. Banyak lagi binatang siluman yang mencoba menghadang perjalanan saya tapi semua tak mampu mengalahkan saya. Dan tibalah saya di ujung goa itu, sekarang lilin sudah tidak ada lagi. Cahaya gowa kini berasal dari api yang menyala dari sebuah lubang di bawah tanah, di atasnya tergantung panglima yang akan saya selamatkan. Saya menembak tali itu dengan api yang keluar dari mata saya tapi ternyata tidak tembus, sepertinya ada yang menghalangi. Sesaat kemudian terdengar suara tawa yang sangat besar, itu pasti adalah suara Kraigien. Benar, itu dia. Kraigien ternyata iblis betina berparas cantik yang sangat mempesona, dia tidak mengerikan seperti yang saya bayangkan. Matanya, kulitnya, benar-benar adalah manusia, seperti kita, tapi secantik apapun dia, dia tetap adalah iblis yang harus saya bunuh. Saya langsung menyerangnya dengan mata api, dia hanya mengipasnya dengan selendang sutra yang ia pakai dan api itu padam. Dia balik menyerang, meniupkan angin kencang dari mulutnya sambil melepaskan ular-ular raksasa dari ujung jari tangannya. Saya tersudutkan dan nyaris terbunuh oleh ular-ular itu, untung saja panglima Alpious menyerang Kraigien dengan tendangan memecah buminya, dalam kondisi terikat dia masi bisa mengeluarkan tendangan yang sangat dahsyat itu sehingga Kraigien terjatuh dan angin kencang serta ular-ular itu langsung lenyap. Saya langsung menerjangnya dan menusuk dia dengan pedang tapi lagi-lagi dia lepas dan langsung berada dibelakang saya, saya berbalik tapi pukulannya sudah mendarat di wajah membuat saya terlempar jauh dan mengeluarkan banyak darah. Dia melompat ingin menusuk saya dengan tangannya yang tiba-tiba berubah menjadi pedang, saya menutup mata, bersiap mati dalam misi penyelamatan itu. Tseeekkkk, uhhhh… pedangnya menusuk tubuh, tapi itu bukan tubuh saya karena sang Panglima, entah dengan cara apa dia lepas langsung menghalang saya dengan tubuhnya. Saya bangkit dan langsung menyerang Kraigien dengan mata api, tepat di matanya, ia panic dan tak bisa melihat apa-apa, saya tusuk dia dengan padang dan membelah tubuhnya. Berhamburan darahnya yang berwarna hijau, sama seperti darah Pangeran. Tempat itu lalu bergetar dan tergoncang hebat. Akhirnya saya berhasil membunuh dia, tapi Panglima Alpious juga ikut terbunuh. Saya mengambil jantung Kraigien dan berlari meninggalkan gowa yang akan hancur. Saat saya berlari, beberapa prajurit iblis itu muncul dari sela-sela gowa dan menyerang saya, mereka ingin mengambil jantung tersebut. Saya mempertahankan diri dan berhasil membunuh mereka, tapi bebrapa pasukan Kraigien berhasil lolos dan berjanji akan merebut kembali jantung itu untuk menghidupkan raja mereka kembali.”

“Keren, kamu luar biasa. Tapi kasihan sekali panglima itu, lalu kemana kamu membawa jantung itu Dion?”

“Saya terus berlari sampai di mulut goa. Di luar goa itu telah menunggu sang Raja bersama kakek-kakek tua. Raja sangat sedih karena kematian Panglima Alpious, dan ternyata Kraigien adalah bekas istri sang raja sendiri, Ibu kandung Panglima. Lalu kemudian sang raja mengangkat saya sebagai anak keduanya, pengganti panglima yang mati di tangan ibunya sendiri. Dia meminta saya untuk menguburkan jantung itu di kerajaan surga bawah tanah, tepat di bawah kaki kita sekarang ini pak Guru. Saya sebenarnya sudah berusia sangat tua, tapi orang tua saya tidak tau, dan disini saya akan terus menjaganya, jika orang-orang sekarang telah tumbuh dewasa, tua, dan akhirnya mati saya akan ikut mati tapi pasti bereinkarnasi menjadi apapun yang Smarpious inginkan, para pasukan iblis jahat itu tidak akan pernah berhenti mengejar jantung Kraigien tapi tak akan bisa memasuki surga dengan cara yang merekah tempuh, karena surga hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang suci dan berbuat baik. Tak ada tempat bagi iblis di surga Pak Guru”

***
Dion benar-benar bercerita seolah baru saja menonton film, entah darimana datangnya karangan-karangan itu tapi sangat hebat dia menyambung-nyambungnya menjadi sebuah cerita utuh. Apa lagi saat dia menyebutkan kata reinkarnasi itu, saya merasa sedikit bangga karena 2 hari sebelumnya, saya mengajarkan pelajaran IPS tentang kepercayaan agama hindu dalam hal kelahiran kembali, reinkarnasi. Padahal, hari itu dia masih kesulitan menyebutkannya tapi pada saat dia bercerita dia menyebutkan sekaligus menceritakannya pada konteks yang tepat. Ketika dia mengatakan panglima untuk Alpious, mungkin yang dia maksud adalah kata Pangeran, tapi itu tidak menjadi kesalahan karena ternyata di ujung anak sungai Njengan itu, ada sebuah kuburan tua yang menurut Pak Maret adalah makam panglima perang suku dayak punan. Mungkin hanya ada kata panglima yang pernah dion dengar sehingga hanya itu yang ada di kepalanya.
Saya sudah pernah melihat dan mendengar anak-anak SD bercerita, bahkan dalam bahasa inggris, lancar dan dengan ekspresi yang benar-benar sesuai, bersuara ular ketika  memerankan ular, singa yang garang atau binatang apapun mereka tiru dengan baik. Saat itu saya merasa bahwa anak-anak ini sangat hebat dan sangat cerdas. Ternyata itu karena mereka memang difasilitasi dengan tontonan dan bacaan yang sudah jadi, sudah utuh, pokoknya tinggal pakai. Di sisni, di kampung yang hanya ada hutan, Dion mampu bercerita dengan cerita karangannya sendiri, menjadi sebuah cerita utuh, cerita yang mengandung pesan pengetahuan. Kecerdasan berimajinasi dan berkisah yang sungguh membakar semangatku dalam misi pendidikan di daerah 3T Kalimanatan Timur ini.
Kini, Dion bercerita dengan imajinasinya, dan hanya saya pendengarnya. Tapi esok di hari yang akan terus saya tunggu, Dion pasti akan bercerita dan menuliskan semua imajinasinya. Semua orang akan membaca dan mendengar. Semua orang akan tau, kalau di daerah terdepan, terluar dan tertinggal, ada suara yang perlu didengarkan.


Tanjung Redeb,23 September 2015. Menanti Lebaran haji tanpa orang tua. 

Mengajarkan pelajaran Seni dan Agama sekaligus

SENI DAN AGAMA


           
Bolehlah beberapa seniman dunia menciptakan sebuah karya seni berdasarkan perenungan religiusitasnya yang dalam. Sebut saja Dante Alighieri, seorang seniman brillian dari italy yang telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat fenomenal dan meggetarkan dunia pada zamannya, bahkan sampai sekarang masi ada yang mendiskusikan karyanya, sebuah karya berupa puisi yang diberi nama INFERNO. Inferno atau Neraka adalah sebuah puisi yang menceritakan perjalanan Dante ke neraka. Karya ini menempati bab pertama dalam bukunya The Divine Commedy. Cerita perjalanan itu kemudian menginspirasi seniman lain untuk menghasilkan sebuah karya. Botticelli memvisualisasikan keadaan neraka versi Dante kedalam sebuah lukisan, lalu ada Dan Brown yang bahkan menjadikannya bahan dalan Novelnya yang kemudian mengambil kata Inferno sebagai judul novel itu. Tindakan-tindakan semacam itu tentulah menjadi polemic, tapi begitulah seni dan agama kawan, selalu seksi untuk di perbincangkan.
           
Kali ini saya tidak sedang ingin membahas teori yang berbelit-belit tentang bagaimana romantisme antara agama dan seni atau mengulas bagaimana benturan antara keduanya. Saya hanya sekedar ingin berbagi cerita bagaimana pada kamis 10 september 2015 saya menggabungngkan mata pelajaran Seni Budaya dan mata pelajaran Agama. Sebuah kreativitas yang lahir dari segala keterbatasan. Tidak ada guru seni, tidak ada guru agama, tidak ada buku cetak. Jangan tanya tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau media pembelajaran yang bisa menjadi panduan, maka kreativitas akhirnya muncul secara mendadak dari kepala saya. (mungkin juga ini kenekatan)

***
            Sejak ditinggalkan oleh beberapa guru lokal sekitar 2 minggu yang lalu, kami kekurangan tenaga pengajar untuk menghendel 6 kelas. Hanya ada 4 orang guru yang tersisa, 2 guru local dan 2 guru SM-3T termasuk saya sendiri. Kelas 1, 2 dan 3 masing-masing di tangani oleh 3 guru dalam ruangan yang berbeda, Pak Ahmad kelas 3, Pak Maret kelas 2 dan Buk Eka kelas 1, sedangkan kelas 4, 5 dan 6 saya pegang dalam satu ruangan. Kondisi ini sering kita sebut dengan kelas rangkap formasi 3.1. Tiga level berbeda dalam ruangan yang sama. Memang terdengar cukup ektrim menggabungkan 3 kelas dalam satu ruangan, apalagi anak SD yang ribut dan suka berlarian. Tapi ternyata pemirsa sekalian, yang namanya sekolah di daerah 3T selalu terdapat keunikan di dalamnya. Dan keunikan di sekolah ini yang pertama adalah ada siswa kelas 4 memiliki adik kandung di kelas 5, bahkan ada seorang siswa kelas 3 yang lebih tua umurnya dari siswa kelas 6, entah bagaiman sejarahnya dan bagaimana atauran idealnya yang jelas realitasnya seperti itu. Keunikan yang kedua adalah semua siswa dari 3 kelas yang berbeda ini memiliki hubungan darah, kalau bukan saudara kandung atau om-keponakan pasti sepupu. Bukan sepupu jauh, satu kali saja cukup. Ok! (saya kadang bertanya-tanya, nenek mereka siapa ya?). Berdasarkan analisa sederhana saya, setelah melakukan beberapa kali uji coba (cieee asikk), fakta membuktikan bahwa kemampuan mereka baik kognitif, psikomotorik atau afektif itu relative sama. sehingga penggabungan ini saya rasa cukup solutif terlebih lagi kondisi yang memang cukup menggemaskan.
           
Kelas 4 seharusnya belajar Seni Budaya, kelas Lima dan Enam (memang sudah digabung oleh guru sebelumnya) seharusnya belajar Agama. Kalau saya berikan 3 pelajaran yang berbeda untuk 3 level berbeda dalam satu ruangan maka itu formasinya adalah 3.3.1. adapun jika satu mata pelajaran untuk 3 level dalam 1 kelas namanya 3.1.1. Tapi mengajarkan 2 mata pelajaran yang berbeda untuk tiga level berbeda dan dalam satu kelas yang sama itu tidak ada dalam teori pengajaran. Maka hari itu juga saya telah berhasil menciptakan formasi baru, 3.2.1. Ini adalah rekor pemirsa, kalian tidak akan mendapatkan model pengajaran semacam ini bahkan di sekolah internasional sekalipun.

***
100% pribumi kampung Long Lamcin adalah penganut Kristen Protestan. Mereka cukup religious dalam pengamatan saya, karena dalam beberapa aktifitas dimana saya sempat terlibat secara langsung dan tidak langsung didalamnya pasti mereka mendahuluinya dengan berdoa bersama dengan khusyu’. Contoh, Nugal (menanam padi di gunung), Berburu binatang, bersih-bersih kampung, membuat rumah, membuat dapur dan Rapat-rapat kampung yang kesemuanya itu mereka lakukan secara bersama dan sukarela (aktifitas yang sangat langka di era dewasa ini). Bahkan sempat beberapa kali murid-murid bertamu di rumah tempat tinggal saya dan saya mengajak mereka makan, ternyata mereka yang justru mengajak saya berdoa. Saya merasa sedikit malu mengingat saya adalah guru mereka, tapi merekalah yang mengajarkan saya etika. Tiba-tiba saya teringat dengan kebiasaan makan bersama di kota yang selalu saya lalui dengan hanya berfoto-foto ria sebelum makan bukannya berdo’a dan mensyukuri nikmat Tuhan yang ada.

Nyanyian dalam agama Kristen protestan (mungkin juga katolik), terdengar sangat identik. Keduanya seakan tak terpisahkan meskipun saya kurang paham apa status nyanyian dalam agama ini. Setiap mereka ke gereja pada hari minggu dalam rangka menunaikan ibadah kepada Tuhan yang mereka yakini mereka selalu menyanyikan lagu-lagu rohani dengan suara yang indah dan harmonis. Dalam pemikiran sederhana saya, gereja adalah tempat ibadah mereka, “rumah Tuhan” kata anak-anak kampung, dan hari minggu adalah “harinya Tuhan”. Mereka bernyanyi di rumah ibadah, mereka bernyanyi untuk memuji Tuhan, mereka bernyanyi untuk memohon do’a, nyanyian adalah ekspresi kesyukuran mereka, nyanyian adalah pengobat luka bagi mereka. Saya menyadari ada hal yang bagi sebagian orang adalah biasa saja tapi tidak bagi orang lain. Menyanyi contohnya, bagi saya menyanyi hanya sekedar expresi seni, bagi mereka, menyanyi memiliki sebuah arti yang dalam, mengandung makna keimanan yang begitu kuat, menyanyi adalah bagian dari kepercayaan dan filosofi hidup. Nyanyian bukan sekedar nyanyian.  

***
            Hari itu, tak ada yang bisa mengajarkan pelajaran agama Kristen karena guru-guru yang tersisa adalah muslim (paling tidak mengaku muslim). Ada yang kristen, Pak Maret tapi dia sedang sibuk mencari siswa-siswanya yang pada izin ke toilet tapi tidak kembali. Menyuruh mereka pulang saja juga rasa-rasanya kurang bijak mengingat hiburan dan tempat bermain mereka hanya di sekolah. Daripada kelas sunyi sepi maka saya yang akan mengajarkan seni dan agama sekaligus. Mendidik itu kan tidak mesti memberikan sesuatu yang baru. Menstimulus mereka untuk mengingat kembali apa yang telah mereka ketahui itu juga mendidik. Bahkan kata Plato, pengetahuan yang murni itu adalah pengetahuan yang diingat kembali. Uwwek, Sok tau. Hehehe.         

Tentu kau sudah bisa menebak apa yang terjadi di kelas pada hari itu kawan. Tepat sekali! Sekolah menjadi gereja. Semua siswa berdiri dengan semangat penuh khidmad menyanyikan lagu-lagu rohani yang terdengar indah. Mereka bersusun rapi, menyanyikan lagu-lagu pilihan yang mereka sepakati bersama, kompak tak bercela. Dan saya, berdiri di depan mereka, menikmati alunan suara merdu anak-anak kampung. Sesekali saya menutup mata merenungi lirik lagu yang mereka ucapkan, mencoba memahami, memasuki relung hati mereka dan berpikir dengan cara mereka. Nikmat, sejuk, membakar semangat, dan … Ah, sudah lah. Tuhan memang penuh kasih. Utunglah jam pelajaran hanya sejam, kalau lebih lama mungkin saya langsug di baptis. Wkwkwk.

Long Lamcin, 4 Oktober 2015

HARI PERTAMA MENJADI GURU SM-3T DI KAMPUNG LONG lAMCIN

My First Day At School

            Dingin angin berhembus di pagi itu. Dengan bebas ayam berkokok membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap dalam pelukan bantal yang tak bersarung. Burung-burung bernyanyi dengan indah menciptakan sebuah keharmonisan dalam keberagaman. Sunggguh kuasa Tuhan sangat besar, menganugerahi setiap makhluknya dengan keistimewaan yang tak terkira. Rumput halaman sekolah masih basah oleh embun yang sejuk, sama basahnya dengan sang merah putih yang berkibar di sebuah tiang yang tak bertali. Sang saka, lambang kemerdekaan yang sekali terikat, berkibar sepanjang hari, sepanjang tahun hingga akhirnya ia hancur. Senin yang sepi untuk ukuran sebuah sekolah dasar, tak ada upacara bendera sebagaimana senin pada umumnya, dan ternyata tak ada yang merasa risau dengan hal itu. Akupun tidak!

***

            Setelah mendengarkan curhatan para guru tentang kondisi sekolah pada hari sebelumnya, semangat yang telah menggunung di dadaku tiba-tiba mengempes bak balon gas yang tertusuk jarum. Terbang tak tau arah! Akibatnya adalah gerkanku melambat di pagi itu, semua aktifitas menjadi slow motion. Aduh, bungaku yang belum sempat mekar mengapa engkau layu.
Waktu masih menunjukkan pukul 6 saat saya mengepulkan asap di dapur kayu, terasa sangat lama nasi untuk sarapan pagi itu masak, mungkin karena pengaruh dinginnya cuaca kampung yang terkepung gunung ini sehingga api ikut-ikutan mengigil. Atau mungkin juga pengaruh perasaanku yang sekarang mendingin tak memancarkan kobaran semangat seperti sebelum mendengar cerita guru-guru yang telah berpengalaman itu. Entahlah, intinya saya galau.
Posisi dapur berada di bagian belakang rumah, jika sedang memasak atau hanya sekedar duduk-duduk di situ saya bisa melihat jalan utama kampung dan sebuah gereja. Kali ini terdengar lagi nyanyian anak-anak seperti hari kemarin tapi yang memandu bukanlah pak Gembala melainkan suara ibu-ibu yang terdengar seperti guru-guru TK. Kufokuskan pandangan ke gereja, tapi di sana sepi tak ada aktifitas, lalu di mana anak-anak itu bermain? Ternyata tak jauh dari gereja itu ada sebuah gedung balai pertemuan tempat rapat-rapat kampung yang merangkap fungsi juga sebagai gedung PAUD. Lha, kok ada PAUD? Desa saya saja yang sejak tahun 1998 sudah ada listrik, baru punya begituan sekarang. Kampung yang tidak dimasuki kabel-kabel PLN sampai sekarang ini juga ternyata bisa punya arena bermain untuk anak-anak. Lumayan maju lah kalau begitu.
Sambil menunggu masakan, saya mencuci beberapa piring bekas makan malam. Karena air tidak mencukupi maka saya berjalan beberapa meter ke selang sumber air terdekat. Ya begitulah kondisinya kawan, semua yang kita konsumsi di tempat ini harus kita uasahakan terlebih dahulu, kalau mau air ya harus ngangkat dulu. Pada saat menunggu ember penuh, lewat beberapa rombongan anak-anak berpakaian merah putih. Mereka tampak riang gembira meski pakaian yang mereka gunakan sangat kumal bahkan banyak yang tak memakai sepatu. Tiba-tiba senyum melebar di wajahku, ada sejenis ketenangan batin saat melihat mereka bepakaian sekolah. Ah, sejenak saya bernostalgia dengan masa kanak-kanak yang memang selalu riang gembira. But wait, they are little busters like their teachers said. Huh!
Anak-anak mulai ramai saat saya sudah siap ke sekolah. Sesaat saya teringat dengan pesan yang disampaikan secara berulang-ulang oleh para pelatih pada masa prakondisi SM3T di Rindam 7 Wirabuana, Pakkatto. Mereka menekankan bahwa seorang guru, terlebih dahulu harus meyakinkan dirinya bahwa dia bisa menjadi guru, bisa tampil di depan murid-muridnya karena dialah yang akan menjadi panutan. Seorang guru harus benar-benar memperhatikan penampilannya, jangan sekali-sekali ada yang rancu dari penampilan guru karena itu akan memicu kekacauan yang lain. Maka kuyakinkan diriku bahwa saya bisa menghadapi segala jenis murid bahkan yang lebih parah sekalipun dari penggambaran guru-guru lokal tentang murid yang akan saya hadapi. Mereka brutal saya harus lebih siaga, mereka tumpul saya harus menjadi batu asah yang baik, mereka bosan saya harus tampil lebih menarik. Kupilih pakaian yang paling rapi, dengan warna yang paling sesuai, celana hitam yang licin, dan baju batik berwarna merah gelap bermotif bunga-bunga mekar yang indah, plus jas hitam pekat SM3T yang pas di badan. Kutenteng 2 buah buku di tangan kiri dan sebuah spidol hitam di tangan kanan. Tampillah aku dengan sangat mempesona. Sampai-sampai saya sendiri heran kalau ternyata saya bisa serapi itu. Oh andai bidadari melihatku pasti dia langsung jatuh hati.   
Saya memasuki ruang kantor yang bersambung langsung dengan kelas 6 yang ternyata siswanya digabung dengan kelas 5. Kusalami satu persatu guru-guru yang kemarin telah mencederai semangatku. Saya menunggu penyampaian secara formal dari kepala sekolah tentang tugas yang harus saya kerjakan, tapi sampai 1 jam saya duduk disitu nyaris tidak ada pembahasan mengenai pembagian tugas. Aroma lotionku mulai melemah dan saya belum juga dipersilahkan untuk memasuki salah satu kelas walau hanya sekedar memperkenalkan diri pada siswa. Saya bingung harus berbuat apa, tapi setelah kuanalisa sepertinya sekolah itu sama sekali tidak memiliki formalitas sebagaimana managemen sekolah pada umumnya. Tidak ada upacara, tidak ada rapat, ruang guru atau kantor sangat sepi dari berkas-berkas atau administrasi sekolah, maka saya berinisiatif untuk meninggalkan kantor dan memasuki salah satu kelas.
“Permisi Pak, boleh saya masuk?”
“Silahkan Pak”
Saya mengambil posisi di bangku paling belakang sambil melihat cara pak Adi mangajari anak kelas 4 pelajaran IPA. Sepertinya saya tau cara mengajarnya, dia meminta para siswa untuk menuliskan soal-soal pilihan ganda lengkap dengan pilihan jawabannya lalu pergi meninggalkan kelas. Sangat khas gaya belajar sekolah dasar. Setelah mereka menyelesaikan tugas itu saya meminta sisa waktu yang masih satu jam untuk memperkenalkan diri pada siswa.
***
Kelas empat memiiki 6 orang siswa, satu putri dan 5 putra, dengan usia rata-rata 12 tahun. Physically, jika hitam kulit keriting rambut itu Papua, maka putih kulit lurus rambut itu adalah Dayak. Mata mereka agak sipit, bibir tipis-tipis mirip dengan orang-orang Thailand atau Vietnam dengan badan yang kekar-kekar. Ya, mereka memang pekerja berat. Satu persatu kupandangi mata mereka yang berbinar, terheran-heran melihat penampilanku yang sangat rapi itu. Mungkin mereka bertanya dalam hati, siapakah dikau anak muda?
“slamat pagi” ku salam mereka dengan suara keras dan tegas mirip seorang tentara.
“seelaaamat pagiii” jawab mereka, loyo tak bertenaga.
“kalau saya katakan slamat pagi, semua harus menjawab “pagi” tiga kali dan tangan kanan di angkat dengan bertenaga” lanjut saya sambil mempraktekkan mirip seminar-seminar MLM.
Mereka mulai tertawa-tawa kecil sambil berbisik-bisik dalam bahasa daerah yang terdengar mirip dengan bahasa Thailand.
“slamat pagi!” saya mengulangi penuh semangat
“paagi, paagi ….” mereka menjawab Pagi hanya 2 kali dengan dua huruf A, kemudian menertawakan diri sendiri lalu saling melirik. Saya ikutan tertawa tapi tetap menjaga wibawa. Assikk!
“ingat, bukan paagi, tapi PAGI! Tiga kali, PAGI! PAGI! PAGI!, Ok?
“OK!” Simson menjawab dengan nada keras penuh semangat, 5 orang temannya kaget lalu ikut berteiak “OK!”
“SLAMAT PAGI!”
“PAGI! PAGI! PAGI!”
“Ya, begitu dong. Mantap!” lanjutku memberi apresiasi sambil mengangkat two thumbs for them.
Saya mulai ragu kalau mereka nakal dan tumpul-tumpul. Apa lagi mereka melakukan instruksi sederhana yang memang telah saya rencanakan. Mereka memiliki respon terhadap perintah, itu BUKAN BODOH! Kemudian saya melanjutkan dengan perkenalan dan survey kecil-kecilan tentang kemampuan mereka.
“Nama saya Saddang Husain,S.Pd.” saya memperkenalkan diri sambil menuliskan di papan tulis yang ternyata masih menggunakan kapur, sehingga spidol yang tadi saya bawa tidak berfungsi sama sekali.
“coba kalian sebut nama saya”
Mereka cukup kesulitan menyebut nama saya dan terdengar lucu, ada yang mengatakan Sadana Husan, Sandan, Saden dll, pokoknya tak satupun yang bisa mengucapkannya dengan tepat. Ternyata mereka cukup kesulitan menyebut huruf NG dan DD sehingga kupandu dengan mengatakan beberapa kata yang memiliki kedua huruf itu, Gunung, Nangka, panjang, addunya, fiddiin, fiddunya. Mereka malah makin kesulitan, maklumlah mereka semua belum tau hukum tajwid. Tak apalah, apa juga arti nama ini untuk mereka.
“ada yang tau arti S.Pd?
“mmm … tidak tau Pak Guru”
Dari kata S.Pd inilah saya mulai bercerita panjang lebar tentang dunia perkuliahan dan kehidupan di perkotaan. Mereka sangat antusias mendengar cerita saya, sesekali kuturunkan volume suara dan mereka mencondongkan kepala, itu artinya mereka sangat perhatian. Ku berikan tekanan pada kata-kata tertentu dan mereka menampakkan expresi terlibat dalam cerita itu. Saya melucu mereka tertawa, saya mengambil jeda dan menarik nafas, mereka setia menunggu kata-kata selanjutnya meluncur dari mulutku. Sejak saat itu saya mulai tidak percaya sebagian omongan para guru itu bahwa mereka bodoh.
“berapa umur pak guru?” Yoses bertanya penuh gairah, saat kupersilahkan.
Bukannya langsung menjawab saya malah memberi pertanyaan “berapa umur kamu Yoses?”
“12 tahun Pak guru”
“baiklah, mari kita hitung sama-sama berapa usia saya dengan menjumlahkan usia kalian yang kelas 4 SD sampai saya menjadi S.Pd.”
“kelas 4=12 tahun, kalau kelas 6= berapa tahun?
“14 Pak guru”
“setelah SD kemana?
“SMP!” mereka menjawab dengan kompak.
“berapa tahun di SMP?”
“3 tahun”
“setelah SMP?”
“SMA”
“berapa Tahun?”
“3”
“setelah SMA?
Mereka diam, saling melihat sambil bertanya kepada sesama temannya dalam bahasa yang tak saya pahami. Lalu Fir’aun memberi jawaban dengan suara pelan penuh keraguan “Kuliah pak Guru”
“Yes, betul! Kuliah, semua beri tepuk tangan untuk Fir’aun”
Mereka bertepuk tangan penuh kebahagiaan seolah-olah itu adalah tepuk tangan pertama mereka selama di sekolah.
“ada yang tau berapa lama kita kuliah?” Fir’aun sekali lagi memberi jawaban “4 tahun Pak Guru”, saya terkejut dan kembali meminta tepuk tangan yang meriah untuk Fir’aun.
“baiklah mari kita hitung bersama-sama. Di SD kalian berusia 14 tahun + SMP 3 tahun + 3 tahun di SMA + 4 tahun kuliah, jadi berapa sekarang umur pak Guru?”
Agak lama mereka menghitungnya lalu kemudian Serentak cenderung berlomba mereka menjawab “24 tahun Pak Guru”
“Very good, Clap Hand” lagi-lagi mereka bertepuk tangan dengan meriah sampai semua guru mengintip melalui jendela, berbaris terheran-heran.
Saya melanjutkan dengan bercerita tentang status saya sebagai guru SM-3T. Tentang bagaimana saya harus melewati rangkaian tes yang panjang, terseleksi dari ribuan pendaftar, hingga akhirnya terpilih menjadi satu diantara 40 orang yang dikirim ke kabupaten Berau. Saya mendramatisir cerita dengan menekankan bahwa betapa berharganya mereka, anak pelosok negeri bagi kami para guru 3T yang ingin mendidik dengan semangat nasionalisme. Tidak mudah bagi kami para sarjana di perkotaan untuk bisa sampai di sekolah mereka yang sangat jauh itu. Terakhir saya kataka “kalian adalah masa depan negeri ini”. Mereka tampak terharu dengan kata-kata itu dan tersirat perasaan bangga akan diri mereka sendiri sekaligus kepercayaan diri bahwa ternyata mereka masi memiliki harapan. Sebuah perasaan yang sepertinya selama ini tertutup oleh kabut.
“kalian mau belajar bahasa inggris?”
“mauuuu” mereka menjawab penuh semangat dan selalu seperti itu.
“Are you ready?”
“Yes! Yes! Yes!”
Sejak hari pertama itu saya mulai mengganti beberapa instruksi sederhana dengan bahasa inggris, dan ternyata mereka merespon dengan sangat antusias meskipun mereka cukup kesulitan mengucapkannya. Saya meminta agar mereka menjawab “present ser atau absent ser” pada saat saya menyebut nama mereka, meminta izin dengan mengatakan “excuse me ser”.

***
Bagi saya, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru kecuali keberhasilan dalam menarik perhatian para peserta didik. Melihat mata mereka yang berbinar menanti kata-kata selanjutnya yang akan saya ucapkan adalah cinta yang terbalaskan. Mereka tertawa saat saya bermaksud melucu, mereka berlomba mengatakan “saya pak guru” saat saya menanyakan siapa yang bisa adalah api semangat yang takkan padam. Mereka, para siswa akan menjadi guruku yang sesungguhnya. My first day is wonderful, my spirit is reborn.


Long Lamcin, 9 September 2015

On SM-3T Mission Gallery

This gallery shows what did i do at Berau Regency during my mission as a young educator on behalf of Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. I am proud of being a witness of a real Indonesia.
karena pendidikan adalah hak segala bangsa